Kita Itu Apasih?

Kita Itu Apasih?
Eps 11- Kecemasan yang Berkala


__ADS_3

Yang kulihat dimata nya hanya penuh kemarahan, aku tidak tahu betul apa sebab dan akibat dari konflik ini. Banyak yang berkata bahwa ini sebuah kesalah pahaman, ada juga yang berkata bahwa adanya sebuah adu mulut yang hingga membawa ke poses ini. Tanpa pikir panjang aku langsung meleraikan masalah ini, tentu juga bersama yang lainnya. Kita berusaha untuk menengkan satu dengan yang lainnya. Tidak ada lima belas menit kemudian, guru sudah datang, dan menanyakan apa yang sudah terjadi. Namun Ago dan preman ini diam saja, hingga mereka dibawa ke ruang guru untuk ditindak lebih lanjut.


“Wildan kenapa bisa begitu?” tanya Bima


“Entah lah, mungkin mereka bertengkar gara gara ulah si Preman itu” lanjut Siska


“Yasudah apa pun yang terjadi, nanti kita bantu Wildan untuk menenangkan dia” Lanjut kataku yang sudah khawatir akan dengannya


Kita sudah melewati jam pelajaran ketiga, dan Wildan pun masih belum datang ke kelas. Kita menunggu akan kehadirannya. Tepat pada jam istirahat, Wildan Kembali dengan wajah yang murung. Dia pergi kelas dan segera membawa tasnya, aku sudah berfikir bahwa hukuman yang didapat oleh dia benar benar berat.


“Sob! Mau kemana?!” tanya ku yang segera menghampiri nya


Ago hanya terdiam dan melanjutkan apa yang akan dilakukannya


“Wil kamu kenapa?” tanya Bima dan Siska yang heran


“Skors….. aku mendapat skorsing” jawabnya dengan pelan


“KOK BISA!” serentak kita berempat bertanya


“Entahlah, aku terkena skors selama 3 hari” lanjut Wildan dengan hati yang hancur


“Lalu bagaimana dengan preman itu? Dia juga terkena Skors?” tanya Mila


“Dia tidak mendapatkannya, dia juga tidak mendapat sanksi apapun” Ago berkata yang lalu meninggalkan kita


Aku tahu betul bagaimana perasaan Wildan hari itu, aku ingin menghiburnya tapi…. Aku ragu apakah rencana ku akan berhasil, atau mungkin sebaliknya. Dia malah makin menjauh. Aku membujuk Mila untuk mmenghampirinya, agar Ago tidak kehilangan harapannya.


“Mil, bantu Wildan untuk tetap semangat. Hanya kamu harapannya” kataku


“Baiklah” Mila setuju dan segera menghampiri Ago alias Wildan


Mila sudah berusaha sekuat tenaganya, tetapi Wildan hanya mengabaikannya dan terus berjalan. Aku hanya mendengar beberapa kata yang membuat Wildan beku sementara.


“Kamu bukan Wildan yang aku ketahui” kata Mila yang membuat Wildan terdiam


“Wildan yang aku ketahui bukan seperti ini” lanjut diri Mila lagi

__ADS_1


“Yang kamu ketahui tentang diriku sudah hilang” kata Wildan yang segera meninggalkan tempat itu.


Mila kembali dengan membawa hasil nihil. Kami hanya bisa berharap dia bisa Kembali seperti semula. Sekarang semua tergantung pada dirinya, bisakah dia mengembalikannya dengan mudah atau sebaliknya. Sepulang sekolah kita langsung pergi menemuinya, namun Wildan membutuhkan waktunya untuk sendiri, yang ku lihat adalah hubungan nya dengan keluarganya sudah mulai tidak harmonis lagi. Aku berusaha untuk meyakinkan bahwa Wildan atau Ago tidak bersalah.


Keesokan harinya, kelas terasa sepi karenanya. Tanpa kehadiran Ago kita ber empat kehilangan sumber kebahagiaan, karena dia yang biasanya menghibur kita. Aku berusaha menghubungi Wildan dan dia hanya menjawab‘aku baik baik saja’ itu kata yang sering di ucapkan bila kita menanyakan kabarnya. Setiap pulang sekolah kita ber empat selalu menyempatkan diri ke rumah Wildan. Tetapi lagi lagi dia tidak ingin ditemui. Hingga aku menemukan ide, bagaimana cara agar Wildan mau keluar rumahnya. Aku, Bima, dan Siska memutuskan untuk hanya Mila yang pergi kesana.


