Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh tujuh


__ADS_3

Sebuah letupan terdengar memenuhi ruangan yang sejak awal sudah dipenuhi oleh adrenalin yang terpacu serta detak jantung yang terpompa begitu cepat oleh rasa khawatir yang mendalam karena Aris yang dijadikan sandera oleh tersangka, Brian.


Dan kini muntahan peluru yang keluar dari senjata api milik detektif Abraham membuat Brian terkapar di lantai membuat Aris berhasil terlepas dari cengkraman Brian namun tidak membuat suasana di ruangan itu berubah menjadi jauh lebih tenang mengingat kini ada seseorang yang tengah tergeletak di tengah ruangan kerja mereka dengan darah yang mulai membanjiri sekeliling tubuh itu.


Aris juga ikut jatuh tersungkur di dekat Brian dengan wajah pucat dan nafas yang tersengau setelah menyadati bahwa kini dia sudah tidak dalam kondisi berbahaya lagi.


Seluruh isi ruangan kaget mendapatkan kejadian yang barusan saja terjadi di hadapan mereka, termasuk juga detektif Egan, Keiko dan pak Brox.


Detektif Keiko segera mendekati Aris dan memeriksa keadaannya yang masih terduduk lemas di lantai, “Lo ngga kenapa-kenapa ris?“


Aris yang masih berusaha mengatur nafasnya yang belum juga beraturan hanya bisa menganggukan kepalanya dengan pelan, berusaha memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.


Sementara detektif Egan langsung menghampiri Brian, juga memeriksa keadaan tersangkanya. Detektif Egan mengecek denyut nadi Brian dan berkata, “Dia masih hidup, pak Brox.“


Pak Brox segera menghubungi pihak medis di gedung itu melalui ponsel miliknya, “Ada dua orang terluka di divisi pembunuhan. Tolong bawa tim kalian ke sini secepat yang kalian bisa sekarang juga!“


Setelah itu pak Brox menghampiri detektif Abraham yang masih berdiri di depan pintu lift dan dengan santai masih memegang senjata api di tangan kanannya.


“Apa yang anda lakukan, detektif?“ tanya pak Brox dengan suara yang berat dan dalam, karena menahan amarahnya.

__ADS_1


“Laki-laki itu bisa saja membunuh bagian tim kita,” detektif Aris berusaha membela diri karena merasa bahwa apa yang barusan dilakukan olehnya bukanlah sebuah kesalahan.


“Bagaimana jika tersangka kita kehilangan nyawanya, detektif? Apakah tidak pernah terpikirkan oleh anda soal itu?“ tanya pak Brox yang mulai geram dengan jawaban meremehkan yang diberikan oleh detektif Abraham yang kini tengah berdiri di hadapannya.


“Jika tersangka memang harus kehilangan nyawanya maka kita bisa melaporkan kepada instansi bahwa dia telah melakukan sebuah tindakan yang membahayakan bagi anggota kita dengan membawa senjata tajam yang dia gunakan sebagai alat untuk menyandera anggota tim kita. Kita punya bukti dan saksi yang lebih dari cukup di dalam ruangan ini. Bukankah semudah itu, pak!?“ jawab detektif Abraham masih saja meremehkan situasi yang tengah dihadapi olehnya yang bisa saja menyeret seisi divisi pembunuhan di kantor wilayah Winter hill kali ini.


“Tapi harusnya akan selalu ada sebuah negosiasi yang perlu kita kedepankan terebih dahulu demi keselamatan sandera, bahkan di ruangan ini pun kami punya ahli negosiasi yang sudah terlatih dalam menghadapi situasi seperti ini detektif,” ujar pak Brok.


“Sepertinya anda tak bisa melihat kejadian yang barusan saja terjadi pak Brox. Tersangka kita itu hampir saja menggorok leher anggota dari tim forensik kita, Aris,” balas detektif Abraham memberi perlawanan yang cukup sengit kepada pak Brox.


