Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 17 : TERULANG KEMBALI HAL YANG DULU PERNAH ADA DI HATINYA


__ADS_3

Abel dan mamanya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Mereka melakukan pemeriksaan kesehatan untuk terakhir kalinya, sesuai jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.


Sepanjang perjalanan Abel harap-harap cemas. Dia memikirkan kemungkinan dua hal yaitu, dapat kesempatan bertemu dengan Ibram yang tidak ada kabar sejak terakhir kali berpisah di kepulauan Seribu.


Atau sial, sama sekali tidak ada kesempatan tersebut.


“Bel.”



“Iya, Ma?”



“Turun. Kita udah sampe.”


Pandangan Abel pun mengarah pada gedung rumah sakit di depannya. Gadis itu terlalu lama tenggelam dalam pikirannya, sehingga tidak menyadari bahwa mobil yang disopiri oleh pak Ali─sopir keluarganya selama lima tahun, telah memarkirkan mobil di antara barisan kendaraan roda empat lainnya.


“Iya, Ma.” Abel langsung membuka pintu untuk keluar.


***


Setelah melakukan prosedur yang ditetapkan rumah sakit di meja unit pelayanan informasi dan pendaftaran administrasi, Abel dan mamanya tinggal menunggu pada barisan kursi tunggu di lobi rumah sakit.


Setiap ada dokter pria muda yang melaluinya, entah dari sisi kanan dan kiri, depan atau belakangnya, Abel secara tidak sadar menoleh untuk mengamati dan meyakinkan penglihatannya bahwa dokter-dokter tersebut bukanlah Ibram. Abel menghela napas diam-diam, karena selama tiga puluh menit dia duduk, masih belum ada tanda-tanda keberadaan Ibram.


“Bel, udah giliran nama kamu sekarang.” Abel lagi-lagi tak dapat fokus jika bukan karena teguran dari mamanya.


Abel mengangguk dengan raut wajah lemas, mengikuti langkah mamanya menuju ruang dokter Surya seperti sebelumnya. Ketika telah berada di depan pintu ruangan, pandangan Abel jatuh pada papan nama yang terpasang pada pintu tersebut. Cukup lama Abel menatap nama tersebut, hingga dia tercekat setelah sadar mencerna nama tersebut ke dalam memorinya.


Abel seketika menutup mulutnya dengan mata yang ikut membulat besar. Abel menggeleng kuat masih menolak percaya bahwa penglihatannya sedang salah. Namun, seberapa keras pun dia membohongi dirinya, nama itu adalah milik seseorang yang sudah familiar di dalam kepalanya.


“Ma, dokter Surya Brata Baskoro ayahnya dokter Ibram?” masih setengah sadar, Abel bertanya pada mamanya dengan suara cukup menyita perhatian orang lain.


Mamanya menatap Abel terheran-heran.“Ada-ada aja. Masa kamu nggak kenal dokter sendiri? Kamu baru tau atau gimana?”dari pertanyaan yang diajukan mamanya barusan, Abel semakin yakin bahwa mamanya telah lama mengetahui fakta tersebut.


“Yaampun. Mama kok nggak kasih tau Abeeell?” protesnya dengan perasaan gemas. Dia merasa bodoh karena tidak menyadari kebenaran yang jelas-jelas ada di depan matanya belakangan ini.


“Kirain Mama, kamu udah tau.” Respons mamanya tanpa rasa bersalah.


“Ihh, Mama.” Abel semakin gemas sendiri, seperti dilanda kepanikan. Dia baru terdiam ketika seorang suster keluar dari dalam ruang dan meminta mereka untuk masuk.


***


Masih sulit percaya bahwa pria paruh baya dan berkacamata di depannya saat ini adalah, ayah dari Ibram, dokter yang dikenalnya selama ini.


Pria paruh baya di depannya itu tidak sama sekali menggambarkan sosok yang tampak dingin atau galak. Justru sorot matanya terasa hangat, begitu pula cara bicaranya, terdengar akrab dan menyenangkan. Tidak membatasi diri bahwa beliau sedang bicara dengan pasien atau keluarga pasien.


Tetapi jika mengingat Ibram lagi, Abel terpaksa menelan rasa kecewa yang dalam, karena sampai hari itu juga, dia masih tidak melihat tanda-tanda Ibram sama sekali. Bahkan kabarnya pun tidak.


Muncul dugaan negatif yang menghantui pikirannya, bahwa laki-laki itu masih marah padanya, serta adapun dugaan positif yang dia harap benar, laki-laki itu masih berada di kepulauan Seribu. Mengingat informasi yang dikatakan suster di meja informasi saat itu, bahwa Ibram mengosongkan jadwal sampai hari ini. Jadi, bisa saja Ibram baru kembali hari ini dari sana. Abel masih berusaha berpikir positif.


