Ku Sebut Nama-Mu

Ku Sebut Nama-Mu
Kesedihan akan perpisahan.


__ADS_3

Setelah sowan Sani masih bersama Bizar di kebun pesantren. Suasana sepi cocok untuk saling mengutarakan isi hati. Selama di tempat itu juga Bizar tidak berani untuk bicara sedikitpun pada gadis yang kini menjadi istrinya. Ada rasa takut kesal dan sedih menyatu memenuhi sanubarinya.


Emran membiarkan mereka bicara untuk bisa saling terbuka dan dapat mengutarakan isi hati masing masing.


Bizar sesekali menghela napas memikirkan apa yang mesti dia bicarakan. Rasanya begitu sulit untuk mengatakan sesuatu walau sederhana pada Sani. Mulutnya seakan terkunci rapat sehingga tidak bisa mengutarakan isi hatinya.


Sedang Sani sudah mulai kesal menunggu apa yang akan di sampaikan sang suami. Sani tahu saat ini Bizar masih sedih tentang kehilangan dan kepergian Husna. Tapi apa pernikahannya tidak ada artinya sam sekali hingga Bizar harus terpukul dan terpuruk dalam kesedihan.


"Kak Abi... sebenarnya mau... bicara apa? Sani mesti segera mengikuti kegiatan pesantren dan sore ini berangkat kuliah malam" Pancing Sani dengan sedikit kekesalan yang mendalam di dalam hatinya.


"Maaf...." Hanya kata itu yang meluncur dari bibir Bizar.


"Kalau cuma minta maaf... sudah Sani maafkan... tidak ada kesalahan yang kak Abi lakukan pada Sani" Sani beranjak berdiri dari duduknya.


"Sani akan kembali ke gothak ( Kamar)" Pamit Sani pada Bizar yang masih tetap diam.

__ADS_1


Tapi langkahnya terhenti saat Bizar menarik dan memegang kuat lengannya. Sani berbalik menatap Bizar Ada penyesalan di mata pria itu. Rasa bersalah yang begitu besar karena sudah menyakiti gadis mungil ini.


Bizar menarik kuat tangan Sani hingga tubuh kecil itu terhempas di pangkuannya. Dengan cepat Bizar mendekap erat tubuh mungil Sani.


Sesaat Sani merasa tidak enak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Bizar. Tapi semakin dia memberontak dekapan Bizar semakin kuat dan hangat.


" Ku mohon bersabarlah dengan sikapku... aku ingin kau tidak berubah kepadaku Sani!" Pinta Bizar lirih sambil menguatkan pelukannya.


Setelah mendengar permintaan Bizar Sani duduk dengan tanang membenamkan wajahnya di dada Bizar sambil menangis sesegukan. Rasanya berat untuk berpisah dengan pria yang dia cintai ini. Rasanya tidak ingin melepaskan delapan hangat ini hingga Sani membalas pelukan hangat dari sang Suami.


Setelah bicara sedikit mengutarakan hatinya Bizar merasa lega. Memeluk Sani membuat semua beban yang dia rasa hilang begitu saja.


Mungkin saat ini Bizar sendiri belum memiliki perasaan cinta pada Gadis yang rela berkorban demi keluarganya itu.


"Maafkan aku sudah mengabaikanmu sudah menyakiti mu... membawamu dalam masalah besar dan pernah menolak mu... sungguh aku menyesal" Tak berasa Bizar ikut menangis. Menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Sani. Dia sudah tidak berfikir gengsi lagi saat ini . Hanya Sani yang benar benar membuat perasaan Bizar menjadi gundah. Mendengar dan melihat sendiri betapa banyak yang suka pada Sani membuat Bizar tidak nyaman.

__ADS_1


Sani mendongak menatap wajah sang suami. Menghapus air mata yang membasahi pipi pria idamanya. Bizar juga menghapus bekas air mata Sani.


Mereka saling menguatkan tanpa harus banyak bicara. Saling mengerti rasa sakit akibat ditinggalkan dan perpisahan.


Kini Bizar harus rela meninggalkan sang istri untuk melanjutkan pendidikan. Tinggal satu tahun lagi Sani menyelesaikan kuliahnya. Mereka juga butuh waktu untuk bisa memahami arti dari hubungan mereka yang tercipta karena takdir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2