
Mobil yang dikendarai oleh detektif Egan berhenti di sebuah jalan sepi dan di kiri kanan jalannya hanya ada tanah-tanah kosong hanya ada satu rumah di sana, berada tepat di pinggir jalan.
Detektif Egan turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu penumpang bagian belakang dan membantu Brian turun.
Brian turun dengan tangan terborgol dan detektif Egan dengan pistol di tangannya memerintahkan Brian untk jalan terlebih dahulu.
Brian mulai melangkah melewati halaman rumah yang jelas terlihat terbengkalai. Rumah tanpa pagar dengan cat usang dan atap yang hampir ambrol terlihat amat memprihatikan.
“Berhenti!“ teriak detektif Egan saat Brian mendekati sebuah meja taman usang yang di atasnya terdapat sebuah pot yang tanamannya sudah mengering.
Brian menuruti perintah itu dan detektif Egan berjalan mendahului Brian dengan langkahnya yang lebar. Detektif Egan mendekati meja itu dan memeriksa ke sekeliling pot dan mendapatkan sebuah pistol berukuran kecil di bawah pot itu.
Detektif Egan membalikkan dirinya menghadap ke arah Brian dan tersenyum sambil mengangkat pistol kecil itu, “Anda pikir bisa membodohi saya?!“
Brian hanya bisa tersenyum saat detektif Egan menangkap basah rencananya namun dia benar-benar tak ingin membantah apapun sama sekali.
“Ayo, jalan lagi,” ucap detektif Egan sambil mengayunkan pistolnya.
Brian pun kembali menuruti perintah yang diberikan oleh detektif Egan, dia melanjukan langkahnya walaupun dengan susah payah karena kedua kakinya pun dirantai
Brian berhenti di bawah sebuah pohon oak yang sangat besar serta rimbun daunnya. Sebagian besar daunnya sudah jatuh tertiup angin dan menguning di atas tanah yang berada tepat di bawah pohon itu.
“Di sinilah aku mengubur korban pertamaku,” ucap Brian sambil menghadap ke arah detektif Egan yang masih mengacungkan pistolnya ke arah Brian.
“Apa kau yakin!?“ tanya detektif Egan sambil terus menatap tajam mata Brian.
“Saya atau anda pelakunya?!“ tanya Brian dengan nada mengolok-olok.
Dengan masih mengacungkan pistolnya, detektif Egan berusaha menyibak dedauan yang sudah kering di bawah kakinya. Di sana terdapat sebuah batu nisan bertuliskan “Beristirahatlah dengan tenang kekasih hatiku, lucy.“
Detektif Egan kembali menatap Brian yang kini sedang tersenyum puas seolah berhasil mempermainkan seorang detektif.
“Ini bukan korban pertamamu. Yang berbaring di sini adalah istrimu,” ujar detektif Egan.
__ADS_1
“Anda memang cocok disebut detektif. Anda sangat hebat menebak,” sahut Brian.
“Lantas apa tujuan kamu membawa saya ke sini?“ tanya detektif Egan sengan tenang.
“Saya berharap perjalan kita ke sini bisa membantu anda menjadi apa yang anda inginkan,” Brian memberi jawaban.
“Menurut anda, saya ingin menjadi seperti apa?“
“Mengeluarkan diri anda yang sebenarnya,” sahut Brian.
“Beri tahu saya, seperti apa saya sebenarnya,” pancing detektif Egan.
“Sama seperti anda, saya juga kehilangan wanita yang paling kita sayangi dan saya tahu bagaimana rasanya ingin membalaskan dendam terhadap orang yang merebut nyawa orang yang kita cintai,” ujar Brian dengan emosi yang berapi-api.
“Saya rasa saya tidak seperti itu,” elak detektif Egan.
“Saat anda menjadi seorang polisi dan detektif, saat anda menangkap seorang penjahat anda pasti membayangkannya sebagai orang yang membunuh kekasih anda bukan!? Lalu anda memukulinya habis-habisan hingga anda sering kali harus ditarik oleh anggota poliai yang lain. Anda tahu kenapa!? Itu karena anda menahan diri anda yang sebenarnya,” Brian masih berusaha untuk memprovokasi detektif Egan.
