Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh lima


__ADS_3

Setelah menawarkan pengacara yang akan disiapkan oleh negara kepada tersangka dan ditolak tersangka, detektif Egan akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan interogasi tersebut dan sekali lagi membiarkan Brian, tersangka dalam kasus ini duduk sendiri di dalam ruangan tersebut.


Detektif Keiko yang melihat rekannya keluar dari ruang interogasi ikut keluar dar"i ruang pemantau dan menemui detektif Egan yang seolah tengah sibuk sendiri dengan pikirannya.


“Dia benar-benar orang yang cerdas dan percaya diri,” ucap detektif Keiko memuji Brian.


“Lo benar banget Kei,” jawab detektif Egan sambil berjalan menuju meja miliknya.


Detektif Keiko masih terus mengekor kemana pun rekannya melangkah namun di dalam hati dia bertanya-tanya tentang apa yang akan dilakukan oleh rekannya itu.


Detektif Egan terlihat duduk dan tenggelam dalam jalan pikirannya sendiri yang entah sedang berkelana kemana, detektif Keiko yang penasaran namun tetap tidak berani bertanya karena akan mengganggu rekannya itu.


Kemudian detektif Egan bangkit dari tempat duduknya dan kembali berjalan menuju ruang pemantau di sebelah ruang interogasi dimana Brian, tersangka mereka yang kini tengah berdiri tepat di depan cermin satu arah.


Brian tersenyum yang lebih mirip dengan sebuah seringai di wajah. Walau dia tahu bahwa sedang bercermin namun di sisi ruangan lain ada dua pasang mata yang sedang mengawasi gerak-geriknya.


Saat sedang memperhatikan Brian dengan seksama serta berusaha mencari tahu bagaimana cara berpikir Brian sebuah pesan masuk ke ponsel detektif Egan dan Keiko. Dan tak berapa lama kemudian ponsel detektif Egan mendapat telepon dari Aris.


“Lo udah baca pesan dari gue?“ tanya Aris.


“Baru banget selesai gue baca.“


“Nama orang yang gue kirim ke lo adalah nama badan organisasi yang selalu mengirimkan uang kepada Brian,” Aris memulai rincian yang dia dapatkan dalam pencariannya.


“Jadi selama ini yang menyewa Brian adalah sebuah badan organisasi?“ tanya detektif Egan lalu kemudian menyalakan pengeras suara di ponselnya dengan tujuan agar detektif Keiko juga dapat mendengar informasi yang sama.


“Betul. Dan kamu harus tahu bahwa badan organisasi yang mengirimi uang kepada Brian bukan badan organisais yang biasa-biasa saja,” jawab Aris.


“Maksud lo, ini badan organisasi yang ternama?“ tanya detektif Keiko.


“Kei, lo di sana juga?“ tanya Aris merasa kaget karena tiba-tiba mendengar suara detektif Keiko.

__ADS_1


“Gue nyalahin pengeras suara di ponsel, jadi Keiko bisa denger juga,” detektif Egan memberitahukan.


“Oh, oke. Gue ngerti,” balas Aris.


“Lo belum jawab pertanyaan gue ris,” sambung detektif Keiko.


“Oh iya, maaf gue lupa. Jadi menurut apa yang gue teliti, badan organisas yang membayar Brian selama ini adalah sebuah badan organisasi yang cukup besar tapi selain begitu gue belum bisa memastikan badan organisasi ini bergerak di bidang apa,” Aris merincikan.


“Lantas apa urusannya dan apa kepentingannya bada organisasi besar itu dengan menghabisi nyawa beberapa orang yang pernah jadi target Brian?“ tanya detektif Keiko.


“Aku sendiri kurang mengerti soal itu. Bukankah itu tugas kalian?!“ balas Aris.


“Jadi kita berurusan dengan badan organisasi besar kali ini?“ tanya detektif Egan.


“Tadi aku juga udah berusaha mengutak-atik segala hal yang terkait dengan nomer rekening ini akhirnya aku menemukan bahwa orang yang membuka rekening yang selalu mengirimin Brian uang adalah tuan Gerald Pillow.“


Sebuah nama disebutkan oleh Aris akhirnya terungkap membuat baik detektif Egan maupun detektif Keiko merasa menemukan sebuah harta karun dalam kasus mereka kali ini.


