
Dia sebuah rumah sederhana yang hanya terdapat tiga orang yang menghuni nya, dengan sabar mereka banting tulang mencari kerja agar bisa menompang hidup nya.
Seorang pemuda tampan yang sedang bekerja di salah satu rumah makan. Sekarang kondisi nya sangat lah buruk, ia sering melamun yang membuat bos nya itu selalu marah marah kepada nya.
Dia bernama Delvin, seorang pria tampan yang sederhana dan tidak mempunyai kekayaan seperti mantan kekasih nya, dan sekarang dia sering melamun dan tidak fokus jika bekerja. Dia selalu memikirkan Kyla, ia benar benar sangat tidak rela. Tapi takdir berkata lain, Kyla harus bersanding dengan pria lain yang membuat hati Delvin sakit.
"Vin!" teriak pria tua itu.
"Ah iya pak" ucap Delvin kaget.
"Kamu ya akhir akhir ini melamun terus, kamu udah bosen kerja!" bentak pria itu.
"Maaf pak, saya salah, saya gak bakal ulangi lagi. Saya mohon jngan pecat saya." Delvin sudah berlutut di hadapan bos nya itu, untuk memohon agar bos nya tidak memecatnya.
"Sudah sudah, saya sudah tidak tahan melihat kamu. Kamu saya pecat!"
Bagai tamparan keras yang mendarat di pipi Delvin saat mendengar kata pecat. Dia bingung harus mencari kerja kemana lagi jika dia di pecat dari tempat kerjaan.
"Pak saya mohon, beri saya kesempatan sekali lagi. Saya tau saya salah, bagaimana ibu dan adik saya bisa makan kalau bapak memecat saya" ucap Delvin memelas.
"Tidak, kamu sudah di luar batas, kalau kamu terus melamun jika kerja bagaimana jika rumah makan saya kebakaran karna kecerobohan mu. Sekarang kamu pergi dari sini." teriak pria itu yang sudah mengusir Delvin.
"Terimakasih pak." lirih nya dan langsung berjalan pergi meninggalkan tempat bekerja nya.
Saat sampai di rumah, dia bingung harus bilang apa kepada ibu dan adik nya. Ia sekarang menjadi tulang punggung keluarga, yang harus banting tulang menjari pekerjaan yang layak untuk menompang hidup mereka bertiga.
Ya begitulah hidup orang susah, semua anggota keluarga harus keluar setiap hari nya untuk mencari pekerjaan dan bisa membayar semua kebutuhan nya.
Setelah sampai rumah, dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dan tak lama adik nya lah yang keluar karna ibu mereka sedang sakit.
"Kakak, kenapa jam segini sudah pulang?" tanya adik nya yang bernama Nara.
"Nara, kakak di pecat dari kerjaan, tapi kamu jangan bilang yah sama ibu." ucap Delvin lembut sambil membelai rambut Nara dengan kasih sayang.
"Kak, apa aku juga harus bekerja?" tanya Nara polos.
"Jangan sayang, kamu masih kecil. Biar kakal nanti mencarinya lagi."
__ADS_1
"Kak, maafkan aku yang selalu merepotkan kakak." lirih Nara karna merasa bersalah dia belum bisa membalas kebaikan Kakak laki laki nya sekaligus pengganti ayah nya.
"Kamu tidak salah Ra, itu semua sudah tugas kakak sebagai anak tertua." lagi lagi Delvin berkata lembut sambil membelai rambut adik nya dan seketika ia teringat oleh Kyla.
Itulah kebiasaan Delvin jika Kyla sedang sedih ataupun menggemaskan, dia pasti membelai rambut atau pipi Kyla.
Ah sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Memikirkan nya hanya membuat ku sakit saja. Delvin.
Ia kembali berjalan menuju kamar ibu nya.
"Assalamualikum bu," ucap Delvin saat sampai di kamar ibu nya.
Dia mencium tangan sang ibu yang sudah berkeriput dan mengelus lembut tangan ibu nya. Ada air di pelupuk mata Delvin yang sedang terbendung. Rasanya Delvin ingin menangis saat melihat keadaan ibu nya yang semakin memburuk.
"Waalaikum sallam. Kau sudah pulang." jawab ibu dengan suara bergetar.
"Iya bu, apa ibu sudah makan?" tanya Delvin hangat.
"Sudah nak, Nara menjaga ibu dengan baik," ucap ibu sambil menunjuk Nara dengan ekor mata nya.
