Kita Itu Apasih?

Kita Itu Apasih?
Eps 20- Akhir?


__ADS_3

Terheran  heran mendengar kata ‘special’ Wildan juga tak segan segan memegang tangan Mila. Banyak pria yang cemburu juga saat itu, tidak termasuk diriku. Aku yang menyaksikan tersebut merasa lega, mungkin pertemanan mereka sudah baik kembali. Namun Siska berkata tidak pada hari itu begitu juga Mila, Mila segera melepaskan tangan Wildan agar tidak terjadi sebuah kesalah pahaman.


“Kalau mau memberi tidak usah modus dong!” tegur Siska yang membuat Wildan terpojok


Suara ricuh pun mulai terdengar, namun ayah Mila hanya memperhatikan saja seolah dia tidak tahu apa penyebab dari kericuhan tersebut. Aku segera menarik Siska dan Bima ke bawah panggung agar suasana tidak semakin memburuk.


“Yasudaah kita balik dulu ke tempat duduk kita yaa, biar tidak semakin memburuk~” aku mengajak Siska duduk dengan nada merdu


Siska hanya menatap Widlan secara sinis, tentu aku dan Bima tidak berani menanyakan apa yang dia rasakan.


“Sis…” tanya Bima perlahan


Siska hanya menoleh perlahan seperti dia masih memikirkan kejadian tersebut


“Sis, kenapa sih kamu selalu membentak Wildan kalau sudah dekat dengan Mila? Memangnya ada apa?” tanya ku perlahan


“KAMU TIDAK TAU YA?! Dia itu orang tidak benar!” kata Siska yang sambil melotot ke arah diriku


“Husss, jangan asal nuduh, memangnya Wildan suka berbuat apa ke Mila?” Bima melanjutkan


“Dia itu suka berbuat semena mena ke Mila, maksudnya itu. Wildan suka membuat risih Mila, entah itu di angkutan umum, kantin, maupun di luar sekolah. Pokoknya dia orangnya ngeselinn bangetttt, ingin ku remukan tulang belulangnya itu  HIIIIIIHH!!!” kata Siska yang sudah tidak kuat menahan gairahnya


Aku dan Bima saling menoleh, nampaknya pikiran aku dan Bima sama. Aku berfikir bahwa sebenarnya Siska tidak suka dengan kelakuan Wildan atau dia menyimpan perasaan terhadapnya?


“ohhhh,, ekhem…. Jadi sebenarnya kamu suka terhadap Wildan bukan?” tanya Bima secara menyindir Siska


“MANA MUNGKIN!!” tegur Siska dengan keras


Aku dan Bima terkejut mendengar perkataanya. Sepertinya apa yang kita pikirkan salah total dengan maksud dari Siska. Mila dan Wildan pun kembali ke tempat duduknya, untuk melanjutkan acara tersebut. Beberapa menit kemudian, Bapak Barry atau ayah Mila berdiri di depan para undangan untuk menyampaikan rasa terima kasihnya terhadap undangan maupun Mila.


“Saya berdiri disini merasa tidak menyangka, bahwa saya masih bisa melihat putri saya yang sudah lama saya tinggalkan. Saya sangat bersyukur pada hari ini dia ber ulang tahun, saya juga ingin berterima kasih terhadap seluruh undangan yang sudah hadir pada malam hari ini. Yang saya harapkan atau yang saya ingini dari putri saya yaitu Mila, adalah jadilah anak yang baik. Terima kasih semua” Ayah Mila berkata seperti itu dan mendapat tepuk tangan yang meriah tentu juga dengan Mila dia sangat senang mengetahui ayahnya masih mau memperhatikannya.


 


Setelah ayah Mila turun, Mila di beri kesempatan untuk bernyanyi. Dengan semangatnya Mila langsung menaiki panggung dan berharap lagu ini bisa didengar oleh ayahnya.

__ADS_1


Lantunan music mulai bersuara perlahan, Mila memulai mengangkat suaranya dan banyak mendapat pujian dari orang orang atau tamu undangannya. Namun aku melihat sekeliling tidak ada tanda keberadaan ayahnya, Mila juga sambil melirik keberadaan ayahnya. Tetapi tidak ada yang tahu dimana dia. Hingga Mila selesai bernyanyi, kita melihat ayahnya keluar dari pintu rumahnya yang menuju ke acara pesta. Melihat akan hal itu, Mila segera menuruni panggung dan menangis, ia berlari mengunjungi kamarnya dan menangis. Keadaan semakin ricuh dan mulai menjadi perbincangan. Kita sempat mengejarnya bersama ayahnya namun dia sangat cepat dan mengunci pintu kamarnya.


Mila berfikir dia menyanyikan sebuah lagu agar bisa pak Barry mendengarnya, namun mungkin pekerjaan pak Barry menutupi rasa pedulinya terhadap Mila. Siska membujuk Mila agar mau memberikan kita semua masuk, namun hanya Siska yang diperbolehkan saja. Siska mengunjungi Mila dan segera memeluknya. Sangat terdengar keras bahwa Mila sangat tersedu sedu meratapi kehidupannya.


Sementara itu, aku, Bima dan Wildan yang berada diluar kamarnya bersama pak Barry mulai memulai pembicaraan.


