
Cindy merangkul lengan Abel. “Lo udah akrab banget kayaknya sama dokter itu.” Kata Cindy berbisik tanpa melepas pandangannya dari Ibram yang menghilang di balik pintu ruang kerja Hugo di lantai dua.
Abel mengangguk membenarkan. “Gue kayaknya suka deh sama dia. Ibram pribadi yang lembut.”Abel bereaksi santai sambil melepas rangkulan Cindy.
Cindy heran, tanda dia tidak setuju dengan Abel. “Lo berdua kan baru kenal. Bisa gitu? Cepet banget ambil spekulasi. ” Kalimat Cindy pun ikut dibenarkan Ray.
Ray mengangguk pelan. “Dia orang asing. Dia masih baru buat kamu sebut sebagai pribadi yang lembut.”Senyum Ray menyeringai terkesan sinis.
Bola mata Abel tampak tidak senang menyaksikan sikap Ray barusan.“Oya?! Justru kenal lama pribadi orang lain yang bikin gue jadi salah paham! Terutama sama lo berdua! ”Abel menunjuk wajah Ray dan Cindy bergantian.
Mata Cindy menyipit seketika menatap Abel. Dia dan Ray menatap Abel dalam diam saat ini.
“Ngomong-ngomong gue nggak bisa lama. Masih ada rencana lain.” Dilihatnya jam di pergelangan tangannya, sengaja tak ingin memperpanjang perbincangan mereka. Dia memutuskan menghindar dari tatapan Ray dan Cindy saat ini.
“Lo nggak tanya tujuan kami datang?” tanya Cindy menahan langkah Abel. Karena dia merasa Abel seperti mulai berubah dan tertutup padanya sekarang.
Abel menatap Cindy dan Ray, gadis itu tersenyum tipis seraya mengangguk. “Kenapa harus tanya?”
“Abeeelll. Kenapa sih lo harus bersikap kayak gini?”Cindy tampak tak senang dengan sikap Abel.
“Udahlah biarin aja dia pergi.”Ray menarik lengan Cindy tapi Cindy menolak. Cindy masih menatap dan mengajak Abel bicara.
“Emang gue harus tanya? Oh iya, kenapa kalian ke sini? Ini kan bengkel Bang Hugo. Abang kandung Kak Ray. terus di mana anehnya? Adik dateng ke tempat kerja kakaknya?”Abel menyolot.
“Tapi gue yakin, mungkin seandainya hubungan gue sama Kak Ray nggak kayak sekarang. Sikap lo nggak kayak gini ke kami.” Kata Cindy tampak kecewa.
“Yaudahlah. Suka-suka kalian.” Abel bereaksi acuh tak acuh.
“Lo masih marah kan sama kami? Atau... lo masih belum terima?” Cindy serta-merta bertanya lagi tanpa ragu. Dia benar-benar gelisah karena setiap tindakan Abel belakangan sering membuatnya bertanya-tanya penasaran.
“Dari tadi gue emang mau jalan. Tapi Ibram ambil kameranya dulu di mobilnya buat dipinjemin sama gue. Terus gue ketemu kalian di sini.”Jelas Abel seraya menunjukkan pouch di tangannya. “Tiba-tiba kalian banyak komentar sama hidup gue.”
“Niat Cindy baik. Kenapa reaksi kamu harus sedingin itu sama dia?”Ray tampak tidak tahan menyaksikan sikap Abel. Sejak tadi dia diam dan menahan demi menjaga perasaan dua saudara sepupu itu.
“Kak biar aku aja. Aku nggak mau Kak Ray juga ikut dijauhin Abel.”Cindy menahan Ray untuk tidak bicara lebih jauh.
Ray hendak bicara lagi, tapi Cindy meyakinkan Ray dengan isyaratnya. Ray akhirnya mengalah.
__ADS_1
“Masih ada yang perlu diomongin sama gue?”Abel menatap Ray dan Cindy bergantian.
“Abel. Gue lihat elo emang berubah. Nggak tau. Gue ngerasa gitu. Lo tertutup sekarang.” Sorot mata Cindy menyiratkan kecewa dan rindu akan sosok Abel sebelumnya.“Lo biasanya banyak cerita sama gue. Tapi nggak lagi sekarang.”Seakan menuntut Abel untuk menjadi jati diri gadis itu yang sebenarnya.
