
Abel membanting keras pintu utama rumahnya dengan sengaja, ketika melihat mobil Ray telah berada di depan gerbang rumahnya. Dia marah dan benci pada sikap Ray dan Cindy. Entah kenapa keduanya malah ikut campur atas kehidupannya saat ini.
Setelah berada di dalam rumah, gadis itu pun melempar asal tasnya ke atas sofa lalu membanting tubuhnya untuk duduk.
“Maaa.”
Tak seberapa lama mamanya pun muncul dari ruangan lain. Wanita paruh baya itu tampak terkejut mendapatkan putrinya yang tampak lelah duduk di depannya, beliau pun segera ikut duduk di sofa yang sama.
“Kenapa pulang tiba-tiba? Kamu lagi nggak lagi sakit, kan?”tanya mamanya cemas sambil menyatukan punggung tangan ke kening putrinya.
Abel menggeleng pelan seraya menatap mamanya dengan wajah suram.“Abel capek aja, Ma. Abel pengen banget marah rasanya.” Respons Abel lemas.
“Kenapa? Bukannya kamu bilang mau beberapa hari menyepi? Kenapa jadi pulang?”
“Itu tuh kak Ray sama Cindy. Masa Abel disusulin sampe ke pulau Harapan. Nekad banget kan, Ma?” katanya sebal.
Mamanya sontak terkejut. “Masa,sih?! Mereka ke sana?!”
Abel mengangguk.“Cuma kak Ray. Cindy baru pagi tadi datang, itu juga nunggu Abel di dermaga Marina Ancol.” Terangnya.
“Mereka itu mau apa, sih? Udah mau tunangan juga, masih asyik gangguin kamu. Kayak nggak punya urusan lain aja.” Ucap mamanya tampak ikut kesal.
Abel mendesah berat. “Makanya Abel bete banget sama mereka berdua. Belum lagi sikap kasar kak Ray ke dokter Ibram. Abel shocked banget, Ma. Abel nggak nyangka kak Ray berani pukul dokter Ibram di sana. Abel kan jadi merasa bersalah banget sama dokter Ibram.”Suara Abel terdengar lemas dan ketakutan.
“Astaga. Kok bisa, sih? Bikin malu keluarga aja.”Mama Abel tampak terkejut.
“Kak Ray sama Cindy nggak suka liat Abel bergaul sama dokter Ibram. Katanya dokter Ibram itu aneh lah, misterius lah. Nggak jelas kan, Ma?”
“Ini nggak bisa dibiarin! Mama harus bicara sama keluarga mereka!”Mama Abel tampak tidak senang dan hendak berdiri dari sofa.
“Ma, Ma, jangan... Abel mohon. Biar ini jadi urusan Abel sama mereka. Mama jangan ikut campur. Abel khawatir, yang ada hubungan kita semua malah makin tegang nantinya.”Abel menahan mamanya, dan menenangkan beliau untuk duduk kembali.
“Kalo bukan kamu tahan, Mama udah gatel rasanya mau ngomong langsung sama mereka! Ada urusan apa mereka ngatur hidup anak Mama?! Mama yang capek mengandung, melahirkan, dan membesarkan kamu sampai sekarang! Mama sama papa juga yang kasih kamu pendidikan dan kasih sayang sampai sekarang. Mama sama papa yang berperan besar di hidup kamu. Mereka itu siapa? Lancang sekali!”Mama Abel benar-benar marah hingga suara beliau pun meninggi ketika meluapkan rasa kesalnya.
“Maaa tahan amarah Mama. Ya?”Abel tampak cemas menyaksikan amarah mamanya yang berapi-api. Abel menenangkan dan merangkul mamanya. Lantas, sebuah ide konyol terlintas dalam benaknya selama di dalam taksi tadi. Abel pun menyuarakannya.“Kita pindah aja kali ya Ma. Abel capek terus-terusan ada di sekitar mereka.” Ucapnya frustasi.
