
Ruangan dalam Rumah Rinto, sudah disulap sedemikian rupa. Membuat orang yang masuk kedalam merasa sangat nyaman. Ditambah suara musik DjSellow yang membuat semua manusia dalam rumah itu,seakan melakukuan semua gerakan seirama dengan lagu.
Aku melangkah ke dalam. di sana, Aku melihat Beni,Pyan,Rinto,Intan,dan Sita. Mereka duduk di satu meja yang sama. Kulihat dua kursi di meja itu masih kosong. Pasti memang sudah di sediakan untukku dan Nadin.
"kita gabung sama anak-anak yuk?"ku ajak Nadin.
"iyya.."jawab Nadin. Kemudian kami melangkah ke sana.
"Wah..wah..wah..pasangan yang di tunggu-tunggu akhirnya datang.."Rinto menyambut Kami."Silahkan Duduk."
"iyya Tok Makasih..nih Kadonya..jangan liat isinya yah.."kuserahkan kado ditanganku ke Rinto."ini dari Aku sama Nadin."
"Wah..makasih..kalian datang aja aku udah senang bangat..ini..malah di kadoin..makasih..Ran,Nadin.."Rinto menerima Kado dari kami.
"Nadin sini.."Intan memanggil Nadin duduk di sampingnya.
"Iyya.."Nadin kesana dan duduk di samping intan. Aku juga. Aku duduk di samping Nadin, dan di sebelahku ada Pyan. Rinto,Beni,dan Sita ada di depan Kami.
"wah..kapelan nih..hahaha.."kata Beni saat melihatku (kapel\=couple\=).
Mendengar itu aku baru sadar. bahwa baju kemeja lengan panjang yang kugunakan, berwarna Merah Maron. Itu pemberian ibuku.Sangat serasi dengan Nadin yang memakai gaun, dengan warna yang sama bisa jadi itu juga pemberian ibuku yang tukang jahit. Apakah Ibu yang mengatur semua ini?.
"Wah..iyya..Sumpah..ini gak di rencanain aku baru sadar itu."ku jawab cepat karena memang demikian.
"hahahaha.."semua tertawa. Nadin dan Sita hanya senyum-senyum. Aku tidak sama sekali.
Seperti yang ku prediksi sebelumnya, Aku ada di pesta yang sangat meriah. Dimana semua orang harusnya bergembira, dengan wajah yang ceria. Tapi ,Aku sama sekali tidak merasa ceria sedikitpun.
Acara ulang tahun Rinto,yang sudah tiga minggu ku tunggu-tunggu,sekarang sudah ku jalani. Dan ini yang terjadi. Aku duduk di kursi itu, tapi pikiranku ada di pasar. Di warung makan. Tepatnya, tukang bakso.
Semua orang yang ada di ruangan itu tampak menikmati suasana yang memang pasti sangat menyenangkan bagi yang tidak galau sepertiku.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue, sekarang acara bebas. Suara musik di kencangkan. Beberapa orang mulai berjoget di tengah ruangan. Ada juga yang berdansa. Minuman beralkohol mulai di keluarkan.
Melihat itu, Aku seakan mendapat apa yang kucari. Itu dia. Alkohol. Kuambil segelas, lalu kembali ke kursi itu dan meminumnya.
Aku tidak tahu dimana orang-orang yang tadi duduk bersamaku. Yang kulihat hanya Beni yang sedang berdansa dengan Intan. Sita juga berdansa dengan seseorang tapi aku lupa siapa namanya. Kayaknya keluarga Rinto,dari kampung sebelah aku hanya ingat wajahnya.
Meminum bir itu, Aku merasa lebih tenang. Habis segelas, Aku berdiri dan kesana untuk mengambil lagi.
"Tambah lagi dong.."kataku ke Erick,yang di balik meja, melayani orang yang mau minum bir.
