Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 5 : PERLAHAN MUNDUR DARI TEMPAT YANG TIDAK SEHARUSNYA


__ADS_3

Abel langsung menerjang ruang kerja Hugo besok harinya karena geram dan kesal, dia harus menuntut penjelasan dari laki-laki itu, sebab tidak mengatakan apapun tentang dokter Ibram saat itu padanya.


“Bang Hugo kok nggak bilang sih kenal sama dokter Ibram!” protesnya keras setelah mendorong pintu ruang kerja Hugo.



Seketika bibir Abel mengatup rapat. Tertegun ketika melihat pemandangan pertama yang disaksikannya di ruangan tersebut adalah Hugo dan dokter Ibram. Kedua laki-laki itu pun bergeming dan tercengang menatap Abel sekarang.



Hugo menahan senyum seraya melirik Ibram sekilas. “Kenapa diam?”



Abel menggigit bibir bawahnya, dia merasakan wajahnya, mungkin, terlihat seperti kepiting rebus. Bibir Abel bergerak membuka dan menutup berkali-kali tanpa suara, gadis itu sampai kehilangan kata-katanya seketika karena tidak menyangka, seseorang yang akan menjadi topik pembicaraannya malah berada di sana sekarang.



“Abel.” Tegur Hugo pelan.



Abel tersadar lekas geleng-geleng kepala. “Nggak jadi. Nggak jadi.” Katanya cepat, lantas berbalik hendak keluar ruang kerja Hugo.


“Tunggu! Bang Hugo juga baru tau hari ini. Serius.” Suara Hugo pun lekas menahan pergerakan Abel.


Kedatangan Ibram hari ini ke bengkelnya memang sedang membicarakan Abel. Karena pada waktu itu, Ibram belum mengatakan apapun tentang Abel meskipun telah mengenal gadis itu. Tetapi mengingat Abel menanyakan hubungan mereka di rumah sakit, Ibram lekas memberitahu pada Hugo. Semua. Dari awal Abel di rumah sakit sampai terakhir kemarin.



“Oke! Bang Hugo kenalkan kalian secara resmi di sini.” Hugo langsung membuat keputusan supaya Abel tak semakin salah paham padanya.



Mata Abel sontak melebar dan berbalik. “Cuma tanya aja kok! Bukan mau kenalan. Lagian udah kenal ini.” Balasnya cepat, demi menutupi rasa gugupnya.



“Kenal di rumah sakit, kan? Iya betul. Ibram memang dokter kamu dan kamu pasien Ibram. Itu mah nggak bisa disebut jadi teman. Selamanya hubungan kalian hanya sebatas itu tanpa kemajuan. Kalo dikenalkan langsung, bisa aja kalian jadi akrab nantinya.” Hugo menatap Ibram sekilas, menunggu persetujuan dari temannya itu.


Diikuti gerakan bola mata Abel. Gadis itu menahan napas. Dilihatnya Ibram bergerak perlahan menghampirinya dan merentang tangan di depannya.


“Ibram. Jangan pake embel-embel dokter di depannya.” Kata Ibram menegaskan, mengundang senyum di bibir Abel seraya menyambut hangat tangannya.


Abel tersenyum lebar dan balas mengenalkan diri.“Abel. Jangan pake embel-embel Adinda di depannya.” Responnya meniru Ibram.


Hugo menahan senyum, dipandangnya dua orang di depannya dalam diam.


“Oke.”Abel pun mengangguk.


“Nggak mau gabung bareng kami?” suara Hugo pun mengudara. Menyadarkan Ibram dan Abel seketika.


Tangan keduanya pun langsung terlepas.


“Nggak.” Respons Abel singkat.


“Buru-buru kemana emangnya? Gabung aja. Kami bosan juga berdua.” Balas Hugo mendekat dengan Abel, lalu memaksa Abel duduk pada sofa yang sama dengan Ibram.


Membuat pandangan Ibram jatuh pada kaki jenjang milik Abel yang makin terekspos penuh karena mini skirt gadis itu jadi tertarik ke atas. Ibram mengamati dalam diam penampilan Abel yang sepertinya menyukai rok pendek. Saat bertemu sebelumnya pun, Abel mengenakan rok denim selutut dan Ruffel blouse. Pun di rumah sakit, rok mini floral dipadu dengan outshoulder top warna hitam.


