
Abel menemui mamanya di parkiran rumah sakit. Begitu melihat keberadaan mamanya, Abel segera menghampiri.
“Ma.”Abel menegur dan merangkul lengan mamanya sambil menyandarkan manja kepalanya di bahu beliau.
“Kamu ini bikin Mama khawatir aja.”
“Maaf, Ma. Abel bikin Mama repot, ya?”
“Tapi, kamu yakin sehat, kan? Nggak ada keluhan?”
Abel menggeleng pelan. “Dokter Ibram cekatan sama kondisi kesehatan Abel, Ma.”
“Baik banget, ya?”
“He'em.”
Mama Abel tersenyum senang mendengar pengakuan putrinya. Beliau tampak mengusap rambut Abel sesaat.
“Kangen banget sama Mama.”Kata Abel manja seraya mencium pakaian yang dikenakan mamanya.
“Iyaaa.”
“Di bangku taman rumah sakit aja yuk, Ma? Pegel berdiri di sini terus. Di sebelah sana ada bangku.”Abel menunjuk mengarah ke depan mereka.
“Yaudah.”Mama Abel menengok pada sopir. “Pak, tolong sekalian di bawa kopernya.”Mama Abel bicara pada sopir keluarga Abel.
“Baik, Bu.”Tampak sopir melangkah ke bagian belakang mobil untuk mengambil koper Abel di dalam bagasi.
Sementara Abel dan mamanya sudah berjalan lebih dulu mengarah ke taman rumah sakit yang teduh oleh banyak pohon besar di sana. Beberapa pasien, keluarga, serta perawat tampak ada di sana pula.
Abel dan mamanya duduk di atas bangku panjang kosong di balik Bunga Soka Merah yang membentuk diri seperti pagar.
“Kamu bisa minta dokter Ibram nyusul ke sini?”
“Nggak bisa, Ma. Dokter Ibram lagi sibuk sama tugasnya.”
“Yaudah nggak pa-pa. Tapi kamu yakin nggak mau pulang aja?”
Abel menggeleng pelan.
“Yaudah terserah kamu aja. Yang penting jaga kondisi. Mama sama papa nggak mau dengar apapun yang bikin kami jantungan kayak waktu itu.”
“Siap, Bos!”Abel memberi sikap hormat.
Percakapan Abel dan mamanya baru berhenti ketika sopir datang membawa koper kecil di pangkuannya.
“Permisi, Bu. Ini kopernya.”
“Makasih, Pak.”Abel yang merespons.
“Sama-sama, Mbak. Saya permisi.”
“Yaudah. Mama juga sekalian jalan aja.”Mama Abel beranjak dari duduknya.
Abel menyusul berdiri. “Iya, Ma. Hati-hati.”
“Iya. Kamu juga.”
“Bye, Ma.”
***
Hanya berselang lima belas menit saja Abel kembali ke ruangan tadi sambil menarik koper. Tiba di sana, sayangnya dia tidak dapat menemukan keberadaan Ibram. Diletakkannya tasnya di atas brankar untuk mencari-cari Ibram di sekitar ruangan, bahkan sampai mengetuk pintu kamar mandi di sana, hasilnya tetap sama. Tidak ada keberadaan laki-laki itu.
Abel duduk di bibir brankar sambil menunggu dengan perasaan cemas, karena mamanya baru saja pergi dan sekarang dia sendiri di sebuah rumah sakit tanpa ada mengenal siapapun selain Ibram, tapi laki-laki itu sedang tidak mendampinginya di ruangan itu. Lantas, diambilnya ponsel, namun dia baru ingat jika tak ada nomor ponsel laki-laki itu dalam kontaknya. Gadis itu jadi mendesah lemas lalu kembali menaruh ponselnya di sampingnya.
“Dia kemana coba?” ucapnya, lalu melangkah mendekat ke arah pintu ruangan. Pintu itu dia buka dan berdiri di depannya. Abel pun mulai berjalan mencari-cari di sekelilingnya. Saat ini pemandangan yang dilihatnya hanya dokter-dokter lain, para suster yang berlalu-lalang, pasien, serta keluarga. Dia segera berbalik kembali hendak masuk ruangan, namun secara bersamaan dia tak sengaja melihat papan nama di pintu.“Dokter Alfabio Ibram Baskoro... ”kalimatnya seketika berhenti sesaat. Tangannya menutup bibirnya yang terbuka.“Dia punya gelar sehebat itu?” suaranya teredam di balik telapak tangannya dengan mata melebar mencerna tulisan di depannya saat ini.
“Kenapa kamu di luar?”