"yakin Ran..tumben minum banyak."katanya sambil mengisi gelasku."lagi galau yah..hahaha.."
"nggak Rick..lagi pengen aja.."kataku.
"Aku juga mas..tapi mau minum langsung dari botolnya."tiba-tiba Nadin sudah ada di dekatku. Tapi dia tidak mau menatapku.
"Oke..wah banyak yang mabuk nih malam..hahaha.."kata Erick.
"Jangan Rick..gak usah.."aku mencegah Erick yang mengambil minuman untuk Nadin. Tapi Nadin sudah mengambil satu gelas yang sudah terisi.
"yaudah ini aja mas.." Nadin meminum bir itu sekaligus. Aku tidak sempat mencegahnya. Kulihat wajahnya langsung merah.
"Nadin..!!Apa-apaan ini..?kamu jangan minim bir.." Aku marah ke Nadin. ini yang pertama kali Aku benar-benar marah.
"Kok marah..?kan kamu juga minum."jawab Nadin."tambah lagi mas.."
__ADS_1
Erick memandangku. dia pasti takut, Melihat aku marah ke Nadin. Artinya Aku melarang Nadin minum. Erick pasti melihat, saat Aku datang sama Nadin. Dalam pikirannya sekarang,Nadin adalah pacarku. Apalagi, baju kami sangat serasi.
"gimana Ran?"tanya Erick ke Aku.
"Jangan..!!"ku jawab dengan sedikit teriak karena suara musik yang semakin kencang.
"Kalo gitu kamu juga jangan dong..!!"kata Nadin.
"eh kamu itu cewek.. gak boleh minum bir. Bahaya.. Kalo kamu mabok? gimana hah?" Aku memperingatkan.
"Kamu minum..pasti mabok juga kan? Hey ..Kamu pikir dengan minum ini, masalahmu akan hilang begitu aja?hah?"
"yah kan..Aku.."
"Aku mau pulang sekarang..!!" nadin langsung memotong. dengan nada suara yang tinggi.
"Hey..!! Apaan sih?"
"Aku mau pulaaang!!"matanya berkaca-kaca
"Jangan gitu dong.."
"yaudah..Aku pulang jalan Kaki.."
Kemudian Nadin melangkah untuk pergi. Ku tangkap tangannya, untuk menghentikan.
"oke-oke kita pulang..tapi, Aku pamit ke Rinto dulu."tunggu di sini."Rick jangan kasi dia bir..Awas!!".kuperingatkan Erick sebelum pergi. Bahkan sedikit mengancam sih..
"oke Ran.."jawab Erick. Dari tadi,dia hanya memperhatikan kami. Dan tidak berani ngomong apa-apa.
Aku mencari Rinto. Dan akhirnya ku temukan dia. Dia sedang ngobrol dengan ayahnya,dan seorang yang tidak ku kenal. Aku barusan melihatnya. Kayaknya Dia baru datang.
"kenapa Ran? Ada masalah.?kok cepat pulang?"Rinto banyak nanya.
"nggak ada masalah kok cuma Nadin ngantuk katanya."ku jawab asal.
"Oh..oke-oke..kalo gitu..makasih yah udah datang.."katanya.
"Oke To..maaf yah.."kataku tidak enak ke Rinto.
"ah..gak apa-apa..bisa itu..udah sana nanti Nadin ketiduran di jalan..hahaha"
Aku langsung menemui Nadin di tempat tadi. Lalu kami keluar dari Rumah Rinto. Tidak ada yang berani bicara. Kami ke motor,lalu pulang ke Rumah.
Sampai di Rumah, Nadin langsung masuk ke kamarnya. Aku juga. Aku ganti baju, dan kembali ke teras untuk merokok. Tak lama kemudian Nadin datang dan duduk di sampingku. Dia juga sudah mengganti bajunya.
"Randa..Aku mau ngomong..boleh?" katanya setelah duduk.
