Lalui Bersama

Lalui Bersama
#17


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba(hari ini). Hari UlangTahun Rinto. Aku dan Nadin akan pergi ke acaranya. Tadi siang, aku sedang tidur di kamarku.


"Randa..bangun..hey.."Nadin membangunkan ku. Aku selalu marah kalau ada yang membangunkanku tapi karena itu Nadin yang cantik, mana mungkin aku marah?..


"Kita mau bikin Kado apa untuk Rinto?"Nadin bertanya saat aku sudah duduk.


"aku juga belum kepikiran nih Din.."ku jawab Nadin."Kamu ada ide Gak?"


"nggak juga..apa yah?"Nadin malah bertanya juga.


"Kita ke pasar yuk?jalan-jalan siapa tau ada inspirasi.."ku ajak dia.


"hemm Ayo..sekarang?"


"kita nunggu bapak dulu..nanti dia yang pergi sama kamu.."


"oh..gitu yah..aku nanya ke ibu dulu.. bapak ke mana yah?"kata Nadin seperti pura-pura bego.


"udah sana siap-siap..aku juga mau ganti baju.."


"nggak mau ah..disini aja mau liat kamu ganti baju.."


"ohh..gak apa-apa kok"


Aku langsung membuka bajuku sambil tersenyum melihat Nadin.


"hey..!! Kok di buka bajunya?"Nadin menjerit dan berlari ke arah pintu.


"hahaha..kan mau ganti.."Aku tertawa melihatnya.


"ih..tunggu aku keluar dulu.."


"Kan mau liat.."


"iihh nggak lah.."


Nadin berlari keluar dari kamar ku. Tadi ku lihat pipinya merona. Aku dan Nadin memang sudah sedekat itu..Memang, kami belum secara resmi,mengikat diri dengan status berpacaran. Belum ada pihak yang menyatakan itu.


Tapi bagiku,menyatakan Cinta kemudian pacaran,sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah, Aku dan Nadin sudah mersa nyaman jika berada di dekat satu sama lain.


Kurasa kami memang saling membutuhkan, dan pasti akan rindu untuk bertemu,jika memang harus berpisah. Tapi semoga itu tidak terjadi.


Beberapa hari yang lalu, Aku pulang lewat tengah malam. Saat masuk ke rumah, ku dapat Nadin tertidur di Ruang tamu. Saat ku bangunkan, dia langsung memelukku. Dan bertanya,kenapa aku pulang selarut itu?.


Menurutku itu sudah jauh di atas level orang yang berpacaran. Untuk apa menunggu di kursi sampai tertidur? Dari semua film yang pernah aku tonton, tindakan itu hanya di lakukan oleh isteri kepada suami, dan sebaliknya. Atau,orang tua untuk anaknya, dan sebaliknya juga.


Aku pernah menonoton sih..seorang sahabat yang juga melakukan itu..tapi itu film komedi..dan menurutku itu hanya untuk menambah nilai lucu dari film tersebut. dan pasti tidak terjadi di kehidupan nyata. Atau ada yang mengalaminya langsung? Kurasa tidak. Sudah..jangan berdebat.


Kita lanjut. Aku dan Nadin pergi ke pasar. Kami berkeliling, dan tidak menemukan apa yang di cari. Bahkan belum tahu apa yang kami cari. Hari sudah mulai sore.


"Makan aja yuk?"ku ajak Nadin.


"hah? Kan belum dapat apa-apa? Kok malah mau makan?"


"perut yang kenyang,membuat pikiran lebih tenang.."kujawab Nadin sambil tersenyum.


"oh gitu yah..oke. kita makan dulu.."

__ADS_1


Kami masuk ke salah satu warung makan, dan memesan bakso di situ. Nadin sangat menikmati makanannya. keringat bercucuran di beberapa bagian dari wajah cantiknya. Ditambah bibir yang memerah karena sambal yang pedis di meja warung itu. Ah..Cantik sekali.


Karena melihat pemandangan indah di depanku, kuhentikan makan dan hanya Memandang Nadin sambil mengaduk-aduk bakso di depanku.


Sadar ku perhatikan, Nadin memperlambat makannya. Dia tersipu malu Dan mengambil tissu di meja,lalu mengelap keringat di pipinya.


