
Di hari yang sama saat Isuke latihan
Seseorang berjalan tergopoh-gopoh dan akhirnya sampai di tempat yang ia tuju. Tampaklah pria yang berusia sekitar 60an tahun.
" Ketua, aku sudah membunuh keluarga Akumi, tapi anak gadisnya melarikan diri. Aku juga sudah menggeledah rumah dan jasad mereka tapi benda itu tidak kutemukan "
" Sial! Kenapa susah sekali mendapatkan benda itu dari orang-orang lemah seperti mereka. Bisakah kau menangkap gadis itu dan membawakan benda pusaka yang kucari! " Pria yang di panggil ketua itu sangat kesal dan marah tapi dia berusaha meredamkan amarahnya.
Akhirnya si pria itu menjalankan perintah ketuanya, tapi dia beristirahat terlebih dahulu sebelum menjalankan perintah tuannya.
****
Seminggu telah berlalu...
Tsuruna dan Isuke tampak sedang berjalan di bawah hangatnya mentari pagi. Isuke mengajak Tsuruna pergi ke kota Roztint karena merasa bosan. Awalnya Tsuruna menolak karena takut di temukan oleh penjahat yang membunuh Ibu dan kakaknya. Tapi Isuke memaksanya dan memastikan keselematannya meski dia tak yakin.
Mereka akhirnya sampai di keramaian orang. Beberapa pasang mata memperhatikan Isuke dengan tatapan asing dan heran.
Isuke pun merasa malu dan dia menyadari kejanggalannya. Yaitu dia memakai sweater dan seragam sekolah yang sudah beberapa hari ia pakai dan terlihat agak lusuh. Sementara orang-orang disini termasuk Tsuruna memakai pakaian kuno. Seperti jaman samurai.
Dia pun berkeliling dan sedikit mengetahui kehidupan manusia sekarang. Hingga tak terasa hari sudah larut dan mereka menginap di hutan dekat kota Roztint.
Malam ini Isuke berlatih teknik sayap garuda tentunya dengan bimbingan guru Lin.
Guru Lin merasa santai saat melatih muridnya karena dia berfikir tidak akan baik jika melatih murud dengan desakan.
Sementara Tsuruna memilih tidur karena besok mereka berencana akan mencari pekerjaan agar mendapatkan uang.
Hari berganti dan akhirnya Isuke mendapat pekerjaan, sementara Tsuruna tidak diterima karena keadaannya. Tsuruna hanya menemani Isuke saja.
__ADS_1
Isuke bekerja sebagai penjahit pakaian, dia tampak mengeluh karena tidak ada mesin jahit di masa sekarang. Tapi ini satu-satunya pekerjaan yang ada jadi dia terpaksa melakukannya.
Akhirnya diapun menjalani hari-harinya dengan bekerja disiang hari dan berlatih di malam hari. Sementara Tsuruna selalu menemani kegiatan Isuke, terkadang dia juga berlatih.
***
Seorang lelaki berlari seperti memiliki sebuah berita yang ingin diberikan kepada atasannya
" Tetua Jiun Huk aku melihat gadis itu di toko pakaian sepertinya dia bersama seorang pemuda yang aneh dan bekerja di sana "
" Berita bagus, tapi kurasa kita harus melaporkan situasi ini kepada ketua "
Terlihat sepuluh bawahan Jiun Huk memgangguk setuju meski kurang memahami situasi.
Beberapa jam mereka sampai di sebuah sekte, ternyata sekte itu bernama Rawa Laba-laba. Sekte ini dipimpin oleh Min Tan. Letaknya lumayan jauh dari keramaian kota Roztint. Sesuai namanya sekte ini terletak di sebuah rawa di dalam hutan.
" Ketua, akhir-akhir ini banyak orang asing yang masuk ke kota Roztint, kurasa mereka berasal dari kota Hagok. Mereka mengenakan pakaian Hitam dengan motif ekor merak. Aku khawatir mereka mengetahui tentang benda pusaka yang anda cari dan menemukannya lebih dulu. " Jiun Huk memberikan informasi kepada ketuanya.
" Kami belum menemukannya tapi gadis yang membawa benda tersebut sudah kami temukan. Besok kami akan mencari lagi benda tersebut "
Setelah selesai memberi laporan Jiun Huk pun meninggalkan ruang ketua Min Tan dan beristirahat.
Keesokan harinya Jiun Huk pergi mencari benda pusaka lagi. Tapi saat hendak mengintai gadis yang membawa benda tersebut Jiun Huk di kagetkan karena gadis tersebut dan pemuda yang selalu bersamanya sudah diikat. Keduanya dikelilingi oleh dua puluh orang pendekar tahap kuasa.