Detektif Egan diam untuk beberapa saat, berusaha menyangkal apa yang dikatakan oleh Brian, tapi semakin dia berusaha sangkal dia merasa bahwa apa yahg dikatakan oleh Brian benar adanya.
Sebuah senyuman mengerikan kembali terlukis di wajah Brian.
“Anda tidak waras. Anda memang seharusnya membusuk di dalam penjara,” ucap detektif Egan.
“Saya tidak suka berada di dalam sana detektif. Kamarnya kecil dan saya masih harus berbagi tempat dengan napi lain. Pengap dan lembab serta terlalu berisik untuk saya yang menyukai kesendirian. Apakah anda pernah mencoba ke sana, atau mungkin anda ingin mencoba ke sana!?“
Sekali lagi senyuman yang mengganggu detektif Egan Brian tampilkan di wajahnya.
“Saya tidak perlu ke sana karena tidak melakukan hal jahat seperti apa yang kamu lakukan dan saya tidak pernah tertarik untuk berada di sana.“
“Sayang sekali, tapi berada di dalam sana adalah pengalaman yang lumayan menyenangkan. Saya pernah merasakannya dan saya ingin membagi pengalaman itu dengan anda. Andai saja anda mau menuruti naluri membunuh anda,” ucap Brian.
“Saya bukan pembunuh dan tak akan pernah jadi pembunuh,” jawab detektif Egan dengan sangat tenang.
__ADS_1
“Jangan terlalu memaksakan diri untuk jadi orang lain detektif,” ejek Brian.
“Sudah cukup. Beri tahu saya dimana letak jasad korban pertama anda yang sesungguhnya dan saya akan mengembalikan anda ke dalam penjara yang dingin, lembab dan sempit itu,” ujar detektif Egan.
“Untuk apa saya ke sana? Di sini jauh lebih menyenangkan, bebas, luas, sejuk. Coba anda rasakan tiupan anginnya detektif,” ujar Brian.
“Saya beri tahu anda, tempat ini tidak cocok untuk anda.“
“Kenapa anda pikir ini tidak cocok dengan saya? Sementara ini adalah rumah keluarga istri saya dan tepat di atas kaki anda istri terbaring dengan damai. Rumah inimemiliki banyak kenangan yang sebagian besarnya adalah kenangan yang ini. Anda tahu kenapa saya tidak menjual rumah dan tanah ini detektif?“
“Haruskah saya mengetahui alasan anda?“ ujar detektif Egan.
“Walau pun anda tak ingin tahu saya tetap akan memberi tahu anda alasannya,” ujar Brian dengan wajah penuh kegembiraan layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
“Saya membiarkan tempat ini kosong dan manjadi milik kekuarga istri saya karena saya ingin beristirahat di sini bersama istri saya yang tercinta.“
Brian melangkah mundur dengan pelan membuat detektif Egan menjadi semakin waspada. Detektif Egan menaikan pistolnya beberapa senti.
“Istriku selalu bilang bahwa rumah ini adalah tempat paling indah untuk beristirahat, makanya saya menguburkan dia di sini, dia pasti berbahagia. Apalagi jika saya menemaninya berbaring di sini.“
Brian kembali melangkah mundur, “Sudah saya katakan pada anda, dalam perjalan kita kali ini harus ada yang m*ti detektif.“
Brian kemudian dengan sengaja menginjak sebuah ranjau yang memang sudah lama dia letakan di sana.
“DUAR!!“
Seketika itu juga tubuh Brian hancur berkeping-keping, memberikan sebuah keadaan yang mengerikan bagi detektif Egan yang sendirian berada di sana.
Masih dalam keadaan kaget, ponsel detektif Egan berbunyi dan dia segera mengangkatnya.
“Lo dimana?“ tanya detektif Keiko dalam sambungan telepon itu.
“Gue share lokasinya ke lo,” jawab detektif Egan.
__ADS_1
“Lo masih bareng Brian?“ tanya detektif Keiko lagi.
“Masih. Tapi sekarang dia cuma dalam bentuk serpihan.