Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh sembilan


__ADS_3

Detektif Egan dan Keiko yang sudah mengantongi nama serta alamat lengkap orang yang kemungkinan adalah yang sering mengirimkan uang melalui rekening ke Brian pun bergegas mendatangi lokasi.


Mereka berdua mendatangi kantor badan ketahanan negara dan bertemu dengan seseorang yang memiliki kewenangan dalam hal keluar dan masuk uang dalam instansi tersebut.


“Silahkan masuk. Saya Rudi, orang yang akan membantu kalian,” sapa hangat orang yang menerima mereka di salah satu ruangan di gedung itu.


“Terima kasih banyak,” balas detektif Egan sambil masuk dan menutup pintu ruangan itu.


“Maaf meja saya berantakan. Apa yang saya bisa bantu?“ tanya Rudi.


“Saya detektif Keiko dan ini rekan saya, detektif Egan. Kami ke sini untuk meminta bantuan dari anda,” detektif Keiko mengemukakan alasannya datang ke tempat itu.


“Kalian dari kepolisian?“ terdengar sekali bahwa Rudi kaget didatangi anggota kepolisianl


“Benar sekali. Kami sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan yang mengarah pada departemen kalian,” detektif Egan menjelaskan.


Rudi mengerutkan dahinya berusaha mencerna maksud kata-kata yang baru saja diucapkan oleh detektif Egan.


“Saya rasa kalian salah tempat,” ujar Rudi.


“Saya rasa kami tidak salah tempat. Kami menyelidiki dengan teliti dan hati-hati,” ucap detektif Keiko.


“Anggota cyber kami telah menelurusi sumber dana yang selama ini mengiriminya uang dan dari tempat ini semua bersumber,” lanjut detektif Egan.


“Bisa saya lihat nomer rekening yang menerima dana yang kalian maksud?“ tanya Rudi berusaha bekerjasama.


Detektif Keiko menyerahkan sebuah map dengan logo kepolisian yang sejak awal dia bawa ke Rudi yang tengah terduduk.


“Perlu kalian tahu, bahwa kantor saya hanya sebuah tempat transit laporan keuangan,” ucap Rudi.


“Maksud anda, anda hanya menerima laporan dan bukti dari mereka yang melakukan transaksi melalui rekening?“ tanya detektif Keiko.


“Bukan hanya lewat rekening tapi juga bukti pembayaran seperti kwitansi, cek atau yang lainnya,” jawab Rudi dengan raut wajah yang kelelahan.


Kini jari jemari Rudi tengah menari di atas key board nya dan memasukan nomer rekaning yang baru saja dia terima dari detektif Keiko.


“Sepertinya anda kurang istirahat Rudi,” detektif Egan mengomentari penampilan Rudi.


“Dengan pekerjaan yang aku lakoni akan sulit bagiku untuk istirahat. Terlebih di saat-saat seperti sekarang ini, pimpinan ketahanan negara akan mengecek segala pekerjaanku dan memastikan bahwa neraca kami stabil,” Rudi seakan ingin menjelaskan segala hal tentang pekerjaan dan bebannya.

__ADS_1


Detektif Keiko memcondongkan tubuhnya berusaha mencari tahu perkebangan atas pencaharian yang sedang dilakukan oleh Rudi.


“Maaf sekali, sepsertinya rekening yang kalian cari bukan berasal dari kami, ketahanan negara,” ujar Rudi membaca dokumen di dalam layar komputer.


“Bagaimana maksudnya? Maaf saya kurang mengerti,” balas detektif Keiko.


Rudi memutar layar komputernya agar bisa dilihat detektif Egan dan Keiko yang berdiri di hadapannya.


“Seperti yang kalian bisa lihat di sini,” ujar Rudi sambil menunjung bagian atas layar komputer miliknya.


Detektif Egan dan Keiko berusaha memperhatikan dengan seksama dan mengikuti gerakan jari telunjuk Rudi.


“Rekening yang kalian berikan kepada saya ternyata atas nama Paper for Life,” Rudi kembali menerangkan.


“Jadi maksud anda bahwa yang membayar Brian adalah Paper for Life?“ tanya detektif Egan.


