
Abel mengalihkan pandangannya ke atas, dia tidak berani menatap Ibram. Suara khas laki-laki itu seketika membuat jantungnya tidak sehat.
“Ada kamu juga Ren.” Ibram menyapa Afreni lebih dulu. Lalu duduk pada sofa single di sisi kiri Afreni dan sisi kanan Abel.
“Abis dari rumah sakit?” tanya Afreni, dia pun menuju lemari pendingin hendak mengambil jus botol, tetapi Ibram memberi isyarat menolak, karena lebih memilih air mineral gelas yang tersusun di atas meja.
“Dari rumahnya.” Hugo yang menyahut dari kursinya.
“Ooh.” Afreni manggut-manggut. “Pantes baju kamu casual gitu.” Katanya sambil mengamati stripes t-shirt lengan pendek dan celana hitam panjang serta sneakers putih yang dipakai Ibram saat ini.
Abel masih diam di tempatnya, mendengarkan percakapan tiga orang sekawan SMA di depannya sekarang. Sama sekali dia tidak ada keberanian memandang Ibram, namun biarpun demikian, bisa dia dengar jelas bahwa dari cara bicara laki-laki itu, begitu relaks. Tak terganggu seperti perasaannya sekarang.
“Oya, aku duluan. Nggak bisa lama-lama. Biasa. Cuma antar makan siang Hugo.” Afreni pun bangkit dari sofa. Memecah pikiran Abel langsung. Afreni tersenyum dan melambai tangan ke arah Abel sebelum pergi. “Kak Reni masih tunggu jawaban kamu.” Kata Afreni penuh arti, baru meninggalkan Hugo, Ibram, dan Abel.
***
Abel masih bungkam di sofa tempatnya duduk. Hugo sadar betul itu, dia menahan senyum, laki-laki itu sengaja beranjak dari kursi kemudian duduk pada sofa single di seberang Ibram. Hugo akan membuat Abel bersuara melalui dirinya.
“Kamera Ibram mana, Bel?” tegurnya, berhasil menyentakkan Abel.
“Eh... iya ini dia.” Abel lekas mengambil kamera dari meja di depannya dengan perasaan gugup. Matanya tidak fokus menghindar dari mata Ibram. Lantas, dia menyerahkan kamera tersebut pada Ibram tanpa berani menatap laki-laki itu sama sekali.
“Udah selesai?” Ibram menerima kameranya dan bertanya pada Abel. Dia menatap Abel dan kamera di tangannya bergantian.
“Iya.” Jawab Abel pendek. Bola matanya bergerak tidak fokus.
Tawa Hugo nyaris menyembur menyaksikan tingkah Abel.
Ibram mengeluarkan kameranya dari pouch, lantas menghidupkan benda tersebut. Detik berikutnya Ibram tenggelam pada kameranya, matanya fokus, dan jarinya bergerak menekan tombol, tanpa bertanya-tanya hal lain lagi pada Abel.
“Kenapa, Bro? Ada yang nggak beres sama kamera lo? suara Hugo mengudara, bertanya pada Ibram karena suasana di antara mereka mendadak senyap, selain itu mata Ibram begitu fokus pada kamera.
“Nggak. Semuanya lengkap.” Jawab Ibram puas, lalu dimatikan kembali kameranya. Memandang Hugo dan Abel gantian.
“Syukurlah.”Hugo merasa lega. Dia pun segera memberi isyarat pada Abel untuk menyampaikan rasa terima kasih, karena sudah dipinjamkan kamera oleh Ibram.
“Terima kasih banyak sudah dikasih pinjam kamera kamu.” Kata Abel pada Ibram. Suaranya terdengar ragu.
Ibram mengangguk sekali dengan gerak lamban dan senyum tipis merespons Abel.
Di sofanya, Hugo mengamati tingkah Ibram dan Abel dalam diamnya, entah kenapa sebersit ide mendadak muncul dalam kepalanya.
“Abel suka sama semua objek yang lo potret.” Kata Hugo, memecah keheningan mereka lagi.
Abel terkejut dan langsung mengangkat wajah menatap Hugo. Gara-gara itu Abel semakin tak ada nyali menatap Ibram, karena laki-laki itu malah sedang menatapnya sekarang. Dia baru menatap Ibram setelah laki-laki itu menyampaikan perasaan senangnya.
“Oya?”Ibram tampak terkejut menatap Abel.
