
“Diskusi apa ini? Tentang pacaran?” jebak sang ibu guru
“Tidak bu, saya bisa jelaskan ini semua ….” Suara ku dengan lagaknya di sinteron
“Sudahlah tak ada penjelasan lagi, kalian semua berdiri di lapangan BESOK!” teriak ibu guru
“Lho kenapa besok bu? Bukannya sekarang?” tanya Bima dengan bingung
“kalau sudah tau, CEPAT KESANA!” lanjut teriak Ibu guru
Akibat dari kita terlalu sibuk dengan percakapan kita, ya begini lah hasilnya kita dihukum sampai jam istirahat. Berdiri di bawah terik matahari, sambil mengangkat tangan untuk menghormat ke tiang bendera. Disana kita bukannya meng instropeksi diri melainkan kita bercanda, padahal sebentar lagi kita mau lulus, malah bikin kesan yang aneh di tahun terakhir ini. Sulit dijelaskan kenapa kita tetap bisa bersama, entah minggu depan atau selamanya. Walaupun kadang kita suka bercekcok, apa lagi dengan kondisi Wildan saat ini. Rumit untuk dimengerti.
‘La kamu tidak apa apa? Kamu berjemur di siang terik hari ini?’ bisik Ago ke Mila
Mila hanya menggelengkan kepalanya sebagai ganti dari pertanyaan yang diberikan oleh Wildan alias Ago.
“Panas begini enaknya minum es kali ya?” sahut Bima yang baju nya mulai bercucur dengan air keringat.
“Ya ampun sempat sempat nya berfikir bahwa kita akan dihidangkan makanan disaat begini” lanjut Siska
“Mending minum air keringat mu aja Bim, kan sehat” candaan ku yang terlanjur kelaur begitu saja
Kata itu membuat kita tertawa sambil menggerakan badan dengan cara gaya kita tertawa, hingga sampai kita tak mengetahui bahwa ibu guru datang menghampiri kita.
“Astaga kalian ini, tidak ada rasa bersalahnya ya?!” tegur ibu guru yang menghampiri kita
“Kalian ini ibu jemur agar kalian bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik, bukannya melupakan tindakan yang kalian lakukan tadi. Apalagi kalian tadi berbicara tentang percintaan kalian itu belum saatnya nak” sindir ibu guru.
Aku sangat khawatir bahwa yang akan marah adalah Wildan, karena dia sedang dibicarakan terang terangan oleh sang guru. Untung saja dia bisa mengendalikan dirinya, jadi dia bisa menahan emosinya. Setelah itu, kami pergi untuk meredakan diri.
“PANAS BANGET!!!” sahut Siska yang kepanasan
“Iya nih, jadi kepikiran sama es tehnya” lanjut Bima
“Bentar yak!” kata Ago, yang siap siap pergi ke kantin
__ADS_1
Pada saat itu, kami hanya melihat Ago untuk pergi ke kantin. Lalu Siska mulai bertingkah lagi.
“Mil, kamu suka ya sama si Wildan?” tanya serius Siska
“Engga Sis, kenapa? Kamu suka dia ya?” pertanyaan balik dari Mila
“KENAPA KE AKU SIH?!” jawab Siska
“Kita kira kamu berpacaran dengan Wildan, karena kalian selalu berdekatan. Maka dari itu kita selalu mengira bahwa kalian mempunyai hubungan special” lanjut Bima
Tak lama kemudian Ago Kembali menghampiri kita. Ia kembali bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan beberapa minuman yang siap untuk dibagikan ke makhluk seperti kita.
“Nih minum kalian” Ago berkata, sembari dia memberikan minuman yang di beli kepada kami.
“WIH, tumben nih sob, ada apa? Kenapa tiba tiba traktir kita?” tanya diriku yang melihat kemasan minumannya
“Sengaja, kalian kan haus, maka dari itu aku belikan minumannya” lanjut Ago
“Ini bukan karena Mila kan Wil?” tanya horror dari Siska
“Tidak kok, aku tidak begitu haus” sambil melontarkan senyuman kepada Mila
Pada dasarnya Ago alias Wildan merupakan anak yang cukup ‘cuek’ terhadap omongan orang, dia tidak mempedulikan apa yang sudah mencela dia. Tapi jika sudah melewati batas, dia bisa saja memukul orang tersebut, tak kenal siapa pun dia bisa memukulnya. Maka dari itu aku tak mau menghancurkan pertemanan ku dengan Ago dari zaman purbakala hingga saat nanti. Aku akan menjaga pertemanan ini dengan Ago dan teman temanku.