"Mau ngomong apa?"kataku sambil menghembuskan asap rokokku ke udara.
"tentang tadi sore.."katanya.
"udalah din..aku udah lupain itu kok..kamu juga gak usah mikirin lagi..anggap aja itu gak pernah terjadi"kataku ke Nadin.
"Tapi Ran..alasanku menolakmu.."
"Bukan alasan yang sebenarnya kan?"ku potong perkataan Nadin.
__ADS_1
"hemm..Iya Ran..Kamu tahu?"
"Aku tau Din..dan itu yang sebenarnya membuat Aku gak Puas."
Lalu Kami terdiam cukup lama. tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tau mau ngomong apa.
"hmm..gimana yah Ran?"nadin bersuara.
"gimana apanya Din.? Kalo kamu emang gak Cinta yah mau gimana lagi..Aku harus patah Hati,dan akan Galau beberapa hari ini..tapi nanti pasti akan..... "
"Aku juga Cinta Ran.. sama Kamu..Cinta bangat Malah.."Nadin memotong"... sumpah demi apapun, pertama kali melihatmu, Aku udah Jatuh Cinta..."katanya dengan berterus terang ke padaku.
"sebagai Adik dan kakak kan?"kataku ke Nadin.
"nggak! Bukan itu..tapi, aku Cinta sama Kamu Randa.."
"Apa maksudmu Din? Coba jelaskan"
"Randa..Kamu mau nerima aku apa adanya?"
"aku yang harus ngomong gitu.."
"Randa..Aku nggak sebaik yang kamu kira"
"kamu baik..aku tahu itu."
"aku nggak.."
"Kamu cantik..tanpa tanding."
"tapi aku..udah.."
"Kamu Udah sempurna di mataku"
"Randa..dengarin dulu dong.."nadin kaya kesal, karena selalu kujawab sebelum Dia selesai bicara.
"nggak ada alasan Din.. untuk aku nggak Cinta sama Kamu."kataku kemudian.
"Aku udah gak Perawan Randa..aku..aku nggak.." Nadin menagis.
Aku langsung memeluknya..kemudian ku cium Dia. Aku mencium Bibir yang manis itu. Mata nadin hanya membelalak memandangku. Dan langsung diam.
"Aku udah tau itu Nadin..sejak saat kita di rumah sakit. Di rumahmu juga. Tapi itu terlalu kecil... sangat kecil..untuk menjadi penghalang bagi Cintaku yang lebih besar dari apapun.."ku jelaskan semua ke Nadin, agar dia mau mengerti.sambil menghapus air mata di pipinya.
"Randa?"
"Sudah..jangan bicara lagi. Aku pacarmu sekarang. Dan gak ada yang boleh menghalangi itu. Termasuk kamu."kataku dengan senyum memandang Nadin.
"ha?..tapi humpttt"
Nadin tidak bisa bicara lagi bibirku sudah mematuk dengan sempurna di bibirnya. Nadin hanya bisa tersenyum sebentar,dan ikut dengan permainanku.
Kami ada di teras rumah dan masih ngobrol beberapa saat. kemudian Nadin mengantuk. Dan mau tidur. Kumatikan rokokku. Kubelai rambutnya sebentar dan mengucapkan selamat tidur.
Setelah itu, kami kembali ke dalam rumah. Nadin pamit mau ke kamarnya untuk tidur. Aku juga masuk ke kamar. Tapi Aku belum bisa tidur.
Dan sekarang, tanggal 27 juni 2020 pukul 02 dini hari. Aku belum bisa tidur. Aku menulis dari pukul23.45. Dan aku tidak mengantuk sama sekali.
__ADS_1
Aku akan menutup dulu ceritanya. karena memang aku sudah menceritakan semua, apa yang sudah terjadi selama tiga minggu ini. Baiklah aku mau tidur. Besok pasti akan sangat menyenangkan karena, Nadin sudah menjadi pacarku.
****