
Aku masuk ke ruangan Dokter Willyam. Dia ada di dalam, dan sudah menungguku.
"silahkan duduk"doter mempersilahkan aku."kamu..."
"saya Randa dok..temannya Nadin"
"oh..iyya²..Randa..bagaimana Ran sudah kau hubungi keluarga Nadin?.."ahh..dokter langsung menanyakan itu..
"Saya tidak kenal keluarganya dok,saya baru ketemu Nadin tadi siang,dan membawanya kesini karena sakit".aku menjawab setelah aku duduk berhadapan denga Dr.Willyam,kujawab sesuai dengan yang dikatakan Nadin padaku sebelum menemui Dokter Willyam.
"berarti kamu belum tahu banyak tentang Dia kan?"
"iyya dok".
"hmm...Saya bingung apakah saya, harus mengatakan ini ke kamu atau tidak."
"Saya mengerti dok..tapi menurut saya,Nadin sepertinya sedang ada masalah dengan keluarganya..dan orang satu²nya yang Nadin percaya saat ini adalah Saya sendiri"kukatakan ini,agar dokter percaya kepadaku,dan mau bercerita,karena entah mengapa,saya sangat penasaran.
"iyya...saya tahu,karena tadi saat saya hendak keluar dari ruang perawatan,Nadin minta tolong supaya Saya memanggilmu ke dalam..tadi..kukira kamu pacarnya.."
"bukan dok"kataku dan sedikit malu dengan apa yang dikatakan dokter barusan.
"begini.. Ran,sebenarnya Nadin tidak mengidap penyakit berbahaya seperti Kanker,Tumor dll.. Dia hanya kecapean dan sepertinya telat makan dan itu tidak terlalu parah,karena akan segera pulih jika tetap di rawat di sini.Tapi yang ingin saya bicarakan adalah,tentang Nadin yang sepertinya sangat tertekan,Stres,dan menurut saya,Dia sepertinya sudah mengalami tindak kekerasan dari seseorang dan itulah yang ingin saya tanyakan ke pada keluarganya"kata dokter kemudian setelah iyya terdiam beberapa lama..
"kekerasan??maksud Dokter... penganiayaan?"tanyaku kemudian karena aku kaget mendengar penjelasan dokter tadi.
"Iyya..begitulah kira²..karena tadi,saat Saya akan Memeriksa tekanan darahnya,saya melihat ada memar biru di lengan kirinya,dan juga di punggung bagian belakang di bawah leher"dokter kembali menjelaskan sambil menunjjuk bagian tubuhnya,pada bagian yang di maksud.
"Dokter sudah menayakan itu pada Nadin??"tanyaku ke Dr.Willyam
"sudah..."
"apa katanya?"aku penasaran.
"Dia hanya bilang, kalau itu memar karena jatuh dari tangga kemarin..ku rasa itu jawaban yang di buat-buat.saya dokter Ran,dan saya bisa membedakan mana memar ynag karena jatuh atau terbentur,dan memar yang karena di pukul atau semacamnya.. Kamu pasti mengerti maksudku"
"apakah sebaikanya kita lapor Polisi saja ..dok?"kataku kemudian.
"Kalau itu...saya tidak berani memutuskan mungkin sebaiknya kita meminta pertimbangan dulu dari Nadin".kata dokter."apalagi...sepertinya dia menutupi itu dan tidak mau membahasnya.."katanya lagi.
Entah bagaimana perasaanku saat selesai berbicara dengan Dr.Willyam.Aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan selanjutnya,dan bagai mana aku akan berbicara ke Nadin nantinya.apa aku harus menunggu Dia yang bercerita,atau Aku menyakannya langsung.setelah ku pikir kembali,aku memutuskan untuk sebaiknya diam, dan aku akan menunggu dia yang bercerita jika dia memang mau menceritakannya,karena jangan sampai ketika aku bertanya,Nadin jadi risih, dan tidak mau lagi bertemu denganku dan aku tidak mau itu terjadi.
Setelah ber basa-basi sebentar dengan Dokter Willyam,aku pamit keluar dari ruangannya dan menuju ke lantai satu,dan langsung masuk ke ruang tempat Nadin di rawat.