Abel baru saja selesai mengenakan pakaian miliknya sendiri. Dia mengembalikan pakaian pasien yang harus dia kenakan selama melakukan tes medis tadi kepada perawat. Gadis itu bersama mamanya kembali ke lobi untuk menunggu hasil pemeriksaannya keluar dari laboratorium.


Dalam hati, Abel berharap untuk terakhir kalinya. Dia sangat ingin Ibram hadir, dan laki-laki itulah yang akan mengantarkan hasil kesehatannya seperti waktu itu.


“Mama kok serba udah tau tentang dokter Ibram.” Abel menyuarakan pikirannya yang tidak tenang sejak tadi. Dia tidak tahan terus diam, sementara pikirannya sedang kacau pada satu sosok yang belum menunjukkan diri sampai sekarang.



“Mama pikir kamu udah tau. Ya, jadinya Mama diem-diem aja.” Mamanya jadi heran dengan sikap putrinya.“Emang ada apa? Suara kamu kedengaran nggak semangat.”



Abel mendesah berat. “Abel emang deket sama dokter Ibram. Tapi banyak yang Abel nggak tau tentang dia. Malahan, Bang Hugo sama kak Afreni teman semasa SMA dia aja, nggak banyak tau.”Ujarnya bingung.



Mata mama Abel menyipit menatapnya. “Kenapa jadi mau tau banget gitu?”


__ADS_1


“Iyaaa. Abel harus kenal siapa yang jadi teman Abel sekarang. Jangan banyak rahasia gitu. Abel jadi nggak paham jalan pikirannya.” Suaranya terdengar semakin lemas dan tak senang di kalimat terakhir.


“Itu tandanya kamu kepengin akrab sama dokter Ibram.”


Kalimat mamanya barusan tampak membuat Abel baru sadar dengan tingkahnya sejak tadi. Dia terdiam seolah mencari kebenaran itu dalam pikirannya.


“Sebetulnya Mama juga tau dari suster waktu kamu masih dirawat. Suster bilang, dokter Ibram anak dari dokter Surya.”


Abel menoleh menatap mamanya.“Apa lagi yang udah Mama tau selain itu?”Abel jadi mendesak. Terus terang dia tidak bohong, jika dirinya kian penasaran dengan apapun yang menyangkut tentang Ibram saat ini.



“Yang Mama denger, banyak perawat naksir dia. Toh anaknya ganteng gitu, nggak banyak omong, nggak banyak tingkah. Biasanya laki-laki model kayak gitu suka bikin penasaran. Apalagi nggak punya banyak temen akrab perempuan. Siapapun yang jadi pacarnya pasti merasa aman dan beruntung.”



“Artinya belum pernah punya pacar?”Abel menarik kesimpulan sendiri.



“Mungkin, Sayang. Siapa yang berani deket-deket dokter Ibram kalo sikapnya sedingin itu. Takut dicuekin. Katanya mereka sih gitu sama Mama.” Beliau menatap putrinya sekarang, seakan menunggu respons namun tak ada. Lalu beliau meneruskan bicaranya.“Mama sempet dengar juga, dokter Ibram itu nggak sombong atau kayak laki-laki yang sok, dia justru ramah...” lalu mamanya merapat pada Abel dan berbisik. “Tapi pelit senyum dan irit ngomong.”


“Iya Abel setuju.”


“Itu kamu udah tau.”


“Abel bisa tebak selama deket sama dia.”


“Oalah.”


“Itu aja, Ma?”


“Punya hobi travelling dan apa ya... fotografi, iya, kalo nggak salah.” Ungkap mamanya mencoba mengingat.


Abel mengangguk-angguk, untuk fakta yang satu ini pun dia juga sudah mengetahuinya. Karena telah menyaksikan langsung hobi tersebut, semenjak mengenal laki-laki itu. Perhatian Abel pun tertuju pada unit pelayanan informasi dan pendaftaran administrasi, letaknya tak jauh di depannya. Dia memandang lama meja itu untuk menimbang-nimbang sesuatu dalam pikirannya.



***


“Suster.”



“Iya?”



“Saya─”



“Pasti dokter Ibram.” Suster rupanya telah hapal dengan wajah Abel yang selalu datang menanyakan perihal serupa.



Abel tersenyum kikuk. “Udah ada kabarnya, Sus?” tanyanya kemudian.



“Menurut jadwal kosongnya memang sampai hari ini. Tapi belum ada kabar dari beliau sampai sekarang.” Suster itu menerangkan dengan keramahannya. Sikapnya tetap sabar, meskipun Abel selalu datang bertanya tentang itu-itu saja.“Ada lagi yang ingin ditanyakan?”



Abel menggeleng pelan, tampak jelas air mukanya berubah muram mendengar informasi tersebut.