Saat sepulang sekolah,
“Yuk Mil, pulang kitah??!!” seru ku sambil mengadu lomba lari dengan Mila
“Siapa takut?!” tantang balik dari Mila
“satu…. Dua….. Tii…..” kompak kita
“Mila!!” teriak Wildan yang segera menghampiri kita
“Ehh, Wildan ada apa?” tanya Mila
__ADS_1
“Pulang bareng yuk, tuh angkot (angkutan umum) nya sudah nungguin” Wildan berkata sambil menunjuk kearah mobil yang disebut.
“Yahh, tapi aku sud….” Belum sempat Mila menyelesaikan perkataannya aku segera melanjutknnya
“Sudahlah Mil, kasihan Ago dia sudah mencarikan angkutan umum yang pas buat kamu. Sana ikut dia” kata ku
Mila hanya menganggukkan kepalanya, dan mulai pergi bersama Wildan.
Aku memang tidak mempermasalahkan kejadian tersebut. Tetapi semenjak beberapa hari kedepannya aku dan Ago sudah mulai berjarak, entah itu di sekolah maupun diluar sekolah. Aku berusaha untuk mengajaknya bermain, tetapi tawaran itu selalu di tolak.
Hingga suatu hari Wildan memberanikan dirinya mengajak Mila pergi, tanpa sepengetahuan kita semua. Memang hal ini terdengar sudah biasa, tapi hal ini aneh bagi kita. Karena pada biasanya dia selalu mengajak kita semua, entah itu nonton bioskop, pergi ke kebun binatang, dan banyak lagi. Lebih lebih lagi, aku tidak sengaja melihat mereka berdua di sebuah mall. Tanpa berifikir panjang, aku segera mengikuti kemana pun mereka pergi, aku sangat penasaran apakah ada hubungan special diantara mereka berdua?
Aku mengikuti mereka hingga ke seluk beluknya mall, mulai dari toko makanan, toko busana, toko sepatu, dan lain lainnya. ‘Mereka ingin menjelajahi peta harta karun ya?’ itu lah yang ada di pikirannku, karena mereka selalu menghampiri setiap toko yang ada. Hingga akhirnya mereka mengisi energi mereka, di sebuah tempat makan.
“Cape juga ya keliling mall ini 5 kali” kata Ago
‘Astaga aku saja baru 1 putaran rasanya kaki ku sudah mau lepas, apalagi dengan mereka?’ bisik diriku
“Yasudah kita makan saja sepuasnya hari ini” Mila berkata demikian, sambill melihat daftar menu yang ada.
Mereka menyantap makanan yang sudah dipesan. Lalu bagaimana dengan aku yang ditinggal sendiri oleh kakak ku? Aku pergi ke mall ini bukan sendiri, melainkan dengan kakak ku dan pacarnya. Mereka sedang menonton bioskop, tepatnya ada di lantai paling atas di bioskop. Aku meminta ikut pergi ke mall karena aku ingin membeli novel favoritku.
Aku memang membawa uang lebih untuk mengisi perut, tetapi aku hanya ingin mengintai Wildan dan Mila. Layaknya detektif professional. Tak lama kemudia aku di kagetkan dengan salah satu pelayan disana.
“Permisi Mas, mau pesan apa”
“ASTAGA! Yaampun maaf ya mbak, saya kira tadi apa, saya pesan air putih saja” jawab ku sambil menghela nafas
“Ohh baik ditunggu pesanannya” jawab ramah sang pelayan
‘Udah lama duduk malah Cuma pesan air putih dasar orang aneh’ bisik sang pelayan yang terdengar begitu jelas di kuping ku.
“Maaf mbak tadi ngomong apa ya?” sindir ku dengan menatap sinis kepada pelayan tersebut
“Andhra! Kamu ngapain?!” teriak Mila, yang sadar bahwa melihat diriku
__ADS_1
Baru kali ini ketahuan gara gara bisikan pelayan