Lalui Bersama

Lalui Bersama
#5


__ADS_3

Aku sampai di Rumah sakit,pukul 18.30. Aku sedikit telat, karena tadi mampir ke kost untuk mandi dan ganti baju.


setelah ku parkir motorku,aku langsung menuju ke ruangan tempat Nadin di rawat.saat aku masuk,didalam sudah ada 2 orang yang belum ku kenal. yang cewek,duduk di tepi Rosban dekat Nadin, dan yang cowok,duduk di kursi tempat aku biasanya duduk.mereka semua,termasuk Nadin, menoleh ke arahku bersamaan saat menyadari ada orang yang membuka pintu.


"permisi..oh..ada tamu..sorry" aku langsung berbalik hendak keluar ruangan.


"Hey!! jangan pergi..masuk aja sini ku kenalkan Kau dengan mereka"Nadin memanggilku.


Aku melangkah kembali kesana dengan malu-malu..kuletakkan buah-buahan dikeranjang yang kubawa keatas meja. dimeja itu, juga sudah ada buah-buahan sama seperti yang ku bawa pasti itu di bawa kedua orang itu.tadi aku membelinya dalam perjalanan ke Rumah sakit.lalu aku duduk di kursi yang di dekat meja itu.


"sini Ran..angkat kursi itu kamu duduk di sini"kata Nadin saat aku sudah duduk.kuangkat kursi itu,dan meletakkan di tempat yang Nadin maksud,yaitu di sebelah kanannya.aku berhadapan dengan cowok tadi, dan yang cewek masih duduk di tempatnya di sebelah kiri Nadin.


"mereka temanku..kenalkan yang cantik ini namanya Sinta, dan itu pacarnya,Kak Ando."


Kata Nadin.kemudian, menunjuk mereka bergantian.Aku langsung berdiri dan menyalami mereka dan menyebutkan namaku,mereka juga.


"Dia yang tadi ku ceritakan,"kata Nadin ke mereka berdua sambil menunjukku dengan jempolnya.


"makasih ya Ran,kamu sudah menyelamatkan sahabatku yang bodoh ini"kata sinta ke aku.sambil mengacak-acak rambut Nadin.


"yaa..kebetulan Aku bertemu Nadin di halte depan mall tempat Aku bekerja"jawabku.


"Kami mencarinya dari kemarin.dan tadi pagi hpnya baru bisa di hubungi."kata Ando ikut bicara.


"kemarin aku juga nelpon Sinta ,tapi gak aktif Aku pake hpnya Randa,karena hpku batrenya habis"kata Nadin."yakan Ran?"


"iyya" ku jawab Nadin.


Setelah kami berbincang-bincang,cukup lama, dan akhirnya.. Aku tahu kalau Sinta adalah teman Nadin dari SMA, Dan sekarang,mereka kuliah di kampus yang sama.sedangkan Ando, adalah senior mereka di kampus dan Dia,baru pacaran dengan Sinta.Aku juga mendapat informasi, kalau Nadin tiba-tiba gak masuk kampus dari hari Rabu dan hilang entah kemana,dan tidak ada di rumahnya,dia menghilang,dan akhirnya bertemu denganku di halte itu. setelah cukup lama kami bercerita ini-itu,yang tidak terlalu penting,Ando dan Sinta pamit,untuk pulang.Sinta memeluk Nadin sebelum pergi,dan mencium keningnya.


"Ku titip sahabatku ya Ran." kata Sinta padaku sebelum pergi.


"Oke siap.."kataku dengan mantap dan meyakinkan Sinta kalau Nadin pasti akan baik² saja.


Kuantar mereka keluar sampai depan pintu,dan setelah mereka berlalu,Aku kembali ke Dalam untuk menemui Nadin.


"Kamu udah baikan kan Din?".aku membuka percakapan saat sudah duduk kembali di tempatku.


"iyya..aku udah sehat kok.dan kalau di izinkan,Aku sebenarnya sudah mau keluar dari sini"jawab nadin,dan sepertinya itu benar karena Suaranya terdengar sangat bersemangat. Aku memperhatikannya dari tadi saat kami ngobrol dengan Sinta, dan Ando.


"jadi, apa rencanamu kalau sudah keluar?"tanyaku lagi.


"entahlah Ran, Aku juga gak tau"jawab Nadin.


"Gak kepikiran pulang ke rumah?"


"Sebelum si brengsek itu mati aku gak akan pulang"raut wajah Nadin tiba-tiba berubah sangat kesal entah ke siapa.


