Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab 38


__ADS_3

Jasad Jennie pun lalu dibawa ke ruang otopsi Birdella dengan tujuan mengetahui apa yang sebenarnya menjadi penyebab dan kapan waktu kematian dari Jennie.


“Aku yakin bahwa dia adalah korban pertama dari Brian,” ujar Birdella setelah dia selesai memeriksa jasad Jennie.


“Saat saya dan detektif Keiko menemukan jasad itu memang kami temukan dia dengan mulut dan tangan yang dililit lakban berwarna merah sama seperti korban lainnya,” detektif Abraham berusaha menjelaskan.


Ketika detektif Abraham, Keiko dan Birdella sedang berbincang di ruangan otopsi khusus Birdella, detektif Egan masuk dengan kaki pincang.


“Ya Tuhan. Gue khawatir sama keadaan lo,” ujar Birdella sambil memeluk detektif Egan.


“Jangan coba-coba buat melakukan hal itu lagi detektif. Itu bisa saja membahayakan anda,” ujar detektif Abraham dengan nada sinis dan wajah tidak senang namun detektif Egan hanya membalas dengan sebuah senyum pahit.


Detektif Keiko juga memeluk rekannya setelah Birdella melepaskan pelukan dan dstektif Keiko berbisik, “Gue seneng lo balik dengan keadaan yang baik-baik saja, gan.“


Setelah menyelesaikan acara pelepasan rasa khawatir dan bahagia kepada detekrtif Egan mereka pun kembali mengelilingi jasad Jennie yang terbaring di tengah ruangan otopsi.


“Jadi kapan kira-kira waktu kematian korban?“ tanya detektif Egan.


“Menurut hasil dari penelitian gue kira-kira Jennie sudah meninggal sekitar dua tahun lalu,” jawab Birdella sambil melihat ke catatan di tangannya guna memastikan bahwa dia tidak memberikan informasi yang salah.


“Lo bisa memastikan dengan kondisi mayat yang sudah seperti ini?“ tanya detektif Keiko merasa takjub.


“Bukan hanya gue yang memastikan waktu kematian Jennie darj jasadnya. Karena jasad Jennie sepertinya memang sengaja dibiarkan di dalam rumah tentu saja pelaku memerlukan suhu ruangan yang sangat dingin dan pada saat itu pasti akan ada lonjakan tagihan listrik yang sangat signifikan, gue minta Aris buat cek tagihan listrik di rumah Jennie dan dia juga mengkonfirmasi bahwa lonjakan itu terjadi sejak dua tahun lalu.“


Birdella berusaha memberikan analisa yang tidak hanya berasal dari keahliannya namun juga dari bidang yang Aris kuasai.


“Dua tahun? Bukankah dua tahun bukan waktu yang singkat!? Kenapa ngga ada satu pun yang melaporkan kehilangan korban?“ tanya detektif Abraham yang merasa bahwa hak itu terlalu janggal.

__ADS_1


Birdella kembali membuka catatan di tangannya dan membalik beberapa halaman hingga akhirnya memberikan jawaban yang diharapkan detektif Abraham.


“Jennie hidup sendiri tanpa pasangan dan anak. Dia juga seorang jurnalis lepas tentang kegiatan jalan-jalan yang lebih sering di luar rumah dengan jarak yang jauh serta jika pulang hanya akan menghabiskan waktunya di dalam rumah dengan pekerjaannya,” ucap Birdella.


“Tapi dua tahun!?“ tanya detektif Abraham lagi dengan wajah seolah sangsi dengan informasi yang diberikan oleh Birdella.


“Semua tagihan mulai dari listrik, air, kartu kredit, dan semuanya dibayar melakui auto debit dari tabungan Jennie. Kemungkinan semua orang terdekatnya percaya bahwa Jennie masih hidup tapi entah dimana,” lanjut Birdella mengemukakan asumsinya.


*****


Hari ini deteketif Keiko dan Egan memanggil pimpinan perusahaan Paper of Life, Nyonya Betrix Long yang juga menjadi pendiri di dalam perusahaan itu dengan pakaian formal yang terlihat mahal.


