Kita Itu Apasih?

Kita Itu Apasih?
Eps 16- Tampan dan Si Penakut


__ADS_3

“WILDAN??!!” sontak kita semua yang terkejut melihat wildan.


Bagaimana tidak kita semua kaget melihatnya? Dia tampil beda dari pada sebelumnya. Dia lebih rapi dan ehm... tampan. Banyak wanita yang disana terpana melihat tampilan dari Wildan.


“Kamu habis dari salon ya?” tanya Bima yang masih tercengan


“ada ada saja kamu, ya rias sendiri lah” jawan Wildan dengan santai dan cool


Yap lagi lagi para wanita disana luluh akan perkataannya. Dimana lagi bisa bertemu pria tampan dan bisa merias wajahnya sendiri?


‘sudah tampan, rias sendiri pula’ begitulah kata kata wanita yang ada disana


“Yasudah mari ku kenalkan kalian satu persatu dengan ayahku” Ajak Mila


Sesaat bertemu dengan ayahnya Mila, kita melihat ayahnya sangat akrab sekali tentang perbincangan bisnis. Memang sudah terlihat dari tampangnya, saat kita bertemu ayah Mila bingung mengapa Mila mengajak nya.


“Yah, ini kenalin teman teman aku” kata Mila


“ohh Halo, saya Barry ayahnya Mila” sapa ayahnya dengan baik


Mila langsung menjelaskan bahwa kita yang menemai nnya saat ayah Mila diluar kota. Ayah Mila sangat berterima kasih terhadap kita karena masih mau berteman dengan kita. Secara logika ayah Mila ragu akan anaknya yang sulit bergaul, namun hal ini bisa hilang karena kita sudah akrab dengan Mila.


“Yasudah Mila main saja dulu sama teman teman, nanti ayah menyusul” kata pak Barry sambil meninggalkan kita


“Astaga ternyata ayah mu cukup sibuk juga ya Mil” kata Siska


“ya begitulah, tapi tenang saja sekarang sudah ada kalian. MARI KITA MAIN!” ajak Mila


“Main saja kerjamu, besok kan kita sudah mau ujian bagaimana sih?” kata dariku, sambil mengingatkan bahwa besok adalah hari tempur bagi para siswa siswi.


Saat detik itulah kita mengetahui seberapa pentingnya pekerjaan ayah Mila, sehingga Mila kurang mendapat perhatian lebih darinya. Kita mulai bersendau gurau bersama, entah bersama Wildan maupun dengan kenalan yang baru. Disana aku juga merasa senang karena Wildan sudah mau bercanda seperti semula. Hingga pada akhirnya kita berjumpa di puncak acara, dimana ayah Mila dan Mila akan naik keatas panggung.


“Yak mari kita beri tepuk tangan yang meriah kepada Bapak Barry!” suara dari MC

__ADS_1


“Terima kasih semua nya, hari ini saya sangat senang karena bisa bertemu dengan saudara saudara saya, teman saya, rekan kerja saya juga. Dan yang lebih menyenangkan lagi, saya bisa bertemu dengan anak saya sendiri yaitu Mila” kata pak Barry sambil mengeluarkan senyum yang lebar


Kita juga ikut senang nampaknya dibalik kerja keras pak Barry, dia sangat menginginkan kehadiran sang anakanya. Begitu juga dengan Mila dia sangat senang, karena ayahnya menyebut Namanya di depan teman temannya. Seolah dia masih sayang terhadap Mila. Kita mendengarkan seluruh kata per kata yang telah di ucapkan oleh pak Barry, memang benar dia masih menyimpan kenangan dengan mendiang istrinya. Namun hal berubah saat kemunculan anaknya.


Hingga akhirnya di penghujung acara, kita semua sudah siap untuk pulang kerumah masing masing. Kami pun mengucapkan pamit terhadap pak Barry, dan Mila.


“Mila kita pulang ya, sudah malam lagi pula besok kita akan bertempur” kata ku sambil bersalaman dengan pak Barry dan Mila


“Iya, hati hati ya. Aku menitip salam dengan orang tua kalian dirumah yaa!” kata Mila


“SIAP” jawab kita serempak


Siska sudah dijemput oleh saudaranya, begitu pula dengan Wildan dia pulang dengan mengenakan sepeda motornya. Dan tersisa aku dan Bima yang siap mengendarai sepeda motor.