"maaf Din,Aku ,Aku cuma asal ngomong aja"aku sedikit panik melihat Nadin yang tiba-tiba Marah.walau pun Aku tahu marahnya pasti bukan ke Aku. tapi, ke "si brengsek"yang Dia maksud.


"gak apa-apa Ran,kan salah ku juga gak cerita ke Kamu"katanya kemudian saat melihat aku ketakutan.


"iyya Din..sahabat kamu aja Sinta, kayaknya belum tahu maslah yang sedang kamu alami ini..Siapa Aku? yang berhak tau duluan."aku berkata sambil senyum untuk mencairkan suasana yang mulai tegang.


"Tapi kayaknya sekarang Aku harus cerita ke kamu Ran"kata Nadin tiba-tiba.."Kamu yang udah nolong Aku..yaa setidaknya kamu tau,Kamu nolong Aku dari masalah apa.."


"yaa..Aku menolongmu karena kamu sakit..jadi Aku membawamu ke sini..dan..karena kamu mau hidup,dan tidak jadi mau bunuh diri hehehe.."


"tapi kurasa,Kamu gak tau kenapa aku sampai mau bunuh diri kemarin.."


"yaa..itu mungkin karena kamu..sedang dalam masalah yang betul² berat Din..jadi,kalau kamu merasa itu tidak akan mengganggu kesehatanmu,dan percaya untuk menceritakan itu ke Aku ya..Dengan senang hati Aku akan mendengarkan dan jika Aku memang harus menolongmu..yaa kenapa tidak?"


"tapi Kamu harus janji, tidak akan menceritakan ini ke siapapun.termasuk Dr.Willyam apalgi Sinta Dia gak boleh tau. ok?"


"iyya Aku janji"


"oke Aku percaya.."katanya. Dia menarik nafas panjang, lalu mulai bercerita.."jadi gini Ran...Aku adalah anak satu²nya dari Ayah dan Ibuku..tapi mereka bercerai saat Aku masih SMP. Aku gak tau kemana Ayahku pergi,dan aku harus ikut Ibuku..sampai Dia menikah dengan boss Di perusahaan tempatnya bekerja..semua baik-baik saja sampai aku kelas 3 SMA,tapi si brengsek itu...ahhh...dia...dia..Ayah tiriku yang binatang itu...dia melecehkan aku...ahhhh...huhuhuhu...."tiba tiba dia menangis..dan langsung memelukku.


"udah cukup...sudah tidak usah kau teruskan.."kataku sambil mengusap pundaknya sebentar untuk menenangkan Dia.


"eh!maaf Ran.."dia melepas pelukannya dan lalu tertunduk sebentar sambil melap air matanya.Aku hanya garuk-garuk kepala karena salah tingkah.lalu Dia kembali melanjutkan ceritanya"Aku gak apa-apa Ran..biar kuteruskan ceritanya..ahh...Aku udah lapor ke Ibuku tapi..si brengsek itu sangat licik...dan Dia berhasil mengelabui ibuku.. Dan Mama malah marah ke Aku..aku sangat hancur waktu itu..dan gak tau harus ngomong ke siapa..Ketika Aku lulus,Aku memilih untuk meninggalkan mereka,dan kuliah di kota ini. Ibuku membelikan sebuah Rumah di sini...kupikir Aku akan aman karena sudah jauh dari Binatang itu...tapi Si brengsek itu..malah menyusulku ke sini.dia selalu datang dan menerorku.Dia sangat kurang ajar..dan beberapa hari yang lalu,dia datang lagi ke rumahku aku mengusirnya tapi Dia malah memukuli Aku,dan akan melecehkan Aku lagi...malamnya, aku lari dari Rumahku,dan Aku gak tau harus kemana sampai aku ada di Halte itu, dan bertemu denganmu..."


Nadin mengakhiri ceritanya drngan menatapku.di pipinya ada airmata yang mengalir.kesedihan dan kebencian yang mendalam seakan merusak wajah cantiknya.ku ambil tisyu di meja, dan kuberikan padanya lalu Dia membersihkan wajahnya dengan itu.

__ADS_1


Setelah mendengar cerita Nadin,aku seakan terbawa dalam kesedihan yang dirasakan Nadin.dan yang ada dalam kepalaku saat itu,adalah Aku berhadapan dengan ayah tirinya Nadin,dan Aku ingin sekali melayangkan Pukulan sekeras2nya ke wajahnya.mungkin itu tidak baik,dan suatu cara yang salah dalam menyelesaikan masalah..tapi itulah yang ada dalam kepalaku,yang siapapun kurasa tidak bisa menghalinginya,bahkan pasti tidak sedikit orang yang sependapat denganku,dan mau melakukan hal yang sama,jika di beri kesempatan untuk bertemu dengan ayah tirinya Nadin.