“Ha?”Abel terkejut dan tampak bingung. Dia menatap Hugo yang memberinya gestur mengangguk. Akhirnya Abel menganggukkan kepala pada Ibram. “I, iya.”
“Terima kasih.”
“Sama... sama.”
Kemudian perhatian Ibram tertuju pada Hugo sekarang. “Gue cabut langsung sekarang. Sori, nggak bisa lama.” Katanya seraya bangkit dari sofa dan tidak lupa sekalian menyertakan kameranya.
“Buru-buru mau kemana, lo?” kata Hugo geleng-geleng kepala seakan tak percaya. Hugo tak menduga Ibram hanya sekadar sebentar menjemput kamera saja di bengkelnya. Dia tak pernah berhasil membaca jalan pikiran Ibram meskipun telah berteman sejak SMA. Ibram adalah teman paling dingin yang pernah dia kenal sepanjang hidup.
__ADS_1
“Sori.”Sesal Ibram. “Tadiny gue emang nggak ada rencana ke sini.”
Hugo mendesah keras. “Sialan. Yaudah. Apa boleh buat.” Diantarnya Ibram sampai di pintu ruang kerjanya, keduanya masih sempat bicara sesaat di luar, di depan pintu, baru berpisah dan Hugo kembali ke dalam ruang kerjanya. Melihat Abel telah berbaring di atas sofa sambil menatap layar ponsel.
“Bang Hugo.”
“Apa?”
“Nggak pa-pa kan Abel sering-sering ke sini sekarang.”
“Karena Ibram?”Hugo malah usil.
“Bukaaann. Lagi BT aja di rumah.”
“Silakan.”
“Yang bener?”
“Hm.” Selanjutnya Hugo melemparkan kain pada Abel.
“Aduh.”Abel mengeluh menatap Hugo sebal.
“Jangan biasakan pake rok pendek.” Tegur Ibram.
“Kenapa? Abel udah biasa.”Abel merespons santai.
“Supaya Ibram suka sama kamu.”
Abel langsung melotot dan mengubah posisinya menjadi duduk, dipandangnya Hugo. “Jadi bawa-bawa dokter Ibram.”Katanya heran.
“Bang Hugo ada niat jodohin kamu sama Ibram.”
***
Suara itu datang dari ambang pintu. Membuat Hugo dan Abel berbalik memandang arah datangnya suara. Di sana, Hugo dan Abel melihat Ray dan Cindy telah berada di ambang pintu dengan wajah masih dilingkup rasa terkejut.
Sikap Abel sendiri sudah berubah kaku. Gadis itu lekas bangkit dari sofa, bermaksud menghindar dari Ray dan Cindy, tetapi Cindy lebih dulu mendekat menahan niatnya.
“Lo suka sama dokter Ibram?”suara Cindy serta-merta menghentikan langkah kaki Abel seketika.
Abel memang berbalik, tetapi pandangannya mengarah pada Hugo. “Bang Hugo, Abel jalan.” Ucapnya lantas pergi tanpa mengatakan apapun pada Ray dan Cindy.
Tetapi Ray tidak membiarkan Abel pergi begitu saja, laki-laki itu lekas mengejar Abel sampai keduanya berada di anak tangga saat ini.
“Abel.”
Ditahannya lengan atas Abel sebelum gadis itu lebih cepat mengambil langkah ke bawah.
“Tunggu, Bel.”
“Apaan sih?! Lepas nggak?!” bentak Abel tidak suka.
“NGGAK BISA.” Ray membalas penuh tekanan dengan mata menajam, bahkan bunyi giginya terdengar jelas bergemeletuk menahan marah.
Abel tertegun pada laki-laki yang dia kenal selama ini. Laki-laki yang tidak pernah sebegitu marah padanya. Tetapi, dari sikap ini, terus terang membuatnya tiba-tiba merasa takut. Gadis itu menelan salivanya, dan entah kenapa dia merasakan tubuhnya mendadak lemas. Seperti kehilangan tenaga dan kesadarannya, Abel merasa limbung dan detik berikutnya penglihatannya menggelap.
***
__ADS_1
Abel terbangun mendapatkan dirinya telah terbaring di atas sofa yang sama sebelumnya. Kepalanya masih terasa berat ketika pandangannya mengarah di sekitar ruang, dia melihat Cindy dan Afreni duduk di sebelahnya dengan sorot mata cemas.
