
“Sepertinya kalian harus pergi ke rumah sakit sekarang,” ujar pak Brox kepada detektif Egan dan Keiko yang baru saja sampai ke ruangan mereka.
“Ke rumah sakit?“ tanya detektif Egan.
“Rumah sakit tempat Brian di bawa oleh tim medis?“ tanya detektif Keiko.
“Betul. Brian sudah sadarkan diri,” jawab pak Brox.
“Brian selamat? Dia tidak kehilangan nyawanya?“ detektif Egan seolah tak percaya.
“Saya juga sama kagetnya dengan kamu tapi itulah kenyataannya,” lanjut pak Brox.
“Gue ngga mau mengakuinya tapi sepertinya detektif Abraham adalah penembak yang jitu,” ujar detektif Keiko kepada rekannya.
“Saya juga sempat khawatir dia akan membuat Brian kehilangan nyawanya tapi ternyata saya salah mengira,” ujar pak Brox.
“Haruskah kita mengaggumi dia saat ini,” detektif Egan merasa sedikit terganggu.
******
Sesampainya detektif Egan dan Keiko di rumah sakit, mereka melihat Brian masih terbaring di salah satu tempat tidur rumah sakit dengan infus di kedua tangannya sekaligus.
Wajah dan tubuhnya kini sudah bersih hingga luka-luka di area tersebut kini terekspose, terlihat dengan sangat jelas.
“Bagaimana kabar anda Brian?“ tanya detektif Keiko membuka pembicaraan mereka.
Brian yang semula meringis menahan rasa sakit di punggungnya mencoba membuat dirinya seolah dalam kondisi yang baik-baik saja.
“Cukupkan saja basa-basi kalian sampai di sini,” jawab Brian.
“Kami ini masyarakat yang memiliki adab makanya kami harus memberi salam sebagai bentuk penghormatan kami kepada orang lain,” jawab detektif Egan.
“Apa maksud kalian, kalian menghormati saya?! Cih!!“ Brian membalas ketus jawaban dari detektif Egan.
Detektif Egan yang terang-terangan tidak memperdulikan ucapan Brian itu langsung memberikan pertanyaan kepada tersangka dalam kasus penghilangan nyawa lima orang di tempat yang berbeda-beda.
“Jadi siapa orang yang memberi perintah kepada anda?“
Brian mengeser sedikit tubuhnya dan menolehkan wajahnya ke arah jendela berusaha untuk menghindari tatapan detektif Egan dan Keiko.
__ADS_1
“Saya tidak mengerti apa maksud kalian.“
“Sudahlah Brian, akhiri saja sandiwara kamu. Kami sudah tahu bahwa ada seseorang yang mengirimi anda uang setiap kali anda menghilangkan nyawa seseorang. Siapa yang sedang anda lindungi?” ucap detektif Egan berusaha mendorong Brian untuk mengaku.
“Lagi pula anda sudah kami tangkap. Bukannya seharusnya anda sudah harus mengakui saja,” timpal detektif Keiko.
“Saya, ditangkap oleh kalian?“ tanya Brian dengan nada seolah tak percaya.
“Mungkin anda tak bisa menerima kekalahan anda tapi anda harus bisa belajar menerimanya,” lanjut detektif Egan dengan nada merendahkan.
“Saya berada di sini hanya karena ada yang mengadukan saya,” ujar Brian sinis.
“Mengadukan anda? Siapa yang anda maksud?“ tanya detektif Keiko.
“Orang menghubungi anda saat di kontrakan saya waktu itu,” jawab Brian sambil melihat ke arah detektif Egan.
“Maksud anda, ada seseorang yang ingin berpura-pura menjadi seorang pembunuh bayaran?“ tanya detektif Egan.
“Iya. Dia berpura-pura menjadi saya dan ingin kalian membututi saya,” jawab Brian penuh amarah.
“Kamu harus tahu Brian, anda di dakwa dengan penghilangan nyawa lima orang dan itu sangat berat,” ujar detektif Keiko.
“Semua tergantung pada anda Brian. Apakah anda ingin bekerjasama dengan kami atau tidak,” lanjut detektif Keiko.
“Kalian sedang mengancam saya?“ tanya Brian.
“Bagaimana kami berani mengancam seseorang yang sudah menghilangkan lima nyawa orang seperti anda. Kami hanya menawarkan bantuan kepada anda,” jawab detektif Egan.
