Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Tiga Puluh tiga


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan yang tersisa, baik kedua detektif dan Brian sama-sama tak mengeluarkan sepatah kata pun lagi hingga tiba-tiba Brian berucap, “Jalan lurus saja di jalan ini kira-kira 10 kilometer.“


Mobil mereka kini masuk ke sebuah pedesaan yang memiliki pemandangan yang sesungguhnya menyejukan mata dan hati siapa pun yang memandangnya.


“Ah, begitu indahnya desa ini. Siapa pun yang melihatnya pasti akan selalu merindukan pemandangan ini,” ucap Brian yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.


“Siapa yang bisa mengalahkan Tuhan soal penciptaan,” balas detektif Keiko.


“Betul sekali. Sejak dahulu keindahannya tak pernah satu kali pun berubah,” cerita Brian.


“Mendengar ucapan anda, sepertinya anda mengenal baik lingkungan desa ini. Apakah anda tumbuh besar di sini?“ tanya detektif Keiko.


“Entahlah,” jawab Brian singkat.


“Ayolah Brian, kami hanya ingin mengenal anda jauh lebih jauh,” desak detektif Egan.


“Tapi saya tak ingin semua orang tahu tentang saya,” jawab Brian.


“Kenapa seperti itu?“ tanya detektif Keiko masih mencoba.


Brian melempar pandangannya keluar jendela mobil yang tengah bergerak berlahan melewati hujan pohon jati yang berjajar rapi di kiri dan kanan jalan memberikan kesan teduh. Menakutkan dan nyaman dalam waktu yang bersamaan.


“Masa lalu saya kelam detektif,” ucap Brian.


“Sekelam apa?“ rasa penasaran detektif Keiko terusik.


Seringai di wajah Brian kembali tergambar dan itu selalu saja membuat detektif Keiko bergidik.


“Yakin anda mau mendengar?“ tanya Brian.


“Kami tahu bahwa anda pernah bergabung dengan pasukan khusus dan hanya itu data yang belum terhapus dari data base. Ceritakan sisanya pada kami,” bujuk detektif Keiko.

__ADS_1


Brian melirik lewat kaca spion di bagian tengah mobil dan kembali tersenyum seram.


“Sejak muda saya bercita-cita menjadi seorang polisi, detektif seperti kalian. Namun ada satu peristiwa yang membuat saya hampir menyerah dengan cita-cita itu,” Brian memulai ceritanya.


“Apa itu, apa yang membuat anda hampir melepaskan cita-cita anda?“ detektif Keiko sungguh berada di kondisi ingin tahu yang memuncak.


“Hari itu adalah tepat satu tahun saya menjadi seorang polisi,” Brian melanjutkan ceritanya.


“Jadi anda pernah menjadi polisi seperti kami?“ detektif Keiko menyela cerita Brian namun tanpa menjawab pertanyaan dari detektif Keiko, Brian melanjutkan ceritanya yang sempat terputus.


“Hari itu kekasih saya ingin merayakan satu tahun saya sebagai polisi namun karena hari itu saya sedang ikut persama pasukan dari kepolisian untuk menangkap seorang perampok bank maka saya mengabaikan panggilan telepon dari kekasih saya itu.“


Kini detektif Egan yang melirik melalui kaca spion yang berada di tengah dan tersenyum merendahkan Brian yang tengah bercerita.


“Tak lama sejak telepon terakhir dari kekasih saya, sebuah laporan kasus masuk ke dalam radio panggilan di mobil saya. Karena pelaku perampokan itu sudah tertangkap saya memutuskan untuk mendatangi lokasi kejadian yang dilaporkan bersama rekan saya demi mendapatkan promosi dan membuat semua orang terpukau oleh saya,” ujar Brian yang sebenarnya menyadari bagaimana reaksi detektif Egan barusan.


Detektif Keiko yang sejak tadi mengendarai mobil sesuai arahan dari Brian terdiam, mendengar cerita dari Brian dengan seksama, sekalian berusaha untuk menggali informasi dari Brian yang mungkin akan membuka hal baru dalam kasus kali ini.


