Lalui Bersama

Lalui Bersama
#16


__ADS_3

Hari-hari seterusnya,berjalan dengan baik. Tidak ada masalah yang kami lalui sejauh ini. Kami hanya menjalani hari seperti biasanya sebagaimana manusia hidup.


Aku selalu mencari kesempatan untuk sekedar bisa ngobrol dengan Nadin. Dan kayaknya begitu juga sebaliknya. Aku merasa bahwa dari hari ke hari kami semakin dekat. Dan sepertinya Kami Saling membutuhkan untuk menjalani hari dengan menyenangkan. Walaupun kadang Nadin menjadi kesal karena ku jahili, tapi akan tersenyum kembali seperti yang selalu ku harapkan.


Aku selalu ingin melihat Nadin tersenyum. Dan berusaha untuk itu.


"hey..!!"kusapa Nadin dengan maksud mengejutkannya yang melamun di teras rumah.


"ih..ngagetin ah.!"


"jangan melamun.."


"nggak melamun kok"


"lomba lari yuk?"kataku."biar gak bosan.."


"hahaha..gak ada ide Lain? Panas soalnya.."kata Nadin. waktu itu kayaknya jam satu siang dan cuacanya memang panas.


"kalo...Kawin lari gimana?"kataku sambil tersenyum melihat Nadin.


"hahaha..Apa!?.. Kamu mau?"Nadin sedikit kaget dengan yang ku katakan dan langsung melihatku.


"Hahaha..ya kan.. gak bisa lomba lari,kenapa nggak kawin lari aja..?"kataku tertawa melihat ekspresi Nadin.


"hahaha..tapi kan konsepnya gak gitu Ran.."


"hahaha..kirain bisa gitu.."kataku


"emang kamu mau kawin Lari?"Nadin bertanya sambil memandangku tersenyum.


"Kalo iyya kenapa?"aku balik bertanya.


Nadin mendekatkan kepalanya."ajak Sita, pasti langsung.."katanya berbisik."hahahaha.."kemudian tertawa.


"hahaha..kita tunggu Dia pulang kerja dulu.." kataku tertawa mendengar Nadin.


"ih benaran Mau?hahaha"


"yah nggak lah.."


Setiap hal yang Aku lakukan seakan memang hanya untuk sekedar bisa melihat Nadin tersenyum dan kalau bisa tertawa. Aku sangat berusaha untuk itu.


"Jalan-jalan yuk?"ku ajak Nadin di suatu Sore.


"ayo..kemana?" Dia bertanya.


"ke Mesir mau gak?" Aku balik bertanya.


"Mau..kan kemanapun yang Kamu suka Aku akan Ikut.."katanya "Ingat?"


"Iyya.. Ingat Kok.."kataku karena memang ingat. Dia pernah bilang itu, waktu di Rumah sakit. "jalan-jalannya di sekitar sini aja deh..Gak ada ongkos kalo mau ke Mesir.."


"hahaha..Kan itu Usulmu.."Nadin akhirnya tertawa dan itu memang adalah targetku.


"Yuk?"ku ajak Dia dengan menarik lengannya ke luar rumah.


Ku bonceng Nadin dan ingin membawanya ke Sungai tempatku waktu kecil untuk mandi dan berenang bersama teman-taman.


"Wah..bagus sekali Ran.. pemandangan di sini..kenapa gak dari dulu kita ke sini".kata Nadin saat kami sudah duduk berdua di bawah pohon di pinggir sungai. Jauh di sana ada pak Wandi di atas Rakitnya sedang memancing. menambah indahnya pemandangan seperti di lukisan.


"Aku baru ingat.."kujawab. Sambil menyalakan Rokokku.


"wah..Aku mau ah..kalo punya Rumah di sini.."Kata Nadin lagi. Kayaknya dia sangat terpesona dengan pemandangan di depannya.


"Kamu Suka?"Kutanya Nadin.


"Suka bangat..."katanya"I love it"


"Pulang yuk?"kataku ke Nadin.


"ih..kan baru datang Ran!!" Nadin sedikit berteriak dan melihatku sampil mengerenyitkan dahinya.


"Aku cemburu... Kan yang ajak Kamu ke sini Aku...Kok kamu malah jatuh Cinta sih sama pak Wandi?"kataku sambil menahan tawa.


"pak Wandi?"Nadin bingung dengan perkataanku.


"iyya.. itu yang lagi mancing, Namanya Pak Wandi.."kataku menunjuk ke arah pak Wandi.