__ADS_1
Abel terlonjak keras mendengar suara Ibram datang dari belakangnya. Gadis itu lekas berbalik dan melihat Ibram telah berdiri tepat di depannya dalam jarak kurang dari semeter. Abel menggeleng pelan dan sedikit membuat dirinya agak kepinggir ketika Ibram hendak melalui pintu.
Ibram masuk ke dalam ruangan lebih dulu, sementara Abel menyusul di belakangnya masih dengan wajah yang shock memikirkan prestasi yang digapai laki-laki itu. Abel jadi teringat ulahnya saat bercanda usil pada laki-laki itu. Abel menggosok-gosok rambutnya hingga acak-acakan. Pikirannya menjadi kacau mendadak sampai-sampai dia tidak mendengar namanya sudah disebut Ibram dua kali.
Ibram meletakkan dua kantong plastik di tangannya. Dia berbalik karena heran Abel tidak merespons panggilannya sejak masuk ruangan. Begitu menghadap Abel kembali, Ibram sudah menyaksikan bentuk rambut Abel yang telah berantakan.
Ibram memandang rambut Abel.
Abel tampak bingung. Namun melihat arah pandangan Ibram, Abel langsung sadar dan merapikan rambutnya.
“Tadi aku tebus obat kamu. Sekalian ada buah juga. Makanannya masih nyusul.” Kata Ibram memberitahu isi kantong bawaannya.
Abel melirik kantong plastik di atas brankar.“Terima kasih.” Dia tersenyum tampak canggung. Jujur, dia penasaran dan ingin bertanya lebih jauh, tapi dirasanya tidak sopan menggali informasi pribadi orang lain yang baru dia kenal. Tapi, ini bukan dirinya. Dia adalah orang yang blak-blakan. Jadi, dia memutuskan memberanikan diri untuk bertanya.“Kamu... punya gelar itu?” tanyanya canggung.
“Itu apa?”
“Ituuu... yang aku baca di pintu barusan.” Kata Abel kikuk sambil menunjuk pintu.
“Hemm.”
“Di usia sekarang?!”
“Hemm.”
“Berarti, kamu seumuran sama bang Hugo dan kak Reni, kan?”
“Iya.”
“Keren banget kamu!”
“Apanya?”
Suster cantik itu pun merespons dengan senyum lembut dan keramahan khas profesinya. Kemudian suster itu keluar setelah melakukan tugasnya.
Pada saat itu Abel langsung memperhatikan Ibram yang sedang menuju ke meja tempat makanan tadi diletakkan. Laki-laki itu tampak cekatan membuka penutup makan dan minum satu per satu, yang memperlihatkan isinya. Ada yoghurt, teh jahe hangat, bubur nasi serta ikan salmon panggang, kentang rebus, juga salad sayur. Tidak ketinggalan buah-buahannya, ada pisang dan pepaya yang dipotong dadu. Itu adalah makanan sehat semua.
Abel mendadak merasa sakit kepala memikirkan cara menghabiskannya.“Ini buat aku semua?”
“Aku nggak tau mau kamu apa. Jadi aku pesan sesuai kebutuhan kondisi kamu sekarang.” Ucapnya sambil memberikan teh jahe hangat pada Abel.
Abel tersenyum geli.“Kok aku jadi ngerasa punya dokter pribadi gini, ya.” Katanya seraya menerima teh hangat yang diberikan Ibram.
“Abel.” Tegur Ibram tiba-tiba.
“Iya?” Abel pun menatap Ibram.
Ibram tampak bingung menyampaikan. “Aku... ada tugas abis ini. Kamu nggak pa-pa sendirian di sini, kan? Atau butuh teman?”sesalnya karena tak lagi bisa berada di ruangan tersebut menemani Abel.
Raut wajah Abel mengendur sesaat. Dia menatap Ibram lama.“Yaudah, nggak pa-pa. Harusnya... aku nggak ganggu kamu. Ini kan emang udah tugas kamu sebagai dokter. Tapi... aku tunggu kamu sendiri di sini nggak pa-pa, kan?” respons Abel. Padahal perasaannya malah mengatakan sebaliknya. Abel tidak ingin mengganggu pekerjaan laki-laki itu hanya karena dia takut di rumah sakit itu sendirian, apalagi tanpa mengenal siapapun, kecuali Ibram.
“Oke.” Ibram tersenyum lega mendengarnya.
__ADS_1
“Tapi...”
“Apa?”
“Besok kamu bisa temenin aku keluar? Kemana aja. Plisss. Ya?”
“Aku usahakan.”
