
“Tidak Mila, kamu adalah orang terhebat yang aku kenal” aku menjawab demikian
“Kenapa? Apa gara gara aku selalu kabur dalam setiap masalah?” tanya balik Mila
“Justru kamu menghadapinya Mila. Kamu seolah olah sedang menerjang ombak yang besar, kamu orang yang kuat Mila. Ingat saat kamu mengikuti kontes menyanyi? Pada ujungnya kamu juga menghadapinya” kata ku dengan memberi semangat padanya
Akhirnya tangisan dia mulai mereda, dan mulai mengangkat wajahnya. Aku segera membawa dia pulang kerumah, karena besok adalah hari yang berat sekaligus hari special untuk Mila. Aku segera membawa Mila pulang, dengan bercerita lucu agar bisa menghiburnya sedikit.
“Kita sudah sampai Mil, kamu jangan terlalu sedih ayahmu akan khawatir nantinya” kataku hari itu
“Iya Ndhra, terima kasih ya sudah mau menemani hamba ini” Mila memulai percakapan halu ini lagi
“Baiklah kali ini hamba akan pulang menuju yang tak terbatas dan berlari. Sampai jumpa Mbak” aku segera pulang, dan pergi beristirahat.
Malam hari aku cek grup teman kelompok ini, tetapi ada sesuatu yang aneh. Wildan mengeluarkan dirinya dari grup, aku segera menanyakan apa yang terjadi, namun sayangnya nomor ku di block oleh Wildan. Sontak Mila langsung mengangkat suaranya dan menceritakan semuanya yang terjadi pada sore hari itu. Karena sangin lelahnya aku segera tidur untuk melanjutkannya esok hari. Keesokan harinya, Mila terlihat sangat gugup dan hanya berfikir terhadap satu masalah, yaitu kehadiran ayahnya.
“Mila, kamu tidak usah gugup ya, biasa saja seperti tidak akan terjadi apa apa” buju Sisa agar menghentikan gemetar tubuh dari Mila
“Memangnya ayahmu akan datang jam berapa?” Tanya Bima
“Malam sih Bim, sekitar jam 9 malam” jawab Mila
“Yaampun ini terlalu awal untuk kamu bergetar Mila. Tetapi kamu ikut juga bukan ke bandara?” tanya ku lebih lanjut
“Tidak aku dilarang ikut dengan tante ku. Entah apa alasannya aku tidak boleh ikut” jawab Mila
Tak lama kemudian Wildan datang dengan rasa yang cukup sungkan. Ia mulai berbicara untuk meminta maaf kepada Mila, namun Mila hanya merespon dengan diam dan memalingan wajahnya. Permintaan maaf ini tidak disambut baik oleh Siska, dia memarahi Wildan tanpa henti sedikit pun. Perkataan itu membuat Wildan lari dan hanya mencemasan wajah Mila. Apa yang telah Wildan katakan dan khawatirkan memang tidak cukup untuk membalas kesalahannya pada Mila.
“Kamu yang sabar ya Mil” kata Sisa
__ADS_1
“Tidak apa apa Siska, Wildan akan berubah dengan sendiri nantinya” jawab Mila kembali
Tatap wajahnya tidak bisa di kecoh, bagaimana bisa dia harus menghadapinya sendiri? Tetapi aku percaya pada Mila, dia adalah orang yang kuat. Sepulang sekolah Mila tak berhenti mencemaskan dirinya, sampai sampai dia terus memulai obrolan yang ada di grup. Hingga Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan (999+) lebih tepatnya dia mengirim pesan yang sama dan mengulangi kata kata yang sama. Satu jam telah lewat dan akhirnya grup ini kembali sepi, untung juga paket internet ku tidak tersedot lagi. Mungkin saja Mila tertidur pulas karena kelelahan. Hingga tepat sudah malam, dia baru bangun dari tidurnya. Entah apa saja yang dimimpikannya, jelas itu terlihat tidur yang tidak biasa. Mila bergegas pergi mandi, menyiapan dirinya, dan mempersiapan makan malam untuk makan bersama dengan ayahnya.
Aku, Siska, dan Bima tak lepas dari obrolan yang dibahas akhir akhir ini, mulai dari kedatangan ayahnya hingga obrolan nya. Perasaan yang dialami Mila saat itu memang susah untuk dimengerti, entah senang atau mau marah. Yang jelas dia sangat menanti kehadiran ayahnya. Tepat jam delapan lewat lima puluh menit ( 08:50 pm ) Mila menunggu sang ayahnya, tak lama kemudian dia mendengar suara mobil yang datang, dan mendengar hentakan suara kaki. Yap betul sekali itu adalah Ayah Mila, Mila datang dengan seruan suaranya ‘AYAH!!’ Mila memeluk erat ayahnya. Begitulah Mila bercerita pada obrolan grup, kita semua akhirnya senang akhirnya dia bisa bertemu ayah nya setelah beberapa tahun.