Gadis itu feminin. Entah sejak kapan.


“Bang Hugo! Abel masih harus ke tempat lain.” Ujar Abel sebal. Mengikut ke arah pergi Hugo menuju lemari pendingin, berputar, satu tangannya bersandar pada bagian atas punggung sofa hingga membuat posisi Ibram jadi di belakangnya.



Hugo tak langsung kasih respons lalu meletakkan tiga botol jus buah dingin di atas meja. Dia duduk pada sofa single di sisi kiri Abel.



“Katanya kamu mau pinjam kamera.” Hugo mengingatkan usaha Abel yang mengira kamera milik Ibram kepunyaannya.



Abel terdiam cukup lama. Dia sempat melirik Ibram melalui bahu kanannya. “Bukan punya Bang Hugo. Biar nanti Abel beli sendiri aja.” Suaranya berubah pelan.



“Kalo kamu pinjam sama orangnya langsung, pasti dikasih. Jadi kamu nggak perlu buang-buang duit” Kata Hugo lunak seraya melirik Ibram sekilas.



“Emang... dikasih?” suara Abel terdengar ragu.



“Ya tanya sama yang punya.” Hugo menunjuk Ibram dengan dagunya. Ibram sedang fokus menatap tabletnya.

__ADS_1



Abel berputar menatap Ibram, tapi sikap serius laki-laki itu membuatnya jadi segan. Sejak awal, Abel sudah dapat menilai Ibram itu tipe laki-laki pendiam.



“Nggak ah.” Tolaknya pada Hugo tanpa suara.



Hugo jadi mendesis gemas. “Bram.” Tegurnya.



“JANGAN!!” seru Abel mendadak, bermaksud menahan Hugo.


***


Abel menggigit bibir bawahnya ketika menerima sorot tanya Ibram.



“Ehmm... itu... boleh nggak─”



“Abel pinjam kamera lo, katanya.” Hugo yang meneruskan tak sabar.



Ibram mengangguk-angguk. “Boleh. Ada di mobil.”



Abel terkejut. “Ini... maksudnya dikasih pinjem beneran?” tanyanya memastikan.



“Iya.”



“Serius, Dok?”



Mata Ibram menyipit seketika mendengar Abel tidak menyebut namanya, sehingga gadis itu langsung menutup mulut.




Ibram pun beranjak dari sofa. “Ikut ke mobil.” Pintanya pada Abel.



Gadis itu menatap Hugo sesaat dan laki-laki itu memberinya isyarat lekas mengejar Ibram keluar.


***


Abel menyusul turun melalui anak tangga dengan langkah ringan dan senyum di bibirnya, ikut dengan langkah Ibram lebih dulu sudah pada lima anak tangga di bawahnya. Mereka menuju ruang parkir di dekat gerbang, lalu pandangannya jatuh pada SUV putih di sana. Tepat di samping mobilnya.



Abel menunggu berdiri tepat di belakang Ibram yang sedang membuka pintu depan, seraya mencari kamera yang disimpan dalam dasbor. Dilihatnya Ibram menutup pintu mobil kembali lalu menyerahkan kamera di tangannya pada Abel.



“Hati-hati. Di dalamnya banyak harta karun.” Air muka dan suara Ibram begitu serius. Membuat Abel jadi ragu menerima benda tersebut.



“Pasti banyak foto, ya?” tanyanya. Suaranya melemah.



“Banyak file penting.” Ibram mengangguk membenarkan.



“Yaah... nggak jadi aja pinjamnya.” Tolak Abel halus.



Ibram menahan senyum. “Aku bercanda.” Katanya, kembali mendekatkan kamera miliknya pada Abel yang tercengang.


__ADS_1


“Itu barusan dibilang bercanda?” ungkapnya masih sulit mencerna.



“Kamu jadi pinjam?” Ibram kembali mengingatkan Abel.



