Kisah Kecil Tentang Kamu

Kisah Kecil Tentang Kamu
BAB 7 : DENDAM


__ADS_3

Samar-samar Abel mendengar suara mamanya serta usapan lembut dari rambutnya. Abel malah menarik selimut hingga menutupi kepala, tanda bahwa dia menolak dibangunkan, sejak kemarin dia tidak dapat tidur nyenyak. Dia baru benar-benar terlelap setelah waktu menunjukkan pukul empat pagi.


“Abel, udah jam 9 sekarang. Bangun.” Mamanya kembali membuka selimut.



“Mama, Abel masih ngantuk nih.” Respons Abel dengan suara serak dan malas.



“Huuusss. Anak gadis jangan dibiasain bangun siang. Pamali.” Mamanya menepuk-nepuk lembut tangannya, memaksanya untuk bangun dan segera membersihkan diri.



Dengan enggan Abel bangkit dari atas kasur menuju kamar mandi, dibantu oleh mamanya, wanita paruh baya itu menunggunya di luar sambil membawa handuk di tangannya.


Kira-kira lima belas menit, Abel keluar mengenakan baju handuk kimono dengan rambut basah tergerai. Langsung saja mamanya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sambil digosok-gosok mengikut dari belakang. Wanita paruh baya itu juga mengambil pakaian ke lemari, lalu dipakaikannya pada Abel yang duduk di tepian kasur.


Abel tampak tidak peduli meskipun mamanya masih memperlakukan dirinya seperti anak kecil di usianya yang telah menginjak angka dua puluh dua tahun, bahkan untuk produk kosmetik dan skincare yang dia pakai pun masih dipilihkan oleh mamanya. Tak ada yang berubah, untuk Abel mama akan terus menjadi mamanya. Apapun perlakukan mamanya, dia tetap mencintai mamanya.


“Oya, di atas meja itu kamera punya siapa? Mama baru liat.” Pertanyaan mamanya barusan membuat Abel tersentak. Pandangannya tertuju pada kamera tersebut yang telah rapi tersimpan kembali di dalam pouch, bersebelahan dengan laptopnya.



“Ituuu... Punya... dokter Ibram.”Jawabnya ragu.



Kegiatan mamanya sedang menyisir rambutnya seketika berhenti.“Gimana bisa kamera dokter Ibram ada di tangan kamu?”mama Abel menatap putrinya.



Abel mendesah pelan. “Dokter Ibram teman satu SMA bang Hugo, Ma.”



“Masa iya?” tanya mamanya terkejut.



Abel mengangguk seraya bergumam, menegaskan ucapannya.



“Kamu langsung akrab gitu dikasih pinjem kameranya.” Ucap mamanya bisa disebut menyelidik.



“Dokter Ibram nggak keberatan kasih pinjem. Yaudah Abel pinjem aja.”Abel tersenyum lebar pada mamanya.


Mama hanya merespons dengan bergumam sambil melanjutkan kegiatannya menyisir rambut Abel.


“Oya, Ma... aku liat dokter Ibram itu jago banget sama fotografi. Pokoknya keren semua foto-foto yang dia ambil di kameranya! Abel suka banget!”katanya dengan suara antusias.


“Yaudah tapi jangan lupa langsung pulangin kamera dokter Ibram.” Pesan mama Abel yang tampak biasa saja menanggapi ucapan putrinya.



“Siap. Ini juga Abel mau jalan ke bengkel bang Hugo. Abel nggak mungkin ke rumah sakit kalo nggak ada urusan kesehatan.”



“Jangan lupa sarapan.”



“Abel sarapan di luar aja, Ma.”


***


“Kamu langsung telepon aja ke nomor HP Ibram.”Hugo justru memberi saran begitu begitu mendengar niat Abel datang ke bengkelnya.



“Nggak mau ah. Takutnya dia lagi sibuk sama pasien.”



Hugo geleng-geleng kepala. “Setau Bang Hugo, dia datang ke rumah sakit saat dibutuhkan aja. Lebihnya ya di luar.”



“Maksudnya kerja di rumah sakit lain?” Abel menatap Hugo serius.



Hugo kembali menggeleng. “Travelling. Ibram punya lebih 40 jenis kamera. Salah satunya di tangan kamu.”



Mata Abel sontak melebar. “Serius? Itu semua kamera?”


__ADS_1


Hugo mengangguk membenarkan. “Kamu udah lihat, kan? Foto-foto hasil jepretannya di kamera itu?” dia menunjuk kamera Ibram yang diletakkan di atas meja. Dia tahu ada beberapa bidikan yang sepertinya sengaja ditinggal di dalam file kamera, karena dia pun pernah meminjam untuk mencari view alam sebagai lokasi pemotretan prewedding dengan Afreni.



“Iya.”



“Semuanya bukan di tempat yang sama. Temanya lebih banyak alam.”



“Bener!” Abel menyetujui karena itu yang dia lihat di kamera tersebut.



“Kebiasaan Ibram. Makanya dia nggak sembarang kasih pinjem kameranya.” Hugo pun bergumam sejenak, tampak bingung mengatakannya. “Waktu dia kasih pinjem kameranya sama kamu, Bang Hugo sempat bertanya-tanya. Bang Hugo agak bingung juga...” sengaja ditahan kalimatnya sembari menatap Abel.



“Kenapa? Bang Hugo kok liatin Abel gitu?” Abel tidak paham arah pembicaraan Hugo.



Hugo sempat tersenyum, namun tipis dan ditahannya. “Mungkin... ini sih masih dugaan sementara Bang Hugo.”



