Kita Itu Apasih?

Kita Itu Apasih?
Eps 3- Terpuruk


__ADS_3

    "Tunggu kita sampai dekat", kata yang membuat aku sedikit bingung untuk menelaah artinya, ya emang dasar aja akunya kurang peka. Tidak kerasa aku dan Mila bersenda gurau sampai sampai kita melupakan abang penjualnya, emang bener kata orang orang dunia serasa milik kita aja, yang lain kos kos-an. Tak hanya di tempat itu saja aku berbiacara dengan Mila, tetapi percakapan itu terus berlanjut seiring kita berjalan kearah rumah ku.


“Nahhh udah sampe nih, tuh liat manusia purba udah laper”


“hahaha iya ya” Jawab Mila dengan penuh senyuman.


    Finally saya menaklukan manusia aneh ini! Hahahaha(tertawa tokoh antagonis). Hal ini membuat aku sedikit tenang, yaiyalah takutnya si Mila ada apa apanya sama saya, kan besar masalahnya. Pembagian makan pun tiba, para manusia purba langsung nyerobot satu per satu. Akibat dari kita ber lima ini saling dekat atau “akrab” maka kita sepakat untuk mengubah nama “kerja kelompok” menjadi “teman kelompok. Ga ada bedanya sih, atau bisa disebut teman selamanya.


    Dan yang kasian sih si Mila, dia kayaknya salah pergaulan sama kita, otaknya udah mulai sedikit miring semenjak bergaul dengan manusia manusia ini, termasuk aku pastinya. Semakin hari semakin erat dan semakin baik antara hubungan kita, jadi kita ga ada yang mau saling menjatuhkan. Seiring berjalannya waktu kita juga sering nongkrong dirumah masing masing, entah bermain, nonton drama, ikutan drama, jadi tokoh drama, yaaa gajelas lah pokoknya kalau sudah satu tongkrongan.


“Ehh kita kayak begini mulu asik yaa??” saut Bima sambil bermain game.


“Iya ya, tanpa pacar, tapi kita malah asik didunia kita sendiri” lanjut Siska.


“Ya mau gimana lagi? Pertama kita ketemu aja ga jelas, gimana selanjutnya?” Jawab Mila dengan kripik kentang yang selalu dibawa kemana.


“Hahahahaha” tawa kami setelah mendengar kata tersebut.


“Ehh, kita gini terus yaa biar tambah kompak” lanjut diriku.


“iye tuhh” jawab empat makhluk dengan senyuman indah.


    Seiring berjalan nya waktu tidak terasa bahwa sebentar lagi kita akan tamat, dan melanjutkan ke jenjang Pendidikan yang lebih tinggi yaitu SMA. Banyak cobaan yang kita lewati di beberapa tahun itu, dan banyak canda tawa yang menghibur diri kita masing masing, satu terpuruk, yang lain membantu. Kalau semua terpuruk? Yaa kita becanda. Suatu hari, aku mendapat kabar buruk tentang ibuku. Ibuku harus terbaring di rumah sakit, karena kelelahan. Sampai sampai, hal pribadi ini terbawa sampai ke sekolah. Tetapi kejadian ini tidak ku ceritakan ke siapa siapa, baik itu Ago, teman tongkrongan, bahkan Mila. Di sekolah aku berdiam diri tidak seperti biasanya, tidak riang, semua hal dalam diriku telah berubah. Hingga pada akhirnya Mila menghampiri ku di saat jam istirahat,


“Eh, Dra…” panggil Mila ke arahku


“yee dikirain drakula apa ye?”


“Yailah, sebegitu amat, nanti nonton yuk ama anak anak” kata Mila, mungkin untuk menghibur diriku.


“Kayaknya ga bisa deh” jawab ku dengan wajah yang ga karuan”


“lah kenapa?” kata Mila, dengan heran.


Aku tak berani jawab pada hari itu, karna aku tak mau membuat teman teman ku susah, jadi aku hanya bisa bilang “Ga kenapa”. Mila berusaha untuk mengajak ku pergi nonton, tetapi lagi lagi tawaran itu ku tolak.


“Lu kenapa sih?” cakap Mila dengan wajah yang sudah mulai kesal.

__ADS_1


“Engga Laaalalalalla” aku berkata sambil meyakinkan bahwa diriku tidak kenapa napa.