__ADS_1
"Sudah bertemu dokter Willyam?". Nadin bertanya saat aku sudah melepas maskerku dan duduk di kursi.
"iyya sudah.."jawabku
"Dokter bilang apa?"dia bertanya lagi.
"Dokter Willyam bilang,kamu harus banyak istrahat dan sebaiknya kamu di rawat dulu di sini, sampai benar-benar pulih".aku tidak mengatakan tentang Memar yang di bahas oleh Dr.Wilyam tadi.
"cuma itu?"katanya dan menatapku seperti seorang polisi(polwan cantik) sedang menginterogasi pelaku kejahatan. sepertinya Nadin curiga masih ada yang kusembunyikan.
"yaa cuma itu....eh..Dia juga bilang,ingin segera bertemu dengan keluargamu karena ingin menanyakan sesuatu yang penting ke mereka..dan... mendesakku untuk segera menghubungi keluargamu"
Kataku lagi,dengan sedikit terbata karena gugup dilihat seperti itu..aku yakin semua laki² akan gugup jika di pandangi oleh seseorang yang sangat cantik seperti Nadin.
"lalu kamu bilang apa?"Nadin bertanya lagi.
"yah..seperti kesepakatan kita tadi,sebelum Aku ke sana.."jawabku.
"syukurlah kalau begitu"katanya lagi.
Aku tidak tahu apa yang dimaksud Nadin dengan "syukurlah kalau begitu" apakah syukur, karena aku tidak mengatakan ke Dr.Willyam kalau sebenarnya Nadin bisa menelpon keluarganya jika dia mau, atau syukur,karena Dr.Willyam tidak mengatakan kalau ada memar di lengan kiri dan Bahunya dan Aku tidak tahu apa² tentang itu.dan aku tidak mau merusak moodnya,yang sudah jauh lebih baik dari saat pertama kali melihatnya dan memilih untuk tidak mengatakan masalah memar itu kepada Nadin.kami membahas masalah lain yang tidak penting dan lalu aku pamit ke Nadin dan bilang mau pulang kerena besok mau bekerja.
Saat aku akan keluar dari ruangan itu,Nadin memanggil namaku.
"Ya? "Aku berbalik dan melihat ke arahnya.
"Terima kasih.."katanya,sambil sedikit tersenyum tapi ada air mata di pipinya.
"Sama-sama..."kataku dan aku membalas senyumnya.
"apa kita masih akan bertemu?".aku melangkah kembali mendekatinya..
"besok, aku pasti akan datang lagi ke sini"kataku saat sudah berdiri di dekatnya dan kemudian kembali duduk di kursi.
"aku boleh minta tolong?"tanyaku setelah duduk.
"Minta tolong Apa?"Nadin balik bertanya dan sedikit kaget dengan pertanyaanku.
"jangan menagis lagi" ku katakan itu dan memberanikan diriku menggerakkan tanganku yang sedikit gemetar untuk membersihkan air mata di pipinya."sudah cukup air mata yang kulihat hari ini..boleh kan?"kukatakan itu sambil memandangnya dan seperti menunggu jawaban.Nadin Hanya mengangguk dan lalu tersenyum.
"terima kasih..begitu lebih baik."aku ingin mengatakan "begitu lebih cantik" tapi tidak kukatakan karena aku malu.
"aku pulang dulu ya..."kataku kemudian,aku berdiri dan melangakh lagi ke pintu untuk keluar dan langsung akan pulang.bersamaan dengan itu,masuk seorang suster, dengan baki di tangannya berisi makanan, obat,dan segelas air.
__ADS_1
"permisi..."katanya saat sudah masuk ke dalam ruangan.
"iyya silahkan.."kataku ke suster itu
"Nadin harus makan dan minum obat dulu"kata suster itu.
"iyya sus..saya juga mau pulang dulu.."
"Gak di suapi pacarnya mas?"kata suster itu. Aku langsung Salting(salah tingkah) ku lihat nadin sebentar,dan dia juga melihat ke arahku dan menutup mulutnya,dengan tangan seperti orang yang menahan agar tidak tertawa.aku tidak menjawab,Nadin juga diam.
"kok malah diam semua?..kalian marahan?"suster itu berkata lagi.
