Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Tiga puluh sembilan


__ADS_3

Meeting kecil diadakan di ruang kerja pak Brox, pertemuan iyu pun dihadiri oleh detektif Egan, detektif Keiko, detektif Abraham, Aris dan pak Brox sendiri.


    Aris memimpin pertemuan kali ini sambil menenteng peralatan gawai canggih keluaran terbaru yang dibeli oleh kantor.


    “Jadi apa yang anda dapat kali ini?“ tanya pak Brox yang duduk di belakang mejanya.


    “Saya sudah berusaha masuk ke dalam sistem Paper of Life dengan susah bayah,” ujar Aris.


    “Terima kasih tapi bukan kah itu memang tugas anda,” balas detektif Abraham yang entah kenapa tidak bisa sedikit rileks dalam menjalani hidupnya.


    “Sejujurnya saya cukup kewalahan meretas sistem mereka. Seperti yang kalian tahu bahwa saya butuh berminggu-minggu dalam melaksanakan tugas saya kali ini. Tapi dengan bangga saya sampaikan bahwa kali ini saya akhirnya bisa mendapatkan informasi itu,” ucap Aris dengan wajah kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan permen.


    “Selanjutnya,” sambung detektif Abraham dengan wajah meremehkan yang sangat mengganggu Aris melanjutkan penyampaian informasi.


    Aris melirik ke arah pak Brox yang mengisyaratkan untuk ia melanjutkan penyampaian informasi yang dia dapatkan.


    “Seteleh berputar-putar dalam sistem mereka akhirnya saya mendapatkan bahwa ternyata ada empat orang penting di dalam kasus ini yang paling berkaitan erat”


    Aris memampilkan keempat foto di layar besar di ruangan pak Brox namun detektof Abraham mulai menyela.


    “Bukankah kita sudah tahu mereka!?“


    “Betul sekali detektif,” ujar Aris lalu melanjutkan, “Tapi mereka berempat menjadi serangakaian bukti dan alasan kalian bisa membawa pimpinan Paper of Life ke sini.“


    “Lanjutkan Aris,” pinta pak Brox.


    Sebuah foto di layar besar itu diperbesar oleh Aris dan dia berkata, “Inggrid Siswo, seorang aktifis lingkungan dan ternyata beberapa bulan lalu melayangkan somasi kepada Paper of Life karena rencana pembabatan hutan secara besar-besaran di kota A.“

__ADS_1


    “Ini korban yang ditemukan di wilayah penyelidikan anda kan detektif!?“ ujar detektif Egan pada detektif Abraham.


    “Betul. Korban ditemukan sekitar dua bulan lalu,” jawab detektif Abraham.


     Aris menganti foto yang sebelumnya dengan memperbesar foto berikutnya yang dia tampilkan di layar.


    “Maulana Jaja, seorang pemilik lahan peternakan yang bersebelahan dengan proyek pembabatan hutan besar-besaran oleh Paper of Life. Beberapa bulan lalu juga mengajukan surat keberatan kepada pengadilan atas rencana yang akan dijalankan oleh Paper of Life,” Aris membacakan informasi korban.


    “Apa alasan dia menolak proyek Paper of Life? Lagi pula penolakan dari satu orang pemilik lahan tentu tidak akan terlalu berpengaruh bukan!?“ tanya detektif Egan.


    “Dia beralasan bahwa jika pembabatan besar-besar itu dilakukan maka sumber air untuk peternakannya akan terganggu. Begitu pula dengan kondisi alam untuk hewan ternaknya akan berubah derastis dan dia khawatir akan mengganggu kondisi hewan ternaknya. Dan pengadilan masih terus mempertimbangkan karena Maulana ini memiliki peternakan yang cukup luas serta dukungan dari banyak peternak lain di pinnggiran hutan.


    “Proyeknya di kota A juga?“ tanya detektif Abraham.


    “Betul sekali,” jawab Aris sambil mengganti foto sebelumnya dengan foto ketiga di dalam daftar para korban.


    “Lanjutkan ris,” perintah pak Brox.