“Ndhra, waktu itu kamu pernah bilang kenapa aku suka menyindiri dan diam, kamu mau tau alasannya?”


Aku cukup kaget dengan perkataan si Mila, karena masa iya dia mau bilang begitu secara terang terangan.


“Ayah ku pergi keluar kota, dan Ibu ku sudah tiada sejak aku masih berusia tujuh tahun. Aku menyindiri karena aku pikir sudah tidak ada lagi yang peduli dengan ku, Ayah ku sibuk dengan pekerjaannya, aku hanya diam tak bersuara menyaksikan semuanya berlalu didepanku. Semenjak aku naik ke jenjang SMP, aku sudah tidak tinggal dengan ayah, melainkan dengan Tante ku. Aku layaknya orang yang tidak dipedulikan, sebab itu aku menyendiri, tetapi semenjak aku bertemu dengan kamu, dan temen kita. Hidup ku berubah Ndhra!” raut wajah Mila sudah ga karuan.


    Tepat didepanku, dia menangis dan membuat satu kelas heboh. Aku berusaha untuk tetap tegar, dan berusaha menghiburnya, dari saat itu aku tau kenapa dia selalu diam setiap saat, mengurung diri dan menangis bila sendiri. Dia menangis karena dia membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Sebab itu dia susah untuk bergaul, karna tidak cukup kepercayaannya. Mendengar perkataan itu, sontak aku mengingat suatu kata yang pernah dia katakan sebelumnya, dan tentunya hal ini berkaitan sekali dengan percakapan ini.


“Ohh, jadi kamu ceritain ini karna kita sudah deket tohh??” sambil mengibur, sekaligus meyakinkan dia mengingat suatu hal.


“Maksudnya?” jawab Mila dengan heran sambil mengusap air matanya.


“kan kamu pernah bilang, kalau kamu akan bicarakan latar belakang dari kesedihanmu, jika kita sudah lebih dekat? Jadi Sekarang kita apaan nih? Hehehehe” sambil menjawab dengan men-skak perkataan yang lalu.


“Apaan sih luu!, yaudah sekarang ceritain kenapa hari ini lu down?”


“Buset pake elu gua nih sekarang”


Karena paksaannya, dan aku juga tidak mau memendam terlalu lama akhirnya aku ceritakan saja.


“Hidup memang ga bisa ditebak La, ibuku sekarang lagi sakit dan harus diabawa kerumah sakit, aku sedikit bingung untuk mencari uang tambahan gimana? Toko roti ibu ku sekarang ditutup karena ga ada yang jaga, sedangkan ayahku sibuk kerja. Dan lagi pula aku harus menjaga ibuku makanya aku ga bisa ikut sama kalian buat pergi nonton”


“Yailah lagi pula dirumah sakit kan udah ada kakak sama adek lu yang jaga, gini deh nanti gueh ajak anak anak buat ngebantu jualin roti buatan ibuk kau dehh” seru Mila yang ga ketulungan.


Aku pikir Mila dan temen teman ku bakal tetap pergi nonton, ehh mereka malah ngebantu aku buat mencari uang tambahan agar bisa sedikit membantu biaya rumah sakit. Aku terharu dan tidak bisa menolak lagiii, aku bersyukur dalam daratan. Ehhh malah nyayi. aku bergegas untuk meminta izin untuk membantu jualan di toko ibuku dan syukurnya izin tersebut diberikan. Teman temanku baik banget sampai sampai mau membantu aku yang lagi kesusahan, terutama si Mila, dia paling gercep dalam masalah seperti ini.


“Ehh guys, sorry ya ngerepotin kayak begini, harus cemang cemong deh karna jualannya” kata diriku karna sedikit tidak enak melihat mereka.


“Yaelah sante aja kali Sob! Lagian ente kan udah kaya saudara kite, yoi gakk?” kata Ago, sambil melayani pelanggan


“iya Ndhra udah lupa ya ama prinsip kita? Satu terpuruk…”


“SEMUANYA BANTU!!” Jawab kita dengan kompak, dan langsung melayani pelanggan dengan tekun.


Tak terasa hari sudah mau gelap, dan toko usaha orang tua ku sudah mau tutup. Dengan baju yang celepotan, aku memberi beberapa biaya atau upah ke teman teman, karna sudah bersusah payah dan mau membantu ku.

