
"iyya..ngapain kalian ke sini..?"Ayahku sedikit kaget melihat Kami datang.
"kamu bohong ya.."kata Nadin mencubit pinggangku dari belakang. Sepertinya dia sudah sadar kalau kandang kambing dan sapi itu adalah milik ayahku.
"ini pak..Nadin mau ngadopsi anak kambing. kalo Bapak setuju.." kataku sambil menahan untuk tidak ketawa.
"apaan siihh..dari tadi bohong melulu.."kata Nadin.
"terus ngapain Kita ke sini?"kataku "minta Restu? Hahaha.."aku tertawa melihat Nadin yang semakin Kesal. Ayahku hanya melihat kami dan geleng-geleng.
"iihh..nyebalin bangat sih..Kamu diam aja..gak usah ngomong."kata Nadin. Ku lihat pipinya merah menahan senyumnya.
"sudah-sudah..Kalian duduk dan cerita ada apa.."kata Ayahku.
"Gini pak..Nadin mau nanya soal bagaimana keputusan pak RT."kata Nadin.
"Oh..iyya maaf saya lupa tadi..harusnya ngomong ke Kalian dulu..tapi buru-buru soalnya Kambing Bapak beranak Kemarin jadi langsung ke sini mau ngecek kondisinya"kata ayahku sambil menempelkan telapak tangannya di kepala.
"gak apa-apa kan Kami Sudah di sini. jadi Gjmana pak? Apa kata pak RT?"tanya Nadin.
"Pak RT bilang Gak masalah kalo kamu tinggal di sini..tapi,nanti malam bawa surat keterangan kalau kalian bebas dari virus Corona"kata ayahku menjelaskan pembicaraannya dengan pak RT tadi."Kalian ada kan..suratnya?"
"iyya ada kok pak"jawab Nadin. Kemudian memandangku tersenyum legah.
"Yaudah kita balik yuk?"ku ajak mereka.
"balik kemana? kan belum sampai"kata Nadin seperti orang yang kesal.
"hahaha..itu trik biar kamu gak capek sebelum sampai ke sini."kataku sambil tertawa."Bapak juga begitu, waktu pertama kali ngajak Aku ke sini"
"huh kirain harus mendaki lagi..keatas gunung itu"kata Nadin.
"hahaha...yaa sudah..ayo kita pulang"kata ayahku.
"gimana kambingnya pak? Sehat kan?"ku tanya Ayahku.
"Iyya sehat kok.."
Kami akhirnya pulang. Matahri semakin tinggi. Membuat kami ingin cepat-cepat sampai di rumah. Ketika kami sudah sampai, Aku langsung masuk ke kamar dan mengganti bajuku yang basah karena keringat. Kemudian merebahkan badanku ke atas kasur,dan tertidur. Nadin juga kulihat masuk ke kamar tadi. pasti dia juga ganti baju karena basah atau mungkin dia malah mandi lagi. Aku tidak tahu kan Aku sudah tidur.
Aku bangun sekitar jam dua siang. Aku duduk di teras depan rumah mengisap rokok di temanai segelas kopi yang tadi ku buat sesudah makan siang. Aku tidak melihat Nadin mungkin dia tidur di kamarnya. Kuambil handphone dan bermain game supaya tidak bosan. Tak lama kemudian Beni datang dengan motor Sport kesayanganya.
"hey..lagi ngapain tuh."kata Beni setelah turun dari motornya.
"lagi pushrank hahaha.."maksudku bermain game.
"hallahhh..game burik masih dimainin juga..hahaha"
"Udah gak main Ben?"kataku tanpa melihatnya karena asyik dengan gameku.
"mainlah..hahaha"
"main tapi ngatain"
"Gimana..ntar malam ke lapangan yuk? Sama anak-anak."Kata beni sambil membakar rokoknya. Dia mengajakku nongkrong di lapangan bola nanti malam.
"Boleh..kamu jemput yah.."
"pake motor sendiri lah"
"ehh..tapi nanti malam Aku mau ke rumahmu Ben.."kataku sambil melepas handphone. Aku baru ingat peekataan Bapak Tadi.
"Ngapain mau ketemu pak RT?"
"iyya..ada perlu"
"ya udah bagus itu..nanti dari sana langsung ke lapangan kan..."kata Beni
"Aku sama Nadin"
"ohh...Cewekmu itu?hahaha"Beni tertawa "Mana Dia Ran? Kenalin dong.."