“Aku senang bisa membantu kalian berdua,” balas Aris dengan rasa bahagia yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Setelah detektif Egan memutus hubungan teleponnya dengan Aris, detektif Keiko langsung melangkah, berjalan menuju ruang interogasi bahkan tanpa berkomunikasi dengan rekannya yang hanya bisa terdiam.


Detektif Keiko lalu membuka pintu ruang interogasi dan kali ini justru Brian yang menyapa detektif Keiko terlebih dahulu.


“Selamat datang kembali detektif.“


“Sepertinya anda sudah merasa kerasan di sini,” sindir detektif Keiko.


“Rasanya saya sudah cukup lama terkurung di sini dengan tangan yang terborgol seperti ini,” ujar Brian sambil mengangkat kedua tangannya yang dikalungi borgol.


“Bukankah itu aksesoris yang bagus dan cocok untuk anda,” balas detektif Keiko dengan nada santai namun mengintimidasi.

__ADS_1


“Tapi kalau boleh memilih, saya lebih suka tidak menggunakan aksesoris,” timpal Brian sama santainya


“Bagaimana anda bisa kerasan di ruang yang tak menyenangkan ini?“ tanya detektif Keiko.


“Seperti yang saya bilang tadi, sama sudah terlalu lama di sini hingga merasa ini seperti rumah saya sendiri,” jawab Brian sambil melukiskan senyuman seolah tak perduli dengan usaha detektif Keiko mengintimidasi dirinya.


“Sepertinya anda juga sudah siap untuk membuat diri anda merasa nyaman berada di penjara,” detektif Keiko juga melukiskan senyuman di wajahnya.


“Siapa yang akan pergi ke tempat terkutuk itu?“ tanya Brian penuh percaya diri.


“Sudah pasti anda,” balas detektif Keiko.


“Kenapa saya harus ke sana?“ tanya Brian masih berusaha menunjukan bahwa dirinya tak bersalah.


“Karena anda adalah orang yang telah menghilangkan dua nyawa wanita di sini, Winter hill dan beberapa bulan lalu di Spring hill,” jawab detektif Keiko menyebutkan dakwaan yang mungkin saja akan dilimpahkan kepada Brian.


“Maksud anda, anda masih memaksa saya mengakui perbuatan yang tak saya lakukan? Menghilangkan nyawa wanita yang jasadnya kalian temukan di jalur lari di pusat kota?“ Dengan nada heran Brian bertanya.


Detektif Keiko menganggukan kepalanya dan berkata, “Lantas siapa kalau bukan anda?!“


“Kalian sungguh orang-orang yang ambisius namun bagaimana pun kalian tak bisa melimpahkan kejahatan itu kepada saya,” balas Brian bersikukuh bahwa dia berada di posisi yang benar.


“Kami ambius? Anda benar sekali soal itu. Tapi jika anda pikir kami tak panya satu pun bukti saya bisa katakan bahwa anda salah,” detektif Keiko terus berusaha untuk menekan Brian.


“Tunjukan saja pada saya jika kalian benar-benar memiliki sesuatu yang bisa membawa saya ke penjara.“


Brian yang memiliki tingkat kepercayaan diri di atas rata-rata itu melonggarkan posisi duduk ya dan membiarkan punggungnya bersandar santai di sandaran kursi yang sedang didudukinya.


Detektif Keiko yang sedari tadi sedang berdiri kini meraih ponsel di dalam saku blazernya lalu berkata, “Bagaimana jika saya katakan tentang seorang laki-laki bernama Gerald Pillow? Apakah nama itu mengingatkan anda pada sesuatu yang membuat anda mungkin bisa menikmati hidup mewah dan beberapa kali berganti identitas dan berpindah tempat,” ujar detektif Keiko sambil tersenyum.


Mendengar apa yang dikatakan oleh detektif Keiko, mendadak raut wajah Biran berubah seketika.

__ADS_1


Senyuman yang sejak pertama kali masuk ke ruang interogasi itu, yang sekali menghias wajah Brian seketika lenyap.


__ADS_2