
Jam sudah menunjukkan angka tujuh lewat.
Langit serta lautan di depan Ibram dan Abel sudah berubah gelap. Keduanya pun sudah berada di atas
boat untuk kembali ke penginapan di pulau Harapan.
Kurang lebih satu jam di perjalanan, akhirnya dari atas boat, Ibram dan Abel dapat melihat pulau Harapan yang tampak semakin indah oleh cahaya-cahaya lampu pada malam itu.
“Dalam dua malam, ini adalah kali kedua aku beruntung liat pemandangan lampu di malam hari.”Ucap Abel.
Mendengar pengakuan Abel barusan, Ibram menatap lama gadis itu.
“Aku harus terima kasih sama kamu. Ini semua terjadi karena kamu. Mungkin, kalo bukan kamu, aku nggak bisa liat hal-hal seindah ini.”
Ibram tersenyum.
Abel menatap Ibram sekarang.“Aku harus traktir kamu makan lain kali.”
“Oke. Aku tunggu.”
Keduanya tersenyum satu sama lain mengakhiri pembicaraan kecil mereka begitu boat sudah sampai pada titik dermaga pulau Harapan.
Setelah turun dari boat, Ibram dan Abel awalnya masih tampak bahagia saling melempar canda, namun hanya dalam hitungan detik saja semua itu berubah.
Keduanya tertegun begitu melihat seseorang yang tidak asing sedang berdiri tegak di depan mereka saat ini.
Seketika saja suasana itu berubah mencekam dan menciptakan ketegangan serta ketakutan saat itu juga. Terutama Abel.
Ray tersenyum sinis pada Ibram dan Abel di depannya saat ini. Dia mengambil langkah maju ke depan untuk mengikis jarak antara dirinya dengan Ibram, dan Abel.
“Kalian pikir bisa lepas gitu aja dari pantauan gue.” Senyum miring Ray terukir jelas, seolah mengejek Ibram dan Abel. Ditatapnya Abel kali ini.“Aku pantau kamu lewat dia. Dari awal aku udah yakin pergerakan kalian sama.” Kata Ray menunjuk Ibram dengan dagunya.
Ibram melirik Abel sesaat dan meneruskan langkah kakinya tanpa berkata apapun. Pada saat dia hendak berpapasan tepat di sisi Ray, lengannya langsung ditahan kuat oleh Ray, hingga membuat langkah kakinya mau tidak mau berhenti.
Sikap Ray barusan membuat Abel yang menyaksikan itu menahan napas karena khawatir akan ada baku hantam antara keduanya.
“Lo cuma orang asing di hidup kami. Tapi gue heran, gaya lo justru macam pahlawan kesiangan buat Abel. Harusnya lo sadar diri. Lo bukan siapa-siapa.” Dengan gigi gemeletuk Ray mengatakan itu penuh tekanan pada Ibram, bahkan Ibram dapat merasakan tekanan itu bukan hanya pada suara, pun pada lengannya yang ditahan kuat oleh Ray.
Ibram melirik Abel melalui bahunya. “Kenapa? Kamu suka Abel?” tanya Ibram dengan suara tenang pada Ray. Kalimatnya itu mengundang senyum samar di bibirnya, karena berhasil membuat tangan Ray akhirnya terlepas dari lengannya. Ibram mendekat untuk mengikis jarak dirinya dengan Ray lagi.“Jaga baik-baik wanitamu, kalo memang takut dia berpaling ke laki-laki lain. Kalo bisa, sekalian ikat dia. Egois.” Balas Ibram lebih sengit.
Ray menatap tajam Ibram dengan perasaan yang hampir meledak. Ditekannya mati-matian amarahnya, yang terlihat dari kepalan kuat tangannya saat ini.
__ADS_1
Meskipun tidak bisa menangkap pembicaraan Ibram dan Ray, tapi Abel melihat Ray sepertinya terpengaruh dengan ucapan Ibram. Sayangnya, dia tidak bisa berbuat apapun saat ini.
Ibram menepuk bahu Ray dua kali sebelum meneruskan langkahnya yang sempat berhenti, dia berjalan semakin menjauh meninggalkan Abel berdua dengan Ray di belakang.
Abel panik. Ibram terus pergi tanpa meninggalkan satu patah kata pun padanya. Saat pandangannya bertemu dengan Ray, Abel hanya bisa pasrah dengan wajah Ray yang mengeras menahan amarah saat ini. Laki-laki itu pun berjalan menghampirinya. Abel terenyak ketika pergelangan tangannya tiba-tiba langsung ditangkup oleh Ray.
“Kita pulang.” Ucap Ray tajam.
“Lepas!” tangan Abel berhasil terlepas dari genggaman Ray. Diabaikannya sorot tajam yang sedang mengulitinya saat ini. Dia hanya ingin bersama dengan Ibram sekarang. Abel pun berlari mengejar Ibram yang jauh di depannya saat ini.“Ibram!”Abel memanggil laki-laki itu.
Langkah kaki Ibram berhenti dan berbalik memandang Abel.
“Aku ikut kamu.” Ditatapnya lurus-lurus Ibram dengan sorot mata memohon agar laki-laki itu tak mengabaikan dirinya sendiri menghadapi Ray.“Pliss bantuin aku. Kamu udah terlanjur tau semua masalah aku. Sekarang, aku nggak peduli lagi, kamu boleh ikut campur sama masalah kami. Aku mohon.”Suara Abel sudah gemetar nyaris menangis di hadapan Ibram.