"mungkin lagi tidur"ku jawab "nanti aja kalo dia bangun"
__ADS_1
"ohh..iyya"
Sedang asyik ngobrol sama Beni, dari depan rumah ada suara motor. Dan itu motor adikku Rama . Aku terkejut melihatnya. Rama datang dengan membonceng seorang cewek dan itu Nadin. Aku masih melihat mereka tanpa berkata-kata.
"Hey..kok bingung sih.."kata Nadin saat sudah ada di depan Aku sama Beni. Rama langsung masuk ke dalam rumah.
"dari mana Din?"
"dari toko beli sesuatu..tadi kamu tidur jadi Aku perginya sama Rama"jawab Nadin. "ini siapa Ran?" katanya saat melihat Beni.
"oh iyya ini Beni temanku."kataku ke Nadin kemudian melihat Beni."Ben ini Si Nadin Zidan" terdengar seperti,Zinédine Zidane pemain sepak bola Profesional yang terkenal karena permainannya yang bagus dan kartu merah kerena pernah menyundul lawannya.
"hahaha"Beni ketawa mendengarnya Aku juga. Nadin tidak.
"Bukaan.. gak ada sidannya. Nadin aja.."kata Nadin sedikit berteriak.
"iyya Tau kok kan rambutnya panjang..kalau yang pemain bola kan botak hahaha" kata Beni..Dia berdiri menyalami Nadin dan menyebut kembali namanya.
"Oke kalau gitu..Aku masuk dulu yah.."kata Nadin.
"Gak bawa oleh-oleh?"kataku ke Nadin.
"nggak ini cuma beli...Aku masuk dulu yah"Nadin langsung pergi. Masuk ke dalam rumah."Rahasia" katanya sebelum pergi dan menempelkan telunjukknya di bibir. Aku tahu itu pembalut karena ada di dalam kantong plastik putih yang sempit sehingga merknya bisa terbaca dengan jelas. Beni pasti melihatnya juga.
"Gilaa..kacau kali Kau Ran.."kata beni berbisik dan men*nju lenganku saat Nadin sudah pergi.
"awh..Sakit Ben..kenapa sih?"kataku kesal ke Beni karena sudah men*njuku.
"Itu..yang tadi..itu..cantik bangat Anjiiirt!!"Kata Beni lagi.
"hahaha...Biasa aja tuh.."kataku sok. Padahal Aku setuju dengan Beni.
"biasa aja gimana?"
"Hahah maksudku... kamu yang harus biasa aja"
Beberapa menit kemudian, Nadin datang dan menghampiri Aku dan Beni yang masih duduk di Teras.
"Aku gabung yah.."kata Nadin dan duduk di sampingku. Maksudnya,Dia ingin bergabung ngobrol dengan Kami.
"lagi ngebahas apa nih?"Nadin bertanya."biar Akunya bisa nyambung hahaha"
''kami lagi bahas..Arwah gentayangan di kampung ini.."ku jawab asal.
"ih..kok yang seram gitu?"kata Nadin.
"hahaha..bercanda "kataku. "lagi gak bahas apa-apa kok"
Kami bertiga berbincang-bincang hal yang sangat tidak penting untuk ku tuliskan. Nadin banyak bertanya tentang Kampung ini.Aku dan Beni menjelaskan semuanya dari A sampai Z. Bahakan Beni juga menceritakan tentang Pak Anwar yang selingkuh dengan Bu Desi tetangganya. Tak terasa matahari semakin condong ke Barat dan Beni pamit untuk pulang.
"nanti malam bisa kan Ran?"Beni bertanya sebelum pergi.
"Bisa apa Ben?"ku tanya balik.
"Ke lapangan..udah lama loh kita gak ngumpul. Rinto sama Pyan pasti senang kalo ada kamu."kata Beni. Dia mengajakku untuk ikut ke lapangan bola nanti malam.
"Iyya nanti di Usahakan"
"Aku nunggu loh"kata Beni lagi.
"iyya Oke-oke. Nanti malam kita nongkrong di lapangan. Sampai pagi kalo perlu. Hahaha"
"Gitu dong.."kata beni kemudian Dia pulang.
"lapangan apaan sih?"Nadin bertanya setelah Beni pulang.
"lapangan Bola..itu tempat Anak-anak muda di sini pada ngumpul kalo malam apalagi kalo malam minggu pasti rame"
"Ke sana yuk?"kata Nadin"seru kayaknya"
"nanti malam kan Kita mau ke rumah pak RT"ku jawab Nadin.
"Oh..iyya kalo pulang darj sana?"
