
Sebuah panggilan telepon ke ponsel detektif Keiko membuatnya kembali harus fokus ke pekerjaannya.
“Aku punya info baru soal tersangka kita,” ujar Aris di sambungan telepon keduanya.
“Hebat! Lo memang yang paling bisa diandalkan,” puji detektif Keiko.
“Apa kamu lagi sama Egan?“
“Kok lo bisa tahu?“ detektif Keiko merasa takjub dengan tebakan Aris.
“Aku baru aja ketemu profesor Birdella dan tidak ada kamu, maka kemungkinan lain adalah kamu bersama Egan,” balas Aris.
“Kami sedang di caffee shop di lantai dasar berusaha menikmati waktu rehat kami sejemak. Gue sama Egan langsung ke ruangan lo sekarang,” ucap detektif Keiko.
“Lebih cepat akan lebih baik,” sahut Aris.
“Ada yang mau lo titip dari sini?“ detektif Keiko menawarkan.
“Kemarin aku nyobain teh mawar di sana. Boleh ngga aku minta dibawain itu ke sini?“ tanya Aris.
“Sudah pasti boleh. Gue beli itu dan langsung ke ruangan lo,” jawab detektif Keiko.
Belum juga detektif Keiko memutuskan hubungan teleponnya dengan Aris, detektif Egan sudah berdiri di baris antrian yang cukup mengular menuju kasir. Detektif Egan tahu bahwa rekannya akan memesan sesuatu dan jika tidak bergerak cepat mereka akan ada di barisan paling belakang di antrian itu.
“Aris pesan apa?“ tanya detektif Egan.
“Teh mawar!“
“Oke.“
Setelah mendapatkan teh mawar di tangan detektif Egan dan sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Aris maka kedua detektif segera menuju lift yang dengan cepat terbuka pintunya dan meluncur naik ke lantai dimana ruangan Aris berada.
Begitu pintu lift terbuka, kedua detektif itu langsung menuju ruangan Aris. Saat bertemu dengan Aris detektif Egan langsung menyerahkan teh mawar pesanan Aris dan disambut dengan senyum kebahagiaan.
“Jadi ada info apa?“ tanya detektif Egan yang baru saja tersenyum membalas ucapan terima kasih dari Aris.
“Seperti kita sama-sama tahu bahwa nama asli dari tersangka kita adalah Brian Candra dan sudah menghilangkan nyawa seseorang lebih dari satu kali,” Aris mulai membeberkan.
“Betul. Kita semua di ruangan ini sudah tahu semua,” balas detektif Keiko.
“Aku bertanya-tanya kenapa dia bisa dengan mudah lolos dari jeratan hukum,” ujar Aris.
__ADS_1
“Begitu juga dengan gue,” timpal detektif Egan.
“Dan setelah gue cari tahu melalui identitas aslinya maka aku menyadari kenapa dia selalu bisa lolos,” ucap Aris.
“Karena ….“ detektif Egan meminta kelanjutan kalimat Aris.
“Ternyata karena Brian Candra adalah mantan anggota khusus di kemiliteran tapi dia sudah keluar dari pasukannya sekitar 10 tahun lalu karena pelanggaran disiplin,” Aris melanjutkan.
“Jadi dia memang memiliki keahlian dalam menyamar, meloloskan diri dan melakukan pekerjaan tanpa jejak!?“ ujar detektif Egan.
“Dan semua itu dia dapat saat dia menjalankan pelatihan semasa menjadi anggota pasukan khusus itu,” ujar Aris melengkapi apa yang dikatakan oleh detektif Egan.
“Jadi tumpukan uang ini pun mungkin dia akan gunakan untuk melarikan diri?“ tanya detektif Keiko.
“Sepertinya itu adalah rencananya. Karena setelah aku menggeledah lagi tas yang akan dia bawa untuk melarikan diri ternyata tas itu memiliki sebuah kantong rahasia yang harus di robek untuk membukanya, di dalam sana terdapat identitas palsu lainnya dari tersangka kita,” ucap Aris.
“Ada identitas palsu lainnya?“ detektif Keiko kaget juga mendengarnya.
Aris memgambil kartu identitas palsu yang akan digunakan oleh Brian yang dia temukan dan menyerahkannya kepada detektif Egan.
Detektif Egan memeriksa kartu identitas palsu itu lalu menyerahkannya kepada detektif Keiko agar rekannya itu percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Aris benar adanya.
“Dia benar-benar sudah mempersiapkan semua dengan seksama,” ujar detektif Keiko setelah melihat kartu identitas palsu itu.