Abel mengembuskan napas perlahan. “Sekarang, tujuan kalian datang buat apa?”
“Nggak. Gue ngerasa lo terpaksa tanya itu sama kami.” Balas Cindy jadi kesal.
Abel terdiam sesaat. Dia mengangkat bahu sekilas. “Yaudahlah terserah. Bye.” Dilaluinya Ray dan Cindy menuju mobilnya. Berusaha mengabaikan sorot mata tanda tanya besar dari kedua orang di belakangnya.
Ada rasa gelisah dan rindu dalam hati Cindy pada sosok Abel. Dia ingin pribadi naif dan riang Abel kembali. Cindy tahu, dengan pribadi asli Abel, Cindy dapat merasakan dan membaca tiap sikap serta tindakan sepupunya itu. Tetapi tidak akan lagi mulai sekarang. Abel menjadi pribadi lebih hati-hati, Abel mulai menunjukkan sisi yang lebih dewasa sebagai perempuan dewasa yang sebenarnya.
***
“Gue bukan marah. Cuma berusaha jaga jarak dari kalian.” Ucap Abel setelah berada di dalam mobilnya. Dia memandang keluar, di mana Ray dan Cindy berada, keduanya masih di sana, juga memandang ke arah mobilnya. Abel tersenyum tipis, dibukanya kaca, lalu melepas senyum pada dua orang yang pernah dia sayang dan percaya.
Setelah meninggalkan bengkel Hugo, Abel menjalankan mobil pelan, pikirannya kosong, bahkan dia baru sadar setelah beberapa mobil yang melaluinya, meneriakkan klakson karena kesal padanya. Abel segera menurunkan kaca mobil dan menyampaikan rasa menyesal pada mereka.
Abel mengembuskan napas berat. Mengatur kopling mobilnya dan diinjaknya semakin dalam pedal gas di kaki kanannya, sehingga membuat jarum spidometer bergerak melesat ke atas. Menuju suatu tempat yang mungkin, dia pikir bisa membuatnya, meskipun sedikit, tapi lebih tenang. Terlepas dari semua beban pikiran yang mengganggunya.
“Kenapa juga harus ke tempat ini? Kenapa selalu di sini tempat akhir gue?”ucapnya pada sendiri seraya menatap jauh ke depan. Sambil melangkah Abel menekan tombol on kemudian monitor layar LCD hidup, ditekannya tombol menu, mendadak dia penasaran melihat hasil gambar-gambar yang sebelumnya diambil dan tersimpan dalam galeri. Tanpa sadar, Abel menghentikan langkah kakinya, melihat hasil potret dari kamera tersebut.
Pada foto-foto awal, ada banyak jenis makanan yang tidak familier dalam pengetahuannya. Hanya kumpulan potret, namun semua makanan itu sangat mengundang selera siapapun yang melihat, seolah meminta untuk segera dilahap. Kedua, berganti menjadi kumpulan foto alam; ada seorang anak kecil yang sedang berjongkok di antara kerumunan burung merpati di sebuah taman bersalju, kemudian foto berikutnya ada bunga dandelion sedang digenggam orang lain menghadap langit, foto ketiga, ada bunga di kaki sebuah gunung yang sedikit puncaknya terlihat, menghadap dengan danau, kemudian ada nilaruna, dan terakhir sebuah foto mangata. Indah sekali. Tampak mengagumkan pemandangannya begitu pun dari sudut pengambilan.
Abel terkesima untuk sesaat, kagum dengan hasil semua objek jepretan tersebut. Diambil dengan sangat apik, pas, dan warna yang sangat memukau. Bagaimana bisa dia mampu meminjam kamera dari seorang pemilik yang telah handal dan mumpuni menggunakan sebuah kamera. Mendadak dia jadi tidak percaya diri yang tadinya ingin melakukan hal sama, lalu dia pun memutuskan untuk mengambil potret dirinya sendiri saja di beberapa sudut taman, sambil mengembuskan napas pelan dan meneruskan langkah kakinya.
