
“Apakah tadi saya bilang lurus di jalan ini sejauh 10 kilometer?“ tanya Brian.
Detektif Keiko yang tengah menyetir melirik ke arah Brian melalui kaca spion dan menjawab pertanyaan Brian itu, “Anda yang katakan hal itu tadi.“
“Sepertinya gula darah saya anjlok. Ah, saya baru ingat bahwa saya belum makan apa-apa sejak keluar dari penjara. Saya ingin makan sesuatu untuk mengembalikan gula darah saya,” ujar Brian.
“Maaf. Tidak bisa,” jawab detektif Egan.
“Kalau gula darah saya seanjlok ini saya jadi tidak bisa berpikir dengan baik detektif,” keluh Brian.
“Apakah anda tidak mendengar apa yang saya katakan tadi. Ada tidak bisa makan apapun sebelum kita sampai ke tempat korban pertama anda,” ujar detektif Egan mengulang pernyataannya.
“Saya jadi tidak yakin, apakah ini jalan yang benar atau harusnya kita berbelok di depan tadi dan mengambil jalan yang satunya,” ujar Brian pura-pura lupa.
Melihat usaha Brian yang sangat keras maka kedua detektif pun sepakat untuk melipir sejenak berusaha mencari toko yang menjual makanan cepat saji yang busa mereka berikan kepada Brian.
Mereka memutuskan untuk tidak membawa Brian ke rumah makan mana pun karena tentu saja seragam dan aksesoris yang dikenakan oleh Brian akan mengundang kehebohan di masyarakat.
Detektif Keiko menyerahkan sebuah hot dog kepada Brian yang kedua tangannya masih terborgol dan tengah terduduk di kursi belakang mobil.
“Cepat selesaikan makan anda dan bawa kami ke tempat korban pertama anda,” ujar detektif Keiko sebelum akhirnya menutup pintu mobil.
Brian tersenyum dan segera memang hot dog di tangannya walau pun dengan agak kesulitan namun dia tak epermasalahkan hal itu sama sekali.
Dengan menenteng sebuah gelas berisi kopi, detektif Keiko menghampiri rekannya yang tengah duduk di depan toko sambil menikmati es kopi pesanannya.
“Kita memang sangat membutuhkan ini,” ucap detektif Egan sambil mengangkat gelas kertas berisi es kopi miliknya.
“Padahal kita biasa melakukan misi seperti ini tapi kenapa kali ini rasanya jauh lebih berat!?“ keluh detektif Keiko yang kini duduk di sebelah rekannya lalu meneguk es kopi miliknya.
“Lo mau tahu kenapa?“ tanya detektif Egan.
__ADS_1
“Kenapa?“ detektif Keiko kembali bertanya sambil mencondongkan tubuhnya ke arah rekannya.
“Karena kita bukan hanya berhadapan dengan seorang pembunuh bayaran tapi juga psikopat,” jawab detektif Egan.
“Iya. Gue juga merasa dia mempermainkan emosi kita. Dia menyanjung gue tapi kemudian menjatuhkan gue dengan kata-kata yan menusuk,” timpal detektif Keiko.
“Maka dari itu kita merasa kelelahan bukan fisik tapi mental kita,” lanjut detektif Egan.
Kedua detektif itu kemudian menyandarkan punggung mereka ke sandaran kursi dan kembali menikmati es kopi di tangan mereka masing-masing.
Mata kedua detektif itu sama-sama memandang langit biru yang begitu cerah hari ini bahkan tanpa satu buah awan yang menghias.
“Apa yang tadi dicerikan oleh Brian benar adanya?“ tanya detektif Keiko yang sepertinya sudah menahan dirinya sejak tadi untuk bertanya.
Detektif Egan tak benar-benar kaget mendengar pertanyaan dari rekannya itu, dia justru kini memperhatikan Brian yang tengah menikmati makan siangnya dengan sangat tenang di dalam mobil.
“Kalau pun cerita itu benar, apakah akan membantu lo?“ tanya detektif Egan dengan nada rendah.