    “Apakah Melati mengajukan somasi pada Paper of Life?“ tanya detektif Keiko.


    Aris menampilkan sebuah situs di layar itu dan mejelaskan, “Tidak seperti Inggrid dan Maulana yang mengajukan rasa tidak sukanya melalui proses hukum ke pengadilan, Melati ini justru membuat petisi di halaman internet yang bisa diakses lebih banyak orang. Seperti kita lihat di sini sudah ada lebih dari tiga ratus lima puluh orang yang menandatangani petisi yang di buat oleh Melati,” terang Aris.


    “Sepertinya Paper of Life memang sangat mencurigakan,” ujar detektif Abraham.


    “Bukankah kita belum selesai ris!?“ ujar detektif Egan.


    “Betul sekali detektif. Kita masih punya satu korban lagi yang perlu kita bahas.“

__ADS_1


    Sekali lagi Aris menutup segala foto informasi yang berkaitan dengan Melati Sari dan kini berganti dengan foto korban terakhir.


    “Jennie, seorang penulis blog di internet yang berkaitan dengan dunia jalan-jalan dan liburan.“


    “Apakah yang membuat Paper of Life begitu resah akan seolang penulis blog liburan, hingga perlu menghilangkan nhawanua?“ tanya detekti Abraham.


    “Kota A sedang membangun sebuah bisnis penginapan dan tempat rekreasi yang berbasis alam. Rencana ini digagas oleh Jennie sebagai orang yang berpengalaman di bidang ini. Jennie merasa bahwa hutan yang menjadi lokasi proyek Paper of Life adalah tempat yang sangat menarik untuk dijadikan tujuan wisata alam yang alami. Dia merasa tak hanya kota A memiliki tempat wisata tapi juga bisa menyelamatkan banyak hewan di sana. Tapi rencana ini tentu saja membuat Paper of Life resah,” beber Aris.


    “Jika pemerintah pusat melihat pengajuan atas rencana pengembangan tujuan wisata alami di kota A, kemungkinan mereka akan lebih setuju dengan rencana itu ketimbang izin proyek dari Paper of Life,” detektif Keiko berusaha menerka.


    “Betul, kurang lebih seperti itu. Kalau sampai itu terjadi sudah pasti Paper of Lfe akan merasa sangat kesal karena proyeknya gagal,” lanjut Aris.


    “Semua semakin nyata di dalam kepalaku,” gumam detektif Egan.


    “Kemukakanlah apa yang ada di dalam pikiranmu itu detektif,” ujar pak Brox.


    “Sebelum Brian berubah jadi kepingan daging, dia berkata kepada saya bahwa ini semua demi keserakahan dan sebuah tempat di kota A,” ujar detektif Egan berusaha mengingat dengan pasti apa yang diucapkan oleh Brian sebelum meninggal di depan makam istri tercintanya.


    “Dia mengatakan itu?“ tanya detektif Abraham berusaha mengkonfirmasi dan detektif Egan menjawab dengan anggukan.


    “Lantas bagaimana dengan Sephia, korban kita di taman kota?“ tanya detektif Keiko.


    “Tak ada satu pun korban yang tidak saya selidiki latar belakangnya namun Sephia dan para korban lainnya tidak terkait dengan Paper of Life,” ujar Aris dengan percaya diri.


    “Maksud anda?“ tanya pak Brox.


    “Kemungkinan mereka semua di bunuh hanya untuk mengecoh, agar dianggap sebagai sebuah kasus pembunuhan berantai biasa,” ujar detektif Abraham.

__ADS_1


    “Sama seperti kita yang menganggap ini adalah sebuah pembunuhan berantai biasa,” sambut detektif Keiko dengan rasa kesal yang luar biasa.


    “Brian mameng b1adab. Bagaimana pun dia telah menghabisi banyak nyawa orang dan dengan tidak malunya dia menghabisi dirinya sendiri di depan makan istrinya sendiri,” ujar detektif Egan tak kalah geram dengan apa yang telah dilakukan oleh Brian.


__ADS_2