__ADS_1
"Nanti kita lihat keadaannya"
"Oke..Aku masuk dulu yah.. Mau mandi"kata Nadin."Kamu juga..buruan mandi biar nanti gak telat ke Rumah pak RT"
"Oke.."
Saat Nadin masuk ke dalam, kulihat di depan rumah ada Sita yang baru pulang kerja. Aku senyum ke Sita yang juga senyum ke arahku. Motornya di parkir di depan Rumahku,karena memang halamannya kebih luas dari pada halaman Rumahnya Sita. Kemarin saat kami datang,Motornya memang di parkir di situ dan Sita pulang lewat samping Rumahku.
"hay.".."Hay". Kami saling sapa.
"Udah pulang?"kutanya Sita.
"iyya"jawabnya singkat.
"Mampir dulu"kataku basa-basi.
"Makasih Randa..tapi kayaknya Saya langsung pulang nanti di cariin Ibu"katanya. Aku merasa aneh dengan kata "saya" yang di pakai Sita untuk menyebut dirinya." lain kali yah.."
"oohh Iyya.."kujawab. Setelah Sita pulang,kulihat di motornya masih menggantung boneka panda. Sita lupa Membawa kunci motornya. Aku ke sana mencabut kunci motor itu,kemudian akan pergi ke Rumah sita untuk mengantarkan kunci itu. Saat sampai di depan Rumah Sita, ku lihat Dia sudah ada di depan pintu.
"Hey.. Randa? Ada apa?"Sita bertanya begitu melihatku.
"Ini mau ngantar Kunci motor kayaknya kamu lupa bawa"kataku sambil menunjukkan kunci motor itu ke Sita.
"ohh..iyya tadi Saya lupa..ini baru mau ke sana.."
"Nih..udah Aku antar."kataku sambil memberikan kunci motor itu ke Sita.
"Terima kasih"katanya "masuk dulu yuk?"
"Aku langsung balik masih ada perlu soalnya."kujawab "Di mana Ibumu kok dari kemarin gak keliatan..?"
"ada kok di dalam"jawab sita. "lagi masak"
"ohh yaudah Aku balik yaah.."
"Kok buru-buru sih Nak Randa...masuk dulu sini.."kata ibunya Sita dari dalam rumah Dia datang dan menemui kami.
"wahh..halo Tante..apa kabar?"Aku ke sana dan bersalaman dengan Ibunya Sita.
"Kabar baik kok..Ayo duduk" kata ibunya Sita mempersilahkan Aku duduk. Aku mau nolak dan langsung pergi tapi..tidak enak sama Ibunya Sita. Jadi Aku duduk.''ada rencana apa Nak..kok tiba-tiba pulang kampung?"
"Gak ada apa-apa kok Tante.. cuma kangen aja sama Kampung"jawabku
"Aku masuk dulu ya Bu..mau mandi"Kata Sita dan langsung pergi tanpa memandangku.
"Hey..ini masih ada nak Randa. Kamu jangan pergi dulu dong"kata Ibunya. Sita kembali dan duduk lagi di tempatnya.
"gak apa-apa kok Tante..Saya juga udah mau pulang udah ditungguin Nadin. soalnya mau ke rumah pak RT."
"Oh..Nadin..cewek yang bersamamu dari kota?"
"Iyya Tante.."
"haaa..Tante ngerti sekarang..Kamu mau nikah kan? Sama siapa lagi namanya? Nadin..."
"hahaha bukan itu Tujuannya kok Tante. Nadin ikut Saya kesini cuma mau liburan"
"iya Liburan dulu...nanti juga Syukuran hahaha"kata ibunya Sita sambil ketawa.
"hahaha..bisa gitu ya Tante"
"iyya bisa..hahaha"
"yaudah Saya pamit pulang dulu ya Tante..tadi kesini nganterin Kunci motornya Sita..lupa di ambil dari motornya"
"hmm..Kebiasaan ini Anak"kata ibunya Sita geleng-geleng."untung ada Nak Randa"
"kebetulan Tante..permisi yahh..Aku balik dulu ke Rumah"kataku dan langsung berdiri untuk pergi.
"Iyya..Makasih yah uda repot ngantarin"kata ibunya Sita.
"sama-sama...gak repot kok tante.."
__ADS_1
Aku langsung kembali ke Rumah. saat Aku masuk ku lihat di ruang tamu Nadin sedang duduk sambil memandangi layar hpnya Dia sudah selesai mandi dan seperti biasa dia Cantik. Dia pasti tahu kalau ada Aku tapi dia tidak sedikit pun memandangku.