
Setelah sampai Ayah Husna tidak menunggu waktu lama sudah bisa bertemu kyai sepuh. Kyai Alim menerima dengan di temani Ayah Alex dan kyai Alwi juga Abi Yaqin tentunya du kediaman beliau.
Bizar dari Masjid langsung ke sana selah mendapat laporan dari santri dengan kedatangan calon ayah mertua dengan ke adaan tidak baik. Dia kini duduk di samping Ayah Alex.
Melihat suasana yang tenang dan sepi. Apa lagi tampang pak Bakri yang nampak sangat gugup dan bimbang ketakutan dengan apa yang akan dia sampaikan menambah kebekuan suasana pagi itu. Pria itu takut dan khawatir dengan keadaan sang
putri setelah penolakan ini akan seperti apa?. Pak Bakri juga takut dengan kemarahan dari keluarga Kyai besar itu. Lalu angapan orang-orang dengan keluarganya juga tidak luput dari ketakutan bayangannya. Impian untuk memiliki besan orang yang Sholeh kini pupus sudah. Putrinya memilih untuk bersama pria yang dia cintai.
Bizar juga bingung kenapa pak Bakri datang sepagi ini dengan keadaan yang begitu kacau. Dia juga datang sendiri tanpa Husna atau istrinya selipun. Berbagai spekulasi muncul menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ada masalah pak Bakri?" tanya Kyai Alim lembut.
"Se..sebenarnya. ..." pak Bakri bingung dan gugup.
" Bicara dengan tenang!" Pinta Abi Yaqin.
"Sebenarnya ada apa... sadari tadi Pak Bakri gugup dan ketakutan" Kyai Alim bertanya.
"Apa terjadi sesuatu pada Husna?" Bizar menebarkan diri untuk ikut bertanya. Dia khawatir terjadi sesuatu.
"Husna... Di..dia... ingin pernikahan ini di batalkan" Pak Bakri menguatkan diri untuk menyampaikan keinginan sang putri. Rasanya sudah lega tapi ada rasa sakit dan kecewa juga di sana.
"Apa?//" Semua tersentak kaget.
"Membatalkan. . Apa sebenarnya yang terjadi...?" Bizar mulai emosi.
"Tenanglah. . Bizar//!!" Abi Yaqin menenangkan.
"Tenang Nak?" Pinta Ayah Alex.
"Ta..tapi kenapa?" Ada kesedihan, Kemarahan dan kekecewaan dari wajah Bizar. Ayah Alex menepuk bahunya agar pemuda itu sedikit tenang.
"Jelaskan pada kami.. kenapa Kalian membatalkan di saat terakhir seperti ini?" Titah Kyai sepuh.
"Selama ini dia mencintai pria lain... menerima perjodohan ini karena rasa takzim pada kyai.... Husna berharap suatu saat bisa memiliki rasa itu tapi dia sendiri tidak mampu untuk mengingkari takut menyakiti Gus suatu saat nanti" Cerita Pak Bakri sedih takut.
"Takut menyakiti. ...?.Bukan kah sekarang dia tidak cuma menyakiti saya. .. tapi juga keluarga saya" Bizar tidak bisa terima dengan keputusan Husna.
"Maaf Gus... Maaf Kyai... Maaf Uatadz Yaqin. . putri saya memang bodoh tidak tahu kebaikan kalian" Pak Bakri menundukkan kepala meminta maaf dengan sangat.
__ADS_1
"Bapak kira minta maaf cukup. .. lalu bagaimana dengan rasa malu yang keluarga kami rasakan. .. mau ditaruh di mana wajah kami" Alex juga ikut emosi.
"Sudah.. jangan dibesarkan masalah ini. . Kalau itu pilihan Husna kami akan terima dengan baik" Kyai Alim bijak menyikapi.
"Terima kasih banyak Kyai.. Atas kebijaksanaan Kyai" Pak Bakri sedikit tenang.
Mendengar sebuah keputusan dari Sang Kakek Bizar tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa marah yang dia pendam sangat menyesakkan dada.Takut marah tidak pada tempatnya Bizar memilih pergi dari tempat itu.