"Kok nggak makan?" Nadin bertanya.


"makan kok.."ku jawab sembil menyendok kuah bakso di mangkokku,lalu mengarahkannya ke mulut.


"Ngapain liat-liat Aku makan?" Nadin bertanya lagi,sambil terus memakan Baksonya tapi lebih lambat dari yang tadi."Aku makannya Rakus yah.."


"Nggak kamu nggak rakus kok..biasa aja."ku jawab Nadin. "Mas.. Dia Rakus gak sih makannya?"ku tanya yang punya warung. Yang lewat di dekat kami. Membawa piring kotor dari meja pelanggan.


"hahaha..nggak tau..kan mas yang liat tuh beradapan.."kata pemilik warung itu. Lalu Dia pergi.


"Hey..apaan sih..Malu tau..ih.."Nadin berhenti makan dan menyingkirkan mangkoknya ke samping.


"hahaha..Mau nambah?"kutanya Dia.


"nggak..udah kenyang."Jawab Nadin.


"huh..panas yah.."Nadin kipas-kipas dan terus mengelap keringat di wajahnya.


Aku menatap Nadin lama..wah..Dia benar-benar Cantik..apakah Aku pantas memiliki Gadis secantik itu? Mau kah Dia jadi pacarku? 'Nggak tau kan belum nanya'


"hey!!..ngapain melamun?"Nadin mengagetkanku yang masih memandangnya.


"Din..Kamu Cantik..Aku Suka.."kata-kata itu meluncur dari mulutku dengan berlahan tapi pass pada sasaran yaitu Dia yang duduk di depanku.


"Hah..?Ran..tunggu..heemm.."Nadin seperti panik. Dia mengambil air lalu meminumnya."Kamu bilang Apa tadi?" dia memintaku mengulang apa yang tadi ku katakan.


Nadin melihat sekeliling. Dia tidak melihat ada orang,memang tinggal Kami berdua pelanggan di warung itu. Kemudian Dia menatapku, lalu tersenyum.


"Randa..kita bukan anak SMA lagi..Aku sudah tahu itu, Dari saat pertama kita ketemu di Halte itu."kata Nadin pelan. Aku masih diam karena belum mendapat jawaban yang ku inginkan."Kamu suka? Sama Aku? Kan?"


"Iyya Din.."


"Tapi kamu Cinta nggak sama aku?"


"Cinta Din.."


"Aku tidak akan menolak Cintamu Ran..itu hakmu..terima kasih..tapi, apakah Aku pantas untuk Cinta itu?"


"kenapa ngomong gitu Din?"


"Randa..Aku tahu kamu tulus..jadi aku tidak mau menyakitimu. Maaf Aku tidak mau hubungan kita lebih dari ini. Aku sudah sangat nyaman Ran.. menjadi Adikmu..tolong jangan rusak itu.."


kemudian Nadin berdiri, membungkuk ke Arahku dan mencium pipiku.


"pulang yuk?"katanya sambil senyum. Tapi aku lihat matanya berkaca-kaca. Aku tahu jawabanya tidak seharusnya seperti itu.


Setelah keluar dari warung, Nadin kembali ke dalam katanya mau ke toilet. Lumayan lama, kemudian dia kembali. Aku tahu dia pasti menangis. Mata sembabnya tidak bisa menutupi senyum palsunya.


Setelah berkeliling lagi, kami akhirnya membeli sepatu untuk Kadonya Rinto. Kemudian kami pulang ke rumah.


Di perjalanan tidak ada kata-kata yang keluar. Aku berkendara,dan Nadin duduk di belakangku. Dia memelukku, pipinya di bahuku, tapi dia menolakku tadi. Ahh..ada apa ini?.

__ADS_1


Aku masuk ke kamar,lalu duduk di tepi ranjangku. Aku memegang kepalaku dengan kedua tanganku. Aku masih tidak puas dengan jawaban Nadin tadi. Ahh..aku juga baru ingat, Aku pernah menonton film, Adik yang menunggu kakaknya sampai tertidur di ruang tamu.


Tapi apakah hubunganku dengan Nadin sama dengan itu?. Kalau iyya, Berarti selama ini, Aku yang berhayal terlalu tinggi. dengan menganggap kami sudah lebih dari pada itu.