__ADS_1


"hahaha...bukan itu maksudku Ran..yang Aku suka itu.. pemandangan di sini, bukan pak Wandi.."kata Nadin. Dia tertawa saat mengerti akan maksud ucapanku tadi.


"tadi Aku Nunjuk pak Wandi.. pas nanya Kamu Suka?..kamu bilang Suka bangat.."


"Bohong!! Kamu gak nunjuk apa-apa.."kata Nadin. Karena memang Aku tidak menunjuk pak Wandi Tadi.


"Aku Nunjuk pake Mata Din.."kataku sambil menggerak-gerakkan bola mata.


"hahaha...ada-ada aja.."


Kami duduk di sana sampai matahari hampir terbenam. Nadin akhirnya mengajakku pulang.


"pulang yuk?"kata Nadin.


"Kan? bosan sendiri.."jawabku.


"Aku gak bosan.. tapi kan..udah sore..gimana kalo ibu nyariin?"


"bilang aja dari Qatar..masuk akal kalo kita telat.. kan Jauh.hahaha.."Ku jawab Nadin sambil berdiri dan mulai melangkah pulang. Nadin mengikutku dari belakang.


"hahaha....Nanti Dosa..kan gak boleh bohong ke orang tua"Nadin tertawa dan Aku senang mendengarnya.


"kamu bilang,..Ibuku tua? Hah?nanti ku laporin.."kataku seakan tidak terima ucapan Nadin.


"ehh..Aku gak.. Ngomong gitu..jangan lapor sembarangan dong.."Nadin memukul pundakku.


"Hahaha..Ayo kita pulang"kujawab sambil tertawa melihat Nadin yang jengkel.


Kami pulang ke Rumah saat matahari sudah benar-benar sudah hampir tenggelam dan hanya menyisakan cahaya jingga di langit Barat di belakang Kami.seperti Aku yang Sudah mulai tenggelam dalam Cinta kepada Nadin, yang Entah kapan Akan bisa ku sampaikan Kepadanya.


Di motor, Aku benar-benar Kaget dan masih tidak percaya dengan yang ku Alami. Tampa angin,tanpa Hujan,Nadin memelukku sangat Erat. Dia menempelkan pipinya di punggungku seolah tak ingin melepasku.


Aku tidak bereaksi hanya melongo dan berpikir apa yang sedang terjadi?apakah aku mimpi?ku cubit tangan kananku,seperti sedang membetulkan lengan baju,dan sakit..ini nyata.


Mataku tidak sengaja melihat ke kaca spion motorku..dan lihat..kira-kira 50 meter di belakang, ada pengendara lain. yang melihat kami, pengendara itu masih dengan seragam kerjanya,dan dia pasti baru pulang. Yah..tebakanmu benar..itu Sita.


Apakah Nadin memelukku dengan Romantis, hanya untuk menunjukkannya ke Sita? Huh..Aku sudah salah sangka. Aku kira itu tulus.


Tapi tunggu...saat aku menoleh ke belakang, Nadin tertidur..apakah dia melihat Sita? Nadin membuka matanya.


"ada apa Ran?"katanya..


"Iyya ngantuk.."


Nadin kembali memelukku dan meletakkan pipinya kembali di tempatnya, yaitu punggungku.


Kami Sampai di Rumah. Nadin turun dari motor. Kemudian ketika kami saling pandang Dia tersenyum sangat Manis. Dan Aku baru sadar Kalau Nadin terlihat lebih Cantik jika sedang mengantuk seperti itu.


Momen itu rusak karena Sita juga Sudah masuk ke Halaman. Nadin langsung menoleh. Dia sepertinya Kaget melihat Sita. Dan cepat-cepat pergi dari Situ,dan menghilang ke dalam Rumah.


Aku juga langsung turun dari motor. Dan entah mengapa Aku enggan menyapa Sita. Mungkin gara-gara mendengar Cerita Nadin kemarin. Aku malengkah terus tanpa melihatnya.


"Randa.."ah..Dia malah menyapaku.


"kenapa Sit.."ku jawab dan menoleh ke Dia. Aku nggak boleh sombong..Ibuku akan marah kalau Aku sombong. Apalagi Ayahku."baru pulang?" kucoba untuk Ramah. Percayalah Ramah akan terasa menjengkelkan, saat Kau melakukannya dengan terpaksa.


"Iyya..kamu dari mana?"


"Jalan-jalan Sama Nadin"kujawab jujur.


"Aku boleh bertanya?"


"kenapa nggak Sit..Silahkan" sudah ku panggil "Sit" dua kali, tapi Sita tidak Marah dan malah mengajakku bicara. Aneh ternyata selama ini Dia hanya...ah entahlah Aku tidak tau apa Namanya.