“Abel!” Ray menyusul dan lekas menahan tangan Abel hingga gadis itu limbung menjauh dari Ibram.
Ibram tampak kesal dengan sikap kasar Ray barusan. Dia maju menahan bahu Ray.“Bisa santai dikit, kan? Apa ini perlakuan kamu ke dia di belakang orang tuanya?”
Ray menghentakkan tangan Ibram dan mendorongnya kasar.“Lo siapa? Kenapa lo ikut campur urusan kami?”
“Kasih Abel kesempatan untuk bersuara. Ini hidup dia. Keputusan apapun adalah hak dia. Bukan kamu.” Ucap Ibram dengan suara tenang.
“Minggir!”Ray mendorong Abel hingga tubuh gadis itu terdorong dan jatuh membentur jalan.
“Kak Ray berhenti!” pinta Abel sudah menangis ketakutan. Dia benar-benar takut Ray akan melakukan lebih berbahaya lagi pada Ibram. Abel buru-buru berdiri, tidak membiarkan kejadian lebih parah lagi sampai terjadi, hingga jalan satu-satunya yang dia buat ialah menyerah dari situasi itu.“Aku ikut pulang!” Ucapnya dengan jerit putus asa.
Akhirnya Ray berhenti dengan ulahnya dan melepaskan Ibram dari cengkramannya.
Abel mendesah dan kembali bernapas lega. Tetapi dia harus menahan rasa sedih ketika melihat kondisi Ibram. Abel hanya bisa pasrah ketika Ray menarik dirinya pergi meninggalkan Ibram sendiri di sana, tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia menyesal dan merasa bersalah pada Ibram. Tapi dia harus melakukannya untuk kebaikan laki-laki itu juga. Jika saja dia tidak melibatkan laki-laki itu, pasti tidak sampai menjadi korban amarah dari Ray saat ini.
Dia telah menciptakan luka di hati laki-laki yang sudah melakukan banyak kebaikan padanya belakangan ini. Dia sudah memporak-porandakan kehidupan Ibram yang jauh dari masalah selama ini. Ketika pandangan Ibram dengan pandangannya bertemu, Abel menggunakan kesempatan itu untuk membuka bibirnya tanpa bersuara.
“Maaf.”
***
Pagi-pagi kira-kira jam enam, Ray langsung memaksa Abel meninggalkan pulau Harapan untuk segera menuju dermaga Marina Ancol Jakarta. Masih menggunakan speed boat. Abel pasrah mengingat keadaan Ibram tadi malam.
Saat dia ingin melihat kondisi Ibram tadi malam secara diam-diam, usahanya selalu saja gagal. Abel harus menelan pahit sendiri, karena Ray selalu siaga di depan penginapannya semalaman.
Selama perjalanan sampai tiba kembali di Jakarta, Abel mengabaikan keberadaan Ray, meskipun berkali-kali laki-laki itu mencoba bicara dengannya. Abel tidak peduli dan berpura-pura tertidur sepanjang perjalanan di atas kapal boat.
__ADS_1
Langkah kaki Abel mendadak berhenti ketika tiba di dermaga Marina Ancol, dia disambut oleh Cindy di sana. Gadis itu telah menunggu lantas menatap Abel cemas. Apalagi setelah mendapat kabar dari Ray malam tadi.
“Abel.” Suara Cindy benar-benar sarat cemas.
“Nggak usah sok baik!” respons Abel ketus. Dilaluinya Cindy. Diabaikannya panggilan demi panggilan yang dia dengar dari suara Cindy, sampai sepupunya itu berhasil menyamai langkah kaki dengannya.
“Gue cemas sama lo. Gue nggak percaya sama dokter itu. Sikapnya aneh.”
Kaki Abel sontak berhenti, ditatapnya Cindy.“Menurut gue yang aneh justru elo sama dia!” Ditunjuknya Ray yang sedang melangkah perlahan ke arah mereka.
“Kami nggak percaya sama dokter itu. Makanya kami usahain nyari lo.” Terang Cindy tetap lunak.
“Dokter Ibram kan teman SMA bang Hugo sama kak Afreni. Ya kalian bisa cari tau jati diri dia lewat mereka. Kenapa mesti menaruh curiga gitu sama dokter Ibram. Apa sih lagian yang kalian takutin? Lagian, sejak kapan kalian se-peduli ini sama gue?” Balas Abel sengit.
Cindy langsung menggenggam tangan Abel dan menggeleng pelan, tidak membenarkan ucapan sepupunya itu.“Gue peduli. Gue sayang sama lo. Gitu juga Kak Ray.”
Bola mata Abel berputar ke atas mendengar kalimat Cindy yang dia anggap masih sok baik di depannya. Dilepasnya tangan Cindy dengan agak kasar. “Gue pulang aja. Capek terus-terusan nguras emosi bareng kalian.” Ucapnya lantas berlalu dari hadapan Cindy.
“Abel!”
Yang Abel dengar suara berikutnya adalah suara berat milik Ray. Tetapi tak diindahkannya sama sekali, dia terus melangkah dengan keringat yang mulai muncul di pelipis dan lehernya, karena sinar matahari yang begitu terik siang itu.
***
__ADS_1