Kita Itu Apasih?

Kita Itu Apasih?
Eps 8- Cemburu atau aneh?


__ADS_3

“Tapi kamu beneran cocok kok sama Mila” Berbarengan Siska dan Bima mengatakannya


“Sudah ku bilang, JANGAN BAWA BAWA HAL BEGITU” seru diriku sambil memalingkan wajah ku


Tapi hari itu memang berbeda dengan hari biasanya. Aku yang sudah terbiasa dekat dengan Mila, sekarang aku malah sendiri untuk bercanda, aku yang terbiasa akrab dengan Wildan, sekarang semakin menjauh. Entah apa maksudnya aku belum mengerti jelas. Hari sudah semakin gelap, dan kami memutuskan untuk pulang.


“Hey, sudah mulai gelap yuk kita pulang” sahut Siska


“Yaudah yuk” jawab kami serempak


“Mil kamu pulang sama siapa?” tanya Bima sore hari itu


“aku pulang sama A……” kata Mila yang belum sempat selesai bicara


“Aku saja” sela pembicaraan Wildan


Siska, Bima, dan Mila sangat terkejut perkataan Ago atau Wildan hari itu, memang sudah terlihat jelas Ago lebih berbeda dari pada biasanya.


“Yasudah deh, dari pada ngerepotin Andhra terus” sahut Mila


Aku sungguh tidak terkejut sore hari itu, namun teman teman ku menghawatirkan ku. Ke esokan harinya, aku bersiap untuk memulai hari pergi ke sekolah. Tetapi hal aneh pun terjadi, Ago terlihat lebih perhatian terhadap Mila, seperti telah menaruh hatinya pada Mila. Bima mendekati ku sambil berkata ‘sabar’, “APAAN WOY?!” aku bingung kenapa harus ‘sabar’. Setiap selang beberapa menit, Ago selalu berusaha mendekati Mila, entah itu jam kosong, istirahat, maupun sepulang sekolah.


“Eh Ndhra kok diem sih, nggak kayak biasanya” sahut Mila, di jam kosong.


“Lho iya, aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini, Bwhahahaha” tertawa lepasku di jam tersebut.


“Mila, kekantin yuk” Ajak dari Ago


“ga ah Wil, aku di kelas aja diluarkan panas, aku sekalian menemani Andhra dulu” jawa Mila


“Oh ok” paling wajah dari Ago yang hendak pergi ke kantin


“Eh sob, nitip beli …….” Permintaan ku kepada Ago


“Ga bisa, udah banyak yang nitip. Minta tolong sama yang lain ya” kata Ago yang segera meinggalkan kelas itu.


“Wildan kelihatan aneh ya akhir akhir ini.” Wajah Bima dengan kebingungan saat ia mengatakan nya.


“Iya nih Bim, apa jangan jangan …….” Siska dengan sengaja memenggal pembicaraannya seolah kita tahu apa yang dipikirkan


“Jangan jangan Wildan suka Mila? Atau sebaliknya?” tanya ku sambil menoleh kearah Mila.


“Apasih, aku kan Sukanya sama …….” Belum selesai Mila berkata aku segera memotong pembicaraannya.

__ADS_1


“Shhh, sudah jangan ributkan masalah itu lebih baik kita bicarakan tentang ‘game’ bagaimana?” tanya ku


“Astaga dasar emang otak mu hanya untuk bermain ‘game’ saja” sindiran yang begitu keras dan mengacu kepada ku


Siang hari tiba, dan sudah waktunya untuk para siswa siswi pulang kerumahnya. Aku segera ke pintu gerbang sekolah dan memulai perjalanan


“ANDHRA TUNGGU!” teriak Mila sambil mengejar ku


“Lho, bukannya kamu naik angkutan umum ya? Kok jalan?” tanya ku


“Iya lagi ingin jalan santai, dari pada di akutan umum melulu, panas tau”


“La, kamu ga naik angkot (angkutan umum) ? sini yuk naik” ajak dari Ago, yang tidak lama kemudian dia menghampiri kita


“Ngga Wil, aku jalan saja bersama Andhra”


Ago langsung meninggalkan kita dengan angkutan umum tadi. Sepanjang perjalanan aku memulai aktivitas yang biasa ku lakukan bersama Mila, yaitu MAKAN BASO, eh maksudnya bercanda.


“kasihan tahu, kamu tolak si Wildan” canda diriku disiang bolong


“Apa sih” gelisah diri Mila


“Oh iya Ndhra, kemarin aku memberanikan diri untuk menelpon ayah” Mila berkata


“Yaaa, aku cukup senang walaupun hanya sebentar sekali


‘[Ayah, ini Mila]’


‘[Mila? Anakku?]’


