
Jumat,26 Juni 2020. Sekarang waktu menunjukkan pukul 23.45. Hari ini,tepat tiga minggu Nadin ada di Rumahku. Aku sengaja menjeda tulisan ini cukup lama. Bahkan Rencananya,Aku akan melanjutkan tulisanku sebulan sekali agar bisa mendapat banyak bahan untuk ku ceritakan. Tapi Batal karena suatu kejadian yang hari ini ku alami.
Hari-hari yang ku lalui sejak ada Nadin di Rumahku,terasa lebih menyenangkan. Maksudku adalah,ketika bangun pagi Aku selalu di sambut dengan wajah Nadin yang Cantik. Nadin juga sudah mulai Akrab dengan Ayah dan Ibuku. Nadin selalu menyibukkan dirinya membantu Ibuku di tempat Menjahitnya,memasak,Mencuci piring,dan berbagai pekerjaan Rumah.
"Randa..Nadin itu waktu di kota Dia Kerja atau Kuliah?"tanya ibuku saat Nadin sedang Mandi.waktu itu kayaknya sore,aku lupa tanggal dan Harinya.
"Kuliah Buk..kenapa nanya gitu?"Aku balik bertanya.
"Bukan apa-apa..Nak Nadin itu rajin sekali membantu Ibuk.takutnya Dia kecapean.kalau nggak biasa kerja.."kata ibuku mengungkapkan pandangannya soal Nadin.
"Kalau Dia capek,pasti Dia ngomong Kok Buk" kataku ke Ibuku.
"ahh..Kamu ini..Ibuk itu kadang berpikir Ran. Seandainya Nadin itu Mau jadi Mantu Ibuk"kata ibuku dengan menatapku serius.
"hahaha..Ibuk doain aja.Nanti Aku usahain dan coba ngomong ke Nadin siapa tahu Dia sepemikiran dengan Ibuk."kataku berbisik di telinga Ibuku. Ibuku tertawa senang mendengarnya.
Ayahku sebenarnya juga mau mengungkapkan hal yang sama dengan Ibuku. tapi Ayahku selalu punya caranya tersendiri.
"Randa.. Kalau caramu begini-begini aja, Kamu jangan harap bisa menjadikan Nadin isterimu."kata Ayahku saat Kami sedang berada di Kandang Sapi.
"Kok gitu Pak?kan Aku gak ngomong gitu"
"yaa..bisa jadi.. kan?. Kamu suka sama Dia.."
"Yaa..bisa jadi.." kujawab.padahal Iyya Aku memang suka ke Nadin.
"Kalau kamu Suka, kamu harus Utarakan itu ke Nadin. Jangan cuma diam."
"yaa..Harus sabar dong Pak."
"Nadin itu ya..sudah Cantik,Baik,Sopan sama Orang Tua,pokoknya Dia itu Calon Menantu yang sangat Baik menurut Bapak"
"Makanya Bapak juga Harus doain Aku biar bisa dapatin Hatinya Nadin"
Begitulah pandangan Ayah dan Ibuku tentang Nadin. Mereka mau kalau Aku menikah dengan Nadin. Dan Aku sendiri sebenarnya sangat setuju dengan itu. Tapi menurutku itu terlalu cepat dan Aku belum tahu bagai mana caranya untuk mengatakan itu ke Nadin. Apalagi jika Aku mengingat bahwa Nadin sedang dalam proses menyelesaikan Masalahnya yang sangat serius. Jadi Aku berpikir untuk lebih baik mencari cara untuk bisa membantu Nadin untuk menyelesaikan masalahnya,bertemu dengan Ayah kandungnya,dan kemudian Aku akan mengungkapkan perasaan Cintaku Padanya. Tapi bagai mana kalau Nadin malah dibawa pergi oleh Ayahnya dan tidak bisa lagi bertemu denganku?.biarlah waktu dan keadaan yang akan menjawab semua itu.
Ke esokan harinya setelah kami datang ke sini,Aku bangun Pagi-pagi. Dan langsung cucimuka,lalu bergegas keluar menemui Orang-orang yang ada di Ruang tamu. Di sana sudah ada Ayah,Ibu,dan Nadin yang sedang ngobrol sambil minum Kopi.
"selamat pagi.."ku sapa mereka.
"Pagi."jawab mereka bersamaan
"sekarang jam sembilan lewat tiga puluh menit. masih bisa di bilang pagi?"kata Ayahku meledek sambil tersenyum.