“Iya-iya jadi.” Respons Abel cepat masih terkesima. Dia sungguh tidak dapat membedakan ekspresi wajah dan nada suara serius atau bercanda dari Ibram, karena tampak sama kuat. Diterimanya agak ragu kamera Ibram namun tiba-tiba Ibram membuka suara.



“Alangkah lebih bagus lagi kamu gunakan kamera polaroid dan pergi ke tempat yang suasananya tenang. Bisa jadi koleksi foto polaroid kamu nantinya. Ambil potret apapun kegiatan kamu di semua tempat.” Bibir Ibram pun menampilkan senyum tipis seraya menatap Abel usai memberi sedikit saran.


“Ooh... Iya-iya.” Ekspresi wajah Abel tampak bingung.


“Dijamin berhasil jadi mood booster.”


Sejak mendengar penjelasan Ibram, sebenarnya Abel tidak paham arah pembicaraan Ibram kemana, tetapi Abel mengangguk-angguk saja, tampak pelan dan ragu, demi menghargai niat baik laki-laki itu memberi pinjam kamera. Perhatian Abel baru berganti pada sebuah mobil yang baru saja masuk ke dalam gerbang. Mobil itu tidak asing bagi Abel. Mobil milik Ray. Benar saja, Ray keluar bersama Cindy.


Abel menahan napas seketika. Moodnya langsung hancur.


“Abel! Lo juga di sini?” tanya Cindy setelah bertemu pandang dengan Abel. Dihampirinya Abel bersama Ray.



Abel hanya mengangguk pelan merespons enggan. Suasana hatinya masih belum bisa tenang setiap berhadapan dengan Ray dan Cindy. Dia menjadi kacau dan ingin segera berlari, tetapi tak ingin membuat Ray dan Cindy salah paham lagi, hingga bukan menyelesaikan masalah, justru semakin menjadi runyam.



“Lo ya sekarang. Susah banget dihubungin.” Protes Cindy.



Abel tersenyum tipis.“Soriii. Gue juga kan punya keseruan sendiri.”



Raut wajah Cindy berubah mendung mendengar reaksi dingin Abel. “Kok gitu sih. Jadi lo nggak ajak-ajak gue lagi nih sekarang?”



Abel melirik Ray sekilas. “Ada Kak Ray kan sekarang.”



“Lo masih marah sama gue?” Cindy mendadak sangsi dengan Abel. Ada makna tersirat dalam kalimat Abel.



“Nggak.” Balasnya singkat. Kemudian seakan baru teringat, Abel pun mengenalkan Ibram pada Ray dan Cindy. Padahal dia sengaja mengubah topik pembicaraan serta perhatian Cindy.“Oya, kenalin ini dokter Ibram. Ternyata, dunia sempit, ya? Dokter Ibram ini sahabat bang Hugo dan kak Reni pas sekolah.”



“Udah kenal. Dokter Ibram teman sekolahnya kak Reni. Kamu yang terlambat kenal. ” Ray menolak berkenalan, sehingga yang berjabat tangan mengenalkan diri masing-masing hanya Cindy dan Ibram.


“Yaudah, Cindy aja yang kenalan.”Abel merespons santai.


“Serius dokter lo?” tanya Cindy tiba-tiba berbisik, masih sulit percaya.



Abel mengangguk tegas. “Gue juga kaget awalnya.”



“Abel.”


“Iya?” teguran itu spontan dijawab Abel. Ditatapnya Ibram. Diikuti Ray dan Cindy.


“Kameranya.”


“Oh iya.”


“Jaga baik-baik.”


“Pasti.” Abel tersenyum lebar.


“Aku duluan.”


Abel bergumam seraya mengangguk. “Nanti kalo udah selesai, aku pulanginnya masih mulus kok.” Katanya membuat Ibram tersenyum saat hendak naik anak tangga lagi.


“Oke.”


“Oya, polaroid itu apa, sih?”


“Kamu bisa cari di internet.”

__ADS_1


“Oke. Makasih kameranya!”Abel mengangkat kamera di tangannya agak ke atas dan tersenyum lebar pada Ibram. Suasana itu disaksikan aneh oleh Ray dan Cindy.


***


__ADS_2