“Aduhh Andhra kenapa aku tiba tiba mules ya?” tanya Bima di sela sela aku ingin menyalakan mesin motorku


“Bagaimana tidak kamu sakit perut? Kamu kan sudah menghabiskan makanan sebanyak seribu kilo” sahut ku


Aku segera mengendarai motorku dengan sedikit cepat, karena mungkin saja keadan emergency dari Bima akan keluar. Sesampainya di rumahku, Bima langsung pamit dengan ku dan keluarga ku, dia segera mengendarai motornya mungkin saja dia sudah tidak tahan.


“Iya Bima, hati hati di jalan ya” Ibuku berkata demikian sambil menghampirinya


“Andhra aku pulang ya, sudah keadaan darurat ini” kata dia sambil bercanda


“Hahaha iya iya, kamu ini disaat seperti itu masih sempatnya kamu bercanda” kataku


Bima langsung menggerakan sepeda motornya dengan laju yang tidak biasa. WUSSS!! Seketika dia hilang dihadapan ku. Aku segera memasuki kamarku, membersihakan diri dan mulai sedikit membaca buku sebelum aku tidur.


Paginya aku bangun lebih awal, agar bisa belajar sedikit demi sedikit. Ibuku juga sudah bangun di pagi itu, dia segera menyiapkan makanan ku karena dia takut aku akan terlamabat. Selang sepuluh menit berlangsung aku segera menyiapkan diri, mulai dari mandi, memakan sarapan, dan juga menyiapkan mentalku.


“Bagaimana kamu sudah siap?” tanya Ibuku yang sambil menyiap kan the


“Sudah Mah, tetapi Andhra masih takut mah. Andhra takut soal yang diberikan nanti, malah tidak bisa Andhra jawab” kataku sambil merenungkan nasibku

__ADS_1


“Yang penting kalau kamu percaya diri, dan niat dengan sungguh sungguh. Kamu pasti bisa nak” jawab Ibuku


“Iya mah” balas kata dari ku


Aku menyantap sarapan yang sudah di siapkan ibuku, dan siap untuk berangkat. Aku meneruskan Langkah ku hingga aku menemukan angkutan umum. Saat aku menemukannya, nampak nya ada Mila disana, tumben sekali di pagi hari ini dia menaiki angkutan umum.


“Lho Mila? Kenapa kamu disini? Bukannya kamu berangkat dengan tantemu?” tanya ku yang heran


“Tanteku ada acara dari temannya, Ayahku masih tertidur pulas aku tidak mau mengganggu nya, maka aku putuskan untuk menaiki angkutan ini” jawab Mila


“ohh, jadi bagaimana? Kamu sudah siap bertempur?” tanya ku


“Kalau siap atau tidaknya kan ditentukan oleh mu, nanti aku tinggal melihat jawaban mu saja he he he” kata Mila sambil meledek ku


Sesampainya di sekolah seluruh siswa di kelas ku layaknnya dukun yang sedang membaca mantra. Mereka komat kamit menghafal semua rumus yang ada di buku, ada juga yang membuat catatan kecil lalu di simpan di kantongnya. Aku pun mulai komat kamit tidak jelas seperti mereka agar beberapa pelajaran menempel di otak.


Bel berbunyi dan sudah saatnya kita melaksanakan pertempuran. Pengawas datang dengan hentakan kaki yang dramatis, menatap kita dengan sangat sinis seolah dia melihat ada yang tidak beres dengan kita. Pengawas pun memberikan lembar lembar soal kepada kita, kami hanya bisa menelan ludah dengan pelan. Karena sedikit saja suara terdengar Pengawas ini akan segera mendatanginya, yaa lebih tepatnya pengawas ini sangat sensitive.


“Waktu kalian dimulai dari…. Sekarang” kata Pengawas


Kita mulai mengisi jawaban dan juga biodata diri kita dengan teliti.


“Ingat kerja sendiri jangan ada yang menyontek! Kalau saya dengar kebisingan saya keluarkan kalian” tegur dari Pengawas dengan sinis


Belum ada lima menit lamanya, Taka orang yang selalu langganan menyontek ini menanyai aku


“Psstt!! Andhra~ nomor 1 apa?~” bisik dia yang terdengar keras, sebenarnya pengawas sudah mendengar. Jadi aku hanya merespon diam saja.


“ANDHRA~~ Nomor 1 apa?” bisik lagi dari Taka


Karena sangkin geramnya aku hanya menjawab


“Apasihhh, baru juga mulai sudah nanya jawaban!” bisik ku dengan nada membentak

__ADS_1


“ITU KENAPA YA??!!” sontak kata Pengawas yang membuat ku terkejut.


__ADS_2