"Kan capek pak..kemarin perjalanan jauh"
"Yaudah..kamu sarapan dulu, Nanti temani bapakmu ke rumah pak Rt."kata Ibuku. "Sarapanmu ada di meja makan. Ibu sudah siapkan''
"Rama mana buk?"tanyaku,sambil berjalan mau ke meja makan.
"Udah sekolah dari tadi" kata ibuku.
"Kan Corona Buk.."
"Di sini mana ada Corona..kalian yang dari kota yang bisa jadi bawa ke sini"jawab ibuku
"ya nggak lah kan udah di periksa sebelum ke sini"Aku menjelaskan ke Ibuku.
"iyya tau..tadi Udah di ceritain sama Nadin"kata ibuku.
"Udahh...sana Sarapan dulu nanti temani Bapak ke Rumah pak RT."Kata Ayahku.
"Iyya pak..sekalian mau ketemu Beni" Aku bersemanagat Karena pak RT adalah Ayahnya Beni. Jadi, Aku pasti bisa ketemu Beni di sana.
Selesai sarapan Aku dan Ayahku pergi ke rumah pak RT. Kami ke sana menggunaka motor maticku. Di depan Rumah ku lihat Beni sedang mencuci motornya. Aku langsung menghampiri dan bersalaman dengan Beni.
"Eh...Kamu gak bawa Corona kan?"tanya beni dan langsung mencuci tangannya ke dalam ember.
__ADS_1
"yah Nggak lah..Ben."
"Bapak ada di dalam?" tanya Ayahku ke Beni.
"Ada Om.. Masuk aja."jawab Beni
"Aku di sini aja ya Pak"kataku ke Ayahku.
"Iyya...Kamu jangan ke mana-mana yah.."
"Iyya Pak. Cuma mau ngobrol kok sama Beni."
Ayahku masuk ke dalam untuk menemui Ayahnya Beni. Aku dan beni duduk di bangku di bawah pohon jambu depan Rumahnya.
"ada perlu apa Ran bapakmu nemuin pak RT?"Tanya Beni Dia memang selalu memanggil Ayahnya dengan sebutan pak RT.
"Itu..Bapak mau melapor kalau ada Tamu yang akan menginap lama di Rumah"
"Tamu siapa Ran?"
"Temanku dari Kota"
"ohh..Nanti malam ajak aja ke Lapangan"maksudnya lapangan sepak bola di kampungku. Semua anak Muda selalu nongkrong di sana apa lagi nanti,Karena malam Minggu. Lapangan pasti Ramai.
"Dia cewek Ben.."
"Apa?..Kamu pulang-pulang bawa Cewek?" Beni sangat Kaget mendengar ucapanku.
"hahaha..Panjang ceritanya Ben..Nati ku ceritakan kalo ada waktu"
"Gilak nih Anak..pulang Bawa cewek..Kamu gak nikah kan Ran?" tanya Beni. Sambil memegang Bahuku.
"yaa nggak lah masa nikah diam-diam. Kalau Aku nikah kan Harus ada kamu Ben.."Jawabku.
Tak lama kemudian Ayahku keluar dari Rumah. Dia langsung megajakku pulang.
"Iyya Nanti Aku kesana" kata Beni."Sekalian Mau kenalan sama Cewekmu"
"hahaha..Oke Aku pulang yah.."
Sampai di rumah,Aku langsung masuk ke dalam. Ayahku terus ke belakang Rumah katanya mau melihat kondisi kambingnya yang baru beranak.
"Udah pulang Ran?" kata Nadin saat melihatku. Dia dari kamarnya, dan sangat Cantik karena Sudah mandi.
"Iyya..sebentar Kok"
"apa kata Pak RT.?"Nadin bertanya.
"Gak tau kan Bapak yang ketemu Dia"
"Duuuh..gimana sih? Kirain kamu tau.." kata Nadin dan melangkah ke luar Rumah. Ahh Cantik sekali Nadin pas Dia bilang "Duuuh..".
"Mau kemana?"ku tanya Nadin Karena ku lihat Dia keluar Rumah.
"Ke depan sama Ibuk."katanya tanpa menoleh. Mungkin dia kesal karena Aku tidak membawa info apa-apa dari Rumah pak RT.
''Ohh..hati-hati kalo gitu"kataku tersenyum melihatnya.
"ihh..halo? Kan cuma berapa langkah tuh kesitu.."katanya dan langsung menoleh seperti yang ku harapkan.
"hahaha..maksudku nanti keseleo kan kita gak tau.."kataku sembil tertawa melihat Nadin yang sepertinya semakin kesal. Tapi dia tersenyum melihatku.
"nge doain hah?" katanya lagi.
"hahaha...bukan gitu..udah sana Ibuk dah nungguin tuh."
