Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup

Kode 810 - Berlari Untuk Tetap Hidup
Bab Tiga puluh dua


__ADS_3

Setelah melewati perdebatan yang cukup alot dengan pak Brox, akhirnya kedua detektif itu mendapatkan surat izin dari kantor kejaksaan untuk bisa membawa Brian keluar dari penjara untuk beberapa saat demi menuntaskan kasus mereka berkat bantuan pak Brox yang melobi langsung ke jaksa yang menangani sidang kasus ini.


Detektif Egan dan Keiko sudah menunggu di luar penjara, dan dengan perasaan yang campur aduk mereka berdiri di samping mohil mereka.


Birdella keluar dari lapas dan membawa sekantong obat yang diberikan oleh dokter di dalam lapas, tempat dimana akhirnya Brian dipindahkan untuk menunggu para detetif mengumpulkan data hingga cukup dijadikan sebagai barang bukti di dalam persidangan.


“Bukan perkar mudah buat gue minta dokter di lapas ini membiarkan Brian keluat,” keluh Birdella saat mendekat ke detektif Egan dan Keiko.


“Tapi lo kan deket banget sama dokter di lapas ini, bahkan melebihi kedekatan kita,” ujar detektif Keiko.


“Gue justru merasa lo ada hubungan khusus dengan dokter di lapas ini,” celetuk detektif Egan.


“Lo lagi sering nonton apa sih, sampai punya imajinsi macam itu,” sergah Birdella.


Entah mengapa ucapan dari Birdella itu justru membuat detektif Egan dan Keiko justru tertawa dan membuat Birdella menjadi merah pipinya.


“Ini, obat-obatan yang perlu kalian berikan selama Brian pergi bersama kalian,” ujar Birdella sambil menyodorkan sebuah kantong ke tangan detektif Keiko.


“Kenapa gue sama Keiko mendadak jadi dokter buat Brian?“ gerutu detektif Egan.


“Bukannya kalian yang minta supaya kalian bisa membawa Brian dari sini. Apa lo lupa sama rengekan lo sendiri gan,” ujar Birdella.


“Tapi ngga kayak gini juga sih del,” detektif Egan kembali menggerutu.


“Sebagai seorang dokter, apapun status pasien, dokter harus selalu memperlalukanmya sebagai pasien. Mengurus mereka dengan baik dan benar dan karena kalian memaksa seorang pasien keluar dari tempat perawatannya maka kalian harus bertanggung jawan atas kesehatan pasien tersebut,” Birdella berusaha menerangkan.


Detektif Egan menghela nafas panjang karena tahu bahwa dia tak bisa melepaskan diri dari tanggung jawab yang satu ini.


Detektif Egan menyadari bahwa kini dalam misi kali ini dia dibebankan mengurusi bukan hanya dirinya tapi juga keselamatan detektif Keiko dan Brian yang padahal adalah seorang pelaku kejahatan.


Tak lama kemudian Brian keluar dengan seragam tahanan dengan borgol yang mengikat kencang di kedua tangan dan kakinya sembari melempaskan sebuah senyuman kepada detektif Egan dan Keiko.


Brian berjalan dengan dihimpit oleh dua orang petugas dari lapas di kiri dan kanannya serta tiga petugas lain di belakangnya yang menenteng senjata sebagai bentuk persiapan untuk hal-hal yang tak diinginkan.


“Selamat siang dua detektif kesayanganku,” sapa Brian begitu sudah dekat dengan detektif Egan dan Keiko.

__ADS_1


Detektif Egan hanya membalas dengan sebuah senyuman sinis yang membuatnya terlihat begitu menyebalkan dan tentu saja itu tak luput dari perhatian Brian.


“Silahkan masuk. “


Detektif Keiko mempersilahkan Brian untuk masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka menuju lokasi korban pertama dikuburkan.


“Apakah tidak ada polisi yang akan mengiringi perjalanan kita? tanya Brian setelah mengamati ke sekelilingnya.


“Anda pikir anda siapa? Artis, politikus atau tokoh terkenal,” jawab detektif Egan dengan ketus.


Tak menjawab pertanyaan dari detektif Egan, Brian justru langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh detektif Keiko.