__ADS_1


“Yailahh, simpen aja kali sob, buat ibumu, lagi pula dikiranya biaya rumah sakit murah?” Ago berkata sambil menghela nafasnya.


“Iye, betul tuh kata si Idan, lagi pula kamu kan butuh biaya agak banyak” jawab si Bima.


“Ya tapi kan aku ga enak sama kalian”


“EH, Anak Durhaka! Simpen tuh duit, ga usah bagi bagi, memang sih kita jadinya pamali, tapi yaa lu pasti butuh kan tu duit?” Jawab Mila dengan wajah yang geram.


“Yang penting, satu terpuruk…” sahut Siska, di sela pembicaraan.


“~seee~muaa~ baaan~tuuu~” jawab kita dengan kelelahan.


    Esok harinya kita sudah sepakat untuk pergi kerumah sakit, dan kebetulan besok adalah hari Minggu, jadi ada kesempatan dan waktu renggang buat kesana. Ehhh malah yang bisa ikut ke rumah sakit cuma Mila doang. Yaa aku ga bisa memaksakan mereka sih, karena mungkin badan mereka lagi pegal pegal linu nyeri aduhay gimana pastinya.


    Tepat jam sebelas siang aku pergi ke rumah sakit, sesampainya disana aku memberi hasil dari toko kemarin ke ayah. Dan syukurnya biaya yang terkumpul tersebut, cukup membayar biaya ibuku. Lalu aku memperkenalkan Mila ke Ibu ku, bukan buat menyiapkan mahar nikah, tapi menjelaskan bahwa dia salah satu anak dari tongkrokan aku dan Ago.


“Ndhra, si cantik ini siapa? Temanmu?” tanya ibuku.


“Iya mah, dia temanku Mila Namanya, dia salah satu anak yang suka nongkrong bareng aku dan Ago, sebenarnya ada yang lain lagi sih, cuman mereka lagi sakit. Gara gara mereka bantu aku jualan di toko roti nya mama dan papa kemarin.”


“oh iya?? Makasi yaa nak Mila, kamu jadi repot deh bantuin Andhra” ibuku berkata sambil membinarkan matanya


“iya tante sama sama, tidak apa kok tante, saya juga senang bantu Andhra lagi pula saya dan teman teman ikut membantu Andhra. Karena katanya Andhra lagi butuh biaya untuk tante” jawab Mila dengan penuh senyuman.


    Maklum lah ibuku tidak kenal dengan Mila, karena ibuku juga ikut membantu ayahku untuk mencari nafkah. Karena ada beberapa tunggakan hutang yang harus dibayar, uang tersebut telah terpakai sebagai modal usaha, jadi mau gamau, mama membantu ayah, tetapi mama malah sampai sakit. Tetapi mama dan papa juga sangat perhatian dengan anak anaknya, dia selalu menemani kita, bila ada sedikit waktu. Hal itulah yang membuat aku tersentuh merana HIYA. Beberapa menit setelah kita berbincang, aku disuruh pulang karena di ruangan tersebut tidak boleh ada keramaian, jadi akhirnya aku memutuskan untuk pulang, lagipula masih ada tugas sekolah yang harus disetor besok. Sebelum pulang aku ingin pergi kerumah teman teman, ingin tau dan sekaligus menjenguk mereka, tentunya sama Mila donk yaaa hehehe.


“Mil, kita kerumah temen temen yuk pengen tau keadaan tuh bocah”


“yaudah yuk”


    Kita akhirnya pergi ke tkp tkp tersebut, dan hasilnya cukup aneh. Si Siska habis di urut tiga kali dengan jurus telapak naga ibunya, mukanya juga kasian banget, soalnya pasti deh urutannya bukan main. Sedangkan si Bima badannya ga berubah sih, memang terlihat jelas bahwa dia Lelah, tapi anehnya, kenapa dia masih kuat bermain game ya?? Padahal untuk jalan saja udah ngos ngosan. Lain hal nya dengan si Ago, sudah kupastikan dia sedang hibernasi, dannn ternyata jawaban ku benar. Dia molor sepanjang harinya, sampai kakak nya sendiri bingung bagaimana cara membanguninnya.


“sekarang mau kemana Mil?” tanya ku, karna udah ga ada opsi lainnya.


“Cari makan yuk, laper nih. Oh iya gua juga pengen ngomong sesuatu sama elu”


WHUTTT??? Mau ngomong apa lagiii?????

__ADS_1


__ADS_2