
“Andhra! Kamu sedang apa? Yaampun. Yasudah sini gabung bersama kami” ajak Mila
“Hehehe, aku lagi nyari novel, sedangkan kakakku lagi menonton di bioskop. Tadi aku mau mengisi hati ehh perut tapi malah ketemu kalian” kataku yang sudah hilang seribu alasan.
“Yasudah habis ini kita main yuk” seru Mila sambil mengajak ku
“Bukannya kita mau pulang ya Mila?” tanya Wildan dengan sinis
“Tidak apa apa Wil, kasian Andhra ditinggal kakaknya. Jadi seperti anak pungut” canda dari Mila
“Kalian kalau mau pulang pulang saja, aku tidak apa kok” jawab diriku
Mila langsung mengambil tanganku dan mengajak Wildan untuk bermain ke tempat zona nyaman (zona bermain). Kita disana bermain dengan penuh keraguan. Berbeda dengan Mila, dia bermain dengan semangat, sedangkan aku takut mengganggu rencana orang ini.yang kulihat diwajah Wildan saat itu adalah ‘cemberut’ entah itu menahan rasa sakit perutnya atau merasa terganggu akan kehadiran diriku.
“Mila, kita pulang yuk!” ajak dari Ago
“Yahh, sebentar lagi ya” tawaran dari Mila, yang membuat wajah dari Wildan mulai sedikit berubah
Karena aku tidak ingin dijuluki sebagai Perusak Hubungan Orang, maka aku membantu Wildan.
“Mila kamu pulang saja, kasihan Wildan dia sudah menunggu lama” kata ku
“Aku kan bisa pulang sama kamu Ndhra, Wildan aku pulang sama Andhra ya” kata Mila, yang membuat diriku kaget.
Wildan hanya menganggukkan kepalanya, dan memalingkan wajahnya dari diriku. Aku tahu betul bagaimana perasaan dari WIldan. Aku langsung berkata pada Mila, bahwa aku tidak ingin menghancurkan apa yang sudah mereka rencanakan. Tetapi Mila hanya menjawab dengan santai, layaknya tidak terjadi apa apa.
“Yaampun Mil, kamu ngapain sih. Kan kalian lagi pacaran” kata ku berharap dia sadar
“santai saja Ndhra, lagi pula dia yang mengajak diriku untuk jalan jalan. Dan aku sebenarnya menolak, tapi ya begitulah” jawab Mila
“ohh brarati kalian tid…..”
“Engga Andhra” tegas sekali lagi oleh Mila
Tak lama kemudian kakak ku Kembali dengan pacarnya.
“Loh, ada Mila” kakak ku berakata yang sedang menghampiri kita
__ADS_1
“Iya kak Mico, tadi tidak sengaja bertemu. Mila nanti minta tolong di antar ya kak” sela Mila yang seolah olah diijinkan untuk ikut dengan ku.
“Iya tidak apa kok” jawab kakakku
“Ini siapa Ndhra? Pasanganmu ya?” kak Tari bertanya
“Bukan kak! Ini teman ku” tegas diriku kalau aku tidak memiliki hubungan lebih dari pada teman.
Aku segera mencari novel yang kuincar, tentu dengan makhluk misterius ini. Sedangkan kakakku sedang mengisi energi dengan pacarnya. Tak jauh beda dengan keseharian yang kulakukan bersama Mila, hal yang seharusnya tidak kita lakukan di mall, justru kita lakukan. Sampai sampai kita hampir ketahuan oleh petugas disana. Akibat hal yang tidak terpuji itu, kita memustuskan untuk beristirahat.
Ditempat novel aku langsung mencari harta yang ku incar tersebut. Dan disaat itu lah aku mulai mengintrogasi apa saja yang telah Mila perbuat dengan Wildan, untuk memastikan lebih lanjut. Maksud dari diriku tersebut bukan aku cemburu dengan hubungan mereka, tetapi untuk membantu Wildan dan juga sekaligus mempererat lagi hubungan ku dengan Wildan alias Ago. Namun hasil yang ku terima adalah ‘nihil’, tidak ada yang cocok dengan apa yang ku harapkan.
“Aku tahu kalau kalian punya hubungan dibalik hubungan sebenarnya” kata ku dengan raut wajah yang serius
“Gimana gimana? Hubungan dibalik hubungan? Haduhhh Ndhraaaa, sudah ku bilang 100 ribu kali kalau aku tidak ada apa apa melainkan sebatas teman. Memangnya ada apa sih sampai sebegitunya nanya?” peetanyaan yang dikeluarkan oleh Mila, malah menjadi umpan balik pada diriku.
