
Hari ini tanggal 30 maret, adalah hari pertama aku menginjak kaki ku di jenjang Pendidikan SMA. Memang sedikit terasa aneh walau dipikir, namun apa untungnya juga aku berfikir seperti itu? Aku mencari jurusan yang cocok untuk kedepannya, atau bisa di bilang bisa cocok di hari dimana akan mencari kerja. Setelah kupikir pikir aku mencari jurusan IPA memang jurusan ini terdengar rumit, namun aku pasti bisa menghapadinya. Begitu juga dengan Mila, tentunya dia akan mencari jurusan yang sama denganku, bagaimana tidak kalau orang jenius ini tidak memilih jurusan IPA. Berbeda dengan Siska dan Wildan, mereka mencari jurusan Sosial, mungkin agar bisa mencari jurusan ekonomi di masa perkuliahan nanti.
Untuk sekarang aku sendiri di kelas, maksudnya aku hanya satu satunya orang yang tamat dari SMP tersebut. Berbeda dengan Mila, Wildan, dan juga Siska. Aku berada di kelas B sedangkan mereka di kelas A. Entah bagaimana juga aku bisa masuk ke kelas B?padah al otakku saja hanya bisa sampai di kelas D, hmmm aku masih heran akan kekaguman ku sendiri. Ini mungkin factor belajar ku terlalu rajin, atau ada perombakan kelas yang tidak disengaja dan diam diam. Tetapi apapun alasannya aku selalu bersyukur, karena aku di temani orang orang hebat jadi sedikit demi sedikit kepintaran orang orang di kelas ku akan mengalir di otakku.
Aku juga mendengar kabar dari Bima, dia mencari jurusan multimedia agar dia bisa menjadi animator terbaik di masa depan. Aku sudah memprediksikan bahwa ‘suasana SMP tidak akan sama dengan SMA’ ASTAGA BARU TAU SEKARANG?! Maksudku bagaimana cara kita berperilaku akan berbeda dengan di masa ini. Dimana dulu kita sering mengerjai seseorang layaknya anak kecil, sekarang harus berubah menjadi orang yang lebih baik. Bukan nya masa lalu itu buruk melainkan jika ada hal buruku itu jangan dilupakan, namun di jadikan pelajaran. Banyak yang akan berubah di masa SMA ini, mulai dari pertemanan, pergaulan, cara kita berkomunikasi, dan tentunya apakah hubungan ku dengan Mila akan berubah tidak ya? He he he aku hanya bergurau.
Suatu hari, tepatnya seminggu sebelum Mila ulang tahun aku pergi ke lapangan olahraga untuk berlari. Awalnya aku berlari seperti biasa, suasananya juga masih biasa saja namun ada hal yang mengejutkan terjadi setelah aku menyelesaikan satu putaran. BOOM!! Mila mengagetkanku di saat aku sedang berlari.
“BWAAA!!” teriak Mila di samping diriku lebih tepatnya di samping kupingku
“Astaga Mila kamu mengagetkan saja jantungku seperti mau lepas rasanya” kataku yang sangat terkejutdan segera memegang dadaku
“Yaampun sampai segitunya, orang orang juga akan biasa kalau dikagetkaan seperti itu” kata Mila yang lanjut mengikuti langkah ku berjalan
“mana mungkin orang akan terkejut jikalau kamu teriak di samping kupingku?” aku berkata sambil menceritakan keresahan ku
“ohh iya ngomong ngomong tumben sekali kamu lari kesini ada apa? Kamu ngikutin aku yaa?” lanjut ku
“Ihh apa sihh, tidakk lahh. Aku kesini memang sengaja untuk berlari santai, katanya kehidupan sekarang badan harus sehat dan kuat” lanjut Mila
“Ahh paling kamu banyak alasan ya kan?” sahut kulagi
__ADS_1
Disore itu aku berlari bersama Mila, memang biasa saja namun lama kelamaan topik pembicaraannya semakin aneh. Tetapi untung saja aku bisa mengalihkan topik secara lihai. Entah kenapa semenjak dia ingin menjadi dewasa setiap pertanyaannya selalu ada topik pembahasan aneh. Aku tidak tau apa yang dipikirannya, apa mungkin pikiran Wildan berpindah ke Mila? Eitss kenapa aku yang berpikiran aneh sekarang?