“Ya ampun Bang Hugo udah cepetan kasih tau Abel!” Abel jadi geram tak sabar menuntut Hugo.



Hugo tersenyum lebar ketika menangkap ketegangan di wajah Abel saat ini. Lantas, dimintanya Abel duduk lebih merapat padanya, lalu berbisik. “Ibram ada hati sama kamu.”



Refleks Abel memundurkan kepala dengan gerakan cepat. “MASAAA?” suaranya langsung nyaring tanpa sadar, hingga membuat Hugo menjauhkan diri mengusap telinga. Namun Abel tak dapat mengelak, kalimat Hugo barusan sukses membuat jantungnya berdegup lebih dari biasanya. Dia bahkan tak sadar menggigit-gigit bibir bawahnya karena kepikiran.



Hugo pun kembali menangkap perubahan sikap Abel. Laki-laki itu menahan senyum.“Yaudah telepon Ibram sekarang.”



“Jangan Abel deeehh.” Tolaknya langsung. Karena jantungnya sudah menggila sekarang akibat ucapan Hugo sebelumnya.



Hugo setuju. Dia pun mengambil ponsel di atas meja kerjanya, dicarinya nama kontak Ibram lalu diserahkan pada Abel benda tersebut yang telah terhubung ke ponsel Ibram.




“Halo?”



Abel jadi menahan napas tanpa sadar setelah mendengar suara Ibram.



Hugo tersenyum senang karena rencananya berhasil, didekatkannya ponsel ke telinganya untuk menyahut Ibram. “Ini gue.”



“Iya gue tau elo Hugo. Gue bisa baca nama lo di layar HP.”Ibram bicara penuh tekanan.



Hugo sontak tertawa mendengar suara Ibram.“Soriii.”


“Kenapa?”


“Adik gue, lo tau kan siapa.” Hugo melirik Abel sekilas.


“Abel?”



“Seratus!”



“Ada apa?”



“Dia mau balikin kamera lo.”



“Di mana Abel sekarang?”

__ADS_1



“Di bengkel gue. Makanya buruan ke sini.”



“Oke gue jalan ke sana sekarang.”



“Sipp. Posisi lo emang di mana?”



“Baru jalan dari rumah.”



“Oke. Kami tunggu.”


***


“Bang Hugoooo!!!” Abel memukul-mukul Hugo karena kesal dengan ulah usil laki-laki itu setelah sambungan telepon berakhir. Kedua tangan Abel baru berhenti setelah kedua tangan Hugo menangkap kedua pergelangan tangannya. Pandangan Hugo tiba-tiba berpindah ke arah pintu, membuat Abel langsung menarik kedua tangannya dan berbalik panik.



Seketika tawa Hugo meledak puas menyaksikan tingkah Abel.“Hayooo mikirnya siapa yang dateng?” ledek Hugo, membuat Abel merengut.



Hugo memang tidak berbohong, pintu ruang kerjanya memang terbuka baru saja, tetapi yang datang bukanlah seseorang yang ada dalam pikiran Abel saat ini.



“Hai sayang.” Hugo bangkit dari sofa, menyambut kedatangan Afreni─istrinya. Keduanya saling melepas senyum dan mendekatkan diri satu sama lain, lalu dengan kedua telapak tangan masing-masing digunakan sebagai penutup dari sisi kanan dan kiri wajah keduanya, yang merapat, untuk menutup yang mereka lakukan setelahnya.



Abel langsung pasang wajah ingin muntah di sofa.



Hugo tersenyum lebar. “Makanya nikah biar bebas bermesraan.”



“Tau tempat juga kali. Mesra tuh milik berdua aja.” Balas Abel judes.



“Kamu datang sendiri, Bel?” tanya Afreni seraya meletakkan kotak bekal di atas meja kerja Hugo, dan memandang Abel sesekali.



“Iya, Kak.” Abel juga mengangguk.



“Mobil kamu rusak?” Afreni pun menyusul duduk di sofa tepat di seberang Abel.



“Nggak juga, Kak.” Jawabnya pada wanita manis dua puluh tujuh tahun berambut sebahu tersebut.



“Kata Hugo, kamu jadi rajin datang ke bengkel belakangan ini.” Kata Afreni seraya memiringkan kepalanya dan menatap Abel.



Hugo berdeham di kursinya. “Seseorang jadi alasan Abel rajin datang ke bengkel.”



“Apaan coba Bang Hugo fitnah aja kerjanya!” Abel menyahut sebal.



“Ibram?” tebak Afreni, sontak menimbulkan semburat merah di wajah Abel. Afreni jadi tersenyum lembut.


“Tepat.”Hugo menyahut dari tempatnya.


Abel semakin merengut sebal melirik Hugo yang tampak santai.


Afreni tersenyum.“Abaikan Hugo. Kakak mau tanya, emangnya... kamu udah bisa lupain Ray?” tanya Afreni terdengar hati-hati.


Abel membisu seketika. Wajahnya mendadak kaku. pandangannya diarahkan ke tempat lain. Menjelaskan bahwa gestur itu menolak membicarakan Ray atau Cindy.



“Nggak pa-pa kalo belum bisa jawab.” Pandangan wanita itu ganti tertuju pada pintu ketika sudut matanya menangkap sosok bayangan seseorang datang ke arah mereka. “Ibram datang.”


__ADS_1


Abel menahan napas seketika. Gadis itu jadi lupa dengan pembicaraan sebelumnya yang dia bahas dengan Afreni, sesuatu yang menyinggung tentang Ray.


***


__ADS_2