
“Kamu lagi bercanda ya Mila?” tanya ku sambil memastikan
“Wajah ku yang seperti ini, apakah sanggup dibilang bercanda?” Mila berkata bahwa itu bukanlah candaan ataupun rekayasa yang dia buat.
“Terus untuk apa kamu harus bersedih Mil? Bukannya kamu harus bersemangat akan kehadiran ayahmu?” tanya Bima
“Bima kamu bagaimana sih?! Ayahnya Mila saja tidak mempedulikan anaknya begini?! Kenapa kamu belum nyadar juga sih?!” sahut Siska tanpa memikirkan perasaan Mila
“Huss! Tidak ada orang tua yang tidak sayang anaknya” aku berkata demikian agar Mila tidak terpuruk ke dalam kesedihan yang melanda.
Kita berikan saran dan masukan pada Mila, agar dia bisa menjalin rumah tangga yang harmonis lagi seperti semula. Namun seribu kata dan seribu cara yang kita berikan bukannya membuat Mila tenang, namun malah sebaliknya. Mila jutru terlihat sedang dikejar kejar ‘deadline’. Ini merupakan tantangan yang besar bagi Mila tersendiri, selain mengurus jenjang Pendidikan selanjutnya, dia juga harus sering diperhatikan orang tuanya.
“Sudah tidak ada lagi jalan keluarnya” kata diriku
“Sudahlah biar kan aku saja yang menerimanya, lagi pula kalian tidak terlibat dalam kasus ini” sahut Mila dengan rasa pasrah
“Dari awal kita sudah terlibat La, kita yang buat kamu menjadi seperti sekarang ini’ jawab Siska yang tidak menerima keputusan Mila
“Iya Mila, tidak ingat dengan prinsip kita?” Ago menegaskan sekali lagi.
Mila hanya mengganggukkan kepalanya, seakan dia sadar bahwa dirinya lah yang sedang dalam masalah. Entah kejadian ini akan ter ulang untuk kedua kalinya atau ber ulang kali lagi? Dia hanya bisa menatap kesedihannya tanpa orang di sekelilingnya kecuali kami. Dia hanya menyaksikan jelas bahwa dia hanyalah anak yang hilang kasih sayang.
Sampai di jam pelajaran kelas tambahan pun dia hanya merenung dan merenung. Entah apa yang ada di pikirannya pada saat itu. Ia hanya takut apa yang dia pikirkan akan terjadi lagi. Tanpa Ibu, tetapi dengan ayah yang kurang perhatian dengannya. Sepulangnya dari sekolah dia segera menghampiri kudan memegang erat tangan ku, seolah olah dia takut kehilangan segalanya
“Mila, tidak ada yang harus di khawatirkan. Kita juga masih SMP, pikiran kita belum sama dengan pikiran orang dewasa. Mungkin ayahmu bekerja begitu keras juga karena mu Mila” kata Mutiara ku yang terlontar kepadanya.
“Iya Ndhra, Cuma kalian dan orang orang terdekat ku yang mengerti perasaan ku sekarang” jawab Mila
Tak lama setelah itu, Wildan langsung menyosor dan segera memegang tangan mila yang satunya sambil berkata.
“Mila yuk pulang dengan aku!, hari ini sudah mau gelap kasihan kamu nantinya” tawar dari Wildan
“Tidak Wil terima kasih, hari ini aku jalan saja bersam……”
__ADS_1
“Siapa Andhra?! Kamu mau jatuh sakit ya?” tanya Wildan yang memojokan diri Mila
“Sudahlah Mila, kamu pulang saja denga….” Aku berkata dan Mila menyela pembicaraanku
“Tidak apa kok Ndhra” jawab Mila kembali
Wildan hanya melihat diriku dengan tatapan yang sinis dan langsung memalingkan wajahnya, Ia segera meninggalkan tempat itu tanpa adanya pamit dengan diriku. Aku sangat merasa bersalah, sudah sepantasnya aku di sebut dengan Perusak Hubungan Orang.
“Biarkan saja Wildan, aku sedang tidak ingin pulang denganya, lagi pula ‘kamu yang aku butuhkan sekarang’” Mila memelankan atau berkata pelan di akhir pembicaraannya. Itu terdengar samar di telingaku
“Gimana Mil?” Memang dasar aku pria yang tidak ‘peka’
“Tidak ada apa apa kok, yasudah kita langsung pulang yuk” Ajak Mila, yang berusaha memalingkan topiknya
Aku masih sangat penasaran terhadap hubungan aku dengan Mila, ehh maksudnya dengan Mila dengan Wildan. Tetapi dia lagi lagi menutup pembicaraan itu, seolah dia tidak senang dengan Wildan. Aku sempat bertanya pada Mila kenapa dia tidak begitu akrab dengan Wildan. Padahal Wildan sudah membela dirinya untuk berjuang kepada Mila.