Mamanya terkejut.“Nggak bisa, Sayang. Rumah ini kan rumah pertama kita. Hasil keringat dan jerih payah papa selama bertahun-tahun kerja. Kasihan papa kalo harus dijual. Kamu tega?”
“Iya juga. Abel egois banget. Tapi nasib Abel gimana, Ma? Mereka ganggu Abel terus. Nggak di mana aja. Malah mereka kelihatan nggak respek gitu sama dokter Ibram. Ikh, pokoknya nyebelin banget, deh!” Ungkapnya dengan suara agak kuat. Dia benar-benar merasa bersalah pada Ibram, ini yang membuat dirinya depresi berat, karena telah mengkhianati laki-laki itu. Padahal awalnya dia meminta tolong.
Tak sadar, Abel menggigit bibirnya ketika mengingat kejadian itu lagi
“Oya, dokter Ibram gimana? Udah ada kabarnya?” tanya mama Abel ikut cemas.
“Dia Abel tinggal di pulau Harapan. Abel nggak tega. Masalahnya dokter Ibram nggak mau ngelawan kak Ray sama sekali. ”Sesalnya dengan suara pelan.
“Ada apa sama orang-orang itu? Apa dunia mereka berhenti kalo kamu bergaul sama dokter Ibram?” ucap mamanya tampak jengkel.
Abel menggeleng pelan seraya bangkit dari sofa. Dia lelah dan tak ingin lagi membahas apapun yang ada hubungannya dengan Ray dan Cindy. Keduanya telah berhasil membuat liburannya kacau dalam waktu singkat. Menciptakan rasa bersalah pada seseorang di luar sana yang mungkin saja ikut kecewa. Setelah ini, mungkin orang itu mulai menghindari dirinya.
***
Abel ke rumah sakit besok paginya untuk memastikan Ibram telah kembali dan keadaan laki-laki itu baik-baik saja.
Di meja unit pelayanan informasi dan pendaftaran administrasi, Abel sudah berdiri menunggu suster untuk memberikan kabar tentang Ibram sejak lima menit lalu.
“Dokter Ibram tidak ada jadwal hari ini. Beliau mengosongkan sampai empat hari ke depan.” Jelas suster tersebut pada Abel.
Abel mendesah berat mendengar informasi mengecewakan tersebut.“Terima kasih informasinya, Sus.” Gadis itu berbalik dengan langkah gontai melalui lobi rumah sakit yang tak pernah sepi. Sementara ini, Abel menduga Ibram masih berada di kepulauan Seribu, bisa jadi menghabiskan sisa waktu yang telah ditetapkan laki-laki itu sendiri dua hari lalu.
Selama satu jam berputar mengelilingi Jakarta menggunakan mobilnya, Abel pun memutuskan untuk singgah sementara di bengkel milik Hugo. Mungkin dari laki-laki itu ada sedikit informasi apapun yang bisa dia dapat tentang Ibram. Abel langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa setelah masuk ke dalam ruang kerja Hugo tanpa berkata apapun.
Perhatian Hugo dari kesibukannya melihat daftar suku cadang yang masuk ke bengkel pagi ini, mendadak berhenti dari lembaran kertas. Hugo langsung bereaksi melihat kehadiran Abel di depannya.
“Sendiri? Ibram nggak ikut?” mendengar pertanyaan Hugo, membuat Abel semakin putus asa, karena arti dari kalimat laki-laki itu, dia tidak tahu keberadaan Ibram.
Sementara itu, tidak heran Hugo melayangkan pertanyaan seperti itu. Pasalnya, setelah menghilang selama dua hari berturut-turut, sejak bersama Ibram meninggalkan bengkelnya, akhirnya adik kecilnya itu muncul kembali. Hugo segera berpindah duduk untuk mendekati Abel yang masih termenung saja dalam dunianya.
“Kenapa ngelamun?”
__ADS_1
Abel menghela napas berat untuk menjawab hal yang membuat dirinya tertekan.“Jadi Bang Hugo nggak tau juga di mana dokter Ibram?” tanyanya dengan suara lemas, meskipun dia sudah yakin jawaban yang didengar nanti pun sangat jelas.