***
Isuke dan Tsuruna tetap tinggal di dalam hutan dan hari ini mereka akan pergi membeli baju, karena Isuke sudah berhenti dari pekerjaannya. Tapi saat baru berjalan beberapa langkah, mereka dikepung oleh orang berbaju hitam dengan motif merak. Lalu keduanya diikat dan orang-orang itu mengambil benda pusaka yang di pegang Tsuruna.
Saat orang-orang berbaju hitam itu hendak meninggalkan mereka, tiba-tiba ada pisau melayang dan langsung membunuh salah satu dari orang-orang berbaju hitam itu.
__ADS_1
Sontak pemimpin pasukan itu yang terlihat seperti paling kuat diantara mereka berbicara " Siapa yang berani membunuh rekan kami? Kami sekte Merak Hitam takan membiarakan kalian hidup " Pemimpin itu berkata dengan lantang. Terpancarlah aura pendekar tingkat bumi dari badannya.
Lalu muncullah aura yang sama dari arah belakang dia, ternyata aura itu milik Jiun Huk.
" Siapa kau? " Pemimpin itu bersiap dan memegang pedangnya.
" Perkenalkan aku Jiun Huk dari Sekte Rawa Laba-laba " Jiun Huk memperkenalkan dirinya dengan memegangi pisau. Jurus andalan dari sekte Rawa Laba-laba adalah jaring laba-laba. Dimana beberapa pisau diikat dengan tali baja dan mampu bergerak sesuai keinginan penggunanya. Jurus ini sangat menguntungkan untuk bertarung jarak jauh, tapi akan sulit bila jarak dekat.
" Apa yang kau cari? " pemimpin itu bertanya lagi dan mengeluarkan aura bertarung.
" Benda Pusaka yang kau pegang. Lantas, siapa namamu pendekar? "
" Tak penting siapa namaku, aku takan memberikan benda ini padamu! " Kata pemimpin itu dan langsung menyerang Jiun Huk dengan pedangnya dan diikuti oleh bawahannya.
Jiun Huk tak merasa gentar dan munculah sekitar lima puluh orang mengepung orang Merak Hitam itu. Para pendekar dari merak hitam itu berhenti beberapa saat karena mereka kalah jumlah. Tapi pertarungan sudah tak bisa dihindari lagi.
Jiun Huk melawan pemimpin tersebut dengan serius begitu pula sebaliknya, pemimpin tersebut tampak serius. Sepertinya mereka seimbang setelah bertukar beberapa jurus jarak dekat, lalu Jiun Huk mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Jiun Huk menggunakan jurus andalan sektenya dan lima pisau melayang menyerang pemimpin Merak Hitam itu.
Pemimpin itu sangat terdesak karena ada lima pisau yang menyerangnya, dia mendapat luka dalam di lengan kirinya dan goresan di pipi kanannya. Tapi pemimpin itu masih terlihat kuat untuk bertarung.
Dia pun berniat memperpendek jarak dengan musuh, tapi tidak berhasil dan sebagai gantinya, dia kehilangan lengan kirinya. Dia pun tergeletak menahan sakit. Lalu dia mengeluarkan benda kotak dan meninggalkannya. Dia melesat pergi dengan cepat. Dia tidak bodoh, jika saja dia melawan pasti akan mati karena memang kalah jumlah dan sudah kelelahan karena menempuh perjalanan dari kota Hagok.
Jiun Huk ingin mengejarnya, tapi dia mengurungkan niatnya. Karena melihat benda yang selama ini dia cari sudah ada di depan mata.
Sekitar satu jam pertarungan berlangsung. Sementara itu pasukan Merak Hitam sudah meninggal semua dan tergeletak 15 orang meninggal juga dari sekte Rawa Laba-laba.
Bau amis darah merasuki hidung Tsuruna dan Isuke. Isuke sesekali muntah dan bergidik. Baru beberapa hari kemarin dia melihat pembunuhan dan hari ini melihat pembunuhan masal. Dia pun pingsan di samping Tsuruna.
Lalu setelah Jiun Huk beres menguburkan mayat, dia bergegas pergi. Dia membawa Tsuruna dan Isuke yang pingsan.
__ADS_1
Tsuruna merasa khawatir dan beberapa kali memanggil nama Isuke untuk membangunkannya. Dia cemas takut terjadi apa-apa. Apalagi ditambah Isuke pingsan, dia kan sudah berkata ingin melindunginya. Tapi kenapa dia malah pingsan sebelum bertarung.