"Aku sangat lega Ran...bisa menceritakan ini semua.."kata nadin setelah kami terdiam cukup lama, karena aku belum mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menanggapi ceritanya tadi.


"Kamu tidak melaporkan hal itu ke Polisi?"tanyaku tanyaku kemudian.


"kalau Aku lapor Polisi,aku takut itu akan mempermalukan ibuku,dan membuatnya Sedih"jawab Nadin menjelaskan, kenapa Dia tidak melapor ke Polisi.


"itu memang sulit Din Aku turut prihatin...Tapi kamu harus yakin bisa melewati ini semua.dan yang terpenting adalah..Kamu harus sehat dulu..dan jangan pernah berpikir untuk bunuh diri...percayalah itu tidak akan mengubah apapun.dan kamu akan mati dengan percuma..Aku pasti akan membantumu dengan apapun yang bisa kulakukan".kataku,mencoba untuk menguatkan Nadin.Dia menatapku,dan menyimak semua yang ku katakan tanpa berkedip sedetik pun.dan seperti biasa,aku sangat gugup.jika itu bukan rumah sakit, pasti sudah ku nyalakan rokok,dan ku hisap dalam².


"Terimah kasih Ran ..aku gak tau apa yang akan terjadi jika seandainya Aku tidak bertemu denganmu"kata²itu semakin membuatku semakin gugup dab salah tingkah.


"ahh..kau jangan melebih2kan...Semua itu hanya kebetulan.."kataku sedikit terbata-bata.dan kemudian kami terdiam lagi,tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Ran...Aku boleh ikut denganmu?.."kata Nadin tiba2 memecah kesunyian di ruangan itu..dia mengatakan itu sambil menatapku dalam-dalam.


"ikut Kemana?"aku balik nanya,untuk memastikan apa yang aku dengar.


"kemana pun yang kamu suka..."katanya lagi,dengan masih terus memandangku.


Mendengar itu,Aku sangat terkejut,dan gak tau mau ngomong apa.


"ehh?...gimana..maksudnya?..Kamu mau ikut sama aku,..eh..atau gimana?maaf Aku gak nerti Din..mungkin kau bisa jelaskan lebih rinci?".kataku ke Nadin,meminta untuk Dia menjelaskan apa maksudnya sebenarnya.


"iyya,Aku akan ikut kemanapun yang kamu mau..Ran,.aku memikirkan ini dari kemarin..Aku benar² gak tau mau kemana setelah ini..Aku gak mau pulang ke rumah..karena si brengsek itu pasti akan datang lagi.ke rumah ibuku, itu tidak mungkin"kata Nadin mencoba untuk menjelaskan lagi.Aku diam tak menjawab.


Aku tidak tahu apa yang harus ku katakan.sebenarnya,Aku senang karena jika Aku setuju Nadin ikut sama Aku,artinya Aku selalu akan ada di sampingnya..akan selalu bersama Nadin(yang cantik),akan membantunya melewati ini semua,dan sudah pasti akan membuat aku sangat bahagia.tapi, Mampukah Aku?.dan yang Aku pikirkan sekarang adalah:


Ahh..seandainya aku Kaya,Aku pasti akan langsung setuju, dan membawa Nadin ke tempat yang jauh dimana Dia tidak akan di ganggu lagi oleh Ayah tirinya.


Ahh..seandainya Aku kaya,akan Ku bawa Nadin ke rumah orang tuaku, kemudian Menikah dengannya,dan kami akan hidup dengan damai di desa.


Ahh..seandainya aku kaya,Aku tidak akan bekerja di kaffe itu,Nadin mungkin akan bertemu dengan orang lain di halte itu,dan Aku akan berada di tempat lain,dengan cerita yang berbeda.


Ahh..untunglah Aku tidak kaya.


Aku masih ada di ruangan tempat Nadin di rawat,dengan segala perasaanku yang tak bisa kujelaskan..Aku hanya duduk tanpa bersuara sedikit pun..


"Din,..menurutmu Aku sanggup melakukan itu?"kataku kemudian.mungkin Nadin menunggu jawabanku.tapi Aku malah balik nanya.Nadin terdiam beberapa saat,dan kemudian...


Mendengar itu semua,entah dari mana Aku merasa ada suatu energi,yang masuk ke Jantungku.energi Semangat yang seakan tak terbatas,yang terpompa bercampur dengan darahku,masuk ke pembuluh darah,dan menyebar ke seluruh tubuhku..langsung ku angkat wajahku,menatap Nadin yang ada di depanku.