Abel pun tersenyum senang mendengar ketersediaan Ibram. “Oke. Aku tunggu.”
***
Di ruang kerja milik Ibram−usai ditinggal pemiliknya, Abel menarik tirai gorden untuk menutup dirinya yang sedang berbaring di atas brankar. Kemudian dia mengaktifkan ponselnya yang tanpa henti berbunyi menerima pesan dari Ray dan Cindy. Namun belum dibaca, seluruh pesan itu langsung dihapus. Panggilan-panggilan dari keduanya pun sengaja diabaikan. Ada juga melibatkan nomor HP Hugo dan Afreni. Bahkan tiba-tiba lebih dari tiga jenis nomor asing dan berbeda masuk ke nomor ponselnya, tetapi tidak dia pedulikan sama sekali.
Karena tidak nyaman terus diganggu, Abel mencabut sim card yang memang disimpan oleh Ray dan Cindy selama ini. Abel menggantinya dengan sim card lain yang hanya dia gunakan untuk dirinya sendiri disaat genting. Dia memutuskan membuang sim card lamanya dan menggunakan sim card satunya untuk seterusnya.
Dia bertekad tidak akan turut lagi dalam urusan apapun yang menyangkut Ray dan Cindy, seperti hubungan mama dan papanya yang sedang tegang dengan tante serta omnya, juga kedua orang tua Ray. Papa dan mamanya selalu bersikap dingin apabila berpapasan dalam momen apapun, namun keduanya tetap menerima kehadiran Ray atau Cindy ke rumah, meskipun suasana mereka telah berubah canggung.
Mama dan papanya seolah baru sadar dengan sikap kedua orang tua Ray dalam memperlakukan putrinya dan Cindy sangat berbeda selama ini. Tentu hal itu membuat keduanya tersinggung karena perbedaan perlakuan yang diterima oleh anak mereka. Bahkan Abel pun dapat merasakannya, dan semua hal itu kadang membuat rasa perih dalam hatinya muncul. Karena naifnya dia telah menciptakan sejuta senyum di bibirnya selama ini, namun arti sesungguhnya ialah dia sangat menyedihkan di hadapan orang-orang itu.
Abel memutuskan keluar dari ruangan Ibram untuk berkeliling ke sudut-sudut rumah sakit, menaiki lift, lalu tak lama ke ruang kerja milik dokter Surya, sewaktu dia dan mamanya pernah datangi, letaknya berada di lantai tiga. Tiba-tiba ada dua orang suster familiar yang berpapasan dengannya, keduanya tersenyum ramah. Abel ingat, salah satunya adalah asisten dokter Surya saat itu, satunya lagi asisten Ibram.
“Suster.”Abel segera menegur dan menahan langkah kedua suster itu. Membuat keduanya serentak berhenti dan berbalik menatap Abel.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya asisten dokter Surya.
“Saya mau tanya, kalo dokter Ibram masih lama nggak tugasnya?” tanyanya.
“Kami bukan lagi ditugaskan dengan dokter Surya atau dokter Ibram. ”Jawab salah satu suster tersebut.
“Ooh.” Abel manggut-manggut dan air mukanya tampak kecewa. “Yaudah terima kasih informasinya, Sus.” Abel pun mengangguk sopan lantas kembali berbalik menuju lift.
Abel merasa bosan sendirian, lalu dia pikir ada baiknya bila menghirup udara di luar rumah sakit. Ada sebuah minimarket juga di seberang rumah sakit, sehingga membuat Abel sekalian ingin membeli makanan di sana, sebelum Ibram memergoki dirinya melahap makanan itu, akan lebih baik dia habiskan sekaligus di halaman rumah sakit. Begitulah rencananya.
Tiba di minimarket, Abel memasukkan beberapa jenis camilan dan roti ke dalam keranjang. Camilan yang dia anggap tidak terlalu banyak mengandung MSG. Lantas gadis itu lekas membayarnya di kasir kemudian keluar dari minimarket tersebut sambil menenteng kantong dan roti di tangan satunya.
“Abel.”
Muncul suara seseorang di belakang Abel. Begitu dia berbalik, alangkah terkejutnya dia hingga kantong dan roti di tangannya jatuh seketika. Dua orang yang paling tidak ingin ditemuinya berdiri tepat di depannya sekarang. Abel mundur pelan satu langkah, tanpa peduli dengan roti serta kantong belanjaannya, Abel pun berlari cepat untuk menghindar dari Ray dan Cindy.
__ADS_1
Sayangnya, keduanya tidak menyerah begitu saja. Ray dan Cindy tetap mengejar Abel.
***