‘[Iya yah ini Mila, ayah apakabar?]’


‘[Ayah baik nak, bagaimana dengan mu?]’


‘[Mila juga baik, ayah kapan ba….]’


‘[Maaf Mila, ayah sedang sibuk besok akan ayah hubungi sampai jumpa, jaga dirimu]’


Begitulah kata nya saat aku mendengarnya” Kata Mila


“Syukurlah, akhirnya kamu bisa juga mendengar suaranya” kata ku dengan lega


“iya Ndhra yaa walaupun hanya sebentar sih, tapi aku sudah senang kok” sahut Mila

__ADS_1


Kita terus berbincang samai tepat didepan rumah, itulah saat kedua kalinya aku melihat dia begitu Bahagia untuk mendengar suara ayahnya. Dengan harapan ayah Mila masih perduli terhadap Mila. Sesampai nya aku dirumah aku segera membuka ponselku dan berbincang dengan Ago alias Wildan Pratama.


‘Sob, sini main kerumah ku yuk, ada game baru nih’ suaraku mengajak Ago pergi kerumahku, lewat telephone


‘Sepertinya ga bisa sob, oh iya aku minta maaf ya sama kejadian yang tadi’ kata suara Ago


‘yang mana Sob?’


‘Itu masalah aku terlalu cuek, karena aku lagi ga enak badan sob’ lanjut Ago


‘Oh tidak apa Sob, yasudah lekas sembuh ya’ akhir panggilan kututupi panggilan terebut


Akhirnya aku lega mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Lagi pula kalau Wildan sempat menaruh hati pada Mila aku tidak kenapa kenapa, justru aku mendukung hubungan mereka. Hari itu karena Wildan sedang sakit, maka aku mengajak Bima untuk bermain, sangkin asik nya kita bermain, hingga lupa dengan kesehatan kita. Lalu aku dan Bima istirahat sebentar dan bercakap cakap santai.


“Seru banget ya game nya? Sampai sampai kita lupa waktu hahaha” Bima mengawali dengan tertidur dikasurku


“Iya nih, keliatan banget kalau mata kita seperti panda” canda ku


“Hahaha, oh iya ngomong ngomong hubungan dirimu dengan Mila itu apasih?” serius Bima berkata


“Astaga Bima, Hubungan terus yang dibahas sama seperti Siska. Hubungan aku dengan Mila sama seperti kita sama juga dengan kita berlima” kataku sambil meyakinkan bahwa tidak ada hubungan rahasia yang ku sembunyikan


“Ohh, aku kira ada hubungan special” gerutu si Bima


Keesokan harinya tepat pada jam pelajaran Kimia atau nama yang biasa disebut sekarang adalah Ilmu Pengetahuan Alam. Kami berlima harus mengerjakan tugas yang diberikan, dan karena kita satu kelompok adalah orang yang termasuk ke golongan spesies ‘makhluk pemalas’, jadi sedikit susah mengerjakan tugasnya. Setiap aku menulis dan mencari informasi, wajahku tak terpalingkan oleh Mila dan Wilda, dia terlihat begitu dekat hingga mereka membuat Siska risih. Siska mulai menegur mereka, namun dengan suara yang halus agar tidak diketahui oleh guru. Semakin ditegur oleh Siska, pebuatan Wildan semakin menjadi ke pada Mila. Alhasil Siska mengeluarkan jurus sindiran tingkat atas.


“*Ekhem*, awas loh, nanti Andhra cemburu” sindiran keras Siska kepada Wildan


“HAH?!” teriak diriku sampai guru melihat ke arah kita.


“Sstt, jangan berisik nanti ketahuan” bisik Bima


“Ini, Siska membuat ku kesal. Dia seolah olah membuat diriku dan Mila pacaran” bisik diriku dengan usik


“Kan emang benar begitu bukan kenyataannya?” tanya Siska sambil memancing amarahku


“Ohh aku pikir kalian tidak ada hubungan” wajah Wildan yang mulai terlihat cemberut


“Nggak kok Wil, Siska hanya bercanda, dia usik karena kamu nanyain aku terus” kata Mila, sambil menenangkan Wildan


“Iya kok Wil, aku tidak pacaran dengan Mila, kalau kamu mau ka…..” pembicaraan ku yang dipotong oleh kedatangan sang guru


“DISKUSI APA INI?” sahut Ibu guru yang menyela dan mengagetkan kita.

__ADS_1


__ADS_2