
Rasa sedih bahagia senang gugup dan takut kini semua memenuhi perasaan sani. Perasaan yang menggambarkan keadaannya saat in..
Dia sedih dalam usia muda harus menikah menepuh hidup baru dengan cara yang tidak lazim sekali. Menikah dengan pria yang tidak mengharapkannya. Bahkan Sani tidak bisa membayangkan dengan keadaan pernikahannya yang seperti benang kusut. Seperti apakah kelanjutan pernikahan ini Sani juga tidak tahu.
Tidak di pungkiri dia bahagia dan juga senang. Bahagia bisa memiliki pria yang dia inginkan . Pria yang jadi cinta pertamanya. Mungkin Bizar tidak tahu tentang hal itu sama sekali . Hanya Sani , sang kakak dan Pemilik hidup-Nya saja yang tahu. Senang bisa menikah dan mengikatnya dengan sebuah hubungan pernikahan, tapi mau sampai kapan hal ini bisa bertahan. Karena Sana tahu yang ada di hati Bizar bukanlah dirinya melainkan Husna sang calon istri yang melarikan diri.
Rasa gugup juga hadir juga ikut hadir dalam perasaan. Gugup menanti bagaimana Bizar akan bersikap dan menerimanya atau tidak. Hingga kegugupan itu menjadi rasa takut. Takut di tinggalkan takut tidak diinginkan takut di hianati takut entah apa lagi. Yang pasti semua perasan itu kini sudah memenuhi diri Sani.
Kini Sani hanya bisa duduk tepekur di atas tempat tidur dengan tangan memegang dua lututnya yang tertekuk. Menunggu kedatangan Bizar dengan sabar. Sani masih nampak memakai pakaian yang sama dengan yang dia gunakan saat acara pernikahan tadi.
Kunjungan untuk menghadiri pernikahan membuat Sani berubah setatus menjadi seorang pengantin. Pengantin yang tidak di inginkan sama sekali. Lalu mereka harus bersikap seperti apa sekarang?.
Ceklek....
Pintu terbuka nampak Ana datang masuk setelah mengucap salam dan Sani menjawabnya.
Di tatapnya sang ipar yang baru jadi pengantin dengan iba. Ana datang untuk membantu Sani untuk berganti baju.
"Di mana Mas Bizar?"
__ADS_1
"Tidak tahu kak..."
"Sini kakak bantu ganti baju"
"Baik. .."
Sani turun dari tempat tidur. Duduk di depan meja rias menghadap ke kaca. Nampak bias kepanikan dan kesedihan di sana. Ana melihat raut wajah Sani yang tidak seperti biasanya. Ada rasa iba di hatinya melihat sang adik kecilnya yang manja harus melalui hari yang menyedihkan ini.
Setelah selesai ana pergi kembali ke kamarnya. Sani yang mulai ngantuk masuk kamar mandi untuk mengambil wudu. Mendirikan berapa sholat sunah agar bisa menenangkan dirinya. Besok Sani juga mesti kembali ke pesantren karena dia cuma izin untuk 2 hari.
Setelah salat Sani tadarus sebentar. Mengadu pada sang pemilik Cinta yang Khaqiqi. Mengutarakan semua keresahan hatinya duduk bersujud dan bersimpuh memohon ampunan kepada pemilik Hidup-Nya.
"Astagfirullahal azim.... Ya Allah.. Ampunilah hambamu ini karena sudah menyakitinya" Guman Bizar menyesal
Tapi tidak bisa di pungkiri kalau dia belum bisa menerima Sani sebagai bagian dari dirinya kini.
"San....Insani"
"Heemmm...."
__ADS_1
"Bangunlah. .. tubuhmu akan sakit jika tidur di sini!"
"Ah... Kak.. Abi...."
"Tidurlah di kasur"
"Sudah subuh. .. Aku subuhan sekalian"
"Terserah. ..."
Sani pergi wudhu dan mendirikan subuh. Sedang Bizar tidur di atas Sofa setelah membangunkan Sani.
.
.
.
.
__ADS_1
.