Ku Sebut Nama-Mu

Ku Sebut Nama-Mu
Pesan penuh Rindu


__ADS_3

"kok tidak boleh rindu"


Satu balasan dari Sani membuat dada Bizar seketika berdebar dengan cepatnya. Entah rasa apa ini. Membaca pesan itu saja sudah membuat batin Bizar bergejolak keras. Seuntai senyum tidak hilang dari bibirnya. Menambah pesona seorang Gus muda.


"Kenapa jawaban pesanmu begini Sani?....Aku baru seminggu sudah merindukanmu Sani Apa kau juga" Bizar tidak beralih dari layar hanponenya yang menampilkan pesan dari wanita muda yang berstatus sebagai istrinya.


Bizar memberanikan menekan tombol hijau menyambungnya sambungan pada seseorang yang sudah memprak porandakan hatinya. Bizar menghubungi Sani.


Di seberang sambungan Sani meningkat telepon saat Bizar menelannya. Dia tidak menyangka kalau Bizar malah menelepon dari pada membalas pesan yang dia kirim.


Dengan berdebar di tekan tombol hijau dan menggesernya untuk menjawab telepon.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam.... Apa kabar Insani?"


"Alhamdulillah khoir Kak Abi.... Antum?"


"Tidak baik.... "


"Kenapa?"


"Karena aku sedang merindukan Istriku"


Deg


deg

__ADS_1


deg


"Sani.... Zaujie di sini sangat merindukanmu Zaujah?"


"Ah.. iya... kak" panggilan itu membuat dada Sani semakin berdebar. Bizar menyebut Zaujah padanya. Sehingga dia bicara dengan gagap.


"Aku serius" Ungkap Bizar sambil tersenyum membayangkan pipi Sani yang bersemu merah karena malu.


"Tentang?"


"Merindukanmu...."


"Kak Abi...."


"Aku sangat merindukanmu....Sani mengingat kau sendiri di sana.... membuat aku gelisah"


"Juga apa?"


"Merindukan mu Zaujie"


"Ha.... ha... ha.. manis sekali"


"Kak Abi...."


"Apa Kakak boleh menjengukmu?"


"Harus!"

__ADS_1


"Siap tuan putri.... Ha... h.... Kau sedang apa Zaujah ku?" Bizar tidak sadar melayangkan kata manis pada sang istri kecilnya.


"Ah... dia pandai sekali merayu....." Pikir Sani sambil memegang pipinya yang memerah.


"Istirahat kak....."


"*Be*lajar yang rajin ya.... !"


"Siap Zaujie"


Obrolan mereka berjalan lama. Saling memberi pesan rindu bagi pasangan masing masing. Bizar sadar saat ini hanya Sanilah yang alam menjadi prioritasnya mulai sekarang.


Tidak ada penyesalan kehilangan dan kekecewaan karena di sakiti Husna. Semua seakan hilang dengan keikhlasan Sani yang tulus. Mungkin benar Bizar sudah menyesal berani menolak Sani dulu karena usia Sani yang masih belia. Memilih Husna yang nyata sudah dewasa Tapi kini terbukti kedewasaan tidak menjamin kebahagiaan. Bizar sadar kalau jodoh sudah di pastikan Allah. Mau menghindar seperti apa kalau dari awal Sani sudah di tetapkan sebagai pasangannya, jadi ya hanya Sani.


Bizar sudah tidak ragu untuk menerima hubungan yang sudah terjadi antara dirinya dan Sani. Ia mulai menerima segala ketetapan yang sudah jelas di depan mata yakni Sani. Dari pada menyesali kepergian Husna yang memang tidak punya perasaan dan terpaksa berada di sisinya selama ini. Entah kenapa Bizar buta akan perasaan Husna selama ini.


Setelah bicara pada istri manisnya Bizar membanting tubuhnya di tempat tidur. Mengingat pembicaraan yang manis barusan membuat Bizar tersipu. Baru kali ini ada seseorang yang berhasil membuat Bizar menunjukkan sisi lembutnya. Yakni sang Istri Sani.


"Sani.... sani... sani.... Insani Mauludina Yasmin Alexandria.... Gadis kecil yang sering berulah kini sudah menjadi milikku..... bodohnya Aku"


"Yaa Allah... terima kasih sudah menghadirkan Sani di sisiku... Aku berjanji tidak akan menyia nyiakan dia lagi... "


Bizar mendesah menata perasaannya. membuang rasa sakitnya yang tidak berguna lagi, Meyakinkan perasaannya sendiri kalau saat ini hanya ada Sani di dalam hatinya.


.


..

__ADS_1


__ADS_2