Setelah berpamitan dengan Birdella dan para petugas Lapas, detektif Egan dan Keiko pun ikut ke dalam mobil. Detektif Keiko yang kali ini mengendarai mobil tersebut dengan tujuan agar detektif Egan bisa selalu mengawasi Brian dan melindungi detektif Keiko.


“Aku bukannya mau sombong, detektif. Tapi mungkin anda lupa bahwa orang-orang seperti saya akan segera terkenal jika kasus saya sudah diketahui oleh masyarakat ramai,” tiba-tiba saja Brian berkata setelah mobil itu hening untuk beberapa saat.


“Anda benar-benar orang yang penuh dengan rasa percaya diri yang teramat sangat,” kali ini detektif Egan benar-benar mengagumi kepercayaan diri Brian namun Brian yang mendengar pujian itu justru terbahak.


“Sudah berapa lama anda berpasangan dengan rekan ini wahai detektif yang cantik?“ tanya Brian kepada detektif Keiko.


“Anda sungguh orang yang sangat sabar,” puji Brian.


Bagi detektif Egan yang baru saja didengar olehnya bukanlah sebuah pujian namun entah mengapa detektif Keiko justru merasa benar-benar tersanjung hingga memerah kedua belah pipinya.


“Apa lo merasa senang mendengarnya?“ bisik detektif Egan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah detektif Keiko yang tengah mengendarai mobil.


“Apaan sih maksud lo?“ tanya detektif Keiko berusaha menyembunyikan rasa senangnya.


“Muka lo, muka lo merah banget,” sambung detektif Egan.


“Ish berisik banget lo.“


Kali ini detektif Keiko meninggikan volume suaranya, sekali lagi berusaha untu menyumbunyikan rasa malunya.


Brian yang sepertinya mengetahui apa yang tengah terjadi hanya terbahak di kursi penumpang bagian belakang.

__ADS_1


“Apakah ada percikan cinta di antara kalian?“ tanya Brian.


Baik detektif Egan maupun detektif Keiko kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Brian hingga membuat keadaan menjadi sangat canggung.


Satu kali lagi Brian tertawa terbahak melihat sikap yang ditampilkan oleh detektif Egan dan Keiko.


“Jangan terlalu banyak tertawa, itu bisa membuat anda kehilangan banyak memori,” ucap detektif Egan.


“Siapa yang mengajarkan hal bodoh itu kepada anda?“ tanya Brian setelah menyelesaikan tawanya.


“Itu cuma mitos gan,” timpal detektif Keiko yang masih berusaha berkonsentrasi pada jalanan di depannya.


“Ah, lo yang sok tahu Kei,” balas detektif Egan sengit.


Brian terus memperhatikan detektif Egan dan Keiko diantara sengitnya perdebadatan keduanha di kursi baris pertama mobil yang membawa mereka.


Seolah menikmati sebuah pertunjukan, Brian sesekali tersenyum dan mengerutkan dahi secara bergantian mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulit detektif Egan dan Keiko.


“kalian tahu sesuatu?!“ ujar Brian menghentikan perdebatan detektif Egan dan Keiko secara mendadak.


“Apa!“ jawab detektif Egan dan Keiko secara bersamaan membuat Brian agak kaget.


“Kalian mengingatkan saya pada sesuatu,” jawab Brian.


“Apa kami mengingatkan anda pada Tom and Jerry?“ tanya detektif Keiko.


“Atau seperti Sylvester dan Tweety?“ ujar detektif Egan.


“Bukan. Bukan mereka berempat,” jawab Brian.


“Lantas bagi anda kami ini mirip siapa?“ desak detektif Keiko.


Brian tersenyum manis kali ini, bukan seringai yang biasa menghiasi wajah dinginnya. Sebuah senyiman manis nan hangat yang justru membuat detektif Egan merasa merinding saat melihatnya melalui pantulan di kaca sepion yang berada di tengah.


“Sungguh pertengkaran kalian ini membuat saya teringat akan kedua orang tua saya. Mereka biasa bertengkar seperti ini namun keduanya saling setia hingga maut memisahkan mereka.“

__ADS_1


__ADS_2