“Kenapa sih kamu selalu mencari alasan agar tidak pulang bersama Wildan?” tanya ku di tengah perjalanan
“Bukan begitu, aku senang bila dia mengajak ku pulang bersama. Namun hal yang tidak kusenangi adalah di angkutan umum nya, dia seolah olah menganggap diriku sebagai pacarnya. Padahal aku bukan miliknya, maka dari itu teman teman yang ada di angkutan umum itu juga ikut memojokkan diriku” begitulah penjelasan Mila, kenapa dia tidak mau pulang bersama Wildan
“Bagaimana Mil kabarmu?” sapa Siska
“Mulai mendingan kok Sis, tetapi masih sama seperti kemarin he he he” jawab Mila
“Yang penting tetap semangat, kamu bisa lewatin ini semua” semangat dari Bima
Tak lama kemudian Wildan datang sambil membawa dua es krim ditanganya.
“Wih buat aku ya Wil?” Bima dengan percaya diri bertanya pada Wildan
“Bukan, ini untuk Mila. Ini Mila buat kamu” Wildan menyodorkan es krim nya ke Mila, walau sedikit di tolak oleh Mila. Namun akhirnya di terima juga olehnya.
“maaf ya kemarin aku sudah membentak mu” Wildan meminta maaf atas kesalahan yang di buatnya kemarin sore
__ADS_1
“Iya aku maafin, tetapi kamu juga harus meminta maaf pada Andhra” balik kata Mila
Namun Wildan lansung pergi dan memakan es krimnya. Seolah olah apa yang di dengar olehnya adalah kata yang membosankan. Siska dan Bima mulai mencurigai Wildan dengan sangat pasti, dia iri terhadap ku.
“Tuhkan liat deh, Wildan pasti cemburu banget denganmu Ndhra” gossip dari Siska
“Iya, kamu dengan Mila sudah sangat dekat” lanjut lagi dari gossip yang di berikan oleh Bima
“Haduh kalian ini ya! Mila hari ini bisa tidak kamu pulang dengan Wildan? Aku takut akan kehilangan ‘Anak Gokil’ nya, tolong yaa bantu aku” aku memohon kepada Mila agar mau menuruti permintaanku
Mila mengganggukan kepalanya, dengan artian dia setuju dengan permintaan ku. Entah sudah beberapa kali aku meminta bantuan pada Mila, tetapi dia mau saja ku akali he he he. Setiap jam pelajaran yang ada maupun yang kosong, aku berusaha menjauh dari diri Mila, agar Wildan bisa leluasa berdekatan dengan Mila. Namun naas apa yang di perjuangkan oleh Wildan, Mila selalu menolaknya. Hingga saat pulang sekolah, Mila harus menepati janjinya ia harus pulang dengan Wildan kalau tidak hubungan ku dengan Wildan akan hancur.
Aku sangat lega ketika Mila dan Wildan akan pulang bersama. Setelah sepuluh menit aku menempuh perjalanan, aku mendengar Mila teriak memanggil nama ku. Ternyata benar dia berlari mengejar diriku, yang kulihat di wajahnya dia terlihat sedikit sedih. Aku segera menanyakan apa yang sedang terjadi.
“Yaampun Mila, ada apa ini” khawatir batin dan diriku sambil bertanya
“Hiks.. hiks… Wildan tadi.. Hiks” Mila berkata demikian sambil menahan nangisnya
“Yasudah sini kita duduk terlebih dahulu. Ada apa ini? Tidak usah terburu buru” aku berusaha menenangkannya
“Tadi aku sempat berdebat dengan Wildan, ini berhubungan dengan ayahku dan kamu Ndhra. Tadi saat aku bersama Wildan
[Untung kamu bersama ku Mila, tidak dengan pengecut itu] Wildan berkata sambil menyindir
[Maksud kamu siapa? Andhra?]
[Kamu bahkan sudah menyadarinya, kalau kamu dengan orang itu aku yakin kamu akan terpuruk lebih dalam lagi. Bahkan dia bisa menghancurkan hubungan mu dengan ayahmu] lanjut Wildan
[Kenapa kamu selalu merendahkan dirinya di depan ku? Kamu lah pengecut Wildan. Kamu tidak berani mengatakan di depannya]
“Aku segera berpaling darinya dan berusaha mengejar dirimu, namun di meneriaki diriu tanpa sopan dirinya. Wildan berkata ‘KAMU LEBIH DARI ITU, KAMU SAJA TAKUT DENGAN AYAHMU!’ itu yang membuat ku sedih” Mila berkata sambil menundukan dan bersedih kembali
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua yang keluar dari diri Mila
__ADS_1
“Andhra……” Mila memanggil ku dengan nada tangisan
“Apa benar? Aku lebih dari pengecut?” Mila berkat demiian sambil menangis sekuat sekuatnya.