
Aku sangat kaget mendengar apa yang telah dia katakan. Sontak, aku menanyakan apa yang telah terjadi.
“Mil kenapa?” aku berkata sambil menenangkan diri nya.
“Tadi aku telfon ayahku, aku berkata bahwa aku akan ikut kontes menyanyi. Ku pikir apa yang kupikirkan tak sama dengan hal yang terjadi, aku pikir ayahku akan senang mendengarnya, tetapi malah sebaliknya. Dia seolah olah tidak menganggap keberadaan diriku, dia berkata ‘maaf nak, ini siapa ya?, ohh ku pikir ini adalah anakku, yasudah saya sangat sibuk, hubungi nomor lain ya, mungkin adek salah nomor’ aku menangis disaat itu, dia tak mengenali suaraku Ndhra” Mila sangat menangis tersedu sedu sambil berkata seperti itu di telfon ku.
“La….” Kataku agar bisa menenangkan dirinya.
“La, kamu udah dengar sendiri bukan? Ayah mu tidak melupakanmu, bahkan menelantarkan kamu. Dia saja berkata ‘Aku pikir ini anakku’ itulah kata yang harusnya tak kau lupakan, dia juga sangat menanti kehadiranmu Mila. Sekarang kamu tenangkan pikiranmu dulu, setelah itu istirahat ya, besok kita bicarakan lagi sama teman teman”
Mila meng-iyakan apa yang kukatan, dan aku dengar di telfon suara tangisannya juga sudah mulai mereda. Aku sangat prihatin terhadap kondisi dia saat ini, aku juga sangat mengerti bagaimana hidup bersama keluarga yang tidak lengkap. Esok nya aku pergi lebih awal dini hari untuk mengajak Mila pergi ke sekolah bareng, sesampai nya aku dirumahnya aku bisa melihat bagaimana persaan yang melukainya pada hari itu.
Entah kenapa ini pertama kalinya aku berani mengajaknya berjalan bareng bersama Mila, dia hanya diam termurung sepanjang jalan, dia tak seheboh dulu. Sehingga aku menraik tangannya dan berlari.
“Ndhra pelan pelan, sakit tau!” Mila berkata sambil mengikuti langkah ku.
“Yee, diem aja. BAWEL!” itulah kata yang ku lontarkan untuk menghibur dirinya.
Tiba disekolah, aku segera berjalan cepat menghampiri kelas dengan tujuan menceritakan hal kemarin bersama teman kelompok ku. Setelah apa yang kuceritakan kepada teman ku, mereka berusaha untuk menghibur Mila.
“Udah ya Mil, sabra aja nanti bakalan baik sendiri kok” Siska berkata, sambil memegang Pundak Mila.
“Iya Mil, yang sabar ya” Bima melanjutkan
“Yaudah gini deh Mil, mending nanti kita kerumah ku aja. Katanya, mama dan keluarga ku pengen kenal juga sama kalian nih” lanjut diriku dengan senyum.
“Wahh asik nihh, makan makan lagiii!!” Ago berkata dengan penuh semangat
“Asal makan aja nomor satu dah” Perkataan Bima, yang seolah olah menyindir diri Ago.
Mila mengeluarkan senyum sedikit, yaa untungnya hal itu sudah bisa di tenangkan. Selesainya kita sekolah, kami langsung pergi ke lokasi tujuan yang lebih tepatnya kerumahku. Disana teman teman ku disambut baik oleh saudaraku, dan akupun juga ikut senang melihatnya.
“Wahh, Ndhra ini teman tongkronganmu?” kata Ibu dengan ceria.
“Iya ma, ini yang Andhra ceritakan kemarin, ini ada Siska, ini Bima, ini Mila yang kemarin ikut ke rumah sakit, dan yang satu ini ketemu dijalan tadi, kasian makanya dibawa kesini” kataku sambil bercanda.
__ADS_1
“HEH!” kata Ago, karena dia tau bahwa dialah yang ku katakana.
“Wah Wildan, kamu sudah besar ya? Yasudah kalian pergi kekamarnya Andhra dulu, nanti tante panggil ya” lanjut Ibuku.
“Iya tante” jawab makhluk empat ini.
Kita berlima langsung pergi ketempat hibernasiku, tak lama kemudian ayahku datang.
“Andhra ini kok ramai sekali, ini siapa?” tanya ayahku didepan pintu kamar.
“ini teman tongkrongan yang kakak ceritakan kemarin, ini kakak bawa kesini mau latihan musik” kataku sambil meyakinkan ayahku bahwa aku tak berbuat macam macam.
“ohh, yasudah lanjutkan ya, ayah pikir ada apa”
Wajah Mila masih terlihat muram, tetapi sudah lebih mendingan dari pada yang tadi. Alhasil kita semua curhat di dalam ruangan ini, dan sama sama mencari solusi, agar Mila bisa tampil sempurna didepan panggung. Kita tidak mau melihat dia tampil tidak sempurna didepan panggung akibat masalah yang dia ceritakan.