"Mau kemana nak...." Cegah Abi.
"Bizar...." Panggil Abi Yaqin.
"Bizar butuh memenangkan diri" Sang kakek sedih melihat cucunya terluka. "Biarkan dia pergi. ..." lanjutnya.
Semua yang mendengar akan berita di batalkannya pernikahan membuat ramai ricuh. Sebagian yang bersimpati ikut bersedih dengan keadaan Sang Gus.
Bizar berjalan tanpa arah hingga tidak sadar bahwa kini dia sudah sampai di Kebun buah yang terletak tidak jauh dari Pesantren. Dia ingin sendiri memenangkan diri dan menyalurkan kemarahannya dengan cara yang Arif.
Tanpa sengaja di sana Dia bertemu dengan Sani yang sedang duduk sendiri di sebuah gubuk di tengah kebun sambil menangis sesugukan sambil tadarus dengan tanpa muskhaaf. Tidak banyak yang tahu memang kalau gadis itu penghafal Al Qur 'an. Sani di sana menangis karena takut kehilangan Bizar.
"Assalamualaikum. ..."
"Kamu yang sedang apa di sini.... kok menangis?"
"Ditanya malah tanya. ... Gus kan mau nikah kok jalan jauh sampai di sini?"
"Menikah. .." Bizar tersenyum sinis.
"Kenapa keadaannya buruk seperti ini. Apa terjadi sesuatu?" pikir Sani.
"Gus... kenapa?" Sepertinya suasana hatimu sedang buruk?"
Tidak mendapat respons dari Bizar Sani merasa tidak enak. Sani yang tadi menangis karena kekesalannya juga sudah merasa sedikit tenang bahkan sudah lupa dengan masalahnya sendiri.
"Ya sudah sepertinya Gus butuh sendiri. .. Saya mau balik ke rumah"
"Tunggu....!"
"Ada apa Gus....?"
__ADS_1
"Kamu tidak mau Panggil Kak Abi Lagi?"
"Memang boleh?//"
"Husus untuk mu Sani...."
"Kak Abi kenapa? Ada masalah?"
Bizar tidak menjawab tatapannya kosong. Di sana ada kegelisahan di wajahnya ada semburat kemarahan. Rasanya kini dia sudah hancur sehancur hancurnya. Kehilangan orang yang dia cinta memilih bersama lelaki lain membuat Bizar kehilangan akal sehatnya.
"Kalau cuma diam.... Sani pergi saja dari tadi "
"Pernikahan batal... Husna pergi meninggalkanku"
"Apa?"
"Aku butuh seseorang sekarang"
Bizar menghamburkan diri memeluk Sani dari belakang menyembunyikan kesedihan lukanya. Mendekap erat Tubuh mungil Sani.Sani merasa ada kesedihan dan kemarahan bercampur di diri Bizar. Sani tidak menolak dan tidak membalas perlakuan Bizar padanya. Membiarkan Bizar mencari ketengan dari dirinya. Rasanya Sani ingin berteriak bahagia karena pria yang dia suka gagal menikah. Tapi Sani tidak sejahat itu hingga bisa melakukan hal yang bisa melukai Bizar.
Cukup lama Bizar memeluk Sani dari belakang. Lama-lama Sani merasa tidak nyaman dan takut Khilaf.
"Kak... kita bisa di lihat orang. .. nanti apa kata mereka?"
"He..he . Aku akan tanggung jawab"
"Maksud Kak Abi?"
"Sani... Maukah kau menikah dengan ku... Mungkin saat ini hanya untuk pelarian tapi ini demi keluarga agar tidak merasa malu"
"Kak..."
"Aku butuh jawaban Sani. .. bukankah kau menyukaiku...?"
"Iya... tap...."
"Kamu tidak kasihan pada kakek?"
"Kalau Kak Abi bisa meyakinkan Ayah dan bunda Aku akan setuju walau hanya jadi palarianmu"
__ADS_1
"Aku... Coba. ..."