Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Tiga puluh Tujuh


__ADS_3

Aris memasuki ruang kerja pa k Brox saat pak brox sedang kebingungan menerima laporan yang terjadi pada detektif Egan dan Brian, sang pembunuh berantai.


“Maaf mengganggu tapi saya menemukan sesuatu yang harus segera saya sampaikan,” ujar Aris sambil menenteng perangkat canggih di tangannya.


“Apakah ini sangat penting hingga kamu tak bisa menunggu?“ tanya detektif Abraham.


“Sayangnya tidak detektif,” jawab Aris sambil melemparkan senyuman dan berjalan menuju layar besar di ruangan pak Btox.


Ada beberapa tanda pengenal yang terpampang di layar tersebut dan Aris pun melempar sebuah pertanyaan.


“Apakah ada yang cukup familiar di mata kalian?“


“Bukankah ini korban-korban kita?“ tanya pak Brox sambil berdiri dari duduknya.


Aris memutar badannya menghadap ke arah pak Brox dan berkata, “Betul sekali. Tapi dati semua foto ini sehatusnya anda menemukan satu yang aneh.“


Detektif Abraham melangkah mendekati layar dan menunjuk salah satu foti tanda pengenal dan berkata, “Saya belum pernah melihat orang di dalam foto ini.“


“Persis seperti dugaan saya. Bahwa wanita dalam foto ini memang tidak ada dalam daftar korban kita,” sambut Aris.


“Siapa namanya?“ tanya pak Brox.


“Namanya Jennie. Berusia 32 tahun, berprofesi sebagai penulis blox travelling dan menurut data dari tagihan listrik dan internet selalu dibayar tepat waktu. Jadi saya pikir Jennie ini masih hidup,” Aris berusaha menjelaskan apa yang dia pikirkan.


“Lantas kenapa dia tidak dihabisi nyawanya?“ tanya pak Brox sambil mengerutkan dahinya membuatny terlihat tua bebetapa tahun.


“Mungkin Brian belum sempat menemukan Jennie dan keburu tertangkap oleh kita,” ujar Aris berasumsi.


“Atau mungkinkah Jennie adalah salah satu pembantu kejahatan Brian!?“ kali ini detektif Abraham yang mengemukakan asumsinya.


“Apapun alasan keselamatannya kali ini, kita harus membawanya ke kantor dan menanyainya,” ujar pak Brox memberikan perintah.

__ADS_1


*********


Detektif Keiko dan Abraham pu pergi menuju ke rumah Jennie guna menjemput dan membawanya ke kanyor polisi untuk diinterogasi sesuai dengan perintah yang diberikan oleh pak Brox.


Begitu kedua detektif mendatangi rumah Jennie, terlihat halaman yang kotor seolah sudah tak dibersihkan dalam kurun waktu yang cukup lama.


Tak hanya rumput liar yang sudah memenuhi tamandi depan rumahnya, beberapa pot terlihat berjatuhan tak berada di posisinya semula. Belum lagi lantai rumahnya yang kotor, penuh dengan debu yang tak disapu.


“Nona Jennie!“ detektif Abraham berusaha memanggil dari depan pintu namun tak ada jawabandari dalam rumah.


“Apakah menurut anda rumah ini tidak terlalu berantakan?“ tanya detektif Keiko sambil menggeser sebuah pot di depan pintu rumah Jennie yang menghalangi langkahnya.


“Menurut Aris, Jennie adalah seoranb blogger travelling. Mungkin saja dia sering berpergian hingga tak memiliki cukup energi ketika sampai di rumah untuk membersihkan rumahnya.“


Detektif Abraham memiliki pandangannya sendiri atas pemandangan yang dia lihat hari ini di halaman rumah Jennie dan karena itu cukup masuk akal detektif Keiko pun hanya menganggukan kepalanya.


Beberapa kali detektif Abraham mencoba untuk memanggil Jennie namun tak satu pun yang mendapatkan jawaban hingga naluri detektif keduanya terusik.


“Sepertinya Jennie adalah orang yang cukup senang dingin. Seharusnya di memilih daerah pegunungan untuk tinggal,” ujar detektif Keiko.


