Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh tiga


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dari Aris, detektif Egan meminta Aris untuk kembali menelusuri jejak digital yang mungkin ditinggalkan oleh tersangka yang kini tengah terduduk di ruang interogasi sendirian.


Detektif Egan kemudian keluar dari ruangan Aris dan diikuti oleh rekannya, detektif Keiko yang berjalan tepat di belakang detektif Egan.


“Sepertinya kita harus kembali menemui tersangka kita?!“ ujar detektif Keiko yang diiyakan oleh rekannya yang sudah memencet tombol lift menuju ke lantai bawah.


Begitu pintu lift terbuka kedua detektif itu langsung masuk dan dengan adrenalin yang memuncak menunggu lift itu turun dan membawa mereka ke lantai dimana ruang interogasi mereka berada.


Dengan langkah tegap dan pasti kedua detektif keluar begitu pintu lift terbuka. Adrenaline dalam tubuh mereka membuat mereka semakin tidak sabar untuk segera bertemu kembali dengan Brian, tersangka mereka di kasus kali ini.


Detektif Keiko yang awalnya berjalan mengekor di belakang detektif Egan kini melebarkan langkahnya agar bisa berada di depan detektif Egan.


Belum juga mereka berada dekat dengan pintu ruang interogasi, tangan detektif Keiko sudah memegang gagang pintu ruang interogasi.


“Gue aja!“ ucap detektif Keiko pada rekannya yang dibalas dengan anggukan kepala oleh detektif Egan.


Saat detektif Keiko membuka pintu dan masuk ke dalam ruang interogasi, detektif Egan berjalan menuju ruang sebelahnya untuk memantau jalannya interogasi.


“Kita ketemu lagi,” detektif Keiko memberi salam pada Brian yang masih duduk santai di tengah ruang interogasi itu.


“Sulit sekali untuk menghindari kalian,” balas Brian dengan wajah sombongnya.


“Ada yang ingin anda sampaikan lagi kepada kami Brian!?“ detektif Keiko berusaha memancing.


“Bukankah sudah saya katakan dengan jelas kepada anda dan rekan anda bahwa saya tidak akan mengatakan apapun kepada kalian sebelum pengacara saya hadir di sini,” jawab Brian acuh tak acuh dan kemudian dia justru sibuk membersihkan kuku-kuku di tangannya.


“Apakah menurut anda, menghilangkan nyawa seseorang adalah hal yang menyenangkan?“ tanya detektif Keiko.

__ADS_1


“Saya tak mengerti apa yang anda maksud detektif,” jawab Brian tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya dari kuku-kukunya.


“Bukankah anda yang sudah membunuh wanita ini?“


Kali ini detektif Keiko menyodorkan sebuah foto korban dari Winter hill, Sephia Sukamadjaya yang sudah memucat.


“Saya tidak mengenalnya,” jawab Brian acuh.


“Anda bahkan belum melihat foto ini. Bagaimana anda bisa tahu bahwa anda tidak mengenalnya,” detektif Keiko berusaha memaksa Brian melihat ke arah foto yang dia sodorkan.


“Saya tidak membunuh siapa pun detektif jadi mana mungkin saya mengenal orang yang katanya kehilangan nyawanya itu,” balas Brian yang melihat ke arah detektif Keiko bukan ke arah foto yang disodorkan oleh detektif Keiko.


“Bagaimana anda bisa begitu percaya diri?“ tanya detektif Keiko dengan amarah yang tersimpan.


“Sudah bawaan sejak di dalam perut ibu saya,” jawab Aris dengan sebuah seringai di wajahnya.


Wajah Brian berubah seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan bertanya, “Apa urusannya dengan ibu saya?“


“Sepertinya ibu anda sangat memperhatikan anda ya Brian. Sampai saat sudah mati pun anda selalu meminta bantuan darinya,” detektif Keiko mulai kembali memancing emosi tersangka dan sepertinya itu berhasil.


“Jangan bercanda detektif. Ibu saya sudah mati dan walau pun dia menyayangi saya tapi terbukti bahwa dia tak bisa melindungi saya,” balas Brian yang kini mulai terlihat menakutkan lagi.