"Beristirahat lah, aku mandi dulu." ucap Delvin yang langsung berdiri dan menatap Nara. Seperti memberitahukan jangan bercerita apa apa soal dirinya di pecat dari kerjaan. Karna jika Ibu tau, dia akan memaksa untuk bekerja lagi.
Nara adalah seorang gadis cantik dan lucu yang baru menduduki bangku SD kelas 6. Dia sudah beberapa hari ini tidak sekolah karna dia harus menjaga ibu nya. Teman teman nya banyak yang mengajak Nara sekolah, tapi Nara menolak nya karna jika ia beranglat sekolah, lantas siapa yang akan menjaga ibu tercinta nya.
Dia pun sudah berfikir untuk berhenti sekolah, tapi keputusan itu di larang oleh Ibu dan Kakak nya.
*****
"Delvin aku ingin membantumu!" tegas Ed.
"Aku tidak butuh belas kasihan mu!" Delvin pun membalas nya dengan ketus. Tidak tahu kenapa hatinya sangat benci kepada laki laki di hadapan nya itu, walaupun dia tau Ed tidak bersalah.
"Kamu jangan menganggapku musuh mu, aku tidak sejahat itu kepadamu."
"Musuh tetap lah musuh, kau itu perebut wanita ku!" teriak Delvin yang sudah emosi.
"Aku tidak merebutnya, takdir yang menyatukan kita!"
__ADS_1
"Ah sudahlah, jadi kau mengajak ku bertemu hanya ingin pamer saja kau sekarang sudah mendapatkan Kyla, itu tidak penting, aku sudah melupakan nya jadi jangan pernah temui aku, dan jangan pernah ganggu kehidupan ku!" ucap Delvin sambil mengangkat jari telunjuk nya ke depan kening Ed.
"Delvin!" teriak wanita yang sudah terisak.
"Kyla!" ucap mereka berdua bersamaan.
Sebelum berangkat Ed memang tidak memberi tahu Kyla dia akan pergi kemana, dan dia pun tidak tahu jika Kyla mengikutinya.
Apa dia mendengarkan semua nya. Delvin.
Ed menghampiri istrinya dan menggenggam tangan istrinya erat karna tau apa yang di rasakan istrinya.
"Kau bilang, kau sudah melupakan aku?! Semudah itu kau melupakan semua nya, dan kenapa kau menjadi seorang pendendam sekarang! Ini bukan sifatmu." teriak Kyla yang membuat hati Delvin terasa sakit.
"Ma-maafkan aku, bukan seperti itu maksud ku," gugup Delvin.
"Sudahlah, aku tidal butuh jawaban mu, Ed ayo kita pulang." Kyla menarik tangan Ed dan langsung meninggalkan Delvin tanpa melirik nya kebelakang.
Hati Kyla sedikit sakit walaupun dia sudah ada rasa nyaman bersama Ed, tapi tetap saja rasa cinta nya kepada Delvin belum berkurang.
Sesaat sampai di Hotel tempat mereka tempati, Kyla langsung duduk diam di sofa dan menutup mata nya agar bisa menjaga emosi nya dan tidak terlihat menyedihkan di depan Ed.
Ed menghampiri istrinya dan memegang tangan Kyla dengan penuh kasih sayang.
"Menangis lah jika kau ingin menangis." ucap Ed sambil mengecup tangan Kyla lembut.
"Untuk apa aku menangisi nya, toh aku sudah mempunyai suami," ucap nya pelan.
Dia malu sendiri dengan apa yang dia katakan, sebenernya dia mulai membuka hati untuk Ed. Dia ingin melupakan semua kenangan nya bersama Delvin dan memulai hidup baru dengan suami nya.
Ed hanya tersenyum,
"Bersandarlah di pundakku."
Tanpa menjawab Kyla langsung memiringkan kepala nya dan bersandar di pundak suami nya.
"Terimakasih telah sabar menerima ku." lirih Kyla pelan.
__ADS_1
"Besok nanti kita akan pindah ke Apartemen ku." ucap Ed sambil mengelus kepala Kyla pelan.
Kyla merasakan ada kasih sayang yang mengalir dari sentuhan suami nya itu, dia berfikir apa Ed sudah menyukai nya. Saat hari pernikahan mereka sama sekali tidak saling mencintai begitupun Ed, dia juga belum mencintai Kyla karna mereka hanya baru pertama kali bertemu saat lamaran dan beberapa minggu kemudian mereka langsung menikah.