Esok harinya, kita sudah tidak sabar untuk meng introgasi Mila. Sesampainya Mila dikelas, dia terlihat lebih ceria dan senang. Siska langsung mengambil tangan Mila dan membawa ke tempat duduknya. Disana kita mendapat banyak kabar baik darinya.
“Bagaimana kemarin malam? Ayahmu sangat senang bukan bertemu dengan mu?” Siska mengawalinya
“Iya dong!! Aku juga sudah lama sekali ingin bertemu dengan Ayahku” Jawab Mila
“Wah selamat ya Mila” sahut kita dan seisi kelas mengucapkan nya kepada Mila
Saat itu wajahnya sangat ceria mungkin efek samping dari kehadiran ayahnya. Tak lama kemudia datang Wildan untuk memberi selamat kepada Mila, sontak wajah Mila kembali menjadi muram.
“Mila… emm…. Selamat ya” Wildan menyodorkan tanganya
“Ndhra!” sapa dirinya setelah beberapa detik
“Iya?” aku bertanya kemabali
“Nanti pulang bareng ya!” ajak Mila dengan wajah yang sedikit aneh
Aku hanya mengangguk dan setuju atas tawarannya, aku sudah tau betul kalau dia sedang mempunyai sedikit masalah. Aku sangat yakin masalah ini bisa dilewati dengan satu jari olehnya, karena dia sedang dilanda rasa kabahagiaan.
Waktu terus berlalu, jam pelajaran sudah kita lewati semua dan juga termasuk kelas tambahan. Akhirnya kita bisa pulang, Mila segera menghampiri ku dan mengajak berjalan cepat. Seperti dia ingin menghadapi masalah ini secara privasi. Dan betul saja wajahnya mulai berubah setelah beberapa meter jarak dari sekolah dengan jarak yang kita tempuh di perjalanan. Aku menanyakan apakah ada yang salah dengan perbuatan teman teman disekolah atau masih ada yang mengganggunya. Namun dugaanku seratus persen salah total, masalah ini menyangkut masalah ayahnya lagi.
“Kamu kenapa Mil? Masih ada yang ganggu?” tanyaku
__ADS_1
“Bukan ini soal kemarin” jawab Mila dengan ragu
“Ohh dengan kehadiran ayahmu itu? Lho memangnya ada apa? Apa yang salah dengan kehadiran ayahmu?” tanya ku dengan heran
“Semua itu bohong!” jawabnya
“Bukannya kamu sangat senang? Seperti yang kamu ceritakan?” tanya ku lagi, karena merasa sangat sangat bingung
“SEMUA ITU BOHONG!” Mila menghentikan jalannya dan berkata keras seperti demikian
“SEMUA ITU TIDAK SAMA DENGAN YANG KUCERITAKAN” lanjut Mila dengan nada sedih
“Maksudnya?” aku membawa Mila menepi dan duduk agar bisa menyelesaikan dengan jelas
“Kemarin memang benar aku berteriak dan memeluk ayahku, demikian juga dengan ayahku dia memeluk diri ku kembali. Namun cerita selanjutnya aku yang mengarangnya, ayah ku tidak makan malam dengan ku, ayah ku juga tidak bercerita sedikit pun tentang dia. Dia seolah olah meninggalkan ku terlantar lagi, dia langsung pergi kekamar walau sudah kubujuk.
[Ayah! Ayah pasti cape, kita makan malam yuk Yah, kita kan sudah lama sekali tida….]
[Ayah sangat Lelah nak, besok saja ya]
[Oh.. baiklah.. oh iya Ayah bagaimana kerja disana?]
[Baik kok nak, yasudah ayah istirahat dulu ya, besok kita bercerita lagi. Ayah sangat Lelah hari ini, ayah juga besok akan meeting dengan orang]
[brarti….. ayah tidak bisa meluangkan waktu ayah untuk Mila?]
[Akan ayah usahakan]
“Begitulah yang terjadi Ndhra!!!” Mila melanjutkannya dengan diakhiri dengan tangisan.
__ADS_1
Aku bingung tak bersalah, aku diam layaknya tiang. Aku hanya bisa menenangkannya dan menemaninya.
“Ndhra jangan jauh jauh ya” Mila mengakhirinya dengan perkataan tersebut.