Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Dua puluh empat


__ADS_3

Di saat detektif Keiko sedang tersihir oleh kuku jari di tangan Brian di dalam ruang interogasi, sebuah getaran di saku celananya membuat detektif Egan terpecah konsentrasinya.


Detektif Egan pun merogoh saku celananya dan berusaha meraih ponselnya yang terus membuat getaran.


“Dengan detektif Egan di sini,” ucap detektif Egan saat dia menjawab panggilan itu.


“Halo detektif Egan, saya Sasa dari divisi hukum yang tadi anda mintai tolong,” jawab suara di sebrang telepon.


“Oh iya, bagaimana Sasa, apa pengacara tersangka pada kasus saya sudah mengkonfirmasi kedatangannya ke sini?“ tanya detektif Egan.


“Itu dia masalah ya detektif, saya sudah menghubunginya sejak tadi dan ternyata nomer itu sudah tak tersambung lagi,” jawab Sasa.


“Apakah nomor ponsel pengacara tersangka ganti?“ tanya detektif Egan, “ Saya akan coba tanyakan lagi ke tersangka saya.“


“Tidak usah detektif. Saya tadi sudah minta divisi lain untuk mengecek nomer telepon yang anda berikan dan ternyata nomer itu memang sudah lama tak tersambung karena pengacara dari tersangka anda sudah meninggal sejak delapan tahun lalu,” Sasa memberikan lebih dari apa yang detektif Egan butuhkan dan dia sangat berterima kasih kepada Sasa yang selangkah lebih maju memberikan informais kepada dirinya.


Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Sasa dan mengakhiri sambungan telepon keduanya, detektif Egan mengetuk cermin dua arah di hadapannya meminta rekannya, detektif Keiko untuk segera keluar dari ruang interogasi dan menemuinya di ruangan pemantau yang berada di sebelah.


Tak berapa lama detektif Keiko sudah berada di ruang pemantau dan berdiri tepat di samping detektif Egan.


“Divisi hukum udah menghubungi gue,” ujar detektif Egan.


“Jadi kapan pengacara Brian datang?“ tanya detektif Keiko.


“Pengacara Brian tidak akan pernah datang,” jawab detektif Egan.


Detektif Keiko jelas kaget mendengar jawaban dari rekannya itu dan kembaki bertanya, “Pengacara macam apa yang tidak menghadiri panggilan dari kliennya?“


“Pengacara yang sudah mati!“ jawab detektif Egan.

__ADS_1


Kekagetan detektif Keiko semakin menjadi saat dia mendengar jawaban dari rekannya itu.


Di balik cermin satu arah, kedua detektif itu dapat melihat Brian yang sangat percaya diri dan beberapa kali tersenyum ke cermin seolah sedang mengagumi dirinya sendiri.


“Entah dia tidak tahu mengenai pengacaranya yang sudah tidak ada atau dia memang berusaha mengulur waktu,” ucap detektif Egan sambil terus mengawasi gerak gerik tersanhak.


“Atau sebenarnya dia justru sedang mempermainkan kita,” sahut detektif Keiko yang menyadari setiap gerakan yang dibuat oleh Brian seolah menunjukan kepercayaan diri yang luar biasa.


“Bagaiaman dia bisa sepercaya diri itu!?“ ujar detektif Egan.


“Bagaimana kalau gue jawab, dia punya kepercayaan diri itu sejak dia di dalam kandungan ibunya?!“ balas detektif Keiko.


“Sungguh jawaban orang yang sangat percaya diri,” balas detektif Egan.


“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?“ tanya detektif Keiko.


Detektif Egan tak menjawab pertanyaan itu dan justru melangkah keluar dari ruang pematau dan kemudian muncul di ruang interogasi menggantikan detektif Keiko yang disadari oleh detektif Egan mulai goyah kondisinya selama memeriksa Brian di dalam ruang interogasi.


“Kemana rekan anda yang cantik tadi?“ tanya Brian.


“Ada, dia sedang beristirahat,” jawab detektif Egan.


“Beristriahat? Apakah sebegitu melelahkannya bagi dia untuk ngobrol dengan saya?!“ ujar Brian masih dengan rasa percaya diri penuh.