“Engga sih, akhir akhir ini Wildan mulai bersikap aneh pada diriku, entah apa yang disembunyikan dari dia. Aku hanya ingin membantunya” jawab diriku
“Astaga aku kira ada apa, yasudah nanti aku bantu deh”
“Teman teman juga menanyakan hal yang sama seperti ku, karna hubungan kamu dengan Wildan itu apasih? Tidak jelas banget hubungannya! Begitu kata kata mereka”
“Tadi bicara apa Mil?” tanya ku sebagai memperjelas apa yang di katakana oleh Mila.
“Tidak lupakan saja, sudah ketemu kan novelnya, yuk bayar”
Setelah aku, Mila, kakakku, dan pacarnya selesai melakukan kegiatan sosial membeli barang. Kita bergegas pergi ke sepeda motor, hari itu sangat terik dan pastinya matahari sangat memancar penuh. Sehingga tempat duduk sepeda motor tersebut layaknya panas Matahari tiga kali lipatnya. Kita segera pulang dan meninggalkan tempat itu, seharusnya perjalanan yang harus ditempuh berlangsung setengah jam. Karena efek samping dari ‘week end’ ini seluruh jalan raya dipenuhi kendaraan. Entah itu di jalanan, mau pun di tempat pejalan kaki, harusnya hal ini tidak boleh terjadi tetapi apa boleh buat.
Sepanjang perjalanan aku dan Mila hanya menikmati indahnya pemandangan, kalau pun kita ngobrol atau bercakap cakap di perjalanan itu, hal yang aneh atau percakapan yang tidak nyambung akan terjadi. Contohnya seperti..
[“Mil, kalau sudah lulus SMA, mau kuliah dimana kamu?”]
[“Hahaha iya juga ya Ndhra”]
[“Ohh, asal asli ibuku jauh dari sini”]
[“Ndhra, gdjagdjwy%^^%&* kan?”]
__ADS_1
[“Pantas saja kemarin ak*&%” ]
Begitulah yang akan terjadi jika sepanjang perjalanan kita bercakap cakap.
Aku berpisah jalan dengan kakaku untuk mengantar Mila, kalau aku bawa kerumah untuk apa aku mengkoleksi orang seperti dia?. Sesampainya dirumahnya.
“Terima kasih ya pengawal sudah menghantarkan diri hamba ke tempat penginapan ini” logatnya dengan khas orang sopan
“Baiklah Putri Mila sang anak durhaka, tidak kah engkau lupa akan kehadiran sekolah besok?”
“Akan hamba persiapkan Tuan Kerbau” Mila melantunkan nya dengan lancar, seolah olah ini sedang berada di drama sekolah
“Baiklah kalau begitu saya pergi terlebih dan terkurang dahulu” kata ku sambil melakukan gerakan yang selaras
“Okey anak Tikus tujuh turun naik tangga semesta ruangan kelas” diri Mila melebih lebih kan perkataannya.
Aku bergegas pulang dan mandi. Setelah aku mengerjakan tugas dan segala kebutuhan yang akan dibawa esok hari kesekolah. Kini tiba saatnya untk makan malam bersama, makan mala mini sungguh amat teramat mengerikan. Karena kakakku melihat bahwa diriku berkeliaran dengan Mila sepanjang hari, dia bisa dijuluki sebagai raja lepas atau lebih simple nya dia suka memberitahu hal yang di sembunyikan.
“Ndhra, kamu sama Mila ada hubungan apa?” tanya sinis dari kak Mico sang anak sulung dari keluarga ku
“Tidak ada hubungan apa apa kok kak” jawab ku juga dengan serius
“Ada apa ini?” Ibu ku bergabung di sela sela pembicaraan
“Ini mah, Andhra jalan jalan terus dengan Mila” lanjut kata anak sulung ini
“Kamu ada hubungan apa Ndhra sama Mila?” tanya Ibuku
“Tidak ada apa apa bu, Andhra dengan Mila itu sama halnya dengan teman teman tongkrongan lainnya. Dekat tapi tidak lebih” lanjut ku
“Yasudah lah, ingat ya apa pesan mama” Ibuku mengingatkan apa yang dia katakana pada hari sebelumnya.
Setelah selesai makan, diriku dan kakak ku ini ada sedikit pertikaian atas masalah tadi. Tapi untungnya hal itu di hentikan oleh Ayahku. Aku bergegas masuk ke kamar untuk tidur dan melanjutkan pergi sekolah di pagi hari. Esok nya aku berangkat sekolah dengan perut yang sudah ter isi oleh sarapan. Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan Bima di jalan masuk sekolah.
“Hai Bim!” sapa ku di pagi hari
“Hai juga Ndhra” sapa balik dari Bima
__ADS_1
Belum sampai aku di kelas, sudah terlihat di depan kelasku ramai dan ricuh. Entah apa yang terjadi, aku dan Bima langsung menggunakan kaki seribu.
Namun aku terkejut melihat apa yang telah terjadi saat itu, Wildan bercucur darah dan sedang berkelahi dengan salah satu preman di kelasku.