“Seperti itulah kenyataannya,” jawab Rudi dengan percaya diri.


“Tapi bagaimana bisa rekening itu menjurus kepada ketahana negara?“ tanya detektif Keiko yang penasaran.


“Coba saya lihat,” ujar Rudi lagi dan memeriksa kembali dokumen di hadapannya.


“Apa anda bisa mencari tahu siapa nama orang yang terdaftar di nomer rekening itu?“ tanya detektif Keiko.


Dan satu kali lagi Rudi kembali membaca dan mengecek dokumen yang ada di dalam layar komputernya. Beberapa detik kemudian Rudi mengerutkan keningnya membuatnya terlihat beberapa tahun lebih tua.


“Ada apa?“ tanya detektif Egan saat melihat ekspresi Rudi.


“Saya tidak bisa menemukan mana orang yang bertanggung jawab ata rekening ini,” jawab Rudi.


“Bagaimana bisa begitu?“ tanya detektif Keiko.


Rudi memainkan dagunya yang memiliki sedikit sekali janggut dan menaikan salah satu alisnya.


“Ada dua kemungkinan jika ini terjadi,” ucap Rudi.


“Apa dan apa?“ sambut detektif Egan.


“Bisa saja karena memang terjadi kesalahan atau … “ ujar Rudi.

__ADS_1


“Atau ….“ detektif Egan mulai tak sabar.


“Mungkin Paper for Life memang menyembunyikan sesuatu,” lanjut Rudi.


Baik detektif Egan maupun detektif Keiko saling melempar pandangan satu sama lain merasa bahwa ini adalah hal yang penting.


“Kami sangat mebutuhkan salinan dari dokumen ini. Apakah boleh?“ tanya detektif Egan.


“Oh tentu saja boleh. Anda ingin berbentuk soft ware atau saya print out untuk anda.“ Rudi dengan murah hati menawarkan.


Detektif Egan kembali melemparkan pandangan kepada rekannya yang berdiri tepat di sebelahnya dan detektif Keiko yang kini mengambil keputusan dan jawaban.


“Saya rasa saya lebih memilih dokumen itu untuk di cetak saja di atas kertas.“


“Oh baik kalau begitu,” balas Rudi.


Rudi bergerak menuju salah satu sudut ruangan kerjanya dimana terdapat beberapa life cabinet yang berjajar rapih, sangat bertolak belakang dengan meja kerjanya yang sangat berantakan.


Rudi menghabiskan waktunya selama beberapa menit di sana sampai akhirnya dia kembali denga raut wajah yang kecewa.


“Seharusnya saya sudah punya dokumen yang sudah tercetak tentang Paper for Life di lemari dokumen saya tapi ternyata mapnya kosong,” ujar Rudi yang kembali duduk di kursinya.


“Jadi bagaimana?“ tanya detektif Egan.


“Mau tidak mau saya harus kembali mencetak dokumen ini. Maaf membuat kalian menunggu dan menghabiskan waktu,” ujar Rudi.


“Tidak masalah bagi kami asalkan kami bisa mendapatkan salinan dokumen itu demi memecahkan kasus kami, kami bisa menunggu,” sahut detektif Keiko.


Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu menit, mesin pencetak yang terletak di dekar jendela ruang kerja Rudi berbunyi, bergerak mencetak dokumen yang mereka butuhkan ke atas selembar kertas yang telah tersedia di mesin itu.


Rudi bangkit dari kursinya, mendekati mesin pencetak itu dan menunggu hingga dokumen itu tercetak seluruhnya di atas kertas putih berukuran A4.


Mesin itu berhenti dan Rudi yang sejak tadi berdiri menunggu di depan mesin itu pun segera menarik kertas itu dan menyerahkannya kapeda detektif Egan.


“Silahkan!“


“Saya sangat menghargai bantuan anda ini Rudi. Terima kasih banyak,” ucap detektif Egan.


“Bagaimana pun saya ini adalah orang yang bekerja di bidang militery yang berusaha menjaga kestabilan dan keamanan negara serta masyarakat. Saya amat senang bisa membantu kali dan semoga kasus ini bisa segera selesai,” ujar Rudi sambil menjabat tangan detektif Egan.

__ADS_1


__ADS_2