“Pak, mohon maaf kalau kita lancang terhadap bapak. Namun apakah tidak bisa pekerjaan yang bapak miliki di sampingkan terlebih dahulu?” kataku


“Mila sudah menunggu kehadiran bapak selama bertahun tahun, dan ini adalah hari kebahagiannya dia pak. Tetapi apa yang bapak lakukan? Bapak hanya membuat suasana hatinya semakin rapuh” Wildan berkata demikian yang membuat Pak Barry mulai mengangkat suaranya


“Kalian tahu apa tentang keluarga saya?” tanya Pak Barry yang sudah mulai kesal


“Kita mengetahui semunya pak, mulai dari kehilangan teman, ayahnya, dan mendiang ibunya. Kita yang selalu menemaninya” Wildan tetap berisi keras bahwa apa yang dikataknnya adalah benar


“Sudahlahh tenaangg” Bima menghentikan Wildan agar menahan emosinya


“Jangan mengangkat suara lagi Wil, nanti memperburuk keadaan” aku berkata seperti itu yang membuat Wildan tambah kesal denganku


“KENAPA?! Justru kamu yang membuat keadaan aku buruk” Kata Wildan yang melotot ke diriku


“Maaf pak?” aku bertanya dengan bingung


“Kamu banyak di ceritakan oleh Mila, begitu pula dengan kamu (menunjuk Bima) kamu (menunjuk kearah Wildan) dan juga teman wanitanya” kata pak Barry


“Kamu anak yang sopan Andhra, berbeda dengan orang yang membuka mulut ini. Saya akui saya memang salah, Mila… bisa buka pintunya nak?? Ayah ingin berbicara sebentar dengan kamu” Bujuk Pak Barry sambil mendekati kamar Mila


Pintu kamar Mila akhirnya terbuka, karena Siska. Mungkin kita harus mengerti mereka punya waktu mereka sendiri, maka dari itu kita segera meninggalkan tempat tersebut. Apa yang dikatakan Ayah Mila pasti sangat menyakitkan di hati Wildan, dia hanya terdiam tanpa suara dan memalingkan wajahnya tehadap ku. Wildan segera dan sebisa mungkin menjauhi kerumunan dan keluar dari acara tersebut, aku Bima dan Siska juga ikut mengejarnya entah apa yang ada di hatinya kita berusaha menenangkannya.


“WIL… tunggu” kata kami yang sedang mengejarnya


“Tunggu Wil” aku mengejar Wildan dan meraih tangannnya. Namun dia menepis tangan ku seolah dia sedang menyimpan dendam terhadap diriku.


Bima dan Siska juga berhenti sejanak, karena melihat adegan ini. Mereka merasa akan ada hal yang tidak diinginkan setelah ini.


“Kenapa sih? Kamu selalu menghindar sama Andhra?!” tegur Siska dari arah belakang

__ADS_1


“Belakangan ini kamu aneh Wil, kamu berubah” kata ku memandanginya yang sambil menghela nafasku


“ANEH?!! BERUBAH?!! KAMU YANG MEMBUAT AKU SEPERTI INI!!”


Kita bertiga sangat terkejut terhadap perkataanya, Bima mulai mendekati dan segera melerai agar keadaan semakin membaik.


“maksudnya?” aku bertanya demikian


“Masih belum mengerti ya? Ha ha haaa SEMUA YANG KU INGINKAN KAMU AMBIL ANDHRA!! Dari teman, kepercayaan, hingga wanita pun!! Kamu ambil!! Sekarang apa lagi yang akan hilang dari diriku ini?! Kamu mau mengambil jantungku?!!! HAH?!!” Wildan memojokan diriku


“Aku tidak pernah mengambilnya darimu, justru karena kamu berulah kamu yang berubah” aku hanya menjawab dengan perlahan


“SAKIT KAMU YA??!! DASAARR!! ANAK TUKANG ROTIII!!” Wildan berteriak yang membuat aku tidak bisa menahan emosi


Aku dan Wildan berkelahi disana layaknya permasalahan yang sepele. Permasalahan ini sebenarnya tidak rumit, namun kita saja yang membuat semakin rumit. Aku berkelahi tanpa ada rasa ampun sedikit pun terhadap Wildan. Bima dan Siska yang kewalahan meleraiku, hingga akhirnya Bima berhenti dan berkata.


“HEYYYY!! Jangannnn ada bertengkarr lagi” suara Bima yang mulai merasa sedih. Aku bingung yang berkelahi aku dan Wildan kenapa dia yang sedih?


Aku dan Wildan segera menjauh dan menghentikan perkelahiannya, walau masih menatap satu dengan yang lain. Aku mendapat luka lebam disekitar wajah ku dan tanganku begitu juga dengan Wildan. Aku menatap Bima yang sangat sedih itu dan melanjutkan pembicaraannya


“JANGAN BERTENGKARR!! Aku sudah kehilangan teman ku dan aku menjadi korba penganiayaan di sekolah selama tiga tahun berturut turut. Aku tidak ingin kehilangan kalian, sudah cukup!! Kalau kalian hilangg, aku punya siapaaaa??? Aku tidak ada temannnn” Bima menangis melihat dan meratapi kehidupannya.


“Kalian itu seperti anak kecil!” sahut Siska yang melihat keadaan diriku dan Wildan


“Intinya uhuk… kamu suka tidak dengan Mila?” tanya Wildan dengan memegang perutnya yang sakit


“Tidak usah aku menjawab kamu sudah tahu jawabannya bukan? Dari awal aku tidak ada rasa dengannya, justru aku membiarkan dirimu dengan Mila agar bersatu. Maaf ya Bima Siska kalian harus menyaksikan hal ini” Aku berkata demikian yang terkejut nampaknya Mila berdiri dan mendengar perkataan ku.


Aku sangat bingung harus berbuat apa, Mila hanya bisa terdiam melihat aku babak belur bersama Wildan. Tak lama kemudian ponsel ku berdering, yang menghubungi ku adalah kakaku dan berkata…


“Halo kak, ada apa?” aku bertanya


“Andhra kamu dimana? Kondisi mama semakin memburuk!”


Hari itu adalah hari yang berat bagi ku, aku sudah kehilangan sahabatku, dan aku tidak mau kehilangan ibuku.

__ADS_1


__ADS_2