Blazer berwarna abu-abu menjadi pelengkap dari blous berwarna putih polos yang dipadukan dengan rok sepan yang juga berwarna abu-abu dilengkapi dengan tas jinjing bermerk terkenal dan mahal.


Nyonya Betrix hari ini datang bersama dengan penasehat hukum yang bukan hanya mewakili dirinya tadi juga mewakili Paper of Life.


“Kenapa klien saya harus datang ke sini?“ tanya pengacara itu dengan wajah yang sombong.


“Saya tidak punya banyak waktu jadi saya harap kita bisa menyelesaikan sesi wawancara ini dengan cepat,” ujar Nyonya Betrix yang tidak kalah agkuh dari pengacaranya.


“Klien saya harus pergi keluar kota hari ini dengan pesawat. Saya harap semua urusan kita tidak memakan waktu yang lama,” sambung pengacara itu, membuka kancing jasnya dan memundurkan posisi duduknya.


Detektif Egan menjajarkan tiga foto korban yang sudah dalam keadaan cukup mengerikan di atas meja yang berada dia antara mereka berempat dan mengajukan pertanyaan kepada nyonya Betrix.


“Apakah anda mengenali mereka?“


Nyonya Betrix menarik pelan salah satu foto itu dan berkata, “Siapa mereka?“

__ADS_1


“Bukankah seharusnya anda yang memberitahu kami?!“ balas detektif Egan.


“Bagaimana saya bisa memberitahu kalian, bahkan saya tak pernah mengenal mereka. Saya tidak tahu,” jawab nyonya Betrix yang wajahnya justru melihay ke arah pengacaranya bukan kepada kedua detektif.


“Bukankah ini semua pekerjaan anda,” ujar detektif Egan sambil menunjuk ke arah salah satu foto korban yang mulutnya tertutup lakban merah.


“Heh, mana mungkim anda berpikir bahwa ini pekerjaan saya. Tidakkah anda melihat saya?“ jawab nyonya Betrix membuka kedua tangannya.


Detektif Keiko memperhatikan pakaian yang digunakan oleh nyonyak Betrix dengan kagum. Ini adalah salah satu pakaian idamannya namun dengan penghasilannya saat ini detektif Keiko cukup sadar diri untuk tidak terlalu berharap memakai pakaian yang mirip dengan nyonya Betrix.


“Anda sedang menghina klien saya?“ pengacara itu meninggikan volume suaranya.


“Tugas kami menanyakan segala hal yang mungkin berhubungan dengan kasus— “


“Anda menuduh kalien saya melakukan kejahatan?“ suara pengacara itu semakin keras.


“Kami memang mencurigai klien anda makanya kami memintanya untuk datang ke sini untuk kami tanyai,” ujar detektif Egan tak memperdulikan emosi yang meledak-ledak dari pengacara yang mewakili nyonya Betrix.


Nyonya Betrix melirik ke jam tangan mahal miliknya dan dengan nada merendahkan dia berkata, “Saya harus mengejar pesawat saya. Saya hampir ketinggalan pesawat saya dan terlambat datang ke arah penting perusahaan.“


“Kalian tidak memiliki hak untuk menahan klien saya dan jika klien saya mengalami kerugian karena tertinggal pesawatnya kami bisa mengajukan tuntutan kepada kalian,” pengacara nyonya Betrix mengancam.


Nyonya Betrix dan pengacaranya bangkit dari duduknya dengan wajah yang cukup menyebalkan namun kenyataannya memang kedua deyektif itu tak bisa menahan nyonya Betrix.


“Kami harap kita bisa bertemu lagi nyonya,” ucap detektif Sgan sarkas.


“Saya bisa saja mebgharapkan hal yang sama tapi saya tak ingin bertemu dengan kalian di ruangan sempit ini lagi,” jawab nyonya Betrix sambil melihat ke sekeliling ruang interogasi kantor deketid Egan dan Keiko.

__ADS_1


Detektif Keiko hanya melemparkan senyuam getir melihat prilaku yang ditampilkan oleh nyonya Betrix.


“Sungguhkah pakaian mahal membuat manusia menjadi segini sombongnya bahkan dengan kenyataan bahwa dia adalah tersangka dalam sebuah kasus kejahatan?!“ ucap detektif Keiko dalam hati.


__ADS_2