Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh satu


__ADS_3

Lift yang membawa detektif Keiko turun tak pernah berhenti sama sekali di setiap lantai yang dilewati hingga akhirnya lift itu sampai ke lantai dasar dimana coffee shop tempat detektif Egan menunggu detektif Keiko sejak tadi.


Pintu lift itu terbuka dengan sendirinya, suasana berbeda hadir di lantai ini karena tidak seperti di lantai lain di gedung ini yang cenderung jauh lebih sunyi, lantai dasar dimana terdapat lobbi, beberapa pos penjagaan dari berbagai divisi kepolisian serta menyatu dengan kantin kantor, beberapa tempat makan dan sebuah toko yang menjual segala keperluan para anggota kepolisian serta para detektif yang bertugas di kantor wilayah Winter hill ini justru terlihat begitu ramai dan sangat sibuk.


Begitu detektif Keiko melangkahkan kakinya keluar dari lift, segerombolan orang yang akan naik ke lantai atas langsung menyusup masuk ke dalam lift dan menggantikan dirinya sedetik kemudian pintu lift itu pun tertutup.


Detektif Keiko pun segera berjalan melewati lobi gedung itu serta beberapa deret rumah makan dengan menjual berbagai jenis olahan yang berasal dari beberapa daerah khas hingga akhirnya detektif Keiko sampai ke tempat yang memang sejak awal akan dia tuju, sebuah coffee shop dimana rekannya, detektif Egan sedang menunggu kehadirannya.


Begitu masuk ke dalam coffe shop itu indera penciuman detektif Keiko langsung dimanjakan oleh semerbak wangi kopi yang membuat sel-sel otaknya merasa begitu dimanjakan dan seketika rileks hingga tanpa sadar detektif Keiko melengkungkan sebuah senyuman di wajah cantiknya yang selama beberapa hari ini kurang dia perhatikan, minim perawatan, bahkan hanya sabun cuci muka dan sunscreen yang tidak dilewatkan oleh detektif Keiko.


Sebuah lambaian tangan dari seseorang yang duduk di sebuah meja dekat jendela besar coffee shop itu mengalihkan pandangan kedua mata detektif Keiko setelah dia beberapa lama berusaha mencari keberadaan detektif Egan. Ternyata di situlah detektif Egan duduk selama kurang lebih satu setengah jam setelah dia menghubungi divisi urusan hukum dan meminta rekannya di sana untuk menghubungi pengacara yang diberikan nomer ponsel oleh tersangka serta yang dipercayai oleh tersangka.


Setelah menemukan dimana posisi keberadaan detekrif Egan, detektif Keiko pun melangkah mendekat ke meja itu dan ternyata di atas meja itu sudah terdapat dua gelas kopi dengan cara pengolahan berbeda, satu panas dan satu lagi dingin. Di meja itu pun sudah ada sepiring waffle coklat serta sepiring cheesee cake yang begitu menggoda bagi detektif Keiko, membuat saraf-saraf di lidahnya memproduksi air liur yang berlebih.

__ADS_1


“Akhirnya lo sampai juga Kei. Duduk deh, lo pasti capek banget kan,” perintah detektif Egan begitu rekannya yang memanh sudah dia tunggu sejak tadi akhirnya kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


Mendengar perintah dari rekannya itu detektif Keiko pun langsung duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan detektif Egan yang kini tersenyum manis namun terlihat sangat jelas jika senyum itu amat dibuat-buat.


“Ini buat gue bukan, gan?“ tanya detektif Keiko sambil menunjuk segelas es kopi latte dan cheese cake yang tersaji begitu apik di atas meja dan berada di sisi tempatnya kini duduk.


“Iya, gue udah pesenin lo makanan dan minuman kesukaan lo, jadi lo ngga perlu repot pesen lagi dan bisa langsung menikmati makanan dan minuman yang hampir selalu lo pesan tiap kali ke sini,” balas detektif Egan penuh rasa bangga yang ditujukan untuk dirinya sendiri.


“Terima kasih banyak ya gan. Lo tahu aja kalau gue lagi butuh banyak asupan gula buat mengembalikan suasana hati gue yang lagi amburadul hari ini,” ujar detektif Keiko sambil meminum es kopi latte-nya.


Begitu juga dengan detektif Egan yang begitu menikmati waffle coklat yang sudah menjadi kesukaannya sejak masih kecil, dan hari ini rasanya dia bisa kembali menikmati rasa waffle coklat yang hampir sama seperti waffle coklat yang dia makan untuk pertama kalinya waktu dia masih sangat kecil.


Kedua detektif andalan kantor wilayah Winter hill itu duduk di kursi yang saling berhadapan dengan sebuah meja berukuran serang berada diantara mereka namun mereka kini tak saling berbicara satu sama lain. Mereka seakan telah terhanyut dalam rasa yang memang beberapa hari ini tanpa sengaja mereka lupakan.

__ADS_1


Sinar matahari di sore hari itu terasa begitu hangat menembus jendela di samping kedua detektif itu yang tengah terduduk serta menikmati suasana dan rasa nyaman melalui makanan dan minuman yang mereka nikmati, dan tentu saja itu membuat kebahagiaan mereka berdua terasa semakin lengkap dan tanpa mereka sadari senyuman mereka terkembang sempurna terlukis di wajah masing-masing.


Cheese cake di hadapan detektif Keiko kini pun sudah habis seluruhnya begitu pula dengan es kopi latte miliknya yang hanya tersisa batu es saja. Di hadapan detektif Keiko, detektif Egan masih saja sibuk menghabiskan waffle coklat yang hanya tersisa untuk satu gigitan lagi dan lenyap begitu saja dalam mulut detektif Egan dalam hitungan detik.


“Aneh banget, kenapa waffle coklat ini mendadak rasanya jadi lebih enak hari ini, apakah coffee shop ini ganti orang yang membuat waffle coklat-nya!?“ gumam detektif Egan seolah tak percaya dengan rasa yang baru saja memanjakan lidahnya.


“Mungkin karena beberapa hari ini kita tuh terlalu sibuk dengan kasus yang sedang kita tangani, jadi tiap kali kita punya kesempatan untuk makan makanan kesukaan kita ini dalam keadaan terburu-buru jadi kita hampir tidak bisa merasakan rasa sesungguhnya dari makanan-makanan ini,” detektif Keiko mengemukakan pendapatnya.


“Bisa juga karena itu ya,” balas detektif Egan berlagak memikirkan kemungkinan yang satu itu.


Kemudian kedua detektif itu memutuskan untuk duduk untuk beberapa menit lagi di sana demi menikmati suasana saat itu, ketika akhirnya langit mulai menggelap.


Mereka merasa butuh mengisi kembali tenaga dan mental mereka sebelum akhirnya harus kembali berhadapan dengan tersangka dalam kasus ini sekalian menunggu kabar terbaru dari Aris yang kini sedang berusaha mencari tahu latar belakang tersangka dalam kasus ini yang sedang mereka tahan di dalam ruang interogasi.

__ADS_1


Dering ponsel di dalam saku blazer milik detektif Keiko membuatnya terperajat dari lamunan singkatnya dan dengan cepat dia mengambil dan memeriksa ponselnya yang belum berhenti berdering.


“Dengan detektif Keiko di sini,” sebuah kalimat pembuka yang selalu saja digunakan oleh detektif Keiko setiap kali dia menjawab sebuan panggilan telepon.


__ADS_2