"Aku akan Membawamu Din."ku katakan itu dengan penuh keyakinan.


"terimakasih Ran"kemudian Nadin memelukku erat..sangat lama. "nanti,saat Aku sudah dapat info tentang Papa,Aku janji tidak akan merepotkanmu lagi".kupeluk Dia juga.dan dengan itu,Aku mendapat Semangat tambahan,dan semakin yakin dengan keputusanku untuk setuju membawa Nadin.entah kemana Aku akan membawanya,Aku tidak mau memikirkan itu sekarang.


"ekhm..permisi...maaf mengganggu."langsung ku lepas pelukanku,Nadin juga karena Suster sudah masuk ke ruangan itu. Kulihat Nadin,dia tersenyum Aku juga.langsung ku pakai meskerku untuk menutupi bahwa aku sedang gugup,dan mungkin wajahku juga merah seperti wajah Nadin.aku tidak mau Suster itu melihat.


"ehh..ailahkan Sus"kataku kemudian.


"waktunya makan dan minum obat yah..mbak Nadin."kata suster itu.dia datang,membawa baki yang yang audah berisi makanan dan obat untuk Nadin.


"iyya Sus makasih."kata Nadin.


"udah gak marahan kan?..kayaknya Saya cuma ngantar ini dan akan langsung keluar. Mas pasti udah mau nyuapin hahaha..."kata Suster itu sambil tertawa melihat Kami.


"hahaha...gak pernah marahan kok Sus"jawabku sambil ikut tertawa.


"nih...suapin Pacarnya.."kata suster itu dan langsung menyerahkan baki yang di tangannya ke padaku."jangan lupa Mas,kasi juga obatnya.."


"ha?..tapi Sus.."


"udah gak apa-apa...Makaaih ya Sus.udah ngantar makanan sama obatnya"kata Nadin memotong . Dia menatapku sambil mengangguk kecil dengan sedikit tersenyum.aku bingung dan gak tau mau ngomong apa lagi.


"iya..sama-sama..saya tinggal yah Din,Mas permisi..."kata Suster itu dan langsung meninggalkan ruangan.


Dan kemudian Aku bingung karena kalau gak salah sudah 1 tahun yang lalu Aku pernah menyuapi cewek(Sita).itupun karena Dia pacarku waktu itu.dan sekarang keadaan membawaku untuk kembali melakukannya,dengan menyuapi Nadin, seorang cewek yang baru bertemu denganku 2 hari yang lalu.


"Aku suapi yah?"kataku kemudian saat Suster itu sudah pergi.


"hmmm..boleh.."kata Nadin menatapku."Kamu sanggup gak?hahaha..."


"hahaha..apaan sih.."kataku gugup.

__ADS_1


"gak apa-apa...sini Aku bisa sendiri kok."kata Nadin kemudian mungkin dia Melihat bahwa aku tidak betul-betul siap menyuapinya,dan Dia benar.


"yakin bisa sendiri?"kataku berusaha untuk tetap terlihat biasa aja.


"iyya... Yakin"kata Nadin. Aku memberikan mangkok di baki itu kepada Nadin.


"minum dulh yah.."aku memberikan segelas air yang juga ada di baki itu.


"iyya makasih Ran"kata nadin sambil menerima gelas itu,dan lalu Dia minum.


"Aku keluar sebentar yah..Kamu makannya pelan-pelan..dan jangan lupa minum obatnya"kataku ke Nadin saat Dia sudah mulai makan.


"balik lagi gak?"tanya Nadin maksudnya,apakah Aku akan kembali ke ruangan itu.


"iyya..sebentar Kok"kujawab dan lengaung berdiri dan keluar dari ruangan itu.


Aku menuju ke rumah makan tempatku kemarin..Aku duduk di meja yang sama,dan setelah memesan makanan,kunyalakan rokok sambil menunggu.sambil makan,aku memikirkan apa yang sudah ku putuskan tadi.yaitu tentang Aku yang sudah setuju untuk Nadin ikut denganku.setelah berpikir cukup lama,dan setelah mempertimbangkan banyak hal..aku memutuskan untuk mengajak Nadin ikut denganku pulang ke kampung.dan akan membantunya mencari informasi tentang Ayahnya.selesai makan, Aku langsung masuk lagi ke rumah Sakit untuk menemui Nadin,setelah menghabiskan sebatang rokok lagi setelah makan.


"udah makannya Din?"tanyaku saat sudah berada lagi di ruangan itu.


"iyya sudah Ran"jawabnya.


