
“Membawa pelaku untuk mencari korban pertama?“ tanya pak Brox saat mendengar detektif Keiko meminta surat perintah untuk boleh membawa Brian keluar dari tahanan.
“Kita harus melakukan ini pak,” detektif Egan memberi alasan.
“Kenapa kita harus melakukan itu? Membawa pelaku kejahatan keluar dari penjara adalah sesuatu yang membahayakan untuk kalian,” ujar pak Brox yang sungguh mengkhawatirkan kedua detektif andalannya itu.
“Kami sungguh tahu maksud anda pak,” balas detektif Keiko.
“Jika sudah tahu kenapa kalian bersikukuh melanjutkan hal ini?“ tanya pak Brox.
“Menurut Brian, dari korban nomer satu itu kita bisa mengetahui siapa yang menyewa jasanya dan mengetahui motif asli dari orang yang menyewa jasa Brian,” jawab detektif Keiko.
“Bukankah kita juga harus menyeret siapa pun itu yang menyewa jasa Brian!?“ sambung detektif Egan.
“Bagaimana jika ternyata ini hanya trik dari Brian? Bagaimana jika ini adalah caranya untuk melarikn diri?“ pak Brox belum sepenuhnya dapat melepaskan kedua detektifnya.
“Aris yang memeriksa rekening milik Brian sudah memastikan bahwa ada uang sebesar yang biasanya Brian terima setiap kali dia menghabisi nyawa korbannya tepat tiga bulan sebelum korban pertama yang ditemukan oleh pihak kepolisian,” detektif Keiko menjabarkan sebuah informasi penting.
“Sangat mungkin bahwa Brian tidak membohongi kita, pak,” ujar detektif Egan.
“Bukankah Aris bisa melacak siapa yang menyewa jasa Brian dengan menelusuri rekening si penyewa jasa?“ tanya pak Brox.
“Betul sekali pak, namun dalam proses pencarian, Aris membutuhkan waktu yang cukup lama. Kita tak bisa memprediksi kapan Aris mendapatkan orang tersebut,” jawab detektif Egan.
Pak Brox terdiam setelah mendengar informasi itu dari detektif Keiko. Memutar-mutar pulpen yang berada di tangan kanannya. Sesekali pak Brox mengerutkan dahinya membuat kedua detektif yang sedang berdiri di hadapannya ikut terdiam.
__ADS_1
“Tapi misi itu sangat berbahaya bagi kalian berdua,” ucap pak Brox saat meletakan pulpen di tangannya.
“Kita bisa dibantu oleh para anggota polisi yang berpakaian preman pak,” usul detektif Egan.
“Kalau mereka terus mengikuti kalian Brian pasti akan curiga,” ujar pak Brox.
Lalu ketiga orang di dalam ruangan pak Brox itu kembali terdiam. Masing-masing mereka sibuk memikirkan cara paling aman yang bisa mereka lakukan saat membawa Brian menuju tempat korban pertama dia letakan.
“Bagaimana jika polisi yang berpakaian preman itu dibagi menjadi beberapa skelompok,” detektif Keiko mengusulkan setelah beberapa saay berpikir.
“Berikan rincian rencana kamu itu detektif,” perintah pak Brox.
“Kita perlu beberapa kelompok untuk mengikuti pergerakan kami, jadi setiap beberapa kilometer kita siapkan kelompok yang menggantikan kelompok sebelumnya,” jawab detektif Keiko.
“Tapi kita belum mengetahui rute yang akan diambil oleh Brian, bukan?“ ujar detektif Egan.
“Dengan kata lain kita harus bekerjasama dengan kantor kepolisian di wilayah yang lain?“ tanya pak Brox.
“Bukankah Brian sudah menghilanhkan nyawa beberapa orang di tempat yang berbeda-beda!? Saya rasa kantor kepolisian yang lain akan mau membantu misi kita kali ini,” ujar detektif Keiko penuh percaya diri.
“Bukan main. Ide lo keren banget Kei,” puji detektif Egan yang mendengar rekannya menjabarkan dengan detail rencana yang dia dapatkan selama berpikir dalam kurin waktu yang sangat singkat.