“DETEKTIF ABRAHAM, anda pikir saya ini buta dan tidak bisa melihat apa yang telah dan tengah terjadi di dalam ruangan ino!“ teriak pak Brox hampir saja kehabisan kesabaran.


Lalu tim medis pun datang dan menghentikan dengan paksa ledakan amarah pak Brox dan segera memeriksa kondisi Brian dan berniat untuk segera membawanya. Sementara Aris yang masih bisa sadar langsung diperiksa juga oleh tim medis di ruangan itu.


“Sedikit. Saya merasakan sakit di sebelah sini,” jawab Aris sambil menunjuk dada sebelah kiri dengan telunjuk.


Tim medis langsung memeriksa bagian yang ditunjuk oleh Aris dan bertanya lagi, “Apa anda membutuhkan oksigen?“


“Rasanya saya tidak memerlukan itu,” jawab Aris sambil meringis masih menahan rasa sakit.

__ADS_1


“Ngga usah sok kuat ris. Kita butuh lo dalam keadaan sehat jadi ikutin aja apa yang diperintahkan oleh tim medis,” ujar detektif Egan.


“Berikan saja apa pun yang sekiranya perlu untuk memulihkan kondisi teman saya ini,” perintah detektif Keiko pada tim medis yang tengah membantu Aris.


Aris lalu terdiam tak memberi respon apa pun baik kepada detektif Egan, detektif Keiko atau pun kepada tim medis yang sedang membantu dirinya dan tak lama kemudian Aris yang dibantu berdiri oleh tim medis kembali jatuh terduduk lemas.


"Anda memang butuh bantuan oksigen. Saya harap anda bisa bekerja sama," ujar tim medis itu dan segera memberikan Aris oksige .


Sementara itu di sisi lain, Brian yang ditangani dan juga dicoba untuk diselamatkan oleh para tim medis seolah tak sadarkan diri. Pupil matanya mulai melebar bahkan sebagian pupil mata miliknya naik ke atas hingga menyisakan bagian putih matanya lebih banyak.


Tim medis pun mulai panik melihat apa yang terjadi pada Brian dan mengatakan, “Dia kehilangan banyak sekali darah dan sepertinya dia juga akan mengalami syok.“


“Tensi darahnya juga semakin turun dan dia perlu untuk segera dibawa ke rumah sakit dan mendapatkan tindakan bedah pengangkatan proyektil untuk menghentikan pendarahan yang terjadi,” sambut tim medis yang lain.


Selang tabung oksigen pun di pasangkan ke Brian guna membantunya untuk tetap sadar dan tim medis juga menekan luka menganga di tubuh Brian dengan tujuan menahan laju darah yang merembes keluar dari tubuhnya.


Keadaan di ruangan itu menjadi terasa amat mencekam setelah kejadian yang secepat kilat itu berlangsung dan kini dengan melihat kondisi Brian yang cukup mengkhawatirkan tim medis pun bergegas membawa Brian dengan segala peralatan canggih mereka menuju ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan paling tepat yang diharapkan akan bisa menyelamatkan Brian dari sebuah kematian yang menyakitkan.


Pak Brox cukup cemas melihat kondisi Brian pada saat ini. Bisa dikatakan kini Brian berada dalam kondisi kritis jika dilihat dari kaca mata dan pengalaman pak Brox.

__ADS_1


Bagaimana pun kini dia adalah orang yang bertangung jawab atas segala tindakan yang diambil dan dilakukan oleh detektif Abraham selama dia berada di lingkungan kepolisihan Winter hill dalam kasus kali ini.


Namun sepertinya berbeda dengan detektif Abraham yang menganggap situasi ini sebagai situasi yang tak mengkhawatirkan sama sekali, mengingat dia bahkan telah menjadi seorang penolong dalam proses pelepasan sandera yang kebetulan adalah anggota forensik dalam kantor kepolisian di Winter hill.


__ADS_2