Lalu, kenapa Nadin menagis tadi? Apakah kemungkinan jawaban yang ku dengar, tidak sama dengan isi hati Nadin? Atau mungkin Nadin menangis Karena Kasihan melihatku yang bodoh ini?.


Kurasa,kemungkinan pertama yang sebenarnya terjadi. Mungkin ada alasan bagi Nadin untuk menolakku Hari ini. Hemm..Nadin Aku MenCintaimu. Dan akan berusaha untuk mendapatkan juga Cintamu.


Setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibuku, Aku dan Nadin berangkat ke acara ulang tahunnya Rinto.


Aku dan Nadin sudah biasa-biasa saja dan berusaha untuk melupakan kejadian tadi sore. Tapi sulit. aku seakan sedang beracting bahwa Aku baik-baik saja. dan melupakan,bahwa Nadin sudah menolak untuk menjadi kekasihku,dengan alasan nyaman menjadi Adikku.


Tidak ada lagi kata-kata candaan yamg mampu ku keluarkan untuk membuat Nadin tersenyum.


"udah siap semua?"kutanya Nadin saat kami sudah ada di motor.


"udah nih kadonya..tadi udah aku bungkus."


"oke yuk?"


"ayo.."


Kemudian cuma itu..kami naik ke motor,lalu pergi ke rumah Rinto. Ahh..Randa..mana kata-kata garing tapi mampu untuk membuat nadin selalu tersenyum? Atau kata-kata menjengkelkan yang selalu membuat Nadin menjadi kesal. Tapi kemudian membuatnya tertawa lepas setelah itu?.


Tidak ada. Aku seakan kehilangan ide-ide gila untuk itu. Aku menjadi bodoh,dan semoga tidak selamanya.


Nadin yang di belakangku juga diam seribu bahasa. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seandainya ada, kemungkinan Aku bisa mendapat ide untuk mengubah suasana menjadi lebih riang.


'kok malah nyalain Nadin sih?'kan mungkin dia juga sedang merasakan apa yang kurasakan sekarang. Harusnya Aku bisa mengerti itu.


Apakah Nadin bisa melihat perubahan sikapku? Apakah Nadin bisa melihat kemurunganku? Apakah Nadin menjadi yidak nyaman di Dekatku?


Hanya itu pertanyaan yang memenuhi kepalaku sekarang. Aku rasanya ingin memutar waktu, dan tidak menyatakan cintaku pada nadin tadi. Mungkin keadaannya tidak akan seperti sekarang.


Atau mungkin lebih jauh lagi, Aku ingin memutar waktu sampai aku tidak pernah bertemu dengan Nadin, dan lalu jatuh Cinta padanya.


Nadin ada dekat di belakangku,sedang memelukku, dengan pipinya yang menempel di bahuku. Hal yang selalu membuat Aku nyaman. Tapi entah mengapa, sekarang itu adalah hal yang paling menyiksaku malam ini.


Yah..Nadin memang sangat dekat di belakangku.. tapi rasanya Dia tidak ada di situ. Aku merasa sedang mengendarai motor sendiri, dan Nadin entah dimana sangat jauh. Bahkan lebih jauh dari Matahari yang sudah tenggelam.


Akhirnya, kami sampai di rumah Rinto. Didalam sudah ada banyak sekali orang. Kami belum masuk ke dalam. tapi,Aku menebak karena ada banyak sekali motor di halaman Rumah Rinto.


Untung acara ini di kampung jauh dari perkotaan. kalau di kota, pasti sudah di bubarkan karena akan menjadi tempat penyebaran Covid.


"Masuk yuk?"ku ajak Nadin.


"iyya nih helmnya.."


"Oh iyya.." kuambil helm itu, lalu meletakkannya di motor.


"kadonya?."


"Sini Aku yang bawa."


"oh iyya..nih"


Kuambil kado itu,kemudian cuma itu percakapan kami. 'Ahh..aku jadi tidak bersemangat menulisnya' tapi, mau bagai mana lagi? Itulah yang terjadi.

__ADS_1


Aku melangkah ke dalam,dan Nadin ikut di belakangku. Semoga di dalam sana, aku bisa melihat keceriaan. dan berharap, keceriaan itu merasukiku agar bisa ikut merasakannya di hari bahagia sahabatku Rinto.


***


__ADS_2