“Terima kasih, Sus.” Ucapnya, yang ditanggapi dengan anggukan serta senyum hangat suster tersebut.


Abel kembali ke kursi tunggu, tempat mamanya masih sabar menanti waktu giliran mereka.


__ADS_1


“Udah?” tanya mamanya.



Abel hanya mengangguk pelan, tetapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang wanita di samping kiri mamanya. Tampak wanita itu sedang asyik menimang-nimang ponsel. Seakan baru ingat, gadis itu langsung terpikirkan ponselnya yang pernah menerima pesan dari sebaris nomor asing milik Ibram.


Sorot mata Abel seketika langsung berkilat senang. Abel segera mengambil ponsel dari dalam tasnya, cukup lama dia menatap barisan nomor tersebut untuk memutuskan menghubungi Ibram.


Abel mendekatkan ponsel ke telinganya perlahan dengan gerakan ragu. Bahkan jantungnya saat ini sudah berdegup tidak keruan. Dia sampai menyentuh dadanya. Apalagi, setelah mendengar nomor tersebut berdering aktif, nyaris saja dia melompat girang. Lama menunggu panggilannya dijawab, akhirnya pemilik telepon di seberang bersuara.


“Halo?”



Abel baru saja tersenyum lebar mendengar suara berat di seberang sana. Air mukanya yang muram sebelumnya, langsung berpendar cerah sejalan dengan binar di sepasang matanya. Dia tidak sadar dengan semua sikapnya barusan.



“Iya halo? Ibram... ini Abel.” Gadis itu tak sadar menggigit bibir bawahnya.



“Iya Abel. Ada apa?”


Abel nyaris menjerit mendengar suara lembut Ibram merespons dirinya bicara.“Ka, kamu baik-baik aja, kan?” tanyanya hati-hati, takut membuat Ibram salah paham.


“Iya. Aku baik. Ada apa? Perlu sesuatu?”



Abel mendesah lega mendengar reaksi tenang itu. Apalagi suara Ibram terdengar tidak ogah-ogahan menanggapi setiap pertanyaan yang disampaikannya. Suaranya tetap hangat dan ringan, seolah apa yang telah terjadi di kepulauan Seribu waktu itu, tidak jadi beban pikiran atau letupan amarah laki-laki itu.



“Bisa kita ketemu hari ini?” Abel langsung menggigit ujung kukunya. Takut Ibram menolak permintaannya. Jika itu sampai terjadi, dia tidak akan menemui Ibram lagi. Abel seketika menolak pikirannya barusan, bukan tidak menemui, melainkan meluapkan amarahnya terang-terangan.


Cukup lama Abel menunggu Ibram diam untuk mengiyakan ajakannya. Namun Abel dapat mendengar suara-suara berisik orang berbicara satu sama lain di telepon. Jeda waktu itu membuatnya merasa cemas dan tidak percaya diri.


“Abel, barusan kamu bilang apa?”


Mendengar Ibram bertanya balik. Tanda bahwa laki-laki itu tidak mendengar jelas ajakannya tadi, membuat perasaan Abel berubah kecewa dan memutuskan untuk memendam hal itu sendiri.


“Nggak, kok. Aku cuma tanya apa kabar sama kamu?”kata Abel dengan suara samar. Abel menunduk menyembunyikan wajah lesunya.


Ibram tersenyum. “Yakin? Bukan ada yang lain?”


“Iya.”


“Yaudah, aku bisa tutup teleponnya sekarang?”


“Ehm.”


Perasaan Abel seperti hancur berkeping-keping setelah percakapan mereka berakhir tanpa hasil. Padahal, Abel yakin sekali mengatakan ajakan itu dengan jelas. Entah karena Ibram sengaja mengubah topik, saat terjadi waktu jeda diam di antara mereka tadi. Abel tidak yakin untuk hal ini.


Reaksi Ibram itu benar-benar sama sekali tidak sesuai harapan Abel. Tiba-tiba dia merasa tidak tenang. Bahkan sejak tadi telapak tangannya terasa dingin dan kaku, namun begitu mendengar suara laki-laki itu kembali relaks. Sayangnya, kelegaan itu hanya berlangsung singkat.


Abel pun menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas dengan wajah kaku setelah percakapannya dengan Ibram berakhir.



“Udah ngobrol sama dokter Ibram?”



Suara mamanya mengembalikan Abel dari pikirannya. Abel mengangguk. “Iya.”


“Terus dokter Ibram marah sama kamu?”


Abel menggeleng pelan.“Dokter Ibram kayaknya nggak marah, Ma.”


“Syukur kalo gitu. Nah, udah giliran kita sekarang.” Mamanya menunjuk salah satu layar yang menggantung di langit-langit rumah sakit, tepat di atas meja unit pelayanan informasi dan pendaftaran administrasi.

__ADS_1


***


__ADS_2