“Bukan, bukan itu maksud gue… “ balas detektif Keiko merasa kikuk sekaligus penasaran.
“Namanya Yvone. Dia adalah seseorang yang gue temui saat masih bersekolah di tingkat atas. Dia pula yang menjadi support system gue hingga akhirnya gue berhasil menjadi polisi setelah satu kali gagal.“
Detektif Egan memulai cerita dan memalingkan pandangannya dari Brian kembali ke langit cerah.
“Gue janji walaupun sudah menjadi anggota kepolisian dia akan selalu menjadi prioritas gue, hingga hari itu. Karena menurut rumor bahwa siapa pun yang bisa meringkus perampok itu akan dapat kesempatan bersekolag menjadi detektif maka fokus utama gue jadi berpindah,” lanjut detektif Egan.
“Lo mengabaikan Yvone?!“ ujar detektif Keiko.
“Beberapa hari sebelumnya dia bilang akan mengadakan acara perayaan satu tahun gue sebagai anggota polisi dengan begitu riang, gue pun berjanji akan datang tapi tepat di hari yang kami rencanakan misi itu pun sedag dijalankan,” balas detektif Egan dengannada datar.
“Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Yvone?“ tanya detektif Keiko.
__ADS_1
“Malam itu, Yvone ternyata tetap menunggu gue di taman tempat kami janjian untuk bertemu dan mempersiapkan sebuah kue kecil. Malam itu ada sebuah perampokan lain di seberang taman dan tanpa sengaja Yvone menyaksikannya. Karena perampok tak ingin ada saksi mata, Yvone pun dihabisi nyawanya,” detektif memejamkan kedua matanya seolah tak ingin mengingat kejadian malam itu yang terasa kembali menyakiti hatinya.
Detektif Keiko meremas tangan kanan rekannya berusaha untuk menenangkan detektif Egan.
“Kayaknya Brian sudah melakukan pengintaian terhadap lo,” ujar detektif Keiko.
“Iya, itu adalah hal yang gue khawatirkan,” jawab detektif Egan.
“Seperti kata lo, dia mempermainkan psikologi lo dan gue rasa ini berbahaya,” lanjut detektif Keiko.
“Lo benar, gue juga khawatir bahwa Brian juga akan membuka luka lama lo dan membuat kita sama-sama tak bisa berkonsentrasi,” ucap detektif Egan.
“Bagaimana kalau kita balik aja ke kantor dan bawa Brian kembali ke penjara!?“ detektif Keiko mengusulkan.
“Gue ikut aja apapun yang neburut lo baik,” balas detektif Egan.
Detektif Keiko tersenyum lega saat rekannya yang terkenal keras kepala itu dengan sangat mudah menuruti perkataannya.
“Ya sudah, kalau begitu gue laporan dulu ke pak Brox,” lanjut detektif Keiko sambil mengambil ponselnya dari dalam jas blazernya.
Detektif Keiko memeriksa ponselnya dan ternyata daya di ponselnya sudah hampir habis dan kemungkinan besar tidak bisa dia gunakan untuk melakukan panggilan telepon.
“Gue bisa pinjem ponsel lo?“ tanya detektif Keiko.
Detektif Egan mengambil ponsel dari celananya dan menunjukan layar hitam kepada tekannya yang mengartikan bahwa dia juga kehabisan daya ponselnya.
Kemudian detektif Keiko masuk ke dalam toko untuk meminta bantuan karyawan toko untuk mengisi daya ponselnya.
Detektif Egan yang masih menunggu di depan toko kemudian mengambil kunci mobil yang masih tergeletak di atas meja dan berjalan menuju ke mobil.
Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalahkan mesin mobil dan membawa pergi mobil bersama Brian di dalamnya yang tersenyum puas seolah memenangkan sebuah lomba.
__ADS_1
Detektif Keiko yang menyadari bahwa rekannya pergi bersama sorang penjahat berusaha kekuar dari toko secepat mungkin namun dia gagal.
Detektif Keiko pun kembali masuk ke dalam toko dan menghubungi pak Brox dengan daya ponsel yang baru terisi sedikit.