“Ibram? Dia sama kamu kan dua hari lalu. Sama sekali nggak ada kabar sejak hari itu. Kirain kalian masih sama-sama.” Ucap Hugo terbawa heran.
“Dokter Ibram kayak mana sih wataknya? Bang Hugo kan udah kenal lama sama dia. Pasti udah tau banget, dong. Apa dia suka tiba-tiba jauhin orang yang udah bikin dia kesel? Atau gimana? Tolong kasih tau Abel semua yang Bang Hugo tau.”Dipandangnya Hugo dengan penuh harap. Tetapi yang diterimanya malah sorot mata menyesal dari laki-laki itu.
“Kami memang teman sejak SMA. Tapi belum kenal sejauh yang kamu kira. Ibram nggak terlalu banyak mengeskpresikan dirinya. Agak pelit bicara.”
“Masa iya dokter Ibram nggak ada cerita apapun tentang dirinya?” tanya Abel masih tidak percaya.
Hugo memang teman sekawan Ibram semasa SMA, mereka jadi teman sekelas sejak di kelas XI. Tetapi tidak pernah menjadi teman semeja. Letak meja Ibram di depan meja Hugo saat itu. Mereka juga mulai akrab setelah sering menjadi teman kerja kelompok dalam tugas-tugas sekolah. Biasanya tugas itu mereka kerjakan di rumah Afreni, rumah Hugo, perpustakaan sekolah atau di luar. Ibram tak pernah menawarkan sekali saja di rumahnya. Sebetulnya pernah, tapi Ibram mengaku itu hanya rumah singgah keluarganya, bukan rumah utama keluarganya. Sehingga, menjadikan teman-temannya tak begitu banyak tahu mengenai pribadinya.
Setelah lulus SMA pun, Hugo mendengar Ibram meneruskan kuliah di luar negeri selama delapan tahun. Hanya saat di waktu liburan kembali ke Indonesia dia datang berkunjung, itu pun mereka tidak pernah lagi bertemu atau berkomunikasi.
Hugo dan Ibram bisa saling berkomunikasi lagi, ketika beberapa bulan lalu mendengar kabar kepulangan Ibram ke Indonesia. Saat itu status Hugo telah bertunangan dengan Afreni. Akhirnya, keduanya memutuskan untuk mengundang Ibram datang ke pernikahan mereka tiga bulan setelahnya.
“Ada.” Hugo mengangguk-angguk. “Ini info terbatas.”
“Itu aja?” Abel kembali mencoba mencerna ucapan Hugo.
“Yang Bang Hugo tau hanya ini. Itu pun pas di penghujung kelas XII.” Katanya seraya menatap Abel yang mendengarkan begitu serius.“Rumah sakit tempat kamu dirawat, punya ayahnya.”
“Ooh pantesan dia keluar masuk bebas gitu dari mana aja.” Abel mengangguk-angguk mengerti, karena Ibram begitu luwes bergerak dari sudut mana pun di dalam rumah sakit.
“Masih ada lagi hubungannya dengan rumah sakit itu.”Kata Hugo.
“Apa?” Abel langsung menatap Hugo, penasaran.
“Ayahnya dokter besar di rumah sakit itu. Punya gelar Doctor of Medicine lulusan dari Amerika. Bang Hugo sih belum kenal yang mana ayahnya, Ibram nggak pernah kenalin langsung. Tapi udah pasti, ayahnya adalah dokter paling disegani di rumah sakit itu. Tentunya, selain satu alasan bahwa beliau pemiliknya. Untuk nama... Bang Hugo hanya ingat namanya kalo nggak salah...”Hugo mencoba mengingat-ingat.“Bang Hugo lupa. Tapi... ada Baskoro di belakang namanya. Persis nama lengkap Ibram. Alfabio Ibram Baskoro.” Terangnya sangat yakin.