“Dengan anda menyebutkan siapa orang yang berada di balik ini semua, siapa yang membayar anda kami bisa membantu anda,” sambung detektif Keiko.
“Kami bisa memastikan bahwa anda akan menghabiskan sisa hidup anda yang panjang di dalam penjara dan tidak langsung bertemu dengan malaikat maut,” lanjut detektif Egan.
“Saya adalah orang yang melakukan pekerjaan dengan sangat profesional,” balas Brian.
Detektif Egan berjalan mengitari tempat tidur pasien yang sedang digunakan oleh Brian lalu duduk di sisi tempat tidur itu sambil meremas kedua tangannya sendiri.
“Kenapa anda begitu berusaha keras melindungi orang yang membayar anda?“ tanya detektif Egan.
“Sepertinya anda tuli ya detektif. Saya sudah mengatakan bahwa saya adalah orang yang bekerja dengan sangat profesional,” Brian mengulang perkataan namun kali ini dengan nada yang menyepelekan.
__ADS_1
“Bekerjasamalah dengan kami Brian,” bujuk detektif Keiko.
“Percayalah, bukan kalian yang membantu saya tapi sebaliknya, saya yang akan membantu kalian,” ujar Brian.
“Maaf tapi saya tidak mengerti maksud anda,” jawab detektif Keiko.
“Ada satu korban lagi yang sepertinya belum kalian temukan,” ujar Brian dengan tatapan tajam dan seringai di wajahnya yang kembali terlukis yang sejujurnya membuat detektif Keiko merinding.
“Maksud anda, anda menghilangkan enam nyawa manusia?“ detektif Egan berusaha memvalidasi.
“Tak salah jika anda terpilih menjadi detektif. Anda cerdas,” sambut Brian memberi pujian kepada detektif Egan.
“Bagaimana saya bisa percaya?“ tanya detektif Egan lagi.
“Bukankah anda bilang sudah memeriksa rekening saya? Apa anda tidak merasa ada yang kurang pas?!“ Brian seolah memberi tantangan kepada detektif Egan dan Keiko.
“Jika kakian sungguh ingin tahu siapa yang menyewa jasa saya dan apa alasannya kalian bisa menemukan semua jawabannya di korban yang ini,” lanjut Brian.
“Kenapa bisa seperti itu?“ detektif Keiko merasa semakin penasaran.
“Karena korban yang satu ini adalah pekerjaan pertama saya sebelum akhirnya kalian menemukan lima yanh lainnya,” jawab Brian dengan enteng dan ekpresi bahagia seolah telah melakukan sebuah hal yang membanggakan.
Baik detektif Egan maupun detektif Keiko saling bertukar pandangan berusaha untuk bertelepati dan menenukan jawaban atas permintaan Brian.
“Dimana kami bisa menemukan korban yang satu itu?“ detektif Egan berusaha memancing informasi dari Brian.
“Anda pikir saya akan menjawab pertanyaan itu!?“ ujar Brian yang tahu betul apa maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh detektif Egan.
“Lantas apa mau anda?“ tanya detektif Egan lagi.
“Saya yang akan mengantar kalian langsung ke tempat itu. Lagi pula saya lebih suka berjalan-jalan sambil menghirup udara segar daripada berlama-lama duduk di dalam penjara,” ucap Brian.
Sekali detektif Egan melirik ke rekannya, detektif Keiko berusaha meminta pendapat dari rekannya itu.
“Kalian bilang jika saya mengadukan siapa yang menyewa jasa saya makan saya bisa mendapatkan hukuman seumur hidup alih-alih hukuman mati. Saya rasa saya boleh menikmati jalan-jalan terakhir saya dengan mengantar kalian ke tempat korban pertama saya berada,” lanjut Brian.
Detektif Keiko berjalan mendekat ke arah tempat tidur Brian sambil memyeret sebuah kursi dan duduk di atasnya tepat di sebelah tempat tidur Brian.
“Kami bisa saja menuruti kemauan anda tapi anda harus ingat satu hal, jika anda berusaha melarikan diri dari kami, maka tak akan ada ampun lagi untuk anda. Karena menembak tersangka yang berusaha melarikan diri adalah hal yang bisa ditoleransi oleh pengadilan,” ancam detektif Keiko dengan suara yang dia kecilkan.
__ADS_1