Setelah hampir satu jam di sana, Abel kembali membawa mobilnya melalui jalan raya. Perhatiannya tiba-tiba berganti dari jalan di depannya, ketika melihat sebuah gedung restoran di sisi kanan jalan raya. Mendadak perutnya jadi lapar, apalagi mengingat kumpulan potret makanan dalam kamera milik Ibram. Bibirnya mengembangkan senyum sesaat. Perhatiannya pun berganti pada kamera Ibram di kursi sebelahnya, tampak seperti menimbang-nimbang apakah akan melakukan hal yang sama dengan yang Ibram lakukan. Keputusan itu pun berakhir untuk melakukannya. Mobilnya berputar balik, segera dijalankan kembali untuk ke dalam area parkir restoran untuk memesan makanan.
“Saya pesan Spaghetti Aglio Olio... Ehmm, Chicken Burger Sambal Matah, Shaved Beef Burger sama Lychee With Green Tea.” Ungkap Abel di depan meja counter.
***
Kira-kira jam lima sore, Abel tiba di rumah. Setelah membersihkan diri, Abel yang mengenakan short pants dan kaos putih polos berukuran ekstra, mengambil laptop di atas meja di sudut kamar, lalu benda itu diletakkan di atas kasur, setelah menekan tombol on di keyboard paling atas sebelah kiri, dia langsung menyalakan bluetooth untuk menerima kiriman gambar-gambar yang diambilnya dari kamera. Diletakkan kamera tepat di sebelah laptop, sambil tengkurap, dia menunggu sampai selesai.
Abel tersenyum menatap puas semua hasil potret dirinya tampak di layar laptop. Fokusnya baru teralihkan setelah mendengar pintu kamarnya dibuka. Gadis itu segera memutar tubuh menghadap atas dengan gerak cepat, lalu duduk di tepian kasur, memandang Cindy yang berdiri di ambang pintu.
“Hai. Masuk.” Pintanya. Suasana hatinya sedang baik. Jadi dia tidak mengindahkan kejadian di bengkel Hugo.
__ADS_1
Sementara Cindy tak mengatakan apapun, gadis itu menurut saja masuk ke dalam kamar. Memilih berdiri di depan Abel, meskipun Abel menepuk tepian kasur di sisinya, meminta Cindy duduk.
“Gue telepon lo dari siang. Tapi nggak lo angkat. Sibuk banget?”Cindy baru bersuara dan langsung melayangkan rasa kesalnya pada Abel.
“Ooh.” Abel manggut-manggut. “Sori. Gue kalo lagi butuh suasana tenang, ya semuanya harus ikut tenang. Termasuk HP sendiri.”
“Abeeell. Gue sama kak Ray khawatir sama lo. Mana bisa kami tenang sampe tunangan bulan depan kalo tindak-tanduk lo aneh.”Cindy akhirnya duduk di sisi kanan Abel. Menatap sepupunya itu resah.
Abel balas menatap Cindy, dia memiringkan kepalanya. Dia merasa terganggu dengan kalimat Cindy.“Lo berdua kenapa, sih?! Ya kalo mau tunangan urus aja. Kenapa mesti khawatirin orang lain? Bukan kalian, yang ada gue malah jadi ikutan nggak tenang, seolah-olah sumber masalah pertunangan kalian adalah gue.” Gadis itu berubah sewot. Suaranya sedikit meninggi dan tatapannya mengungkapkan serupa.
“Kak Ray cemas sama lo.” Kalimat itu meluncur langsung dari Cindy. Tampak tulus.
“Ha?” Abel spontan menyahut, memastikan pendengarannya tidak salah. “Serius? Khawatir?”
Cindy mengangguk. Lekas ditariknya Abel menuju jendela kamar gadis itu, menyibak gorden putih di sana, memperlihatkan Ray yang sedang mondar-mandir di balkon kamar laki-laki itu. Menandakan bahwa memang benar laki-laki itu sedang cemas sekarang.
Abel bergeming di tempatnya. Pandangannya lurus ke tempat Ray. Setelah pandangannya dan Ray beradu, Abel segera mengalihkan ke arah lain, hendak berbalik, namun lebih dulu pergelangan tangannya ditahan Cindy. Sekarang gadis itu malah menariknya tiba-tiba menuju pintu kamar penghubung ke balkon.