Abel mengangguk-angguk dan terdiam cukup lama seolah memikirkan alasan Ibram menyembunyikan semua itu.“Mungkin... itu alasan Ibram nggak bersuara tentang keluarganya. Semua orang dalam keluarganya bukan orang sembarangan. Dia takut disalahpahami.”
“Mungkin iya. Mungkin juga sebaliknya.”
“Terus, pas ambil rapor atau rapat orang tua dan guru di sekolah. Apa pernah mama sama papanya datang ke sekolah?”
“Ya, datang. Cuma nggak tau yang mana orangnya. Mungkin Kepala sekolah tau, mungkin ada guru yang tau, yaa, bisa saja satu atau dua orang dari wali murid tau. Bang Hugo sendiri nggak yakin.”
“Pernah-pernah. Cuma singkat sih ditulis seingat Bang Hugo. Barusan tadi Bang Hugo sebut. Misal, A titik Abelia. Ya gitu. Siapa ya namanya, sama-sama dokter juga mereka.”
“Keren! Abel nggak tau lagi harus bilang apa? Mereka semua orang berpendidikan hebat.”Abel tampak takjub membayangkannya.
Hugo diam-diam tersenyum memperhatikan reaksi Abel sejak tadi. Dia merasa lega melihat Abel mulai terlihat lebih baik.“ Ada satu lagi yang mencengangkan.”Ucap Hugo lagi. Dia ingin melihat Abel bahagia melepas seluruh beban dalam hatinya belakangan ini.
“Apa? Apa? Apa?”Abel sampai bergeser ke depan dari posisi awal duduknya.
“Dia punya adik laki-laki. Adiknya itu cukup sering wara wiri di TV, tapi bukan selebriti. Sayangnya, Bang Hugo nggak tau siapa.”
“Serius Bang Hugo?!”bola mata Abel membulat tajam menatap Hugo sekarang.
“Serius.”Hugo menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Bang Hugo dapat informasi semua ini dari siapa?” Abel bertanya saking penasarannya. Begitu banyak dia melontarkan pertanyaan sejak tadi, demi menjawab rasa penasarannya.
“Dari salah satu teman di kelas Bang Hugo waktu SMA.”
“Ooh.”
“Mau denger ceritanya?”
“Mau banaggeeett!”
“Gini ceritanya, dia bilang, ibunya masuk rumah sakit. Kebetulan, dokter ibunya adalah ayahnya Ibram. Katanya, Ibram juga ada di sana hari itu. Dia punya tugas khusus sendiri. Mungkin dia mulai belajar waktu itu dengan cara bantu sedikit kegiatan di rumah sakit. Tiba-tiba perawat bilang ke mama teman Bang Hugo, ayahnya Ibram punya anak bungsu dan sering ada di TV, tapi bukan selebriti. Pas ditanya balik apa? Sayangnya perawat hanya tau sebatas itu. Nggak lebih.”
“Sayang banget!”Abel tampak gemas memikirkannya. Kesepuluh jarinya sampai mengepal.
“Iya, kan? Apalagi Bang Hugo. Bahkan semua teman di kelas Bang Hugo. Rasanya, kami pengen buntutin Ibram pulang sekolah diam-diam. Tapi, kami nggak biaa. Kami harus menghormati privasinya. Jadilah, kami sekelas sepakat, supaya nggak ada seorang pun yang berani singgung itu di depan Ibram.”
“Berarti Ibram nggak pernah tau cerita ini sedikitpun?”
__ADS_1
“Tepat! Ibram nggak pernah tau sedikitpun cerita itu. Bahwa dari sanalah awal cerita ini muncul, ketika ibu teman satu sekolahnya menjadi pasien ayahnya saat itu. Anggap aja Ibram kecolongan dan di pihak lain kami beruntung.”
Abel seketika terkekeh mendengar itu.
“Seru, kan?”
“Iya! Tapi kalo dipikirin lagi, dokter Ibram terlalu banyak menyimpan rahasia.” Ujar Abel pelan namun masih bisa didengar Hugo, sehingga laki-laki itu meresponsnya.