“Ohh iya aku sampai lupa keadaan Wildan, bagaimana kabarnya?” tanya ku yang berhenti dan duduk bersama Mila
“Tidak begitu jelas dan aku tidak tau Ndhra” lanjut Mila
“Bukannya kalian sekelas?”
“Memang kita sekelas, tapi…. KITA KAN BELUM MULAI BELAJAR ANDHRA!!!! MASUK SEKOLAH JUGA MASIH TIGA MINGGU LAGIII!!” teriak Mila lagi yang mengagetkanku
“Astaga, yaa ngomongnya pelan sajaa aku kaget lagi jadinya. Aku juga benar benar lupa kalau kita belum memulai pelajaran di SMA” lanjut perkataan diriku
“Memang nya kenapa si Ndhra khawatir akan sahabat yang lupa sahabat itu?” sindir Mila
“Ya ampun, saudara dirumah saja kalian masih suka bertengkar bagaimana dengan Wildan” kata Mila yang suka mengetahui candaan keluarga ku
‘kalau Wildan saudaramu aku apa?’ bisik Mila yang samar di kupingku
“Kenapa Mil? Tadi bicara apa?” aku berkata agar perkataanya lebih jelas
“Tidak apa apa, yasudah lari lagi yuk” Mila berkata seolah olah dia menutup pembicaraannya
__ADS_1
Aku akhirnya lanjut berlari sebanyak satu putaran, tiba saatnya untuk pulang aku dan Mila memisah diri di persimpangan jalan rumahnya. Sesampainya di rumah aku segera menghadap ke pintu kamar mandi, karena jikalau tidak aku akan kena marah oleh kakak ku sendiri. Dia tidak mau ada orang yang berkeringat mengelilingin rumah ini, sungguh orang yang misterius. Makan malam pun tiba, aku menyantap makan malam dengan lahap, dan juga di temani dengan canda tawa atau senda gurau sedikit. Ibupun sempat menanyakan diriku tentang kepribadian ku contohnya seperti orang orang di sekitarku.
“Oh iya Andhra, bagaimana nanti sekolahnya?” tanya ibuku
“Nanti mah, tiga minggu lagi Andhra akan mulai kembali sekolah seperti biasa” jawab Ibuku
“Ingat ya Andhra sekolah yang benar, agar kamu bisa menjadi orang sukses” lanjut ayahku
“Iya pah”
“Jangan main mulu kerjaannya, inget juga tugasnya” kakak ku menambahkan sedikit dengan sindiran
“Iya kak” aku menjawab dengan sabar
“Sudah sudah, oh hiya Ndhra. Kenapa akhir akhir ini kamu dengan Wildan jarang bertemu ya? Memangnya kalian ada apa?” tanya ibuku yang heran
“Iya papah juga jarang melihat kalian bermain bersama lagi” ayah menambahkan pertanyaannya
Aku memang bingung harus menjawab apa saat itu. Jikalau aku menjawab aku pasti akan mengecewakan orang tuaku, karena orang tua ku dan orang tua Wildan sudah sangat dekat. Dan jika aku mengelak itu akan membuat suasana terasa aneh. Aku hanya terdiam sejenak dan memikirkan lebih lanjut. Akhirnya aku berkata bahwa..
“Tidak ada apa apa, Andhra sudah selesai makan nih, Andhra ke kamar ya” aku hanya menjawab seperti itu yang pastinya akan membuat jawaban aneh dan bingung.
__ADS_1
Aku sebenarnya juga tidak enak bila ditanyai seperti itu tetapi bagaimana dengan Wildan juga? Apakah dia merasakan hal yang sama dengan ku?