“Gimana ya? Sudah pikiran tujuh semesta alam masih buntu nih” kata Ago
“Iye sama Wil” lanjut Bima
“Nahhhh, aku tau. Ndhra kamu bisa main alat musik apa aja?” tanya Siska dengan wajah yang sudah menemukan jawaban dan solusinya.
“Aku sih bisa main Gitar”
“Yasudah kamu ikut aja bareng Mila kontesnya” jawab Siska
“mana bisa Sis, yang sudah terdaftar kontes tersebut tidak bisa lagi diubah, ataupun ditambahkan. Lagi pula kontes ini hanya aku saja yang terpilih” Mila menjawab, dengan perasaan yang masih sama.
“Gini deh, aku ada ide sih, cuman kamu mau ga Mil?” tawaranku yang membuat teman lainnya bingung.
“Engga aneh aneh kan” Mila meyakinkan bahwa apa yang ku pikirkan tidak membuat dia tambah terpuruk.
“Engga lah, ini juga udah biasa kamu lakukan. Yaudah sekarang kita makan terlebih dahulu, baru kita lanjut ke ideku”
Aku hanya bisa berharap semoga ideku bisa membuat dirinya bangkit lagi seperti semula. Sore hari pun tiba, setelah kita semua selesai dan mempersiapkan diri, aku akhirnya mengajak teman temanku ke lapangan temoat olahraga. Apakah kalian tau apa ku pikirkan? Ini lah ideku, membawa Mila kesini untuk tampil di panggung lapangan tersebut.
__ADS_1
“Ya ampun kita ngapain sih disini?” tanya Siska.
“Mil kamu nyanyi didepan panggung sana, kita bakal oerhatiin kamu” jawab ku mengingat itulah yang ada di ideku.
“HAH?! Gila apa ya? Nyanyi di tempat umum gini? Malu ah!” Mila mengatakannya dengan menolak dengan keras, seolah dia malu melakukannya.
“Yaelah, biasa nya juga malu maluin, kenapa sekarang malu? Di depan kelas aja biasa kok kamu nyanyinya” lanjut perkataanku.
“Mungkin bener Mil, apa yang Andhra katakana, biar mentalmu juga tidak demam panggung” lanjut Bima.
Mila pun langsung menghampiri panggung tersebut, dia bersiap melakukan latihan nyanyian ini, tetapi selang beberapa waktu, dia justru kabur dan mengumpat seorang diri, kita segera menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi.
“Udah ah, gua gak mau nyanyi lagi, MALU TAU!” jawabnya dengan cepat dan singkat
“Maaf ya Mil, kalau bikin perasaan mu makin jatuh, saolnya cuman ini yang bisa mengemablikan seluruh mentalmu” kata ku sambil memohon ampun atas apa yang terlah ku perbuat.
“Gua ini layaknya barang yang using dan sudah dilupakan, ga ada gunanya” jawab Mila, sambil memprihatinkan dirinya
“Kata siapa lo gag una, buktinya lo ikut kontes nyanyi yang penontonnya tak terkira. Untuk apa sih merendahkan diri seperti itu” kata Siska alangkah bak motivator terhebat.
Kami berempat langsung meminta maaf atas apa yang kita perbuat dan kami juga berusaha meyakinkan bahwa Mila bisa melakukannya, alhasil Mila mau dan mencoba lagi. Sedikit demi sedikit dia sudah mulai terbiasa dengan kesehariannya. Setelah beberapa hari berlalu dia sudah mulai aktif pada biasanya, memang sih tidak sepenuhnya tetapi dia bisa menjalaninya dengan baik. Dan dia juga sangat giat dalam mengikuti kontesnya, dia berlatih terus di ruangan musik sekolah, setiap sore dia berlatih lagi di panggung lapangan. Melihat kondisi dia seperti ini kami jadi kagum akan dia yang giat berlatih.
“Terima kasih ya kalian, yang udah mau bantu aku sampai begini.” Ucapan Mila dengan penuh menghayati
“Yaelah santai aja kali Mil, kita akan selalu adad eh buat kamu” lanjut Ago
“Janji deh Mil, kita akan bertepuk tangan dan memberi dukungan paling hebob di kontes nanti” perkataan Bima, yang membuat Mila semangat
“Bahkan tidak itu saja, kita akan berteriak paling keras dan membuat heboh suasana” argument diriku untuk Mila
“Yang penting, SATU TERPURUK…”
“SEMUA BANTU!!!”
“jangan lupa beliin pisang goreng ya kalau aku menang”
__ADS_1
“HAHAHAHAHA” Tawa kami dihari itu