“Lo ngapain ajak gue ke sini?” Abel melepas tangan Cindy dari pergelangan tangannya. Balkon itu sudah dia tutup untuk dirinya, karena seseorang yang menjadi alasannya untuk berada di balkon tersebut, perlahan akan dia hapus dari pikiran dan hatinya.
“Kak Ray mau pastiin keadaan lo.”
Kening Abel berkerut. Ditatapnya Cindy. “Lo bisa kok kasih tau sama kak Ray. Lagian kami tetangga, dia pasti lihat gue tiap hari. Gak perlu dikasih tau juga.” Dilipatnya tangan di dada setelah itu, mengabaikan Cindy dan seseorang di seberangnya.
“Lo kayak gini gara-gara masih marah sama gue kan, Bel?” Cindy tetap sabar menghadapi sikap keras Abel.
“Nggak. Kalian malah buat gue kayak manusia menyedihkan. Gitu, deh. Gue ngerasanya. Kalian sangat jelas ngasihanin gue di sini. Sumpah akting lo berdua jelek banget. Lo pikir gue nggak paham?”
Cindy terdiam.
“Iya kaaan?” Abel menatap Cindy dengan bola mata membulat dan senyum sinis.“Udah ya, mending lo keluar sekarang. Dia kan udah lihat keadaan gue, tuh. Yaudah. Apa lagi yang mau dipastiin?”
“Lo belum bisa ikhlasin kak Ray, kan?” ucapan Cindy kali ini membuat Abel mendadak membisu. Cindy menunduk, tiba-tiba digenggamnya tangan Abel.“Gue nggak pa-pa kalo emang lo masih ada hati sama kak Ray.”
Abel langsung menghempaskan tangan Cindy. Wajahnya berubah kaku.“Lo ulangin lagi sikap di taman wisata waktu itu, Cin. Sikap lo itu yang bikin gue berakhir di rumah sakit. Lagian, emang lo pikir segitu menyedihkannya gue? Sampe lo sangsi, gue nggak bisa dapet laki-laki model kak Ray?”
“Gue tau, lo nggak bisa cinta sama laki-laki lain kecuali kak Ray.”
“Lo pikir gampang ngelupain dia? Orang yang buat gue jatuh cinta selama bertahun-tahun. Gue juga butuh waktu, dan bukan waktu yang sebentar. Jadi wajar gue belum bisa terima hubungan kalian sekarang.” Balas Abel sengit.
“Iya kan lo artinya belum ikhlas. Lo belum siap sama hubungan kami.”
“Halah terserah. Sekarang lo keluar. Jangan bicara sama gue lagi. Gue, elo, dan kak Ray, bukan siapa-siapa lagi mulai hari ini. Gue anggap nggak pernah kenal kalian. Ngerti?!” ditekankannya satu kata paling akhir.
“Bel.”Cindy kehabisan kata-kata. Dia terpaku menatap Abel.
“KE-LU-AR.”
Cindy menyerah atas Abel. Akhirnya dia keluar meninggalkan kamar Abel.
Abel pun langsung menutup pintu kamarnya dengan bantingan keras. Lalu dia segera menuju pintu balkon kamarnya. Abel melihat Ray masih di sana, sedang memandang ke arahnya. Sorot mata Abel sedingin sembilu membalas sorot mata laki-laki di seberangnya.
__ADS_1
Diabaikannya laki-laki itu kemudian kembali menutup pintu tersebut. Tubuh Abel langsung lemas jatuh ke lantai. Gadis itu menangis halus dalam kamarnya, digigitnya pergelangan tangan seperti sebelumnya, untuk meredam suaranya yang dia tahan mati-matian. Pikirannya masih tak lepas dari laki-laki itu sampai sekarang, sosok itu masih dirindukannya, dia adalah laki-laki pertama yang membuat jantungnya berdebar tidak biasa setiap waktu, mengenalkan arti cinta pada dirinya pertama kali saat beranjak remaja. Ray orangnya. Dia, masih orang yang sama.
***