"obatnya?"tanyaku lagi


"sudah semua kok"jawab Nadin.


Tak lama kemudian Suster itu maauk lagi."Udah makannya Din?"tanya Suster itu.


"iya Sudah Sus..obatnya juga.."jawab Nadin.aku tertawa mendengar Nadin mengatakan sudah makan obat,padahal belum ditanya sama Suster.


"ohh iyya...baguslah..mmm kata Dr.Willyam,besok Nadin sudah bisa pulang tapi,Nadin harus istirahat dan gak usah melakukan kegiatan yang berat-berat dulu."kata Suster."oke..Saya pamit dulu yah.."katanya lagi sambil mengambil peralatan yang di meja itu dan pergi ke luar ruangan.


"makasih Sus"Kataku dan Nadin hampir bersamaan.


"iya sama-sama"jawab suster.


"Itu Suster Yani..dia yang merawat aku dari kemarin."kata Nadin membuka percakapan swtelah Suster itu keluar.


"Suster Nurul Handayani kan?"tanyaku seolah-olah memastikan.


"Kamu kenal Ran? Kok tau nama lengkapnya?"tanya Nadin.


"kan Ada papan namanya hahaha.."ku jawab sambil tertawa.


"owh..hahaha..iyya Aku lupa bacanya.."kata Nadin ikut ketawa.


Hahaha..kemudian kami tertawa bersama.


"Nadin...Aku ada rencana."kataku ke Nadin,sambil mengupas jeruk yang ku ambil dari keranjang buah yang tadi ku bawa.


"rencana apa Ran.?"tanya Nadin penasaran.


"jadi, gini Aku ada rencana untuk mengajakmu ikut sama Aku ke kampung..Kalau kamu Mau...yaah Aku kepikiran ajah mungkin di sana suasananya jauh lebih tenang daripada di sini..dan kita bisa mulai untuk mencari info tentang Ayahmu di Sana..."aku langsung mengutarakan apa yang tadi terlintas dalam pikirankau saat di rumah makan depan rumah sakit.


"Kan Aku sudah bilang Ran..Aku akan ikut kemana pun yang Kamu Suka..jadi..yaa it's okay..Aku ikut"


"syukurlah kalau kamu bersedia ikut".kataku sambil memberikan jeruk yang sudah ku kupas ke Nadin.tapi dia malah memegang tanganku lalu mengarahkan ke mulutnya dan langaung memakan jeruk itu langsung dari tanganku dangan sambil senyum dan menatapku.untuk ke sekian kalinya,Aku di buat gugup oleh Nadin.dan hanya bisa ikut tersenyum.


"Tapi aku harus pamit dulu ke Boss, dan teman-teman kerjaku"kataku lagi.


"iyya Aku juga harus pamit dulu ke Sinta."kata nadin


"Kalau ke ibumu gimana Din?"tanyaku


"yaa..kan Mama taunya Aku lagi kuliah di sini"jawab Nadin.


"kalau Dia kesini trus Kamunya gak Ada? Gimana?".tanyaku lagi


"Mama itu orangnya sibuk Ran..Dia gak bakalan punya waktu untuk itu..palingan juga Dia nelpon..kalau lagi kangen,dan mau ngirim uang hehehe".jawab Nadin.kutebak Dia pasti sangat merindukan Ibunya.di saat seperti itu, kita memang sangat membutuhkan sosok seorang ibu untuk menguatkan kita.Aku selalu merasa seperti itu..saat Aku lagi ada masalah,Ibu akan menjadi tempat pertama untuk Aku curhat dan selalu siap mendengarkan semua curahan Hatiku.Nadin mungkin tidak seberuntung Aku,karena Ibunya mungkin selalu sibuk dengan pekerjaannya di Kantor.


Ku lihat jam,sudah pukul 20:44 aku pamit ke Nadin untuk pulang.dan jaji akan menjemputnya besok sore.setelah Aku pulang kerja.


Aku pulang ke kostku dengan sangat bersemangat..karena Aku akan segera pulang ke Kampung,bertemu dengan Keluargaku dan juga teman-temanku..yang sudah lama ku tinggalkan. Aku juga semangat untuk pulang karena ingin segera menuliskan ini. Dan sekarang jam menunjukkan pukul 23:09 aku audah berjam-jam duduk di sini, dan menuliskan semua yang sudah terjadi dari hari sabtu kemarin dan juga apa yang sudah terjadi hari ini .haauummm..Oke..Aku sudah ngantuk dan mau tidur.semoga besok aku gak telat bangun pagi.

__ADS_1


***


__ADS_2