Lalu mendadak detektif Egan tertawa terbahak sambil terus memandang lurus ke jalan lewat jendela depan mobil yang sedang mereka tumpangi. Detektif Keiko yang bingung melihat reaksi rekannya itu pun bertanya, “Apa yang lucu gan? Bukankah kita harusnya berempati dengan apa yang dialami oleh Brian!? Siapa pun dia hari ini, dia pasti menanggung trauma yang luar biasa.“


Brian merubah mimik wajahnya menjadi sedih lalu berkata, “Anda benar sekali detektif. Hingga hari ini saya masih belum bisa melawan dan mengobati trauma saya itu. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu.“


Detektif Keiko melirik rekannya yang masih saja tersenyum-senyum mendengar penderitaan hidup orang lain.


Detektif Keiko tahu betul bahwa rekannya memang orang yag keras kepala dalam segala hal namun apakah detektif Egan keras hati? Detektif Keiko tak pernah berpikir seperti itu hingga hari ini dia melihat rekannya itu tak hanya keras kepala namun dingin pula hatinya hingga mampu menertawakan trauma seseorang.


“Kenapa? Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?“ tanya detektif Egan, menyadari tatapn rekannya yang tak bersahabat.


“Haruskah lo bersikap sejahat ini, gan?“ protes detektif Keiko.


Detektif Egan sama sekali tak menoleh ke arah Brian maupun ke arah rekannya namun dia menjawab pertanyaan dari rekannya tersebut.

__ADS_1


“Jadi lo percaya sama cerita Brian itu?“ tanya detektif Egan pada rekannya.


“Kenapa gue ngga boleh percaya? Karena dia seorang pelaku tindakan penghilangan nyawa orang?“ tanya balik detektif Keiko.


“Percaya deh sama gue, lo ngga perlu percaya sama cerita Brian tadi,” jawab detektif Egan masih cengengesan.


“Kenapa begitu?“ detektif Keiko mendesak.


“Iya, kenapa begitu?“ Brian itu memperkeruh keadaan.


Detektif Egan menahan ucapannya. Berusaha untuk tidak memberikan jawaban apapun namun sepertinya rekannya masih terus menunggu dan mendesak detektif Egan melalui tatapn matanya lewat kaca spion di bagian tengah.


“Karena cerita yang tadi diceritakan oleh Brian adalah cerita gue,” akhirnya dstektif Egan mengalah juga.


Detektif Keiko kembali tersentak, kaget mendengar pengakuan dari detektif Egan. Seseorang yang telah menjadi rekannya selama beberapa tahun belakangan ternyata menyimpan masa lalu yang begitu menyedihkan. Dan parahnya dia justru mendesak detektif Egan untuk berempati pada kesedihan yang berusaha dia kubur dalam-dalam.


“Gan…” ujar detektif Keiko.


“It's Ok! Gue sudah mulai berdamai dengan masa lalu gue,” jawab detektif Egan.


“Oh ya? Bagaimana caranya? Saya ingin tahu,” ucap Brian.


“Masa lalu saya adalah milik saya begitu pula masa sekarang dan masa yang akan datang,” ucap detektif Egan penuh amarah yang tertahan.


“Jangan merasa it masa lalu anda detektif. Sepertinya kita sama-sama memiliki masa lalu yang menyedihkan,” kalimat dari Brian itu seolah meledek detektif Egan.


Detektif Keiko yang mengenal betul bagaimana sifat rekannya itu berusaha untuk menenangkan dan mengalihkan perhatian rekannya.


“Kita harus terus fokus ke kasus ini. Sesi curhatnya nanti saja disambung saat kita sudah kembali ke kantor setelah menemukan korban pertama anda, Brian.“


Mendengar itu Brian kembali tersenyum karena menikmati ekspresi yang ditunjukan oleh detektif Egan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2