
“Tapi bagaimana jika saya menyebutkan sebuah nama, seperti… misalnya saja… Gerald Pillow? Apakah anda bisa mengenali nama itu dengan baik, Brian?“ tanya detektif Keiko.
Saat mendengar nama yang disebutkan oleh detektif Keiko itu, mendadak saja raut wajah Brian berubah. Seyuman sombong yang sejak awal dia selalu tampilkan di wajah dingin Brian mendadak hilang dalam sekejap.
Detektif Keiko kini yang bergantian tersenyum puas karena merasa bahwa kini dia telah memenangkan peperangan psikologi ini dengan tersangka dalam kasus kali ini, Brian.
“Melihat dari reaksi yang anda tunjukan kali ini sepertinya analisa saya benar adanya. Anda mengenali kedua nama itu dengan baik, benar begitu kan Brian!?“ ujar detektif Keiko sambil menoleh ke arah belakang, dimana cermin satu arah yang di sisi lainnya terdapat detektif Egan yang tengah berdiri dan masih terus mengawasi jalannya interogasi antara detektif Keiko dan Brian.
Namun ternyata di saat itu adalah titik lengah detektif Keiko yang disadari oleh Brian dan dengan cepat dimanfaatkan olehnya.
Dengan cepat Brian mendorong meja di hadapannya dan langsung menyerang detektif Keiko hingga akhirnya tubuh detektif Keiko menabrak cermin satu arah di belakangnya dan membuat kaca itu retak lalu detektif Keiko pun jatuh tersungkur dan tertimpa meja.
Detektif Egan yang melihat hal itu tentu saja kaget dan bergerak cepat berusaha untuk menolong rekannya, detektif Keiko yang tengah dalam kondisi yang tak menguntungkan.
Detektif Egan langsung keluar dari ruang pemantau dan menuju ruang interogasi dimana detektif Keiko masih terduduk. Namun pada ssat itu juga, Brian menerjang kaca yang retak itu dan berhasil keluar dari ruang interogasi bahkan dengan kedua tangan yang masih terborgol.
“Lo ngga apa-apa Kei?“ tanya detektif Egan penuh denga rasa khawatir saat akan menolong rekannya itu.
“Gue ngga apa-apa. Cepat kejar si Brian,” perintah detektif Keiko sambil menahan sakit di bagian perut.
__ADS_1
Mengetahui bahwa seorang penjahat yang berbahaya keluar dari ruang interogasi dan berpotensi membahayakan banyak orang dan setelah memastikan bahwa rekannya masih bisa mengurus dirinya sendiri maka detektif Egan pun segera berlari untuk mengejar tersangka mereka di kasus yang sedang mereka tangani saat ini, Brian.
Brian berlari secepat yang dia bisa. Dia mencoba membuka setiap pintu yang dia lewati di sepanjang lorong menuju lift dengan kedua tangannya yang terborgol, namun dia tak berhasil membuka salah satu dari pintu-pintu itu.
Pak Brox yang melihat keributan di ruangan anak buahnya dari dalam ruangan kerjanya pun terusik rasa ingin tahunya dan keluar guna melihat ada kejadian apa sebenarnya.
Baru saja pak Brox menoleh keluar dari pintu ruang kerjanya dia melihat detektif Egan yang sedang berlari mengejar Brian lalu jadi ikut berlari juga berusaha membantu detektif Egan menangkap Brian.
Brian yang terjebak di tengah ruangan para detektif dan staff di divisi pembunuhan itu mendadak panik karena merasa sudah terkepung dan tak bisa melarikan diri lagi dari tempat itu.
Diantara rasa panik Brian yang semakin memuncak, Aris yang tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi di ruangan itu dengan santai berjalan mendekat ke arah Brian yang memang sedang berdiri memunggunginya.
Brian yang menyadari kehadiran Aris yang sedang menggunakan jas lab tahu bahwa Aris bukanlah seorang detektif atau pun petugas yang bersenjata serta yakin sekali bahwa Aris adalah orang yang lemah yang bisa dia manfaatkan dan dia jadikan sebagai sandera.
“JANGAN MENDEKAT!“ teriak Brian yang sedang menjadikan Aris sebagai sandera dan menempelkan senjata tajam itu ke leher Aris.
Mendengar perintah dari Brian serta melihat kondisi Aris yang sudah mulai lemas karena takut membuat detektif Egan, pak Brox dan seisi ruangan itu pun menjadi ikut panik serta memilih untuk menuruti keinginan Brian demi keselamatan Aris.
“Brian sabar! Jangan lakukan hal bodoh yang bisa merugikan diri anda sendiri,” ucap detektif Egan berusaha menenangkan Brian.
__ADS_1
“Letakan pisau itu Brian. Kita bisa bicara semua secara baik-baik,” sambung detektif Keiko yang baru saja tiba di ruangan itu.
“Kita tidak perlu bicara baik-baik. Bebaskan dan biarkan saya pergi dari sini maka saya akan membebaskan teman kalian yang cupu ini,” balas Brian sambil terus menekan leher Aris dengan senjata tajam yang berada ditangannya sejak tadi.
Mendapatkan perlakuan tersebut tentu saja membuat Aris menjadi jauh lebih ketakutan hingga tanpa sadar dia menjerit karena juga menahan sakit di bagian lehernya yang luka terkena senjata tajam.
Semua orang di ruangan itu termasuk detektif Egan dan Keiko menjadi semakin panik dan meminta Aris untuk tetap tenang agar mereka bisa berpikir cepat di situasi macam ini.
“Tenang Aris, lo harus tenang,” ucap detektif Egan.
Namun sepertinya Brian merasa bahwa dia sudah bisa mengendalikan situasi di dalam ruangan itu serta sangat percaya diri bahwa dia bisa lolos dari tempat itu kali ini.
Brian menyeret Aris dengan pelan dan berusaha menuju pintu lift yang berada di ujung lorong, sementara para detektif hanya bisa mengawasi dengan sangat hati-hati masih berusaha untuk mencari celah agar mereka bisa membebarkan Aris dan secepatnya meringkus kembali Brian.
Aris yang sangat ketakutan saat itu sudah mulai lemas dan karena hal itu membuat bobotnya terasa jauh lebih berat bagi Brian yang masih terus berusaha menyeret Aris, berjalan mundur menuju lift dan berusaha mengawasi gerak-gerik dari para detektif.
“Sedikit saja gerakan pada tangan kalian maka dia akan segera kehilangan nyawanya dan bertemu dengan Tuhan,” gertak Brian saat sudut matanya melihat salah satu detektif berusaha untuk meraih senjata api di balik jaketnya dan itu tentu saja membuat para detektif khawatir juga.
Sekali lagi Aris menjerit kecil karena merasa kini tekanan di bagian lehernya semakin dalam dan sebuah sensasi perih dia rasakan di sana.
__ADS_1
Dalam hitungan persekian detik dari jeritan kecil dari Aris itu, terdengar sebuah letupan senjata api dan sepersekian detik kemudian Brian tersungkur di lantai ruangan dengan darah yang mengalir dan membanjiri sekeliling tubuhnya.
Saat tubuh Brian tumbang, di sana lalu terlihat detektif Abraham yang tengah berdiri di depan pintu lift yang baru saja tertutup dengan tangan kanannya yang memegang senjata api yang baru saja memuntahkan sebuah peluru yang membuat Brian seketika tumban.