Hugo serta-merta tidak membenarkan kalimat Abel. “Dia pasti berbagi kalo sebenernya kita pun ada niat bertanya. Dia terkesan misterius, mungkin efek irit bicara.”
“Harusnya Bang Hugo tanya-tanya dari dulu.”
“Bang Hugo bukan tipe orang yang suka maksa dan banyak tanya, Bang Hugo lebih suka Ibram bersedia cerita langsung.”
“Iya. Tapi kan Bang Hugo jadi nggak gitu kenal siapa teman Bang Hugo selama ini.”
“Jujur, Bang Hugo lebih banyak segannya sama Ibram.”
“Iya, sih.”Abel manggut-manggut tampak setuju.
“Oya, selesai hari itu, kamu sama Ibram ke mana?”
“Ooh itu... dokter Ibram bawa Abel ke rumah sakit. Terus Abel ketemu kak Ray. Untungnya Abel berhasil kabur, besoknya Abel sama dokter Ibram pergi ke kepulauan Seribu. Tapi malah apes!” Teringat Ray, air muka Abel lekas berubah kesal.
“Kenapa? Ada masalah?”
“Ini perang namanya bukan masalah lagi, Bang!”Abel sampai memukul bantalan sofa di bawahnya dengan kepalan tangannya.
“Oke. Tenang, relaks.”Hugo beranjak dari duduknya menuju kulkas untuk mengambil minum. Kemudian Hugo meletakkannya di atas meja depan Abel.“Coba cerita pelan-pelan. ”
Abel menghela napas panjang. “Jadi kemarin sore tuh, kak Ray mendadak muncul di pulau Harapan. Abis itu dia paksa Abel pulang. Udah gitu pake segala pukul Ibram lagi. Yaudah, daripada makin ribut, akhirnya Abel nurut aja.” Jelasnya dengan wajah dongkol.
“Nanti Bang Hugo yang bicara sama Ibram perihal masalah kalian. Oke?”Hugo berusaha menenangkan Abel yang tersulut amarah.
Abel hanya bisa mengangguk dengan terpaksa.
“Bang Hugo dan kak Afreni juga nanti bicara sama Ray dan Cindy. Jangan khawatir.”Kata Hugo lagi meyakinkan Abel.
“Bang Hugo kasih tau sekalian, supaya mereka jangan ikut campur sama hidup Abel! Hidup Abel hanya bisa diatur Yang Maha Kuasa, orang tua Abel, juga Abel sendiri.”
“Oke. Kamu tenang aja. Ya?”
“Iya”
Perhatian keduanya beralih ketika melihat bayangan Afreni muncul dari arah tangga tampak di kaca pintu.
Wanita itu tersenyum menyapa Hugo dan Abel yang juga segera menoleh menghadap ke pintu. Afreni masuk dan langsung duduk di samping Abel sambil meletakkan kotak makan di atas meja.
“Udah lama, Bel?”
“Udah setengah jam kayaknya, Kak.”
“Ooh. Udah sehat?”
“Lumayan.”
“Syukurlah Kak Reni lega. Kamu datang sendiri?”
“Iya.”
Afreni manggut-manggut.“Ke rumah, yuk? Kak Reni bosan juga sendiri di sana seharian.”
Abel tampak terkejut dan bingung harus menjawab apa.
“Ayolah. Sekalian liat rumah baru Bang Hugo sama Kak Reni.”Afreni juga menggenggam pergelangan tangan Abel.
Abel menatap Hugo sesaat yang diberikan respons mengangguk oleh laki-laki itu langsung, tampak tak keberatan. Akhirnya Abel menerima ajakan Afreni, keduanya pun segera meninggalkan bengkel bersama, menyusuri jalan selebar dua meter dengan lapisan aspal tak begitu tebal. Melewati gedung SMA, bahkan beberapa bangunan ruko-ruko, minimarket, apotek dan pedagang bakso.
Sejauh dua ratus meter selama sepuluh menit, Afreni dan Abel akhirnya tiba ke tempat tujuan mereka.
__ADS_1
***