Sementara itu Hugo, Ray, dan Ibram tak jauh di belakang sofa tempatnya berbaring. Mata Abel pun melebar kaget dan dia bangkit seketika. Tetapi gagal karena sakit di kepalanya masih terasa berat.
“Bel, istirahat dulu.” Suara Cindy menahan niat Abel.
Abel langsung mendorong Cindy tak peduli.
“Tahan sebentar, Bel. Abis ini kamu boleh jalan, setelah pucat di wajah kamu hilang. Oke?” pinta Afreni lebih tegas, sehingga membuat Abel menurut.
“Kak Afreni nggak kasih tau mama atau papa, kan?” tanya Abel, sambil memijit pelipis.
“Nggak. Kakak tau urusannya bisa panjang. Apalagi ada sangkut-pautnya sama Ray juga Cindy.” Ucap Afreni yakin seraya memandang adiknya dan Cindy bergantian.
Abel tersenyum lega. “Makasih, Kak.”
Afreni mengangguk. “Bilangnya sama Ibram. Beruntung dia masih di sekitar sini tadi. Kami langsung minta dia putar balik lagi buat periksa keadaan kamu. Kakak juga lega ada apotek deket dari bengkel.”
Mendengar itu pandangan Abel langsung tertuju pada Ibram. “Terima kasih, Dok.”
“Iya.”
“Nggak pa-pa kan pake embel-embel dokter, soalnya posisi aku jadi pasien kamu sekarang.” Kata Abel serak, berhasil mengundang senyum Ibram.
Reaksi Ibram barusan, membuat Hugo dan Afreni saling pandang heran. Mereka tidak pernah menyaksikan Ibram tersipu oleh kalimat yang diucapkan perempuan.
Sementara Ray dan Cindy tampak bisu dan tidak senang menyaksikan suasana di ruangan itu.
“Oya, Abel?”
“Iya, Dok?”
“Kamu anemia dan ada masalah sama pencernaan. Pemicunya pola makan kamu nggak teratur. Sekalinya makan tapi nggak sehat. Pikiran juga. Kamu jadi stres.” Kata Ibram menyampaikan masalah kesehatan Abel.
Senyum Abel lenyap perlahan. “Iya sih. Aku asyik muter-muter Jakarta.” Sesalnya. Dia sadar jarang makan, sekalinya makan bukan makanan sehat dan itu pun tidak dihabiskan.
“Muter-muter Jakarta?!” suara keras Ray mendadak membuat mereka memandang laki-laki itu. Sejak tadi dia panik setengah mati memikirkan keadaan Abel, namun orang yang dia khawatirkan justru tampak biasa-biasa saja. Tak acuh pada kesehatan sendiri.
“Dia kenapa, sih?” kata Abel terlebih pada dirinya sendiri.
Hugo langsung mengambil alih. “Ray.” Tegurnya tak senang. Menahan bahu adik iparnya tersebut. Tetapi Ray melepas kasar tangan Hugo lalu mendekat dengan Abel, hingga membuat gadis itu bangkit ketakutan. Berlari tidak keruan mengelilingi ruangan kerja Hugo demi menjauh dari aksi Ray hendak menangkapnya.
“ABEL!!!”suara Ray gila-gilaan.
Hugo kembali menahan Ray sebelum berhasil menjangkau Abel. “Lo sadar, Ray. Abel pun pasti nggak sadar kesehatannya nggak membaik belakangan ini.”
“MINGGIR!” suara Ray pecah sekencang-kencangnya. Matanya menajam dan wajahnya mengeras menatap Abel yang semakin pucat dan mundur perlahan-lahan menjauh dari Ray.
“Ray stop!”Afreni meneriaki adiknya.
“Bram, bantu gue.” Pinta Hugo.
“Nggak!” suara Abel membuat mereka menatap gadis itu. “Aku bisa minta bantuan kamu?” katanya tiba-tiba pada Ibram dengan sorot mata memohon. Dia terus menghindar namun tetap memandang Ibram.“Pliss.”
Sebenarnya Ibram tak ingin turut campur dengan masalah yang terjadi antara mereka, namun tanpa dia sadar, sekarang dia telah terlibat di dalamnya. Jika dia menolak terlibat, maka gadis yang sedang ketakutan tak jauh di depannya saat ini, akan menderita dan kecewa atas penolakannya. Akhirnya, Ibram pun menyanggupkan tanpa ragu, tak dihiraukannya sorot tajam mata Ray.
“Apa?”
__ADS_1
“Antar aku pulang.”
***