“Kenapa anda berpikir seperti itu detektif?“ tanya detektif Abraham yang tengah mengintip ke dalam rumah Jennie dari sebuah jendela yang berada dekat dengan pintu bagian belakang rumah.


“Di musim hujan seperti ini Jennie masih menyalakan pendingin udara. Saya bahkan selalu menggunakan jaket setiap kali masuk ruangan yang pendinhin udaranya menyala,” sambut detektif Keiko sambil menunjuk ke arah autdoor pendingin udara milik Jennie yang masih bekerja.


Detektif Abraham ikut memperhatikan outdoor itu dan ikut merasa aneh dengan kebiasan Jennie itu.


“Haruskan kita dobrak pintunya?“ tanya detektif Abraham meminta persetujuan rekannya kali ini.


Detektif Keiko mengangkat kedua bahunya bersamaan seraya memberi jawaban atas pertanyaan dari deketif Abraham.


Walau tak terlalu yakin dengan jawaban yang diberikan oleh detektif Keiko, detektif Abraham tetap mendobrak pintu belakang rumah itu dan hanya dengan satu kali dorongqn pintu itu terbuka dengan mudah.

__ADS_1


Dengan menodongkan pistol ke arah depan, melakukan sikap siaga kedua detektif itu masuk ke dalam rumah Jennie dan mulai berkeliling untuk menyisir tiap sudut rumah.


Detektif Keiko langsung memasuki dapur dan meneliti tiap sudutnya, sementara detektif Abraham menyisir ruang tamu yang berada di bagian depan rumah tersebut.


“Dapur aman!“ teriak detektif Keiko setelah meyakini tak ada satu hal pun yang mencurigakan.


“Ruang tamu aman!“ begitu pula detektif Abraham memberi laporan.


Kemudia kedua orang detektif itu kembali bertemu dj salah satu ruangan yang kemunfkinan dipakai sebagai ruangan untuk mencuci oleh Jennie dan mulai memeriksanya dengan seksama hingga akhirnya detektif Keiko teringat bahwa pendingin udara di rumah itu menyala.


Detektif Keiko mulai memperhatikan satu demi satu pendingin udara di rumah itu yang ternyata dalam keadaan mati semuanya.


Lalu detektif Keiko akhirnya memasuki satu ruangan yang belum mereka periksa sejak awal mereka ke sini dan detektif Keiko yakin bahwa ruangan itu pasti memiliki pendingin udara yang mungkin di ruangan itu pendingin udaranya menyala.


Dengan berlahan detektif Keiko membuka kamar utamaa di rumah itu dan udara yang sangat dingin langsung menyerangnya.


Di ruangan itu pun detektif Keiko langsung melihat rruangan yang berantakan begitu pula dengan tempat tidurnya. Detektif Keiko berusaha memeriksa kamar utama itu dengan seksama.


Terdapat sebuah meja di depan pintu masuk yang juga sudah berantakan, buru-buku yang sudah tak berada di posisi semula dan berserakan hingga ke lantai. Sebuah lqptop yang amsih dalam kondiis terbuka namun sudah tak menyala juga ada di atas meja itu.


Detektif Keiko pu semakin masuk ke dalam dan melangkah menuju sisi lain tempat tidur yang berantakan dan di sanalah dia menemukan sesuatu yang membuatnya kaget.


“Detektif Abraham, cepat ke sini!“ teriak detektif Keiko memanggil rekannya ysng masih berada di luar kamar utama.


Detektif Abraham mempercepat langkahnya menuju asal suara dan berdiri kaku di samping detektif Keiko.


“Apakah dia Jennie?“ tanga detektif Abraham sambil menatap lurus ke arah jasad yang sudah termumifikasi di samping tempat tidur.


“Dapatkan saya mengajikan pertanyaan yang sama pada anda?“ detektif Keiko balik bertanya.


“Cepat hubungi tim forensik dan minta mereka untuk datang ke sini dan mengotopsi jasad ini agar kita segera tahu siapa orang ini,” ujar detektif Abraham tanpa menggerakan tubuhnya sedikit pun.

__ADS_1


__ADS_2