“Wah luar biasa,” balas detektif Keiko.
“Berarti penghasilan Brian ini ngga main-main,” timpal detektif Egan.
“Betul. Kalo kalian anggap— eh maksud aku, kalo gue anggap uang di atas meja ini sangat banyak maka uang di dalam rekening milik tersangka kita ini yang ada di luar negri jumlahnya jauh lebih banyak,” ucap Aris menggebu-gebu.
“Ada berapa banyak uang tersangka yang ada di luar negri?“ tanya detektif Egan kaget sekaligus penasaran.
“Sebagai informasi untuk kalian berdua, jumlah uang yang ada di harapan kita ini berjumlah tiga ratus lima puluh juta,” ujar Aris dengan nafas yang memburu.
Kedua mata detektif Egan membulat sempurna saat mendengar jumlahnya dan berkata, “Dia memaruh uang tunai sebanyak itu di makam ibunya?“
“Kemungkinan makam ibunya adalah tempat paling aman menurut tersangka,” balas Aris.
“Dan kenyataannya memang seperti itu kan, selama ini uang miliknya tersimpan aman dan tak ada yang mengetahuinya,” nalas detektif Keiko.
“Jadi berapa jumlah uang di rekening luar negri milik tersangka?“ detektif Egan mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
“Siapin jantung kalian buat dengar nominalnya,” balas Aris.
“Oke,” jawab detektif Egan dan Keiko berbarengan.
“Jumlahnya ada dua miliyar,” balas Aris dengan wajah memerah menahan rasa kagetnya sendiri.
“Dari mana tersangka memiliki uang sebanyak itu? tanya detektif Keiko.
“Tentu kita akan mencari tahu,” balas Aris.
Di tengah obrolan mereka bertiga, detektif Abraham masuk ke ruangan Aris membuat konsentrasi mereka terganggu dan fokus mereka berpindah untuk sesaat.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?“ tanya detektif Abraham.
“Soal identitas tersangka kita yang ternyata adalah seorang mantan pasukan khusus di kemiliteran,” jawab detektif Keiko merangkum informasi dari Aris.
“Kenapa kalian ngga melibatkan saya?“ protes detektif Abraham.
“Kami sudah berusaha mencari anda tapi sepertinya anda tidak ingin kami temukan,” celetuk detektif Egan.
“Anda saja yang tidak sungguh-sungguh mencari,” detektif Abraham tidak mau kalah.
“Sudah, ributnya nanti aja kalau kasus kita ini sudah selesai,” detektif Keiko berusaha melerai keributan dua orang keras kepala di sampingnya.
“Lanjutkan Aris, apalagi yang kamu dapat?“ tanya detektif Abraham yang seolah tak memulai keributan.
Aris yang melirik ke arah detektif Egan dan Keiko meminta isyarat untuk meneruskan informasinya akhirnya melanjutkan apa yang akan dia beritakan kepada para detektif.
“Saya menemukan bahwa setiap tiga bulan sekali dana masuk ke rekening milik tersangka selalu sama, yaitu dua ratus lima puluh juta dan berasal dari sumber yang sama,” lanjut Aris.
“Apa ada dana yang masuk tiga bulan yang lalu?“ tanya detektif Abraham.
“Memang ada dana yang masuk di tiga bulan yang lalu dan tiga bulan kemudian ada dana yang masuk lagi sebesar dua ratus lima pulu juta,” jawab Aris dengan yakin.
Detektif Egan dan Abraham terlihat tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, seolah mereka tak perduli dengan siapa pun yang ada di sekeliling mereka pada saat itu sampai akhirnya detektif Egan berkata, “Mungkinkah dari seorang pembunuh berantai tersangka kita berubah menjadi seorang pembunuh bayaran?“
“Dia mendapatkan uang sebesar dua ratus lima puluh juta setiap kali dia menghabisi nyawa seseorang,” timpal detektif Abraham.
“Tiga bulan yang lalu dia menghabisi nyawa seseorang di Spring hill dan sekarang setelah tiga bulan kemudian dia menghabisi nyawa seseorang di sini, di Winter hill,” tambah detektif Egan.
“Apa lo udah tahu nama pengirim uangnya?“ tanya detektif Keiko kepada Aris.
__ADS_1
“Sayangnya aku belum menemukannya,” jawab Aris.
“Jadi sekarang pertanyaan kita jadi berubah, siapakah yang menyuruhnya?“ ujar detektif Egan penuh rasa ingin tahu.