“KENAPA HARUS AKU?!” kata Mila dengan kesal


“Hanya kamu yang dibutuhkan Wildan saat ini” lanjut Siska


“Tolong lah Mil, kali iniii saja” aku memohon pada Mila agar mau menemui Wildan


“Bagaimana pun juga kau kan temannya” kata Bima


“Memang sih aku temannya, tetapi kalau aku sendiri rasanya akan canggung” lanjut Mila


Setelah sekian kali nya kita berdebat, akhirnya Mila mau menemui Wildan. Kita segera pergi ke rumah Wildan. Aku, Bima dan Siska mengumpat di balik pohon dekat rumahnya. Sedangkan Mila pergi untuk menanyai bagaimana kabar Wildan.


“Permisi….” Sapa Mila


“Iya? Ehh ada Mila, Wildan! Ada Mila nihh” kata Ayahnya


“Masuk dulu nak Mila?” tawaran dari ayah Wildan


“Tidak usah om, Mila sebentar saja”


“Ada apa Mil?” tanya Wildan


“Gimana kabarmu Wil sehat? Temen temen pada nanyain tuh” tanya diri Mila


“Aku sehat sih, karena aku lebih sering hibernasi disini”


Sekitar 5 menit tepatnya mereka bercakap cakap, akhirnya Mila menutup pembicaraan tersebut.


“Yaudah aku Cuma mau bilang itu saja sih, oh iya jangan lupa besok sekolah ya! Kita ber empat sudah nungguin” jawab Mila


“Iya, hati hati ya” lanjut Wildan

__ADS_1


Mila segera menghampiri tempat persembunyian kita. Aku sangat berterima kasih ke padanya karena hanya dia kunci agar Wildan bisa menjadi Ago yang seutuhnya lagi. Malam hariku di penuhi dengan rasa yang lega, karena Wildan sudah mau mulai mengangkat suaranya di pesan grup kita. Akhirnya ‘Ago’ sudah Kembali.


Keesokan harinya Wildan sudah mulai mau lagi ber interaksi terhadap sesama seperti biasanya. Walaupun tidak sepenuhnya, karena ini akan memerlukan proses yang cukup panjang untuk kembali menjadi Ago yang dulu.


“Wih baru masuk sekolah, sudah mulai luntang lantung ( berjalan jalan kesana kemari dengan maksud yang tidak jelas ) aja nih Wil?!” sindir dari Bima


“Iya lah, sekalian refresh otak dulu. Jenuh di rumah melulu 3 hari” lanjut kata Wildan.


Tak lama kemudian ada seorang guru yang memberikan informasi tentang kelulusan dari angkatan yang aku duduki sekarang. Tentunya, untuk dapat meluluskan diri kita ke jenjang selanjutnya aka nada rintangan bertahap yang harus kita lalui, yaitu ulangan atau ujian. Sontak seisi kelas menggarukan kepalanya dan mulai panik, karena kita semua belum siap akan hal ini. Untungnya sekolah ini mengadakan ‘Bimbingan Belajar tambahan’ secara gratis, maka dari itu kita tidak akan melewati kesempata emas kali ini. Dimana juga harus mencari tempat belajar tambahan yang gratis kecuali di sekolah? Memang proses belajar tambahan ini akan memakan waktu ku dengan Mila, maksudnya dengan teman teman. Tetapi yang lebih penting kita akan mendapat wawasan yang mampu untuk kita mencari sekolah kedepannya.


“Wah mendadak juga ya?!” kata ku dengan mental yang tidak siap


“Harusnya berita ini sudah kamu dengarkan jauh sebelum hari ini Andhra!!! Cuma kamu saja yang malas mendengarnya” Lanjut Siska yang membentak ku saat itu


“Hehehe maaf maaf”


“Kenapa aku belum begitu siap ya?” kata Bima yang takut hilang percaya diri


“Tidak apa Bim, kita semua bisa kok” lanjut Ago menyemangati Bima


Kita semua sedang sibuk membicarakan hal hal mengenai kelulusan, tetapi Mila terdiam dengan wajah yang tak asing. Dia mulai merenung kembali.


“Kamu kenapa Mil” kata ku yang mengkhawatirkan diri Mila


“Aku masih bingung dan cemas” lanjut Mila merenungkan dirinya


“Memang nya ada apa Mil?” lanjut Ago


“Ayah ku akan datang beberapa hari lagi”


“HAH?!” teriak kita semua.


Pasalnya kita semua kaget karena kita akan cemas melihat Mila lebih tidak di perhatikan oleh ayahnya.


“memangnya kapan ayah mu mau datang Mil?” tanya Siska


“kata tante ku sih, dua hari lagi”

__ADS_1


“WHUT?!” kaget kita lagi


__ADS_2