Aku masuk ke dalam kamarku untuk menyipan kunci motor. Setelah itu Aku keluar lagi. Dan langsung menuju ke Gardu tempat Ibuku menjahit. Disana sudah ada Ibuku dan Nadin yang sedang duduk entah sedang bicara apa. Kulihat mereka tertawa Riang. tapi kemudian mereka terdiam saat aku datang.
__ADS_1
"Lagi ngapain Bu.."aku bertanya saat sudah ada di dalam. Sambil menyalakan rokok lalu duduk di kursi yang ada di situ.
"Lagi ngomongin kamu hahaha.."Nadin yang menjawab.
"Ohh.. gak apa-apa. yang bagusnya aja ya Bu.."kataku santai."Tapi gak baik loh... ngomongin orang yang gak ada di tempat"
"kayaknya kurang kerjaan deh kalo ngomongin Kamu.."kata Nadin.
"hahaha..emang lagi gak ada kerjaan kan?"kataku.
"Tadi apa kata pak RT nak?"tanya ibuku.
"gak tau Bu..Aku nggak masuk ke dalam..Bapak tuh yang ketemu pak RT. Aku di luar ngobrol sama Beni"jawabku.
"Looh..Kok gitu..Kan Nadin sama ibu jadi penasaran" kata Ibuku.
"Tau tuhh Buk..Kirain Dia tau"kata Nadin ke Ibuku.
"Nanti aja tanya ke Bapak" Ku katakan ke mereka.
"oh iyya Bapak kemana ya?"tanya Nadin.
"Ke kandang katanya mau lihat Kambingnya yang baru beranak"ku jawab.
"kesana yuk?"Nadin mengajakku.
"Kamu mau?"ku tanya balik.
"Gak usah ke sana nak.. di sana kotor nanti Nadin lecet"kata ibuku.
"hahaha..iyya buk sayang kalo lecet masi baru.."Aku tertawa mendengar Ibuku.
"apaan sih..emang Aku barang hahaha"Nadin ikut tertawa.
"Kamu benaran mau ke sana?"ku tanya sambil memandang Nadin.
"Iyya..sekalian mau nanya ke Bapak"kata Nadin.
"Yaudah ayok"ku ajak Nadin sambil membuang puntung rokokku ke luar."sekalian olah raga yah.."
"Gak usah lama-lama yah di sana.."pesan Ibuku saat Kami sudah ada di luar bersiap untuk pergi.
"iyya buk sebentar Kok"ku jawab Ibuku.
"jalan dulu yah Buk"kata Nadin.
"Iyya hati-hati"
Kandang kambing dan sapi Ayahku tidak terlalu jauh kira-kira lima ratus meter dari pagar belakang rumah. Melewati jalan setapak masuk ke dalam melewati pohon bambu yang Rimbun,mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi,dan diatas bukit itulah kandang kambing dan sapi milik ayahku.jika terus kesana dan turun dari bukit itu, maka akan kelihatan Sawah ayahku yang cukup luas.
"Masih jauh Ran?"nadin bertanya sepertinya Dia kecapean karena kondisi jalan yang memang sedang berlumpur.saat itu kami sudah melewati pohon bambu,dan akan mendaki ke atas bukit itu.
"Udah dekat kok..habis mendaki bukit ini,kita turun ke bawah,jalan lurus.. terus mendaki gunung yang itu, turun..kemudian naik rakit melewati sungai yang banyak buayanya...di seberang sungai itulah kandang kambing Bapak" kataku bohong,sambil menunjuk gunung yang ku maksud. Seolah-olah jalannya masih sangat jauh.
"ihh jauh yah...Ya udah balik yuk?"kata nadin sambil melap keringat yang jatuh dari pelipisnya.
"kan tadi ibu Udah bilang gak usah ke sana..tapi Kamu gak mau dengerin"kataku sambil terus berjalan dan sudah ada di atas bukit kandang kambing ayahku sudah terlihat dari sini. Nadin terus mengikutiku dari belakang.
"Aku pikir gak sejauh itu.."kata Nadin yang belum sadar kalau Sedang Aku Bohongi.
"Gimana kalo kita istirahat dulu di pondok itu.."kataku sambil menunjuk pondok tempat Ayahku biasa istirahat."kita ngumpulin tenaga sebelum mendaki gunung itu."
"Iyya..ayok.."jawab Nadin.
Di pondok itu ternyata sudah ada Ayahku yang sedang duduk beristirahat.
"Oh..Bapak lagi istirahat juga?"kutanya ayahku saat kami sudah sampai.
__ADS_1