Walau detektif Egan memuji rencana yang dikemukakan oleh detektif Keiko namun bagi pak Brox rencana itu belum terdengar aman walau bukan perkara sulit bagi pak Brox untuk mengajukan kerjasama dengan kantor kepolisian wilayah lain namun pak Brox masih memiliki kekhawatiran yang cukup tinggi.
“Bagaiman pak?“ tanya detektif Keiko berusaha mendapatkan jawaban sekaligus izin dari pak Brox.
__ADS_1
“Bagaimana menurut anda detektif Egan?“ tanya pak Brox meminta pendapat dari rekan satu tim detektif Keiko.
“Kalau saya sangat setuju dengan rencana yang dicetuskan oleh detektif Keiko pak. Saya akan terus membantu detektif Keiko,” jawab detektif Egan.
“Baiklah jika itu memang yang kalian harapkan. Saya bisa menghubungi kantor kepolisian di wilayah lain untuk membantu kalian berdua,” ujar pak Brox yang akhirnya menyerah dengan semangat membara kedua detektif itu yang seolah terasa hangatnya oleh pak Brox dalam ruangan itu.
Mendengar ucapan dari pak Brox itu tentu saja detektif Keiko merasa bergembir. Wajah detektif Keiko memerah karena segitu bahagiannya karena rencannya bisa diterima oleh pak Brox.
Sementara detektif Egan tersenyum lebar dan jantungnya berdebar kencang tak sabar untuk membawa Brian ke korban nomer urut satu yang dia habisi nyawanya dan membawa serta orang yang menyewa jasa Brian masuk ke dalam penjara dan menghukum manusia keji itu.
“Saya tak perduli seberapa banyak pengalaman kalian, seberapa banyak jam terbang kalian dalam memecahkan kasus fan seberapa sering kalian memecahkan kasus yang kalian tangani dan berhasil, yang saya inginkan kalian selalu berhati-hati dan pulang dalam keadan selamat ke kantor ini,” perintah pak Brox.
“Serahkan itu pada kami berdua pak,” ujar detektif Egan penuh percaya diri.
“Walau Keiko juga seorang detektif seperti kamu, tapi kamu yang kali ini bertanggung jawab atas keselamatan detektif Keiko. Apa kamu mengerti?“ ujar pak Brox yang memberi tambahan perintah untuk detektif Egan.
“Detektif Egan selalu melindungi saya setiap kali kami menanggani kasus pak,” ujar detektif Keiko berusaha menenangkan pak Brox yang semakin nyata rasa khawatirnya.
“Bagus kalau memang begitu. Berarti saya benar jika memberi tangung jawab lebih kepada kamu detektif Egan,” ujar pak Brox berusaha meyakinkan detektif Egan bahwa dia pasti bisa mengemban misi di dalam misi ini.
“Selain kamu mempunyai tanggung jawab atas detektif Keiko, kamu juga harus bertanggung jawab atas diri kamu sendiri. Saja wajibkan kamu untuk juga pulang dengan selamat,” lanjut pak Brox memberikan perintah pada detektif Egan.
“Pak. Kami hanya akan pergi menemani Brian menemukan lokasi dimana dia mengubur korban pertamanya, bukan akan pergi berperang,” ledek detektif Egan karena merasa pak Brox terlalu berlebihan.
“Apakah kalian masih berpikir bahwa Brian itu manusia yang remeh!? Dia telah menghilangkan nyawa lebih dari lima orang andai yang kali ini dia tak berbohong. Dia sebagai pembunuh bayaran atau sebagai pembunuh berantai jadi sama berbahayanya,” tegas pak Brox.
__ADS_1
Mendengar nada bicara pak Brox yang mulai meninggi membuat detektif Egan tak berani banyak membantah.
Baik detektif Egan maupun detektif Keiko hanya bisa menundukan kepala mereka di hadapan pak Brox kali ini, namun begitu mereka masih yakin dan bersikeras untuk tetap melanjutkan kasus ini.