"Nadin itu pacarmu?"


"Harus ku jawab yah..Sit.."tiga Kali.


"yah..gak apa-apa sih kalo memang udah."


"Udah gimana Sit.."empat kali. Aku pasti menjengkelkan buat Sita. Tapi, cerita Nadin kemarin,seakan menghilangkan Rasa bersalahku.


"udah pacaran maksudku hehehe.."


"Belum kok Sit.."lima kali. Aku hanya tersenyum.


"tapi ku lihat tadi Kalian mesra bangat.."

__ADS_1


"hahaha Biasa aja Sit.."enam kali. Tadinya Aku mau bilang "Irih kan Sit? Makanya jangan sok mutusin" tapi gak mungkin Aku selalu menghargai orang apalagi Cewek.


"ohh..yaudah Aku pulang yah.."


"Oke Sit..sampai jumpa.."


Setelah Sita pergi Aku jadi merasa tidak enak dengan Sikapku ke Sita tadi. Tapi ah..Cerita Nadin Kemarin langsung menghapus rasa Tidak enak itu.


Aku masuk ke dalam. dan kulihat Nadin, duduk di Ruang tamu.


"nggak tidur Din?"aku bertanya.


"nggak.."jawab Nadin


"kan tadi di jalan Kamu ngantuk"


"nggak jadi ngantuk"


"Kok bisa gitu?"Aku bertanya lagi


"Kamu liat Sita tadi,waktu naik motor?"Nadin balik bertanya.


"Iyya..Liat di spion"


"Duuhh..kenapa nggak ngomong Ran.."kata .Nadin


"Kenapa?"


"Aku jadi nggak enak..pasti dia Marh banget.."


"jadi kamu tidak melihatnya?"


"Tidak..aduhh..gimana ya?"


"Udah gak usah di pikirin..Sita juga nggak mikirin perasanmu Kok.."kataku ke Nadin.


"hemm..Aku jadi ngantuk lagi Ran.."kata Nadin lembut dan memandangku.


"Nih..peluk aja gak apa-apa kok.." kataku sambil membelakanginya,dan membuat posisi seakan sedang di atas motor.


"hahaha..Maunya aja di peluk..ih modus"kata Nadin dan memukul pundakku.


"hahaaha kirain."


Nadin menggeser duduknya lebih dekat dan memelukku yang masih membelakanginya. Kemudian menempelkan pipinya di pundakku.


"Makasih yah.."


"Din?..hemm..iyya sama-sama ku angkat tanganku,dan mengelus kepalanya pelan."


Aku terkejut Nadin benar-benar memelukku, dan tidak ada Sita di belakang Kami. Ini pelukan yang sudah bisa di pastikan Tulus seratus persen. Apakah akan ku ungkapakan perasaanku sekarang?.


Ahh..Lagi-lagi momen itu rusak karana motor Rama masuk ke halaman. Nadin melepas pelukannya. Rama masuk ke Rumah, di ikuti oleh Ayahku.


"wah Dari mana nih?"itu adalah bentuk sapaanku untuk mereka yang baru datang. Keluargaku, walaupun tinggal di kampung, tapi memang bukan keluarga yang formal bangat.


"Biasa anak muda.."Ayahku yang malah menjawab."nyari Mangga Bagus.hahaha"


"hahaha.."semua tertawa.


"Ibuuuk!!"Aku berteriak. Seakan memanggil Ibuku.


"ehh..jangan ngomong ke ibu.."kata Ayahku.


"Bapak sih terlalu jujur."kata Rama seakan mereka memang betul dari mencari mangga bagus(cewek cantik).


"Kenapa Ran?"Ibuku datang. Ku lihat Nadin menutup mulutnya dengan tangan karena menahan tawa.


"Bapak nggak dapat mangga buk uda habis.."Ayahku yang malah menjawab.


"Hahaha" Kami semua tertawa..Ibuku tidak.


"siapa yang suru nyari mangga..kan Ibu bilang asam mangga.."kata ibuku.


"ada kok Bu nih.." kata Rama..mengeluarkan Asam mangga dari balik jaketnya. Ternyata semua sudah di rencanakan oleh Ayahku Dan Rama.


Rama dan Ayahku memang dari pasar. Tadi Ibu menyuru Rama,membeli Asam mangga untuk masak ikan. Dan Ayah ikut karen ingin membeli pakan Ayam untuk Ayam jagonya yang di kurung di Kandang belakang Rumah.

__ADS_1


Ayah menjelaskan semuanya setelah ibuku kembali ke Dapur.


***


__ADS_2