Detektif Keiko tak sepenuhnya merasa terintimidasi dan ketakutan. Justru dia harus menunjukan bahwa dia adalah orang yang berkuasa di dalam ruang interogasi tersebut dan memaksa Brian untuk mengakui perbuatan yang keji itu kepada pada korban yang tak hanya satu, dua bahkan lebih dari tiga di tempat dan waktu yang berbeda-beda.


Namun detektif Keiko memang membutuhkan waktu beberapa saat untuk bisa menenangkan diri dan menguasai situasinya seperti semula karena walau bagaimana pun seringai di wajah Brian selama beberapa detik awal membuat sebagian dari jiwanya merasa bergetar juga.


Suasana ruang interogasi kembali sunyi saat detektif Keiko tak melanjutkan pertanyaannya dan tersangka, Brian pun seolah tak perduli dengan kehadiran detektif Keiko yang tangah terduduk di hadapannya.

__ADS_1


Brian begitu memusatkan perhatiannya penuh ke kuku-kuku jari tangannya yang sejak tadi dia bersihkan dengan tangannya sendiri.


Berkali-kali Brian mengangkat salah satu tangannya setinggi matanya dan memperhatikan kuku-kukunya dengan seksama lama menurunkannya lagi, membersihkan dan kemudian mengangkatnya lagi beberapa kali hingga akhirnya sebuah senyuman terlukis di wajahnya menandakan bahwa dia telah puas dengan apa yang sejak tadi dia kerjakaan.


Sementara di ruangan lain detektif Egan yang masih terus mengawasi jalannya interogasi dengan sedikit rasa cemas saat melihat rekannya yang sedikit terganggu, merasakan sebuah getaran yang berasal dari saku celananya.


“Bagaimana detektif, apa ada yang ingin anda tanyakan lagi kepada saya?“ tanya Brian yang sudah menurunkan kembali kedua tangannya yang maish terborgol ke atas meja.


Detektif Keiko yang sejak tadi seolah tersihir dan menikmati setiap gerakan dari Brian tersentak mendengar pertanyaan dari orang yang berada di hadapannya itu.


“Bagaimana anda melakukannya?“ tanya detektif Keiko.


“Melakukan apa maksud anda? Menghilangkan nyawa orang yang anda maksud?“ tanya Brian balik ke detektif Keiko.


“Bukan. Tapi melakukan yang barusan anda kerjakan.“


“Oh ini!? Maksud anda yang saya lakukan pada kuku-kuku di jari tangan saya ini?“ tanya Brian.


“Bahkan saya yang perempuan pun tak melakukan hal itu,” balas detektif Keiko.


“Seperti yang anda katakan tadi, ibu saya ternyata memang menyayangi saya hingga dia mengajarkan saya untuk membersihkan diri saya sendiri. Bukankah ini terlihat bagus?“ tanya Brian sambil menunjukan kuku-kuku di jari tangannya yang memang terlihat sangat bersih sambil memasang sebuah senyuman puas di wajahnya.


Detektif Keiko seolah kembali tersihir dan melihat kuku-kuku jari tangan Brian dengan seksama dan rasa kagum yang luar biasa kepada barisan jari kuku tangan Brian yang begitu bersih hingga hampir lupa bahwa dia ada di ruang interogasi itu untuk menanyai perihal penghilangan nyawa beberapa orang kepada Brian, tersangka mereka kali ini.


“Bagaimana detektif, apa anda ingin saya ajarkan bagaimana caranya membuat kuku di jari tangan anda terlihat sebagus milik saya ini?“ tanya Brian dengan rasa bangga di hatinya.


Belum sempat detektif Keiko menjawab pertanyaan dari Brian itu, sebuah ketukan di cermin satu arah temlat dimana rekannya berada membuat detektif Keiko mengalihkan pandangannya dan tersadar dari semua rasa kagumnya pada Brian saat itu.

__ADS_1


Detektif Keiko bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar ruang interogasi itu namun Brian masih saja bertanya, “Bagaiamana detektif? Saya bisa bantu jika anda mau.“


__ADS_2