"Tidak Sus".Ahh..suster!!itu membuatku semakin gak tahu harus ngomong apa dan ingin segera pergi saja dari sana.
"Saya permisi Sus...aku pulang dulu yah Din."kataku kemereka dan langsung pergi.
"Iyya..hati-hati di jalan"kata Nandin saat aku sudah melangkah pergi.ku toleh dia sebentar dan mengangguk sambil senyum sedikit untuk mengganti kata "iyya Aku pasti Hati-hati".dan akhirnya aku keluar dari ruangan itu.
Saat Aku sudah ada di depan rumah sakit,ternyata hari sudah sangat gelap.ku lirik jam di tanganku dan ternyata,sudah pukul 19.52.ku lihat di depan rumah sakit ada sebuah rumah makan. Aku melangkah ke sana, karena memang Aku sudah lapar.setelah memesan makanan Aku duduk di meja paling depan rumah makan itu.menghadap ke jalan dan agak diluar ruangan tapi masih ada atapnya. aku duduk di situ, karena kulihat ada asbak di sana dan itu artinya aku bisa merokok di meja itu.
Aku duduk menunggu pesananku,dan langsung kunyalakan rokok.aku duduk di sana dan membayangkan kembali semua yang sudah ku lalui seharian.yang paling mengganggu pikiranku adalah perkataan Dr.Willyam tentang Nadin dan memar di Lengan dan bahunya.apakah Dia di aniaya?.tapi siapa yang tega melakukan itu padanya.?dan apa alasannya melakukan itu? Aku tidak tahu, dan belum melakukan tindakan apapun untuk mencari tahu. Dan yang bisa ku lakukan sekarang adalah menunggu Nadin untuk mau menceritakan semuanya kepadaku. tentang ceritanya,tentang mengapa dia ada di halte sore kemarin dengan keadaan sakit,dan mengapa dia sempat berpikir untuk bunuh diri.
Yang bisa ku pastikan sekarang adalah,Nadin sedang dalam masalah yang sangat serius,Dia membutuhkan seseorang untuk membantunya,dan entah mengapa aku merasa bahwa orang itu adalah Aku.Randa, yang sore tadi,sudah berjanji untuk mau menolongnya.
Keselesaikan makan malam ku dan langsung pulang ke kost,karena jam ditanganku,sudah menunjukkan angka 20.59 selai capek,aku ingin segera sampai di kost,untuk menuliskan ini semua tapi tidak bisa ku lakukan karena saat aku tiba di kost,aku sangat capek.Aku langsung mandi,berganti pakaian dan duduk di kursi sambil menghisap rokok,di temani suara cicak,dan segelas kopi yang kubuat.kemudian Aku mengantuk ,dan naik ke kasur,lalu tidur.itulah mengapa,aku baru bisa menuliskan ini sekarang.
***
oke..kita lanjut..keesokan harinya,yaitu hari ini,pagi-pagi aku bangun,dan bersiap untuk berangkat ke tempat kerja.Di tempat kerja,tidak banyak yang bisa ku ceritakan karena memang tidak ada yang penting,dan aeperti hari-hari sebelumnya,aku hanya menghabiskan banyak waktu untuk menonton tv,karena hanya beberapa pelanggan yang datang.
Aku juga sudah cerita ke Ryan soal Nadin,Aku bercerita semuanya kecuali tentang kemungkinan yang di jelaskan oleh Dr.Willyam mulai dari awal pertemuan kami,sampai kami berpisah di rumah sakit tadi malam.
"Jadi,nanti Kamu mau kesana?"tanya Ryan ke aku,maksudnya adalah apakah aku akan ke rumasakit untuk menjenguk Nadin.
"iyya.."jawabku
"Aku boleh ikut?"tanya Ryan lagi.
"Mungkin sebaiknya jangan dulu Yan,Kulihat dulu situasinya..nanti kalau sudah memungkinkan,pasti ku kenalkan Kau.."
"Okelah mungkin lebih baik begitu..."kata Ryan kemudian.
Kuarasa hanya itu yang bisa ku ceritakan tentang kejadian di tempat kerja.Langsung ku percepat ceritanya ke Rumah sakit.....
__ADS_1
***