
Seharusnya Sani tidak mengatakan ini. Kini dia malah serba salah sendiri. Secara tidak langsung dia sudah mengatakannya. Menggungkapkan isi hati yang sangat dalam. Tapi Sani sendiri tidak tahu kalau yang dua ucapkan sudah membuat Bizar menjadi bingung.
Suara Azan sudah mengema saling bersahutan. Sudah Waktu Asar Sani putuskan ikut jamah di masjid.
Sedang Bizar setelah mendengar penuturan Sani tadi berusaha menenangkan diri. Sepulang dari Masjid Salma sudah duduk manja di sofa ruang tengah. Dia sedang bermanja dengan Abi dan Uminya yang baru kembali dari tempat kerabat. Maklum selama ini mereka tinggal di Turki karena ada pekerjaan di sana. Sani melangkah pelan masih degan memakai mukuna di kepalanya. Bizar yang tadi menjadi imam juga baru kembali. Tidak sengaja juga Sani dan Bizar masuk rumah bersama.
"Assalamualaikum. ..." Salam Sani dan Bizar bersama.
"Waalaikum salam" Jawab Umi dan Abi.
"Aduh... manjanya kayak bayi" Goda Bizar melihat sang adik mengelayut manja di pundak sang Umi.
"Biarin..." Salma manyun membelai kepala sang putri sambil senyum melihat 2 anaknya.
"Tidak malu sama Sani..." Goda sang Kakak Lagi.
"Sani?" Abi dan Umi kaget karena belum menyadari kehadiran Sani.
"Ini sahabat Salma di pesantren Umi...." Salma memperkenalkan Sani.
"Saya Sani Kholah... Ammun...." Sani mendekat salim mencium punggung tangan ke duanya penuh Takzim.
"Kholah. .. Ammun...." Ke 2 orang tua itu bingung.
"Sani ini putri Om Alex dan tante Zora Umi. .." Bizar menjelaskan sambil duduk di Sofa singel.
"Oh... si tuan putri. ..." Umi Aisah seperti mengingat nya.
"Pantas saja Panggil Ammun Kholah. ..
Putri Ning Zora ternyata" Abi Yaqin juga berkomentar.
"Habis saat Anna menikah sama Ryan kita tidak datang" Abi Yaqin menyesal.
"Iya.. bi... sekarang mereka sudah punya anak belum nak?" Umi mulai bertanya.
"Sudan Kholah. .. putri umur 1,5 tahun" Jawab Sani.
"Alkhamdulillah. ..." Ucap keduanya.
__ADS_1
"Bukanya 2 tahun lalu kamu juga sudah tunangan Nduk" Selidik Abi.
" Tunangan?" Salma kaget karena dia tidak tahu tentang itu.
"Tidak jadi Ammun" Jawab Sani.
"Kenapa?" Umi penasaran.
"Tidak ada di kriteria yang pas untuk Sani." Jawab Sani santai.
"Sayang waktu itu Bizar sudah ada Husna yang di pilih kakek kalian Kalau belum Umi senang kalu Sani mau jadi mantu. .. tapi sayang anak laki-laki Umi cuma satu" Ucapan Umi membuat semua kaget tapi sang Suami Cuma tersenyum.
"Maksud Umi Apa?" Bizar sepertinya tidak senang.
"Kalau Saat itu kak Abi yang di sana dengan senang hati langsung mau di nikah deh Kholah" Jawab Sani santai seperti bercanda. Padahal dalam hatinya dia sangat berharap dengan hal itu
"Ha... ha... ha..." Abi tertawa renyah. Sedang Bizar nampak tidak senang. Hatinya yang baru saja tenang kini jadi bimbang.
"Sani... sani...."
"Apa apaan gadis ini. .. kenapa ucapnya cara bicara nya membuat aku sangat ragu sekarang. .. Ya Allah. .. kenapa ini. ..." Pikir Bizar bingung sambil menatap Sani yang masih asio ngobrol.
"Tapi bercanda kak... kan Ammun bilang Andai" Seloroh Sani seterusnya.
Sani pamit untuk membereskan mukena yang masih di pakai. Orang-orang yang Rewang ( Ibu -ibu yang ikut bantu kalau ada khajatan) Semakin benyak berdatangan. Setelah itu sani ikut bantu di dapur. Sedari tadi Bizar melihat betapa Akrabnya gadis itu dengan ibu ibu yanh Rewang. Bizar tidak bisa melupakan pembicaraan Sani sama sekali. Semakin lama malah membuat dia semakin kepikiran.
"Nduk kamu sedang apa?" Tanya Umi.
"Bantu-Bantu kholah..." Jawab Sani sambil marut kelapa dengan mesin parut.
"Kamu kan tamu. .. lagi pula di mana salma...? Masa temannya di Biarkan sendiri" Umi gemas pada sang putri yang membiarkan Sani sendirian.
"Ning di kamar. .." Jawab Sani.
"Kamu sudah tahu kalau Ayah sama bundamu sudah datang nduk?" Tanya Umi.
"Oh ya... di mana?" Sani tak sabar menghentikan pekerjaannya.
"Rumah Eyang" Jawab Umi.
__ADS_1
"Sani boleh menemui?" Izin Sani.
"Boelah ...."Jawab Umi Aisha.
Sani segera berlari tidak peduli banyak orang sedang sibuk berlalu lalang menyiapkan segalanya , Karena pernikahan akan di adakan di jepara.
Bruuuk....
Tanpa sengaja Sani jatuh karena terseret bawahan gadisnya yang agak lebar. Tapi tangan kuat menahannya hingga tidak terjatuh ke tanah. Tubuh Sani terhempas ke arah dada yang lebar dan keras. Hingga dia hampir terlena tanpa sadar siapa yang sedang memeluknya.
"Hati-hati...." Pesan Bizar.
"Syukron...." Sani Berusaha lepas.
"Ah... Afwan....." Bizar jadi salah tingkah.
"Hei pelan pelan. ..!" Pinta Bizar saat melihat Sani berlari.
"Gadis ceroboh. ...." Gumam Buzar senyum melihat Sani yang buru-buru.
"Sani jatuh" Tanya Abi.
"Hampir. ... " Jawab Bizar.
"Utung ada kamu" Abi lega.
"Kenapa diam?" Tanya Abi lagi.
"Dia marah tidak ya...?" Bizar bingung.
"Kenapa mesti marah?" Abi senyum
"Tadi aku sudah peluk dia".Bizar salah tingkah mengelus lehernya.
"Apa kelihatan marah?" Abi penasaran.
"Dia tersenyum. .." Jawab Bizar.
"Berarti dia tidak marah" Abi meyakinkan
__ADS_1
Bizar masih menatap Sani yang semakin jauh . Sedari tadi dadanya tidak mau berhenti untuk berdetak. Hingga membuat dirinya hampir kehilangan akan sehat.
"Ah.. Apa yang terjadi dengan ku...."2