“Oh tidak, tapi waktu makan siangnya akan segera tiba,” detektif Egan memberi jawaban bohong.


“Saya bahkan lupa ini hari apa, jam berapa dan tanggal berapa. Sepertinya saya sudah terlalu lama ada di tempat ini,” jawab Brian.


“Apakah anda juga tahu bahwa pengacara anda sudah meninggal sejak delapan tahun lalu?“ tanya detektif Egan pada Brian.

__ADS_1


Brian terdiam beberapa saat sambil melihat ke arah langit-langit ruangan interogasi dantanpa ekspresi apapun dia menjawab, “Benarkah pengacara saya sudah meninggal? Maaf saya sungguh lupa.“


“Anda juga lupa bahwa sudah menghilangkan nyawa seseorang bernama Sephia?“ tanya detektif Egan lagi.


“Siapa itu Sephia?“ tanya Brian balik pada detektif Egan.


“Seorang wanita yang anda hilangkan nyawanya di rumah kontrakan anda dan anda buang jasadnya di jalur lari di taman kota,” jawab detektif Egan berusaha mengintimidasi Brian.


“Ada seorang wanita yang kehilangan nyawa di kontrakan saya?“ tanya Brian seolah kaget mendengar apa yang dikatakan oleh detektif Egan.


“Ayolah Brian. Akui saja apa yang telah anda perbuat pada Sephia dan beberapa wanita lain itu,” balas detektif Egan.


“Saya sungguh tak mengerti maksud anda detektif. Anda dan rekan anda tadi mengajukan pertanyaan yang sama dan jawaban yang akan saya berikan tetap sama.“


“Kami sudah menemukan bukti kuat bahwa anda melakukan tindakan penghilangan ngawa beberapa orang di sana. 'Tempat kerja' anda itu sangat berantakan, walaupun anda sudah bersusah payah untuk membersihkannya percayalah bahwa di bawah sinar biru semua itu masih sangat nyata terlihat bahkan dengan mata telanjang sekali pun,” sekali lagi detektif Egan berusaha mengintimidasi Brian dengan segala bukti yang mereka dapat di rumah kontrakan yang di sewa oleh Brian.


Walau berharap Brian akan tersudut dan mengakui perbuatanya namun ternyata harapan detektif Egan itu musnah saat melihat senyuman angkuh di wajah Brian tergambar nyata di hadapannya.


“Apakah semua bukti yang anda temukan di rumah yang saya sewa itu langsung mengarah kepada saya?“ tanya Brian dengan angkuh dan detektif Egan hanya bisa terdiam kali ini.


“Siapa saja bisa melakukan hal itu di dalam rumah sewaan itu. Apa pun yang kalian temukan di sana tak langsung mengarah kepada saya karena saya baru menyewa rumah itu selama beberapa bulan. Apa yang terjadi sebelum saya menyewa rumah itu bukan tanggung jawab saya. Bukankah begitu detektif?“ tanya Brian masih dengan kepercayaan diri yang penuh.


Detektif Egan kini menyadari berhadapan dengan manusia pintar macam apa yang juga akhirnya membuat rekannya hampir kehilangan banyak tenaga bahkan tanpa melakukan banyak gerakan.


Brian memang pantas menjadi salah satu anggota pasukan khusus karena dia memang sungguh sangat lihai menguasai jalannya sebuah interogasi dan selalu mejawab dengan tepat dan tenang setiap pertanyaan yang dsodorkan kepada dirinya.


Namun detektif Egan juga tak ingin kalah dalam interogasi yang menjadi miliknya itu namun dia memilih untuk beristirahat sejenak sambil mengatur sebuah strategi untuk menghadapi Brian dengan benar dan baik.


“Seperti yang sudah saya sampaikan kepada anda saat pertama saya ke sini, pengacara anda sudah tidak ada, sudah meninggal. Apakah anda butuh pengacara dari negara? Saya akan siapkan untuk anda,” detektif Egan menawarkan sambil mengulur waktu.

__ADS_1


“Tidak, terima kasih banyak detektif. Saya bisa mewakilkan diri saya sendiri,” jawab Brian dengan seringai yang kembali menghias wajahnya.


__ADS_2